Di jantung Kekaisaran Valerieth yang agung, sebuah titah kaisar mengguncang pilar-pilar bangsawan. Lilianne von Eisenhardt, putri tunggal dari penguasa wilayah Utara yang disegani, Duke Kaelric von Eisenhardt, dipaksa memasuki ikatan suci di usianya yang baru menginjak 15 tahun.
Lilianne, yang memiliki kecantikan selembut bunga musim semi namun ketabahan layaknya baja Nordik, dijodohkan dengan sang pewaris takhta yang menjadi mimpi buruk bagi musuh-musuhnya: Putra Mahkota Arthur Valerius de Valerieth.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 1
***
Lonceng Katedral Agung Valerieth berdenting tujuh kali, suaranya menggema membelah langit ibu kota yang berwarna jingga keemasan. Hari ini, sejarah baru diukir dengan tinta emas. Ribuan kelopak bunga mawar putih ditaburkan di sepanjang jalan protokol, namun di balik kemeriahan itu, atmosfer politik terasa mencekam.
Di dalam kereta kencana yang dilapisi emas murni, Lilianne von Eisenhardt duduk dengan punggung tegak. Gaun pengantinnya adalah mahakarya sulaman benang perak membentuk motif bunga es dari Utara, dihiasi ribuan permata kecil yang berkilau setiap kali ia bergerak. Rambut peraknya yang panjang disanggul anggun, menyisakan beberapa helai yang membingkai wajahnya yang masih memiliki sisa-sisa kepolosan remaja.
"Ingat, Lilianne," suara berat ayahnya, Duke Kaelric von Eisenhardt, memecah keheningan di dalam kereta. Mata sang Duke yang setajam elang menatap putrinya. "Kau bukan hanya seorang pengantin. Kau adalah perisai Eisenhardt di jantung kekaisaran ini. Jangan biarkan darah bangsawan Utara dipermalukan oleh arogansi keluarga Valerieth."
Lilianne menoleh pelan, jemarinya yang terbungkus sarung tangan sutra saling bertaut. "Saya mengerti, Ayah. Saya tahu harga dari nama keluarga yang saya sandang."
"Arthur Valerius de Valerieth bukan pria biasa, Lili," Kaelric memperingatkan dengan nada lebih rendah. "Dia adalah panglima yang lebih sering menggenggam gagang pedang daripada tangan wanita. Jangan harapkan kehangatan dari pria yang hatinya sudah membeku di medan perang."
Lilianne hanya tersenyum tipis, sebuah senyuman yang sulit diartikan. "Salju di Utara juga dingin, Ayah. Tapi ia tidak pernah hancur hanya karena diinjak."
**
Altar katedral tampak megah dengan ribuan lilin yang menyala. Di sana, berdiri seorang pria yang kehadirannya saja sudah cukup membuat para bangsawan menahan napas.
Putra Mahkota Arthur Valerius de Valerieth.
Mengenakan seragam kebesaran hitam dengan jubah merah darah yang menjuntai, Arthur berdiri kaku. Rambut hitam legamnya disisir rapi, kontras dengan kulitnya yang pucat. Matanya yang berwarna biru gelap, sedingin samudera di musim dingin, menatap lurus ke depan seolah-olah pernikahan ini hanyalah upacara penyerahan upeti perang.
Saat Lilianne melangkah masuk, bisik-bisik mulai memenuhi ruangan.
"Dia masih sangat muda..."
"Hanya 15 tahun? Dia akan habis dimakan oleh sang Putra Mahkota dalam semalam."
"Lihat rambut perak itu, sungguh kecantikan yang murni sekaligus rapuh."
Ketika Lilianne tiba di samping Arthur, pria itu bahkan tidak menoleh. Namun, saat pendeta agung mulai membacakan sumpah, Arthur meraih tangan Lilianne untuk menyematkan cincin. Lilianne bisa merasakan kapalan di telapak tangan Arthur—tanda nyata dari belasan tahun menghunus pedang.
"Kau gemetar, Lady," bisik Arthur pelan, nyaris tak terdengar oleh orang lain. Suaranya rendah dan serak, membawa getaran intimidasi.
Lilianne mendongak, menatap mata tajam pria berusia 30 tahun itu tanpa berkedip. "Ini bukan karena takut, Yang Mulia. Ini karena udara di ibu kota jauh lebih menyesakkan daripada yang saya bayangkan."
Arthur menyeringai tipis sebuah senyuman yang lebih mirip ancaman. "Biasakan dirimu. Oksigen di istana ini sangat mahal bagi mereka yang lemah."
**
Pesta perjamuan berlangsung hingga larut malam dengan anggur yang mengalir tanpa henti dan musik yang riuh. Namun, semua itu berakhir ketika Lilianne diantar ke kamar pengantin di sayap timur istana.
Kamar itu adalah perwujudan kemewahan yang dingin. Dindingnya dihiasi permata obsidian dan tirai beludru hitam. Lilianne duduk di tepi ranjang besar yang dikelilingi tiang-tiang emas. Mahkotanya terasa berat, namun beban di pundaknya jauh lebih berat.
Klek.
Pintu terbuka. Langkah sepatu bot yang berat bergema di lantai marmer. Arthur masuk, melepaskan jubah merahnya dan melemparkannya ke kursi sekenanya. Ia melonggarkan kerah seragamnya, membelakangi Lilianne. Hawa di ruangan itu seketika merosot drastis, seolah sang malaikat pencabut nyawa baru saja masuk untuk menagih janji.
Arthur berbalik, menatap istrinya yang tampak kecil di tengah kemegahan ranjang. Ia melangkah mendekat, setiap langkahnya membuat detak jantung Lilianne berpacu.
"Berdirilah," perintah Arthur.
Lilianne berdiri dengan gemetar yang tertahan. Arthur mendekat hingga jarak mereka hanya tersisa beberapa inci. Ia menunduk, wajahnya yang tampan namun keras berada tepat di samping telinga Lilianne.
"Tatap aku, Lilianne von Eisenhardt," desisnya.
Lilianne mendongak. Di jarak sedekat ini, ia bisa mencium aroma kayu cendana dan samar-samar bau besi yang tajam dari pria itu.
"Dengarkan baik-baik," kata Arthur, jemarinya yang dingin menyentuh dagu Lilianne, memaksanya untuk terus menatap matanya. "Pernikahan ini adalah transaksi. Ayahmu menginginkan pengaruh di ibu kota, dan ayahku menginginkan pasukan kavaleri Utara milik keluargamu untuk memperluas wilayah kekaisaran. Tidak ada ruang untuk romansa kekanak-kanakan di sini."
Lilianne menelan ludah, suaranya tetap stabil meskipun hatinya bergetar. "Saya tidak pernah meminta dongeng, Yang Mulia. Saya tahu di mana saya berdiri."
Arthur tertawa hambar, sebuah suara yang kering tanpa humor. "Bagus. Karena bagiku, kau hanyalah pion yang diletakkan di papan caturku. Lakukan tugasmu sebagai Putri Mahkota. Jangan mencampuri urusanku, jangan menanyakan keberadaanku, dan yang terpenting..."
Arthur semakin merapat, hawa dingin dari tubuhnya menembus gaun tipis Lilianne.
"...berikan aku pewaris. Lahirkan seorang putra yang memiliki darah Eisenhardt dan Valerieth untuk meneruskan kekaisaran ini. Setelah itu, kau bebas melakukan apa saja, selama kau tidak mempermalukan namaku."
Lilianne merasakan perih di hatinya mendengarkan kata-kata yang begitu objektif dan kejam. Namun, harga dirinya sebagai putri penguasa Utara bangkit. Ia menarik napas dalam, membiarkan aroma maskulin Arthur memenuhi indranya sebelum ia membalas.
"Hanya itu?" tanya Lilianne dengan nada polos yang dibuat-buat, namun matanya memancarkan keberanian. "Anda menginginkan pewaris seolah-olah saya adalah ladang yang tinggal Anda tanami benih?"
Mata Arthur menyipit. "Kau lancang, Lady."
"Saya hanya mencoba memahami logika militer Anda, Yang Mulia," Lilianne melangkah satu tindak maju, membuat Arthur sedikit terkejut karena gadis ini tidak mundur. "Jika saya adalah pion, maka ingatlah bahwa dalam catur, pion adalah satu-satunya bidak yang bisa berubah menjadi Ratu yang paling mematikan jika ia berhasil mencapai ujung papan."
Arthur terdiam sejenak, menatap gadis 15 tahun di depannya dengan tatapan baru. Ada api di dalam mata perak itu, sebuah api yang tidak ia duga akan ditemukan pada seorang gadis yang terlihat seperti porselen rapuh.
"Kau pikir kau bisa menjadi Ratu di papan caturku?" Arthur mencengkeram bahu Lilianne, tidak cukup kuat untuk menyakiti, tapi cukup untuk menunjukkan dominasinya.
"Saya sudah menjadi Ratu Anda sejak cincin ini melingkar di jari saya," jawab Lilianne tegas. "Anda boleh tidak mencintai saya. Anda boleh menganggap saya bayangan. Tapi ingatlah ini, Yang Mulia... bayangan akan selalu mengikuti ke mana pun cahaya atau kegelapan membawa Anda. Anda tidak akan pernah bisa lepas dari saya."
Arthur menatap bibir Lilianne yang bergetar namun tetap mengeluarkan kata-kata tajam. Tanpa diduga, ia mendekatkan wajahnya, memberikan kecupan yang kasar dan dingin di kening Lilianne sebelum berbisik pelan di depan bibirnya.
"Kalau begitu, mari kita lihat, seberapa lama kau bisa bertahan di bawah kegelapan bayanganku, Lady Lilianne."
Arthur melepaskan cengkeramannya, berbalik, dan melangkah menuju sofa besar di sudut ruangan, meninggalkan Lilianne yang berdiri mematung di tengah kamar pengantin yang megah namun sunyi. Malam itu, bukan cinta yang lahir, melainkan sebuah deklarasi perang dalam bentuk pernikahan.
Lilianne menyentuh keningnya yang masih terasa dingin. Ia tahu, mulai malam ini, masa kecilnya telah berakhir. Ia bukan lagi putri kecil dari Utara; ia adalah calon penguasa Valerieth, dan ia akan memastikan bahwa sang singa kejam itu suatu hari nanti akan berlutut di bawah kakinya.
***
Bersambung...
entah kenapa
komen ini hilang