NovelToon NovelToon
Jejak Kembali Ke Piala Dunia

Jejak Kembali Ke Piala Dunia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Time Travel / Anak Genius
Popularitas:409
Nilai: 5
Nama Author: Naga Ruwet

Dika Pratama ialah seseorang yang secara tak terduga kembali ke masa SMA ya ditahun 2010. dikarenakan ia mendapatkan sebuah kesempatan untuk menebus penyesalan terbesar nya yaitu ia tidak memanfaatkan bakatnya yaitu bermain sepakbola, lantas di kehidupan ini ia akan bersungguh-sungguh dalam memanfaatkan bakatnya untuk membawa Indonesia menjadi juara piala dunia.


yuk ikuti terus bagaimana perjuangan Dika untuk menjadi seorang pesepakbola terbaik di dunia

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naga Ruwet, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Nada dari Masa Depan dan Strategi Rahasia

  Malam semakin larut. Di dalam kamar kecilnya yang sederhana, Dika duduk bersandar di kepala tempat tidur, menatap langit-langit yang remang-remang diterangi cahaya lampu 5 watt. Di tangannya, ada buku tulis tebal yang baru saja dia beli, halaman-halamannya mulai penuh dengan tulisan tangan kecil dan rapi.

Sejak penampilannya di panggung sekolah kemarin, kepercayaan dirinya di dunia musik tumbuh besar. Dia sadar, suaranya sudah bagus, teknik vokalnya terus membaik seiring latihan rutin, dan dia punya keunggulan mutlak yang tidak dimiliki siapa pun di dunia ini: dia tahu persis lagu-lagu apa saja yang akan menjadi sangat populer, digemari jutaan orang, dan menjadi lagu legendaris di tahun-tahun mendatang.

Pikirannya melayang ke masa depan. Di tahun 2026, dia ingat betul lagu-lagu apa saja yang menduduki puncak tangga lagu, lagu apa saja yang selalu diputar di radio, televisi, dan media sosial. Lagu-lagu itu belum ada di tahun 2010 ini. Belum ada yang menciptakannya, belum ada yang menyanyikannya. Dan di sinilah letak kelebihan besar Dika.

"Kenapa tidak?" batin Dika bertekad. "Ini bukan sekadar menyanyi. Ini bisnis. Kalau aku bisa bawakan lagu-lagu ini duluan, dengan suaraku sendiri, dan mengunggahnya ke YouTube... orang-orang akan mendengar, menyukai, dan aku bisa dapat uang dari situ. Uang itu nggak akan aku pakai buat jajan atau main. Semuanya akan aku belikan Bitcoin lagi. Asetku bakal makin banyak diam-diam, sampai nanti saatnya tiba, semuanya akan berubah jadi kekayaan besar."

Dika segera mengambil pena, mulai menulis lirik dan nada-nada yang terngiang jelas di kepalanya. Dia seolah sedang "menyalin" lagu-lagu dari ingatan masa depannya ke atas kertas.

Dia menuliskan lagu-lagu yang dia ingat: lagu balada yang menyentuh hati, lagu pop yang ceria dan mudah diingat, hingga lagu-lagu dengan lirik yang dalam dan puitis. Dia ingat melodi, dia ingat irama, dia ingat bagaimana cara menyanyikannya agar terasa pas. Bagi orang lain, ini adalah proses menciptakan lagu dari nol yang butuh waktu bertahun-tahun. Tapi bagi Dika, ini hanya soal mengingat kembali apa yang sudah dia hafal luar kepala selama bertahun-tahun hidupnya di masa depan.

Malam itu juga, Dika menyusun rencana detail di kepalanya. YouTube sudah ada sejak beberapa tahun lalu, tapi di Indonesia saat itu belum terlalu ramai seperti nanti. Belum banyak anak muda yang berpikir bisa dapat uang dari situ. Dika tahu, sistem monetisasi atau pendapatan dari iklan di video YouTube mulai berkembang dan makin menguntungkan di rentang tahun 2011 ke atas. Dia harus mulai duluan, membangun salurannya, mengumpulkan penonton, supaya saat sistem pembayarannya makin lancar, dia sudah punya banyak video yang menghasilkan uang pasif setiap bulannya.

"Besok aku harus cari cara merekam," gumam Dika pelan. "Nggak perlu alat mahal dulu. Aku ingat ada perangkat lunak gratis di internet buat rekam suara dan bikin musik sederhana. Kamera HP aku lumayan juga, cukup buat video sederhana. Yang penting isinya bagus, lagunya bagus, suaranya bagus. Itu kuncinya."

Keesokan harinya, sepulang sekolah dan setelah latihan bola selesai—di mana Dika semakin terlihat menonjol kemampuannya, membuat Pak Budi makin yakin akan potensi besar anak itu—Dika berpamitan pada Rio untuk tidak pulang bareng dulu.

"Rio, aku ada urusan sebentar di warnet. Kamu pulang duluan ya," kata Dika sambil membenahi tasnya.

Rio mengerutkan kening bingung. "Urusan apa lagi sih? Kita baru aja beli Bitcoin minggu lalu, kan? Mau beli lagi? Kan uang kita sudah habis."

Dika tersenyum misterius, lalu mendekatkan mulutnya ke telinga sahabatnya itu.

"Bukan beli, tapi cari cara buat dapetin uang lagi, banyak lagi, supaya bisa beli lebih banyak lagi. Tapi ini rahasia tingkat tinggi, Rio. Belum waktunya kamu tahu. Nanti kalau sudah berhasil, aku kasih tahu. Percaya aja ya."

Rio mengangkat kedua tangan tanda menyerah sambil tertawa. "Yaudah, yaudah. Kamu emang pemimpin, aku nurut aja. Hati-hati, jangan sampai kamu terlalu jenius sampai pusing sendiri ya!"

Di warnet, Dika duduk kembali di kursi kesayangannya di sudut ruangan. Kali ini dia tidak mencari informasi tentang sepak bola atau mata uang digital. Dia mencari perangkat lunak pengolah audio dan video gratis, juga mencari panduan cara merekam suara yang bagus meski dengan alat sederhana. Dia juga mendaftar membuat akun saluran di YouTube.

Saat mengisi nama saluran, Dika berpikir sejenak, lalu mengetikkan: "Suara Hati Dika". Sederhana, mudah diingat, dan menggambarkan isi dari lagu-lagu yang akan dia bawakan.

Malam itu, di rumah, Dika mulai mengerjakan misi rahasianya. Dia menunggu sampai suasana rumah benar-benar sepi. Ayah Ibu dan Rina sudah tidur. Jam dinding menunjukkan pukul sepuluh malam. Dia mengambil ponselnya, menyiapkan buku catatan berisi lirik lagu yang dia tulis tadi malam, dan duduk bersila di lantai kamarnya, dekat jendela yang tertutup tirai.

Dia memilih satu lagu yang di masa depan akan menjadi sangat legendaris, sering dinyanyikan orang di momen sedih maupun bahagia, lagunya sederhana tapi maknanya sangat dalam. Lagu itu belum ada siapa pun yang tahu di tahun 2010 ini.

Dika menarik napas panjang, menenangkan hati dan pikirannya, lalu mulai bernyanyi. Kali ini berbeda. Dia tidak sekadar bernyanyi seperti saat latihan atau di panggung sekolah. Dia bernyanyi dengan tujuan. Dia memikirkan nada, memikirkan ekspresi, memikirkan bagaimana lagu ini akan menyentuh hati pendengarnya nanti. Suaranya keluar jernih, rendah namun bergema, penuh perasaan yang tulus.

Dia merekam suaranya menggunakan ponsel, berulang kali sampai dia merasa hasilnya paling bagus dan pas. Lalu, dengan mengandalkan pengetahuannya mengedit video sederhana yang dia pelajari di masa depan, dia menyusun rekaman suaranya itu dengan iringan musik latar sederhana yang dia ambil dari situs musik bebas hak cipta. Dia menyusun teks lirik di layar, membuatnya tampak rapi dan enak dilihat.

Selama berjam-jam dia bekerja diam-diam. Sesekali dia harus berhenti dan bersembunyi saat mendengar langkah kaki Ibu lewat di depan kamarnya mengecek keadaan. Dia tidak ingin ada yang tahu dulu. Dia ingin ini jadi kejutan besar nanti, saat hasilnya sudah terlihat.

Pagi-pagi sekali, sebelum matahari terbit, Dika kembali ke warnet. Dengan koneksi internet yang agak lambat dan butuh waktu cukup lama, dia mulai mengunggah video pertamanya ke YouTube. Dia memberi judul lagu yang indah, menulis deskripsi yang menyentuh, dan memberi tagar yang relevan agar mudah dicari orang.

Saat tombol "Unggah" ditekan dan persentase pemuatan berjalan naik perlahan, jantung Dika berdebar kencang. Rasanya seperti meluncurkan kapal besar ke tengah samudra. Dia tidak tahu seberapa jauh kapal ini akan berlayar, tapi dia tahu isinya sangat berharga.

"Selesai..." bisik Dika lega saat tulisan "Video Anda telah berhasil dipublikasikan" muncul di layar.

Dia tidak berhenti di situ. Hari demi hari, di sela-sela jadwal padatnya: lari pagi, sekolah, latihan bola, latihan vokal, dan belajar strategi, Dika menyempatkan waktu diam-diam untuk membuat video-video baru. Dia mengeluarkan lagu-lagu "baru" satu per satu, lagu-lagu yang aslinya baru akan muncul di tahun 2012, 2014, 2018, dan seterusnya. Dia menyanyikannya dengan gaya khasnya sendiri, merekamnya sebaik mungkin dengan alat seadanya, dan mengunggahnya ke dunia maya.

Awalnya, penontonnya sedikit. Hanya puluhan kali tontonan. Tapi Dika sabar. Dia tahu, di dunia internet, butuh waktu untuk tumbuh. Dia terus konsisten. Dan benar saja, perlahan tapi pasti, angka penonton mulai naik. Dari puluhan jadi ratusan, ratusan jadi ribuan. Komentar-komentar mulai bermunculan.

"Suaranya bagus banget... siapa penyanyi ini? Lagunya indah sekali, belum pernah dengar sebelumnya."

"Liriknya menyentuh hati banget... bikin nangis dengerinnya. Lagu baru ya?"

"Keren! Jarang ada lagu sebagus ini sekarang. Semangat terus ya, Mas Dika!"

Setiap kali membaca komentar-komentar itu, bibir Dika tersenyum puas. Dia tahu dia berada di jalur yang benar. Dan yang paling penting, mulai pertengahan tahun 2011 nanti, saat pendapatannya mulai cair dari hasil iklan di video-video itu, Dika punya aliran uang pribadi yang rahasia, tanpa sepengetahuan orang tua, tanpa sepengetahuan Rio, bahkan tanpa sepengetahuan teman-temannya.

Uang itu dikumpulkan, disimpan rapi, lalu perlahan-lahan dikonversikan kembali ke dalam bentuk Bitcoin. Saat harga Bitcoin masih murah di tahun 2010 dan awal 2011, Dika memborongnya sebanyak-banyaknya. Dia memasukkan semua pendapatan YouTube-nya ke sana. Dia membiarkan koin-koin itu tertidur aman di dalam dompet digitalnya, menunggu waktu bangkitnya nilai itu berlipat ganda berkali-kali lipat di masa depan.

"Aku jadi punya dua sumber kekuatan sekarang," batin Dika saat sedang duduk beristirahat di pinggir lapangan sekolah sehari sebelum seleksi Tim Kota. "Satu dari kerja keras fisik dan bakat di lapangan, satu lagi dari kecerdasan memanfaatkan pengetahuan masa depan di dunia maya. Kalau satu jalan terhalang, jalan lain tetap terbuka. Aku nggak bakal gagal lagi kali ini."

Rio yang sedang duduk di sebelahnya sambil meminum air, menatap sahabatnya itu heran. Dika sering sekali melamun dan tersenyum sendiri belakangan ini.

"Kamu kenapa sih, Dik? Senyum-senyum sendiri kayak orang kesambet bahagia. Ada berita bagus apa?" tanya Rio penasaran.

Dika menoleh, menepuk bahu Rio dengan senyum penuh makna.

"Aku cuma bersyukur, Rio. Bersyukur kita punya kesempatan hidup, punya teman baik, dan punya masa depan yang cerah. Besok seleksi, kan? Aku rasanya siap banget. Rasanya aku bisa terbang kalau lari nanti."

"Ah, dasar kamu! Bikin aku ikut semangat aja," seru Rio tertawa. "Tapi beneran lho Dik, apa pun yang kamu rencanakan di belakang itu, aku yakin itu bagus. Kamu itu... kayak orang dewasa yang terjebak di badan anak SMA. Pikirannya jauh ke depan banget."

Sore itu, langit berwarna jingga keemasan, sangat indah dan menenangkan. Besok adalah hari penentuan besar pertama dalam karier sepak bola Dika. Seleksi Tim Kota. Gerbang menuju mimpi besarnya.

Malam itu, Dika tidur lebih awal. Dia ingin kondisinya prima sempurna. Di bawah bantalnya, ada buku catatan berisi strategi sepak bola. Di dalam saku bajunya yang digantung di kursi, ada secarik kertas berisi alamat dan kata sandi dompet digital tempat harta karun masa depannya disimpan. Dan di dalam dadanya, ada tekad baja dan bakat menyanyi yang kelak akan menjadi pelengkap hidupnya.

Sebelum memejamkan mata, Dika berbisik pelan dalam hati, seolah berbicara pada dirinya sendiri di masa lalu yang dulu pernah menyerah dan putus asa.

"Lihatlah... aku tidak menyia-nyiakan kesempatan kedua ini. Aku sedang membangun kerajaan mimpiku, batu demi batu, nada demi nada, koin demi koin. Besok, aku akan tunjukkan pada semua orang siapa aku sebenarnya."

1
WER
semangat author bikin bab nya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!