NovelToon NovelToon
Obsesi Sang Mafia Kejam

Obsesi Sang Mafia Kejam

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Mafia / Diam-Diam Cinta
Popularitas:4.8k
Nilai: 5
Nama Author: Blueby Skyfly

Rosline gadis berusia 20 tahun yang terlahir bukan dari keluarga berada. Dia memiliki hidup yang sulit, bukan hanya menanggung beban hidupnya sendiri, tapi juga menanggung beban keluarganya. Suatu ketika Rosline mendapat tawaran kerja partime di salah satu rumah mewah untuk menjaga kakek tua, tapi tanpa diduga rumah itu ternyata rumah seorang Mafia kejam...

Rosline semakin bingung harus bertahan atau harus pergi dari sana. Sementara dia sangat butuh uang untuk keluarganya....
Apa yang terjadi selanjutnya dengan Rosline?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 9 : Bara menakutkan

Rosline masih berdiri kaku sambil menggenggam buku catatannya erat. Jantungnya bahkan belum kembali normal setelah tatapan tajam Bara tadi.

Suasana ruang tengah terasa jauh lebih sunyi setelah pria itu pergi.

Rosline menelan ludah pelan sebelum akhirnya memberanikan diri menoleh ke arah Edwin. “Tu-Tuan Edwin…”

“Mm?”

“Apa… Tuan Bara marah pada saya?”

Edwin yang masih membenarkan sedikit kerah kemejanya langsung mengangkat wajah. Tatapan dinginnya kini jauh lebih tenang dibanding tadi.

“Tidak.”

“Tapi wajahnya menyeramkan sekali…”

Sudut bibir Edwin hampir terangkat tipis lagi melihat ekspresi takut Rosline. “Dia memang seperti itu.”

Rosline langsung makin cemas. “Saya benar-benar harus diinterogasi?”

“Kamu tidak perlu takut.” Edwin berjalan mendekat dengan langkah tenang. “Semua akan baik-baik saja.”

Rosline menatap pria itu gugup.

“Bara hanya terlalu tegas.” lanjut Edwin pelan. “Dia memang tidak suka ada orang asing masuk ke mansion ini.”

Rosline perlahan mengangguk kecil meski wajahnya masih pucat. “Oo-oh…”

Namun detik berikutnya...

“Hahaha!”

Kakek Alberto tiba-tiba tertawa keras sambil menepuk sandaran kursi rodanya senang.

Rosline langsung tersentak.

“Wajahmu lucu sekali gadis kurus!” ujar pria tua itu di sela tawanya. “Kau benar-benar ketakutan!”

Rosline langsung salah tingkah. “Tu-Tuan Besar…”

“Sudahlah.” Alberto masih terkekeh puas. “Mending cepat temui Bara sebelum nanti kau benar-benar ditelan olehnya.”

DEG!

Mata Rosline langsung membesar panik. “Di-ditelan?!”

Bibi Rena sampai menahan tawa sambil memalingkan wajah.

Sedangkan Edwin langsung menghela napas kecil. “Opa jangan menakut-nakuti dia lagi.”

“Tapi lucu!” Alberto malah tertawa semakin puas. “Lihat wajahnya! Hahaha!”

Rosline benar-benar hampir menangis sekarang. Tangannya bahkan mulai dingin sendiri membayangkan harus berada satu ruangan dengan Bara Alexander.

Dan anehnya, Kakek Alberto justru terlihat sangat bahagia melihat reaksinya. Pria tua itu terus tertawa kecil sambil menggeleng-geleng kepala. Sudah lama sekali mansion ini tidak dipenuhi ekspresi panik polos seperti milik Rosline.

Dulu, semua perawat selalu berusaha terlihat sempurna dan profesional di depannya. Mereka takut, kaku, dan hanya bersikap formal.

Namun Rosline berbeda. Semua emosinya terlihat jelas di wajahnya. Takut, gugup, malu... semuanya natural tanpa dibuat-buat. Dan justru karena itulah Kakek Alberto merasa mansion dingin ini akhirnya kembali terasa hidup.

Sementara Rosline sendiri masih berdiri tegang sambil menatap lorong tempat Bara pergi tadi.

“Sa-saya benar harus kesana…?”

Edwin menatapnya beberapa detik sebelum akhirnya mengangguk kecil. “Mm.”

Rosline langsung ingin pingsan rasanya.

Namun tanpa sadar, Edwin sedikit melunak saat melihat wajah putus asa gadis itu.

“Aku temani.” ucapnya akhirnya tenang.

Rosline langsung refleks mengangkat wajah cepat. “Eh?”

“Kau pikir aku akan membiarkan Bara menginterogasimu sendirian?”

Entah kenapa, kalimat sederhana itu justru membuat rasa takut Rosline sedikit berkurang.

Rosline masih menatap Edwin tidak percaya.

“Tu-Tuan Edwin ikut?”

“Mm.”

Pria itu menjawab singkat seolah itu hal biasa. Lalu tanpa menunggu lagi, Edwin mulai berjalan menuju lorong mansion tempat Bara tadi pergi.

Rosline langsung panik sendiri melihat Edwin sudah melangkah pergi.

“Eh? Tu-tunggu saya!”

Gadis itu buru-buru mengikuti dari belakang sambil membawa buku catatannya erat di dada seperti tameng hidup.

Sedangkan Alberto yang melihat itu malah tertawa puas lagi. “Hahaha! Mansion ini jadi ramai sekali.”

Bibi Rena hanya menggeleng geli sambil membereskan meja. “Tuan Besar jangan terlalu mengerjai Nona Rosline nanti dia benar-benar menangis.”

“Kalau menangis pasti lebih lucu lagi.”

“Tuan Besar…”

Sementara itu, Rosline berjalan gugup mengikuti Edwin melewati lorong mansion yang panjang dan sunyi. Langkah pria itu tenang dan stabil, berbeda jauh dengan dirinya yang hampir tersandung karpet karena terlalu tegang.

“Tu-Tuan Edwin…”

“Ya?”

“Tu-Tuan Bara memang suka marah begitu?”

Edwin meliriknya sekilas. “Dia hanya terlalu waspada.”

“Tapi tatapannya seperti mau membunuh orang…”

Mendengar ucapan Rosline, Edwin benar-benar terkekeh kecil.

Rosline langsung melotot kaget. Ia bahkan hampir berhenti berjalan. “Tuan… barusan tertawa?”

Edwin langsung kembali datar seolah tidak terjadi apa-apa. “Tidak.”

“Saya dengar!”

“Kamu salah dengar.”

Rosline langsung mengerucutkan bibir kecilnya pelan. Namun entah kenapa, rasa takutnya sedikit berkurang karena percakapan kecil itu.

Tak lama kemudian, mereka berhenti di depan sebuah pintu besar berwarna hitam doff di ujung lorong lantai dua.

DEG

Jantung Rosline langsung kembali berdebar keras. Pintu itu terlihat menyeramkan entah kenapa. Edwin mengetuk dua kali.

“Masuk.” Suara Bara terdengar rendah dari dalam ruangan.

Rosline refleks menelan ludah.

Edwin membuka pintu perlahan lalu masuk dengan santai. Sedangkan Rosline berdiri ragu beberapa detik sebelum akhirnya ikut masuk pelan-pelan. Dan seketika matanya langsung membesar kagum sekaligus tegang.

Ruangan itu sangat besar dan gelap elegan. Dindingnya dipenuhi rak buku hitam, sementara meja kerja besar berada dekat jendela kaca tinggi yang memperlihatkan pemandangan kota.

Bara sedang berdiri membelakangi mereka sambil membuka jas hitamnya perlahan.

Namun begitu mendengar langkah kaki Rosline, Pria itu langsung berbalik. Tatapan tajamnya kembali jatuh tepat ke wajah Rosline.

Rosline spontan berdiri tegak seperti murid ketahuan bolos.

Bara menyipitkan mata sedikit. “Kau terlihat lebih gugup dibanding penjahat yang pernah kuinterogasi.”

Rosline langsung panik. “Sa-saya bukan penjahat!”

Edwin langsung bersandar santai di dekat pintu sambil melipat tangan. “Dia bahkan takut menjatuhkan botol obat tadi.”

Bara tetap menatap Rosline tanpa ekspresi. Tatapannya benar-benar seperti sedang membaca isi kepala orang.

“Namamu.”

“Ro-Rosline…”

“Asal.”

“Saya tinggal di kosan tidak jauh dari minimarket, Tuan…”

“Orang tua?”

Rosline langsung sedikit terdiam. “Ayah dan Ibu saya, tinggal di pelosok kota.”

Bara hanya mengangguk.

“Pekerjaan sebelumnya."

"Penjaga minimarket…”

“Sudah berapa lama?”

“Hampir 1 tahun.”

Bara berjalan mendekat perlahan. Rosline langsung makin tegang sampai punggungnya hampir menempel ke meja kecil di belakangnya.

Kini pria itu berdiri tepat di depannya. Tinggi tubuh Bara membuat Rosline harus sedikit mendongak hanya untuk melihat wajahnya.

“Kenapa menerima pekerjaan ini?”

Rosline gugup memainkan jarinya pelan. “Ka-karena saya butuh uang…”

“Tidak takut?”

Rosline refleks ingin menjawab tidak. Namun begitu melihat tatapan mata Bara…

“Ta-takut…”

Edwin langsung memalingkan wajah sedikit, berusaha menahan senyum.

Sedangkan Bara justru diam beberapa detik menatap Rosline. Lalu tiba-tiba…

“Hm.”

Rosline berkedip bingung.

“Itu jawaban paling jujur yang kudengar hari ini.”

“Eh?”

Ruangan itu langsung hening beberapa detik setelah ucapan Bara tadi. Rosline sendiri masih berdiri kikuk sambil menunduk malu. Tangannya terus meremas ujung buku catatan kecilnya karena gugup ditatap seperti itu.

Namun Edwin yang sejak tadi bersandar santai tiba-tiba membuka suara. “Dia menerima pekerjaan ini karena sedang mencari uang tambahan.”

Tatapan Bara langsung beralih ke adiknya.

Edwin melanjutkan dengan nada tenang. “Untuk biaya pengobatan ayahnya… dan biaya kuliah adiknya.”

Rosline langsung menegang kecil mendengar kehidupan pribadinya dibahas begitu saja.

Bara kini kembali menatap Rosline. Tatapan tajam pria itu perlahan turun pada tangan kecil gadis itu yang tampak kasar karena terlalu sering bekerja.

“Adikmu kuliah?” tanyanya singkat.

Rosline mengangguk pelan. “Iya, Tuan…”

“Semester berapa?”

“Baru masuk semester dua.”

Bara diam sesaat.

Lalu Edwin kembali menambahkan dengan santai, “Untuk satu bulan ke depan Rosline hanya bekerja paruh waktu di sini.”

Alis Bara langsung sedikit terangkat.

“Jam tiga sore dia boleh pulang.” lanjut Edwin. “Lalu lanjut bekerja di minimarket.”

Detik berikutnya...

“Apa?”

Kali ini wajah Bara benar-benar terlihat terkejut. Pria itu langsung menoleh tajam ke Edwin. “Dia masih bekerja di minimarket?”

“Mm.”

“Setelah bekerja dari disini?”

“Iya.”

Bara seperti tidak percaya dengan jawaban itu. “Kau serius?”

Rosline langsung makin salah tingkah. “Sa-saya memang biasa kerja dua tempat…”

Namun Bara masih terlihat tidak habis pikir. “Berapa kau memberinya gaji?”

Edwin menjawab santai tanpa merasa ada yang aneh. “Lima belas juta.”

"Apa?” Kini Bara benar-benar melotot. “Lima belas juta…” ulangnya pelan seperti memastikan dirinya tidak salah dengar. “Dan dia hanya kerja paruh waktu?”

Rosline langsung panik. “Sa-saya juga kaget waktu mendengarnya, Tuan.”

Edwin malah terlihat tenang. “Itu tidak banyak.”

“Tidak banyak?” Bara langsung terkekeh tidak percaya. “Kau memberi penjaga minimarket lima belas juta?”

Rosline makin ingin menghilang dari dunia.

Namun Edwin tetap santai. “Dia menjaga Opa.”

“Itu tetap terlalu besar.”

“Kalau Opa nyaman, tidak masalah.”

Bara langsung mendecak pelan sambil mengusap rahangnya. Tatapan tajamnya kembali jatuh ke Rosline.

Kini tatapannya berbeda. Bukan hanya curiga… tapi juga seperti sedang mencoba memahami gadis aneh di depannya ini.

Rosline yang ditatap begitu langsung makin gugup sampai hampir salah napas. “A-apa ada yang salah dengan saya, Tuan…?”

1
Indri
Sukaaaa🤣
It's me Sky: wkwkwkkw/Proud/
total 1 replies
Keenan41
semangat thor
It's me Sky: Pasti dong, mksh dukungannya✌🏻/Hey/
total 1 replies
Hennyy exo
semangat rosaline🤭🤭
It's me Sky: Hihihihi, mksh/Smile/
total 1 replies
Hennyy exo
wow sampai sini alurnya bagus thor
It's me Sky: terimakasih bnykk/Smile/
total 1 replies
Amoera
semakin menegangkan thoor, lanjutkan dong😍
It's me Sky: hrs dong/Chuckle/
total 1 replies
Amoera
ceritanya sangat menarik, lanjutkan ceritanya thoor... semangat ratusan bab
It's me Sky: psti dong, mksh/Doge//Rose/
total 1 replies
Amoera
woww... ada cerita baru nih, wajib baca sih kayanya... semangat thoor😍
It's me Sky: iya dong, sni¹ mmpir/Hey/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!