NovelToon NovelToon
Warisan Mutiara Surgawi

Warisan Mutiara Surgawi

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mengubah Takdir / Ruang Ajaib
Popularitas:11.3k
Nilai: 5
Nama Author: Agen one

Setelah hidup selama 500 tahun penuh pengkhianatan, kesengsaraan, dan perjuangan, Tian Hao akhirnya kembali ke masa lalu.

Dengan ingatan dari kehidupan sebelumnya, ia memperoleh Warisan Mutiara Surgawi yang mempercepat jalur kultivasinya.

"Kali ini... aku akan mencapai keabadian."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1: Tian Hao

​"Iblis! Lihatlah sekelilingmu! Hari ini, seluruh faksi Ortodoks telah menyatukan pedang mereka hanya untuk satu tujuan: melenyapkan eksistensimu dari muka bumi ini!"

​Suara itu menggelegar, membelah keheningan puncak bukit yang kini telah berubah menjadi lautan bangkai. Seorang tetua dari sekte terkemuka melangkah maju, jubahnya yang berwarna emas tampak kontras dengan tanah yang memerah. Matanya berkilat penuh kebencian, namun di balik itu, ada ketamakan yang tersembunyi rapat.

​"Tian Hao," timpal tokoh lain dengan suara yang lebih tenang namun menekan. "Serahkan Teratai Waktu Penjarah Takdir itu sekarang juga. Jika kau melakukannya, kami akan memberimu kematian yang terhormat tanpa rasa sakit."

​"Benar!" teriak yang lain dari barisan belakang. "Hanya untuk menyempurnakan benda terkutuk itu, kau tega menjarah takdir jutaan nyawa manusia tak berdosa. Kejahatanmu telah melampaui batas langit, dan hari ini, semesta menuntut pembalasan!"

​Di puncak bukit yang gersang itu, Tian Hao berdiri tegak. Ekspresinya tak tergoyahkan, sedatar permukaan danau di musim semi yang membeku.

Tidak ada getaran ketakutan dalam jemarinya, tidak ada amarah yang meluap, bahkan tidak ada kesedihan.

”Baginya, teriakan-teriakan keadilan itu hanyalah kebisingan kosong yang tak lebih berarti dari kepakan sayap lalat.”

​Jubah putih yang dikenakannya kini telah kehilangan warna aslinya, berubah menjadi merah pekat oleh darah kering.

Ratusan luka menganga di sekujur tubuhnya, namun alih-alih merintih, luka-luka itu seolah menjadi saksi bisu atas ketenangan jiwanya yang telah melampaui batas kemanusiaan.

​Angin kencang bertiup, menerbangkan rambut hitamnya yang kusut. Beberapa helai menutupi wajahnya yang pucat pasi, namun matanya tetap tertuju pada langit yang mendung, menanti sesuatu yang lebih besar dari sekadar kematian.

​Tian Hao menarik napas panjang, lalu tersenyum tipis, sebuah senyuman yang mengandung ironi mendalam.

​"Aku tidak pernah menyesal..." suaranya rendah, namun entah bagaimana, mampu membungkam ribuan orang di hadapannya. "Kalian membenciku, mengutukku, menyebutku iblis... silakan. Aku tidak peduli. 'Mereka yang hidup hanya untuk memenuhi standar moral orang lain adalah jiwa-jiwa yang paling menyedihkan di dunia ini.' Kalian hanyalah budak dari persepsi."

​Ia menoleh perlahan, menatap hamparan ribuan mayat yang berserakan, kawan dan lawan, semuanya kini setara dalam kematian.

​"Lima ratus tahun aku bernapas di dunia ini," gumamnya, lebih kepada dirinya sendiri. "Setengah milenium yang penuh dengan hinaan, pengkhianatan yang berulang, dan kesedihan yang tak berujung. Air mata yang dulu sering membasahi pipiku kini telah mengering hingga ke akarnya. Kesedihanku telah mati, dan yang tersisa di dalam rongga dadaku hanyalah satu tujuan murni: mencapai keabadian."

​Tetesan air mulai jatuh dari langit yang kelabu. Saat rintik hujan menyentuh tanah, aroma tanah bercampur dengan bau anyir darah yang menyengat, menciptakan suasana yang mencekam sekaligus melankolis.

​Tian Hao tidak menikmati penderitaan ini, namun ia juga tidak menangisinya. Waktu selama lima ratus tahun telah menempa jiwanya menjadi sesuatu yang lebih dingin dari baja ribuan tahun dan lebih keras dari karang di samudera terdalam.

​"Jika kau tetap keras kepala, kami akan mencabik jiwamu!" ancam sang Tetua Ortodoks, emosinya mulai tak terkendali melihat ketenangan Tian Hao. "Dosa-dosamu begitu besar hingga seluruh air laut di dunia ini tak akan mampu membasuhnya!"

​Saat pasukan Ortodoks mulai merapatkan barisan dan bersiap untuk menerjang maju dengan senjata pusaka mereka, Tian Hao justru merentangkan kedua tangannya.

1
aldo
lanjut thor seru sekali 🙏🙏
𝘿𝙚𝙬𝙖 𝘽𝙤𝙣𝙜𝙠𝙤𝙠
tes ..🤔
aldo
lanjut thor seru sekali 🙏🙏🙏🙏
Leon: /Bye-Bye/
total 1 replies
saniscara patriawuha.
sat set sat set...
Leon: 🙏🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
saniscara patriawuha.
sikattttt...
Leon: 👍👍👍👍👍
total 1 replies
saniscara patriawuha.
gassddddd....
saniscara patriawuha.
kasihhh fahammm duluu lahhhh.....
saniscara patriawuha.
biasanya langsung masuk ke dentiannya untuk membantu kultivasinya...
Leon: Hehe, memang di dunia Tianxu sistem kultivasi nya begitu bang/Shy/
total 1 replies
saniscara patriawuha.
gassssdd....
Leon: 🥲🙂🙂🙂🙂
total 1 replies
saniscara patriawuha.
lanjuttttkeunnnnn
saniscara patriawuha.
gasssss...
saniscara patriawuha.
tapi bisakah nanti mang MC kembali lagi ke masa depan untuk membalaskan dendamnya....
y@y@
👍🏿⭐👍🏻⭐👍🏿
aldo
lanjut thor
Leon: siaapp. jangan lupa kasih bintang 5 ya🙏🙏🙏
total 1 replies
y@y@
👍🏿🌟👍🏼🌟👍🏿
y@y@
🌟👍🏿👍🏼👍🏿🌟
Leon
ngopi lur/Coffee/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!