Raka Pratama hanyalah pemuda yatim piatu dari Pontianak yang terbiasa diremehkan oleh dunia.
Namun pada malam ketika darahnya menetes di tepi Sungai Kapuas, langit Pontianak retak, para dewa terbangun, dan sebuah suara agung menyatu dengan jiwanya.
[Sistem Dewa Absolut aktif.]
[Selamat datang kembali, Tuan.]
Sejak malam itu, Raka bukan lagi manusia biasa.
Makhluk asing dari Dunia Immortal mulai turun ke Pontianak. Para kultivator menyusup ke kota. Keluarga-keluarga besar diam-diam bekerja sama dengan mereka demi kekuasaan.
Mereka semua mengira Raka menyimpan pusaka dewa.
Padahal yang bangkit dalam tubuhnya bukan pusaka.
Melainkan pemilik takhta yang dulu membuat para dewa berlutut.
Pontianak pun berubah menjadi medan perang antar dunia.
Dan Raka Pratama… adalah pusat dari kebangkitan itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arrofy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27
Raka berjalan meninggalkan gang.
Namun sebelum sampai di ujung, seorang anak kecil laki-laki berdiri di depannya. Usianya mungkin sekitar sepuluh tahun. Bajunya lusuh, rambutnya berantakan, dan matanya tampak terlalu tajam untuk anak seusianya.
Anak itu memegang amplop cokelat kecil.
Raka berhenti.
Anak itu menatapnya dengan sedikit takut.
“Bang Raka?”
Raka menunduk sedikit.
“Iya.”
Anak itu menyerahkan amplop.
“Ada yang nyuruh kasih ini.”
Sistem langsung berbicara.
[Objek terdeteksi.]
[Tidak berbahaya secara fisik.]
[Jejak: Mahendra.]
Raka menerima amplop itu, tetapi tidak membukanya dulu.
“Siapa yang menyuruhmu?”
Anak itu menggeleng cepat.
“Saya nggak tahu, Bang. Orangnya pakai masker. Dia cuma kasih uang dua puluh ribu.”
Raka menatap anak itu.
Aura di tubuhnya putih kusam.
Anak ini tidak tahu apa-apa.
Hanya dipakai sebagai pengantar.
Raka memasukkan amplop ke saku jaketnya, lalu berjongkok di depan anak itu.
“Siapa namamu?”
“Fadil.”
“Fadil, lain kali kalau ada orang asing menyuruhmu mengantar sesuatu kepadaku, jangan mau.”
Anak itu menunduk.
“Tapi saya butuh uang, Bang.”
Kalimat itu sederhana.
Namun membuat mata Raka sedikit berubah.
Ia tahu rasanya.
Terlalu tahu.
Butuh uang sering membuat orang kecil menerima pekerjaan yang tidak mereka pahami bahayanya.
Raka mengambil beberapa lembar uang dari sakunya. Tidak banyak, tapi cukup untuk membeli makan. Ia menyerahkannya kepada Fadil.
Anak itu terkejut.
“Bang?”
“Beli makan. Tapi jangan jadi kurir orang-orang seperti itu lagi.”
Fadil ragu.
“Saya boleh ambil?”
Raka mengangguk.
“Boleh.”
Fadil menerimanya dengan mata berbinar, lalu menunduk cepat.
“Makasih, Bang Raka!”
Anak itu berlari pergi.
Raka menatap punggung kecilnya.
Sistem berbicara.
[Tuan memberi uang kepada anak itu.]
“Dia cuma anak kecil.”
[Benar.]
Raka melanjutkan berjalan.
“Aku tidak menyentuh orang biasa. Apalagi anak kecil.”
[Musuh Tuan mungkin akan memahami itu sebagai celah.]
Raka tersenyum tipis.
“Kalau mereka menyentuh anak itu, berarti mereka memilih mati lebih cepat.”
Sistem tidak membantah.
Raka berjalan sampai ke jalan utama. Suasana pagi mulai lebih ramai. Warung-warung buka. Motor semakin banyak. Orang-orang berangkat kerja, sekolah, dan pasar.
Kehidupan biasa Pontianak terus berjalan.
Namun di balik itu, bayangan keluarga Mahendra sudah menyusup ke gang-gang kecil.
Raka berhenti di depan sebuah warung sarapan sederhana. Ia duduk di kursi plastik dan memesan kopi hitam serta nasi kuning.
Barulah ia membuka amplop cokelat tadi.
Di dalamnya hanya ada satu foto.
Foto dirinya.
Diambil dari jauh.
Di bagian belakang foto, ada tulisan pendek dengan tinta hitam.
Kami tahu tempat tinggalmu.
Raka menatap tulisan itu beberapa detik.
Lalu ia tertawa pelan.
Bukan tawa lucu.
Bukan tawa santai.
Tawa itu dingin, cukup membuat pemilik warung yang sedang menuang kopi menoleh sebentar.
Sistem berkata.
[Ancaman tidak langsung.]
[Target: psikologis.]
Raka meletakkan foto itu di meja.
“Mahendra benar-benar mengira aku akan takut karena mereka tahu kamar kontrakanku.”
[Analisis: mereka mencoba menekan sisi manusiawi Tuan.]
Raka mengambil gelas kopi yang baru diletakkan di depannya.
Ia menyesap sedikit.
Pahit.
Hangat.
Biasa.
Lalu ia menatap foto itu lagi.
“Mereka salah.”
[Dalam hal apa?]
Raka menurunkan gelas.
“Tempat tinggal bisa pindah.”
Matanya menjadi dingin.
“Tapi rumah mereka…”
Ia menyentuh foto itu dengan satu jari.
Cahaya emas kecil menyala, membakar foto itu dari tengah hingga menjadi abu tanpa menyentuh meja.
“…terlalu besar untuk disembunyikan.”
Di rumah besar keluarga Mahendra, Bram menerima laporan dari tiga orang yang tadi mengawasi Raka.
Wajahnya semakin pucat saat mendengar mereka ditandai.
“Dia tahu kalian sejak awal?”
Pemuda yang tadi mengawasi dari warung kecil mengangguk cepat.
“Iya, Bang. Dia langsung tahu.”
Bram memejamkan mata.
Sudah ia duga.
Mengawasi Raka bukan perkara mudah.
Perempuan dengan keranjang berkata gemetar, “Bang, kami tidak mau lagi. Dada saya sesak kalau mikir mau bohong tentang dia.”
Pria tua yang berpura-pura memperbaiki sepeda menambahkan, “Saya juga, Bang. Rasanya seperti ada sesuatu di sini.”
Ia menunjuk dadanya.
Bram mengusap wajah.
Cap lagi.
Raka tidak lagi hanya menghajar musuh.
Ia menanamkan rasa takut seperti tanda di dalam jiwa.
Bram merasa semakin yakin bahwa mereka bukan sedang menghadapi orang kuat biasa.
Ia membawa laporan itu kepada Surya Mahendra.
Surya mendengarkan dengan wajah tenang, tetapi matanya semakin tajam.
“Jadi dia tahu pengawasan kita.”
Bram menunduk.
“Iya, Pak.”
“Dia menyakiti mereka?”
“Tidak separah yang lain, Pak. Tapi mereka ditandai.”
Surya mengetuk meja dengan jari.
“Dia membedakan tingkat hukuman.”
Bram mengangkat wajah sedikit.
Surya melanjutkan pelan, “Preman yang menyerang dihukum berat. Pengawas kecil dihukum ringan. Anak kecil yang membawa amplop tidak disentuh.”
Bram terdiam.
Ia tidak memikirkan itu.
Namun sekarang setelah Surya mengatakannya, pola itu terlihat jelas.
Raka bukan sekadar marah.
Ia menimbang.
Dan itu membuatnya lebih berbahaya.
Orang yang marah bisa dipancing.
Tapi orang yang menimbang sebelum menghukum tidak mudah dijebak.
Surya bersandar di kursinya.
“Menarik.”
Bram merasa kata itu tidak enak didengar.
Setiap kali seseorang di rumah Mahendra menyebut Raka menarik, masalah menjadi lebih besar.
Reza masuk ke ruangan dengan wajah kesal.
“Kenapa kita masih main-main? Kalau dia tahu kita awasi, berarti langsung saja kirim orang lebih banyak.”
Surya menatapnya datar.
“Kau masih belum belajar?”
Reza mengeraskan rahang.
“Pa, dia mempermalukan keluarga kita. Dia menandai orang kita. Kalau kita diam, orang-orang akan berpikir Mahendra takut.”
Surya berdiri perlahan.
“Dan kalau kita bergerak bodoh, orang-orang tidak akan berpikir apa-apa lagi, karena Mahendra mungkin tinggal nama.”
Reza terdiam.
Surya mendekat, menatap anaknya dari jarak dekat.
“Raka bukan Bram. Bukan preman pasar. Bukan pemuda miskin yang bisa kau injak.”
Reza mengepalkan tangan.
“Jadi Papa mau tunduk?”
Surya menampar Reza.
PLAK!
Ruangan langsung hening.
Bram menunduk lebih dalam.
Reza memegang pipinya dengan mata melebar.
Surya berkata dingin, “Aku tidak membesarkanmu untuk menjadi bodoh.”
Reza menatap ayahnya dengan napas berat.
Surya melanjutkan, “Kita tidak tunduk. Kita belajar medan perang sebelum menyerang.”
Di sudut ruangan, suara tawa pelan terdengar.
Hei Yan muncul dari bayangan.
“Ucapan yang bijak.”
Surya tidak menoleh.
“Kau mendengar semuanya?”
“Aku selalu mendengar hal yang menarik.”
Hei Yan menatap Bram.
“Raka menandai pengawas?”
Bram mengangguk.
“Ya.”
Hei Yan tersenyum tipis.
“Semakin jelas. Ia tidak sembarang menghukum.”
Reza mendengus.
“Jadi apa? Kita harus kagum?”
Hei Yan menatapnya.
“Tidak. Kita harus memanfaatkan itu.”
Surya menyipitkan mata.
“Apa maksudmu?”
Hei Yan berjalan mendekati meja.
“Orang yang memiliki batas akan bergerak jika batasnya disentuh.”
Bram langsung merasa tidak enak.
Hei Yan melanjutkan.
“Tapi kali ini, jangan sentuh orang biasa secara kasar. Buat keadaan di mana Raka harus memilih.”
Surya diam.
Hei Yan menatap jendela.
“Misalnya, tuduhan hukum. Orang biasa yang ia lindungi dibuat terlihat bersalah. Jika Raka bergerak keras, ia dianggap penjahat. Jika ia diam, orang yang ia lindungi hancur.”
Reza perlahan tersenyum.
Surya tidak langsung bicara.
Bram merasa punggungnya dingin.
Karena ia tahu, jika rencana itu melibatkan Pak Harun, Bu Lestari, Dimas, atau anak kecil seperti Fadil, Raka tidak akan tinggal diam.
Dan jika Raka tidak tinggal diam…
Mungkin rumah Mahendra akan benar-benar menjadi tempat yang tidak aman.
Surya akhirnya berkata pelan, “Siapkan pertemuan dengan Hendra Wiranata.”
Hei Yan tersenyum.
“Keluarga politik itu?”
Surya mengangguk.
“Kita akan lihat apakah Raka bisa melawan kekerasan yang tidak memakai tangan.”
Di warung sarapan, Raka menyelesaikan kopinya.
Ia tidak tahu detail rencana Mahendra.
Namun ia bisa merasakan arah angin berubah.
Musuh mulai berhenti menyerang dengan otot.
Mereka akan memakai cara lain.
Cara manusia.
Surat.
Hukum.
Fitnah.
Tuduhan.
Raka berdiri dan meletakkan uang di meja.
Sistem berbicara.
[Tuan tampak tenang.]
“Karena aku sudah tahu mereka akan bergerak.”
[Dan jika mereka menyerang melalui hukum manusia?]
Raka berjalan meninggalkan warung.
“Hukum manusia bisa dipakai orang busuk.”
[Benar.]
Raka menatap jalanan Pontianak yang semakin ramai.
“Tapi ketakutan…”
Matanya memantulkan cahaya emas tipis.
“…tidak butuh surat resmi.”
Ia melangkah ke tengah pagi yang mulai panas.
Di kejauhan, Sungai Kapuas tetap mengalir.
Namun di bawah arusnya, sesuatu yang sangat tua kembali berdenyut pelan.
Seolah menunggu Raka membuka lapisan berikutnya dari kota ini.