NovelToon NovelToon
MANISNYA SI BOS NARSIS

MANISNYA SI BOS NARSIS

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Nina Sani

Kalau kamu butuh novel yang ceritanya manis, menggemaskan, dan ringan, untuk menemani waktu istirahat dan mengusir penat, kisah tentang Anaya dan Bos narsisnya adalah pilihan terbaik.


Setelah lima tahun bertahan menghadapi Bima—CEO muda genius, tajir melintir, dan narsisnya selangit—Anaya sang sekretaris kompeten memutuskan resign demi mengejar mimpi membuka toko kue dan toko buku kecil.

Beban finansialnya tuntas sejak adiknya sukses menjadi atlet nasional.

Namun, rencana resign itu buyar saat Mama Bima justru menjebaknya untuk menjadi menantu. Bagaimana kelanjutan nasib Anaya?.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nina Sani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 17: PIKIRAN BIMA YANG MULAI KOTOR

Suasana hening kembali menyelimuti ruang kerja CEO yang kelewat mewah itu. Di atas sofa kulit, Anaya duduk dengan posisi super kaku. Kedua lututnya dirapatkan erat, sementara tangannya mencengkeram kuat ujung jas wol hitam milik Bima yang terikat di pinggangnya. Bau parfum maskulin perpaduan amberwood dan cedar yang mahal dari jas itu langsung menguar, berbaur dengan sisa-siga wangi Black Opium miliknya yang sejak sore tadi sudah sukses mengacaukan seisi ruangan.

Anaya melirik ke depan. Di balik meja marmernya, Bima sedang duduk menyandar. Pria itu memijat pangkal hidungnya dengan mata terpejam rapat. Sumpah demi apa pun, Anaya belum pernah melihat bos narsisnya itu memasang ekspresi sefrustrasi ini, bahkan saat perusahaan mereka menghadapi audit pajak tahunan sekalipun.

"Pak Bima..." panggil Anaya pelan, suaranya mencicit saking merasa bersalah sekaligus malu setengah mati. "Rencana pengiriman rok barunya... gimana?"

Bima membuka matanya perlahan. Tatapannya yang tajam langsung mengunci Anaya. Pria itu berdeham berat, mencoba mengusir bayangan kilasan renda hitam yang seolah sudah terpatri permanen di kornea matanya. "Kurir butiknya sudah jalan. Sekitar tiga puluh menit lagi sampai. Kamu... diam saja di situ. Jangan banyak gerak."

"Saya juga gak bakal kayang di sini, Pak," gerutu Anaya pelan, mengalihkan pandangannya ke arah jendela luar.

Gusti... ada-ada aja cobaan hidup. Kok ada pula tragedi robek rok begini, beso-besok mending saya pakai celana kulot aja deh! batin Anaya menjerit histeris.

Sementara itu, di balik meja kerjanya, kondisi internal otak Bima sebenarnya sudah berada di ambang batas korsleting total.

Sebagai seorang lulusan terbaik sekolah bisnis luar negeri, otak Bima biasanya dipenuhi oleh angka-angka, grafik fluktuasi saham, strategi merger, dan analisis kompetitor. Namun malam ini, seluruh data genius itu mendadak terhapus bersih secara ilegal. Sistem operasinya crash. Satu-satunya hal yang berputar di kepala Bima sekarang adalah visualisasi bentuk tubuh Anaya di balik pakaian kerjanya yang selama ini selalu terlihat formal.

Bima melirik iPad-nya yang menampilkan grafik saham Bimantara Food yang sedang naik. Alih-alih melihat grafik, matanya malah memvisualisasikan lengkungan pinggul Anaya yang terbalut seutas tali renda hitam seminim itu.

Sialan, umpat Bima dalam hati. Darahnya kembali berdesir panas. Sisi posesif dan kejantanannya mendadak berteriak tidak terima karena selama lima tahun ini, dia melewatkan fakta bahwa sekretarisnya yang hobi mengomel ini menyimpan pesona yang begitu mematikan di balik seragam kerjanya.

Pikiran Bima mulai berjalan ke arah yang sangat tidak benar. Dia mulai membayangkan bagaimana rasanya jika tangan besarnya yang tadi sempat singgah di pinggang Anaya, bergerak lebih jauh untuk menjelajahi kehangatan kulit di balik sobekan rok itu.

"Ah, sial," gumam Bima pelan. Dia melonggarkan satu lagi kancing kemeja putihnya hingga mengekspos tulang selangkangnya yang kokoh. Udara di ruangan ber-AC sentral ini mendadak terasa seperti berada di tengah gurun pasir. Kepalanya terasa mendidih, dan dadanya bergemuruh hebat.

Bima menyambar intercom di mejanya, menekan tombol pintas menuju meja resepsionis lantai dasar yang masih berjaga. "Halo. Tolong antarkan satu ember kecil es batu ke ruangan saya. Sekarang."

Anaya yang mendengar perintah itu langsung menoleh dengan dahi berkerut. "Pak? Buat apa es batu sebanyak itu? Bapak mau bikin es campur malam-malam begini?"

Bima menatap Anaya dengan pandangan lurus yang terasa sangat berat dan intens, membuat jantung Anaya kembali berdegup kencang secara instan. "Buat mengompres kepala saya, Anaya. Ada komponen di dalam otak saya yang mendadak kepanasan gara-gara kelakuan sekretarisnya."

"Ih, kok malah nyalahin saya? Kan roknya yang gak bermutu, bukan saya yang sengaja!" bela Anaya, wajahnya kembali merona merah karena tahu persis apa yang dimaksud oleh bosnya itu.

Sepuluh menit kemudian, seorang staf kebersihan mengantarkan sebuah wadah stainless steel berisi penuh es batu kristal. Setelah staf itu keluar dengan pandangan bingung, Bima langsung meraih seonggok es batu menggunakan tangan telanjangnya. Tanpa ragu, pria itu menempelkan es batu dingin itu ke leher belakangnya, lalu ke pelipisnya, mencoba mematikan paksa api gairah yang sedang membakar akal sehatnya.

Anaya yang melihat pemandangan itu dari sofa hanya bisa melongo. Pemandangan seorang CEO tampan, bertelanjang dada setengah karena kemejanya terbuka lebar, sedang menggosokkan es batu ke lehernya sendiri dengan napas yang agak memburu... bersumpah, ini adalah pemandangan paling erotis sekaligus aneh yang pernah Anaya saksikan.

"Pak Bima... Bapak beneran gak apa-apa? Apa saya perlu telepon ambulans?" tanya Anaya, menahan senyum gelinya melihat tingkah ajaib bosnya demi menahan diri.

Bima melirik Anaya dari balik es batu yang mulai mencair di tangannya, airnya menetes perlahan melewati dada bidangnya yang atletis. Pria itu mendengus gusar. "Saya gak butuh ambulans, Anaya. Saya cuma butuh kamu berhenti menatap saya dengan cara seperti itu sebelum saya beneran kehilangan kendali."

"Siapa juga yang nengok? Orang saya lagi ngelihatin es batunya!" kilat Anaya cepat, langsung membuang muka ke arah lain dengan jantung yang sudah maraton di dalam dada.

Tok! Tok! Tok!

Penyelamat Anaya akhirnya datang. Suara ketukan pintu memecah ketegangan slow burn yang kian mencekik di antara mereka. Anaya langsung bernapas lega saat melihat seorang kurir wanita masuk membawa paper bag elegan berlogo butik desainer ternama.

"Ini pesanan dari Ibu Widya untuk Pak Bima," ujar kurir tersebut sopan.

"Ya, taruh di meja. Terima kasih," jawab Bima dengan suara beratnya yang masih terdengar sisa-sisa parau.

Begitu kurir keluar, Anaya dengan gerakan secepat kilat—dan tentu saja sambil tetap memegang erat jas Bima di pinggangnya agar tidak ada aset yang terlihat—berjalan setengah merangkak menuju meja untuk menyambar tas belanjaan itu. Dia mengeluarkan sebuah rok A-line berbahan satin premium berwarna hitam yang untungnya berpotongan agak longgar namun tetap elegan.

"Saya... saya ganti baju di kamar mandi dulu, Pak!" seru Anaya panik, langsung melesat masuk ke kamar mandi dalam ruangan CEO dan mengunci pintunya dengan dua kali putaran penuh.

Di dalam kamar mandi, Anaya bersandar di balik pintu sambil memegang rok barunya. Dia menatap pantulan wajahnya di cermin. Pipinya benar-benar merah padam, dan bibirnya bergetar halus. "Gila, gila, gila. Pak Bima tadi... pikirannya pasti udah traveling ke mana-mana. Sialan, kenapa vibrasi posesifnya malam ini bisa sekuat itu sih?!"

Sementara di luar, Bima kembali meraih segenggam es batu lagi, membiarkan rasa dingin yang ekstrem itu membekukan tangannya. Dia menatap ke arah pintu kamar mandi yang tertutup rapat, lalu tersenyum tipis, sebuah senyuman predator yang sangat tipis namun penuh dengan rencana jangka panjang.

"Silakan sembunyi sekarang, Anaya Sandriana," bisik Bima pada ruangan yang sunyi. "Tapi setelah malam ini... saya pastikan kamu gak akan pernah bisa lari lagi dari saya."

Tunggu kelanjutannya, bakal rilis 2 bab tiap harinya jam 08.00 dan 11.00. Stay tune ya kakak, boleh juga kasih hadiah dan dukungannya juga kalau berkenan. Thank uuu

-

-

1
English Lesson
semangat 💪🏻
English Lesson
Bagus👍🏻
Mar lina
Kirain mau kiss
ternyata pada masih
malu" kucing...
lanjut Thor ceritanya
di tunggu updatenya
Mar lina
Di tunggu
cerita kelanjutannya, Thor
mungkin Anya belum merasakan benih" cinta pak...
pak Bima juga seperti itu
kerjaan melulu yg di fikirkan...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!