NovelToon NovelToon
TIDUR DOANG TIBA-TIBA JADI MILIARDER

TIDUR DOANG TIBA-TIBA JADI MILIARDER

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Sistem / Mengubah Takdir
Popularitas:6.7k
Nilai: 5
Nama Author: Arrofy

Kalian pasti pernah kan, seenggaknya sekali seumur hidup, rebahan di kamar sambil menatap langit-langit terus ngehayal: "Coba aja tidur doang bisa dapet duit, pasti gue udah jadi orang terkaya di dunia." Nah, hayalan konyol yang sering kita impikan pas lagi capek-capeknya hidup itu, mendadak jadi kenyataan buat Abdul. Pemuda miskin korban PHK ini doanya dikabulkan secara ajaib. Sekali merem, saldo banknya bertambah 10 juta. Makin nyenyak dia ngorok, makin triliunan uang yang masuk ke rekeningnya secara legal! Tapi ternyata, dapet duit cuma modal tidur itu gak sesantai kedengarannya. Karena gak pernah keluar rumah tapi mendadak kaya raya, Abdul langsung dicurigai satu kampung pelihara babi ngepet, digerebek warga pas lagi enak tidur, dikejar-kejar orang pajak, sampai didatangi mantan pacar yang dulu ninggalin pas lagi sayang-sayangnya, Ups!.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arrofy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 11 HANDPHONE BARU

Layar handphone jadul milik Abdul tampak mengenaskan di bawah terik matahari pagi. Retakan seribu di permukaannya membuat teks SMS dari Bank Suka tadi subuh terlihat tidak jelas, memaksanya harus memicingkan mata berkali-kali untuk memastikan angka digital tersebut.

Sadar bahwa handphone tua ini bisa mati kapan saja dan berisiko menghilangkan aksesnya ke saldo lima puluh satu juta rupiah, Abdul memutuskan bahwa hari ini ia harus melakukan satu investasi penting: membeli alat komunikasi yang layak.

Setelah berpamitan pada ibunya dan memastikan Rian sudah mulai sibuk memotong pola kain di teras, Abdul berjalan kaki menuju pusat pertokoan ponsel yang ada di pasar kecamatan.

Suasana pasar sangat ramai, dipenuhi hilir mudik warga yang berbelanja kebutuhan pokok. Abdul melangkah masuk ke salah satu konter besar yang memajang papan nama hijau terang di etalasenya.

"Cari HP tipe apa, Mas? Buat game atau kebutuhan harian?" tanya seorang pelayan konter dengan ramah menyambut kedatangan Abdul yang hanya berkaus oblong santai.

Abdul melihat-lihat deretan ponsel pintar yang berjajar di dalam kaca.

"Cari yang layarnya jernih, baterainya awet, sama performanya lancar buat pekerjaan, Mbak. Yang gak lemot."

Setelah menimbang beberapa pilihan, pilihan Abdul jatuh pada sebuah ponsel android kelas menengah berwarna abu-abu metalik dengan layar AMOLED yang sangat tajam. Harganya sekitar tiga juta dua ratus ribu rupiah.

Tanpa menawar lama, Abdul langsung mengeluarkan dompetnya dan membayar tunai menggunakan beberapa lembar uang seratus ribuan yang sengaja ia cairkan di ATM dekat gang tadi. Di matanya, pembelian HP baru ini adalah kebutuhan darurat demi keamanan finansialnya, bukan untuk gaya-gayaan.

Dengan kotak HP baru yang tersimpan aman di dalam kantong plastiknya, Abdul melangkah keluar dari konter dengan perasaan puas. Namun, baru beberapa langkah menyusuri lorong pasar, langkah kaki Abdul terhenti ketika melihat sesosok pria berambut agak gondrong sedang duduk termenung di depan sebuah ruko kosong sambil mengisap sebatang rokok yang sudah pendek.

"Jaka?" panggil Abdul ragu-ragu.

Pria itu mendongak, matanya yang sayu seketika berbinar saat mengenali wajah Abdul.

"Eh, Abdul! Gila, kamu apa kabar, Dul? Udah lama banget gak ketemu sejak kelulusan SMK!" Jaka langsung berdiri dan menjabat tangan Abdul dengan erat, mencoba menyembunyikan gurat kelelahan di wajahnya.

"Kabar baik, Jak. Kamu sendiri lagi ngapain di sini? Keliatannya lesu banget," tanya Abdul sambil duduk di samping Jaka di pelataran ruko.

Jaka menghela napas panjang, mematikan puntung rokoknya di lantai.

"Biasa lah, Dul. Masalah klasik kaum kita. Aku baru aja ditendang dari tempat kerjaan harian aku di gudang beras karena pengurangan karyawan. Sekarang lagi muter-muter nyari info lowongan apa aja yang penting bisa buat makan besok. Susah banget nyari kerjaan zaman sekarang, Dul."

Mendengar keluhan Jaka, otak Abdul langsung berputar cepat. Ia teringat kondisi teras rumahnya yang sejak kemarin mulai kebanjiran pesanan pakaian dari ibu-ibu pengajian Gang Seng berkat keahlian Rian yang sangat rapi dalam menjahit.

Tadi pagi saja, Rian sempat mengeluh kewalahan jika harus memotong kain sekaligus menjahit sendirian tanpa ada asisten yang membantu proses finishing.

"Jak, kamu dulu pas SMK kan ambil jurusan tata busana juga kayak aku sama Rian, kan? Keahlian jahit kamu masih aman?" tanya Abdul dengan nada serius.

Jaka mengangguk cepat.

"Masih lah, Dul. Biar kata tangan aku kasar karena kerja di gudang, kalau urusan megang mesin jahit mah aku gak bakal lupa. Kenapa emangnya?"

Abdul menepuk pundak Jaka sambil tersenyum mantap.

"Pas banget kalau gitu. Di rumah aku lagi jalan usaha konveksi kecil-kecilian. Si Rian udah kerja di sana dari kemarin, tapi dia kewalahan karena pesanan mulai numpuk. Kalau kamu mau, kamu gabung sama kami mulai besok. Urusan gaji, aku samain kayak Rian, tiga juta setengah per bulan. Gimana?"

Mendengar nominal gaji yang disebutkan Abdul, Jaka langsung terkesiap. Angka itu jauh lebih besar daripada upah harian yang ia terima di gudang beras sebelumnya.

"Kamu... kamu gak lagi bercanda kan, Dul? Kamu beneran mau nampung aku kerja?"

"Aku serius, Jak. Besok pagi langsung datang aja ke rumah aku di Gang Seng. Nanti biar si Rian yang bagi tugasnya," jawab Abdul tegas tanpa ragu.

Setelah berpisah dengan Jaka yang pulang dengan langkah kaki riang, Abdul langsung menuju ke toko mesin jahit yang berada di ujung pasar. Abdul membeli satu unit mesin jahit listrik modern tambahan seharga dua setengah juta rupiah untuk ditaruh di teras rumahnya agar Jaka bisa langsung bekerja besok.

Bagi Abdul, pengeluaran ini sangat logis dan tidak akan menguras saldo Bank Suka miliknya yang melimpah. Alibi bisnis jahitnya kini semakin kokoh dengan kehadiran dua orang pekerja, membuat statusnya sebagai bos rebahan semakin tak tergoyahkan oleh kecurigaan warga sekitar.

1
Ahmadi 241215
udah tau nama nya rizki.masih nanya dasar tolol,di cari di kampus nama rizki.kan udah tau wajahnya.klo bikin cerita pakai otak,kalo gak punya otak,ke rumah sakit jiwa aja anjing
irawan muhdi
lanjut Thor
Farhat Syahada
mantapp up truss
BaekTae Byun
buset gw kira ini tentang sistem santai atau sesuai dengan judul ternyata ngga
Arrofy: ini baru awal perjalanan, ikutin terus perjalanan Abdul, akan banyak kejutan di bab2 selanjutnya😍
total 1 replies
Gege
bilang begene biar argo rumah sakit jalan terus.. kalo cepet sembuh rumah sakit kehilangan ATM berjalannya...🤣
Arrofy: hehehe🤣🤣🤣
total 1 replies
Pur Yono
bagus Dull sudah punya uang tetapp baik hati sama teman yang kesulitan👍
Pur Yono
cerdas kamu thor lanjut kembangkan kreatifitasmu
Pur Yono
upterus👍
Pur Yono
author pintar menyesuaikan cerita dengan situasi dan kondisi jaman sekarang upterus💪
Pur Yono
alur ceritanya santai mudah diikuti lanjut👍
Junior Ian
insprative novel 👍👍
Arrofy: terimakasih ya😍
total 1 replies
irawan muhdi
lanjut Thor
Arrofy: di tunggu ya/Chuckle/
total 1 replies
Gege
naaaah novel tema system yang ringan, enak dibaca modelan begene yang bikin hiburan lengkap... Yoo gass thor 10k kata tiap update..💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!