"Seribu tahun lalu, aku adalah puncak dari segala ilmu pedang. Kini, aku hanyalah sampah yang dihina oleh keluargaku sendiri."
Ling Chen adalah seorang pemuda dari keluarga cabang yang lemah dan tidak memiliki bakat dalam kultivasi pedang. Di dunia di mana kekuatan pedang adalah segalanya, ia menjadi bulan-bulanan, dikhianati oleh tunangannya, dan hampir tewas di tangan saudara sepupunya sendiri.
Namun, di ambang kematian, segel kuno di dalam jiwanya hancur. Ingatan sebagai Kaisar Pedang Surgawi, penguasa semesta yang pernah ditakuti oleh para dewa dan iblis, bangkit kembali. Dengan teknik "Sembilan Tebasan Langit" yang telah lama hilang dan pedang karatan yang ia temukan di gudang tua, Ling Chen memulai langkahnya untuk menagih hutang darah.
Satu per satu genius yang sombong akan ia tebas. Kerajaan yang dulu mengkhianatinya akan berlutut di bawah kakinya. Langit mungkin melupakannya, tapi dunia akan segera tahu bahwa sang penguasa telah kembali untuk merebut tahtanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hajdhts, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Darah di Atas Salju, Jiwa Yang Terbangun
Dingin. Hanya itu yang bisa dirasakan oleh Ling Chen saat tubuhnya tersungkur di atas tanah berbatu yang tertutup salju tipis.
Darah segar merembes dari luka di dadanya, memberi warna merah pekat yang kontras di atas putihnya salju.
Di depannya, berdiri seorang pemuda dengan pakaian sutra mewah, memegang pedang perak yang berkilau di bawah sinar bulan.
"Lihatlah dirimu, Ling Chen," ejek pemuda itu, Ling Jian.
"Kau hanyalah aib bagi keluarga besar Ling. Seorang sampah tanpa tulang pedang, berani-beraninya bermimpi meminang Putri Yan dari Sekte Awan Biru? Kematianmu hari ini adalah pembersihan bagi nama baik keluarga kita."
Ling Chen mencoba mengangkat kepalanya, penglihatannya kabur.
Di belakang Ling Jian, berdiri seorang gadis cantik dengan wajah sedingin es—Yan Ran, tunangannya yang baru saja menyerahkan surat pembatalan pertunangan sesaat sebelum Ling Jian menghunuskan pedang.
"Ran... kenapa?" bisik Ling Chen dengan suara parau.
Yan Ran bahkan tidak menatap matanya. "Dunia kultivasi hanya mengenal yang kuat, Ling Chen. Kau dan aku berada di dimensi yang berbeda. Menikah denganmu hanya akan menghambat jalanku menuju Alam Langit. Maafkan aku, tapi ini adalah takdirmu."
Takdir?
Ling Chen ingin tertawa, tapi yang keluar hanyalah batuk darah. Ia telah memberikan segalanya untuk keluarga ini. Ia bekerja di tambang batu energi demi membiayai pengobatan ibunya dan menyuplai sumber daya untuk Ling Jian dan Yan Ran berlatih.
Namun, saat mereka telah mencapai kesuksesan, ia justru dibuang seperti sampah yang tidak berguna.
"Cukup omong kosongnya. Pergilah ke neraka!" Ling Jian mengayunkan pedangnya.
Sret!
Mata pedang itu menembus jantung Ling Chen. Dinginnya logam bertemu dengan panasnya darah.
Cahaya di mata Ling Chen mulai meredup. Ia bisa mendengar tawa meremehkan dari Ling Jian dan langkah kaki mereka yang menjauh, meninggalkannya sendirian untuk membeku di tengah malam yang sunyi.
Namun, di dalam kegelapan total yang menyelimuti kesadarannya, sesuatu yang purba mulai bergetar.
Siapa aku?
Sebuah suara menggema di ruang hampa yang tak berujung dalam pikiran Ling Chen. Ribuan gambar mulai melintas secepat kilat.
Ia melihat dirinya berdiri di puncak gunung tertinggi di semesta, dikelilingi oleh mayat para dewa yang mencoba menantangnya.
Ia melihat sebuah pedang hitam legam yang mampu membelah bintang hanya dengan satu ayunan. Ia mendengar jutaan orang bersujud, meneriakkan satu nama yang membuat seluruh dunia gemetar.
"Kaisar Pedang Surgawi... Ling Tian!"
Kesadaran itu menghantamnya seperti palu raksasa. Ling Chen bukan sekadar pemuda lemah dari keluarga Ling.
Jiwanya adalah reinkarnasi dari penguasa tunggal yang pernah memerintah sembilan alam, kaisar yang dikhianati oleh saudara angkatnya sendiri ribuan tahun silam.
Segelnya... telah hancur.
Di dunia nyata, tubuh Ling Chen yang seharusnya sudah tak bernyawa tiba-tiba tersentak.
Luka di jantungnya mulai mengeluarkan cahaya biru elektrik. Darah yang mengalir bukannya mendingin, malah mulai mendidih dengan energi yang luar biasa dahsyat.
Mata Ling Chen terbuka. Pupil matanya yang semula hitam kini berubah menjadi biru safir yang memancarkan aura membunuh yang sanggup membekukan udara sekitarnya.
"Takdir?" Ling Chen berdiri perlahan. Suaranya kini terdengar berat, seolah berasal dari masa lalu yang sangat jauh.
"Jika Langit ingin aku mati, aku akan menebas Langit. Jika Bumi ingin aku berlutut, aku akan menghancurkan Bumi!"
Ia melihat ke arah sebuah pedang karatan yang tergeletak di dekat tumpukan sampah tambang—pedang latihan yang dulu sering ia gunakan. Ia mengulurkan tangannya.
"Kemarilah," perintahnya.
Pedang karatan itu bergetar hebat. Seolah-olah merasakan kehadiran tuannya yang sebenarnya, karat di permukaannya mulai rontok, memperlihatkan kilatan logam yang tajam dan haus akan darah.
Ling Chen memegang gagang pedang itu. Seketika, aura pedang yang sangat besar meledak ke segala arah, menghancurkan bebatuan di sekitarnya menjadi debu.
Kekuatan Qi yang telah lama hilang kini mulai mengalir masuk ke dalam pembuluh darahnya yang hancur, memperbaikinya dengan kecepatan yang tak masuk akal.
Ia melirik ke arah gerbang Keluarga Ling yang terlihat dari kejauhan.
"Ling Jian, Yan Ran... kalian bilang aku adalah sampah?"
Ling Chen melangkah maju. Setiap langkah yang ia ambil meninggalkan jejak kaki yang terbakar di atas salju.
"Hari ini, Kaisar telah kembali. Dan hutang darah ini... akan dibayar dengan nyawa kalian semua."
Malam itu, di kediaman Keluarga Ling yang tengah merayakan pesta pertunangan baru antara Ling Jian dan Yan Ran, mereka tidak menyadari bahwa maut sedang berjalan perlahan menuju pintu mereka.
Bukan sebagai hamba yang lemah, melainkan sebagai sang penguasa pedang yang akan mengguncang dunia sekali lagi.Rasa dingin itu bukan lagi berasal dari salju, melainkan dari dalam jiwanya yang perlahan membeku.
Ling Chen bisa merasakan setiap tetes darah yang keluar dari dadanya membawa pergi sisa-sisa kehangatan hidupnya. Di atas sana, langit malam Jombang yang biasanya tenang kini seolah ikut menertawakannya.
"Kenapa kau masih menatapku seperti itu?" Ling Jian melangkah maju, ujung pedangnya yang berlumuran darah kini berada tepat di bawah dagu Ling Chen.
"Kau pikir dengan bekerja keras di tambang selama tiga tahun, kau bisa melampaui bakat alami? Kau hanyalah alat, Ling Chen. Alat untuk membiayai kemajuanku, dan sekarang alat itu sudah rusak."
Yan Ran, wanita yang dulu pernah berjanji akan menemaninya mendaki puncak kultivasi, kini hanya berdiri mematung.
Jubah putihnya berkibar ditiup angin malam, wajahnya secantik dewi namun hatinya lebih keras dari batu giok.
"Berhenti menatapku dengan tatapan penuh harapan itu, Ling Chen. Cinta tidak bisa memberiku kursi di Sekte Awan Biru. Hanya kekuatan yang bisa. Dan kau... kau tidak punya apa-apa."
Saat kesadaran Ling Chen mulai terseret ke dalam jurang kegelapan, sebuah ledakan informasi menghantam otaknya. Ini bukan sekadar mimpi; ini adalah sejarah yang tertulis dalam darah.
Ia melihat dirinya ribuan tahun yang lalu, berdiri di atas Singgasana Pedang Langit.
Di bawahnya, jutaan pendekar dari berbagai ras bersujud, tidak berani mengangkat kepala mereka.
Ia mengingat bagaimana ia pernah membelah lautan hanya untuk mencari material bagi pedangnya. Ia mengingat pengkhianatan pahit dari orang yang ia anggap saudara, yang menyegel jiwanya ke dalam siklus reinkarnasi yang hina selama berabad-abad.
"Aku adalah Ling Tian... Kaisar Pedang yang memerintah saat bintang-bintang masih muda!" raungan itu bergema di dalam batinnya.
Tiba-tiba, jantung Ling Chen yang telah berhenti berdetak kembali berdenyut dengan kekuatan yang sanggup meretakkan tanah di bawahnya.
Cahaya biru elektrik yang keluar dari lukanya bukan sekadar cahaya; itu adalah Aura Pedang Primordial yang sedang merekonstruksi seluruh sel tubuhnya.
Tulang-tulangnya yang rapuh berderak, patah, dan tersambung kembali dengan kepadatan yang menyerupai baja surgawi.
Pembuluh darahnya yang tersumbat kini dialiri oleh energi panas yang mematikan.
Luka di jantungnya menutup dalam hitungan detik, meninggalkan bekas luka berbentuk pedang kecil yang bersinar redup.
Ling Chen bangkit perlahan. Gerakannya tidak lagi lunglai. Setiap sendinya bergerak dengan presisi yang mematikan.
Udara di sekitarnya mulai berputar, membentuk pusaran angin kecil yang menghempaskan salju di sekelilingnya.
Ia berjalan menuju tumpukan barang rongsokan di sudut area tambang.
Matanya tertuju pada sebilah pedang besi tua yang sudah sangat karatan, bahkan tidak layak disebut senjata.
Namun, di mata Ling Chen, ia melihat esensi dari logam tersebut.
"Sudah lama sekali," gumam Ling Chen. Suaranya bukan lagi suara pemuda malang, melainkan suara yang mengandung wibawa kuno.
Begitu jemarinya menyentuh gagang pedang, sebuah dentuman keras terdengar.
Seluruh karat yang menempel hancur berkeping-keping, memperlihatkan bilah pedang yang hitam legam dengan ukiran rune kuno yang berpendar biru.
Pedang itu bukan lagi sampah; itu adalah perpanjangan dari kehendaknya.
Di kejauhan, lampu-lampu di kediaman Keluarga Ling bersinar terang.
Suara tawa dan denting gelas pesta pertunangan terdengar hingga ke tempat ini. Ling Jian dan Yan Ran pasti sedang merayakan "kematiannya" sambil merencanakan masa depan mereka yang gemilang.
Ling Chen memutar pedangnya dengan gerakan satu tangan yang sangat halus.
"Kalian bicara tentang takdir? Baiklah. Malam ini, aku akan menjadi takdir buruk yang tidak akan pernah kalian lupakan."
Setiap langkah yang ia ambil membuat tanah bergetar. Hutan di sekitarnya mendadak sunyi; hewan-hewan buas pun meringkuk ketakutan merasakan aura predator yang jauh lebih tinggi dari tingkat manapun di dunia ini.
Sang Kaisar tidak lagi bersembunyi. Ia pulang untuk mengambil apa yang menjadi haknya.
...****************...