NovelToon NovelToon
KONTRAK GELAP SANG PROFESOR

KONTRAK GELAP SANG PROFESOR

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Dosen / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: gendiz

"sebuah kontrak yang menyelamatkan namun siksaan dari profesor untuk mahasiswinya..."

Akankah yang awalnya siksaan itu menjadi sebuah kenikmatan atau kebahagiaan, bisa jadi penyesalan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gendiz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 1: Perangkap di Tengah Hujan

BAB 1: Perangkap di Tengah Hujan

​Hujan badai malam itu seperti sengaja menyiram Jakarta dengan kemarahan. Kiara menyeka tetesan air yang terus turun menutupi pandangannya, sementara kedua kakinya yang sudah lemas dipaksa untuk terus berlari di atas aspal yang basah. Napasnya terengah-engah, memburu di antara suara petir yang menggelegar. Dada gadis berusia dua puluh tahun itu naik turun dengan ekstrem, berdegup begitu kencang hingga memicu rasa sakit yang menusuk.

​"Hei! Jangan lari kamu, jalang kecil! Bayar utang pamanmu!"

​Suara teriakan berat dari belakang membuat bulu kuduk Kiara meremajang. Dua pria berbadan besar dengan jaket kulit hitam dan tato yang memenuhi leher mereka terus membuntutinya sejak ia keluar dari minimarket tempatnya bekerja paruh waktu. Paman sialannya lagi-lagi kalah judi, dan malam ini, sang paman kabur entah kemana, menjadikan Kiara sebagai jaminan atas uang ratusan juta rupiah yang melayang.

​Kiara nekat membelokkan langkahnya ke dalam sebuah gang sempit. Sial. Keputusannya salah besar. Di ujung gang, hanya ada tembok beton setinggi tiga meter yang memutus jalannya. Jalan buntu.

​Kiara berbalik dengan tubuh gemetar hebat. Punggungnya menempel pada dinding batu yang dingin, sementara kedua pria sangar itu sudah berdiri di mulut gang, menutup satu-satunya jalan keluar dengan seringai menjijikkan.

​"Mau lari kemana lagi, manis? Pamanmu sudah menggadaikanmu pada bos kami. Kalau tidak ada uang, tubuh indahmu ini juga bisa jadi bayaran yang setimpal," ucap salah satu pria bertato sambil melangkah maju, matanya menatap lapar ke arah tubuh Kiara.

​Baju kaus putih tipis yang dikenakan Kiara sudah basah kuyup karena hujan, menempel ketat dan mencetak jelas lekuk tubuhnya yang sintal, termasuk siluet pakaian dalam hitam yang ia kenakan di balik kaus tersebut. Kiara mendekap dadanya sendiri dengan kedua tangan, mencoba melindungi diri dari tatapan menjijikkan itu.

​"Ja-jangan mendekat! Saya akan panggil polisi!" ancam Kiara dengan suara bergetar, air matanya mulai luruh menyatu dengan air hujan.

​"Panggil saja, kalau kamu sempat!" Pria itu terkekeh, tangannya yang kasar terulur hendak mencengkeram rahang Kiara.

​Kiara memejamkan mata rapat-rapat, bersiap menghadapi takdir terburuknya malam ini. Namun, tepat sebelum jemari kotor itu menyentuh kulitnya, sebuah sorot lampu mobil yang sangat terang memotong kegelapan gang tersebut. Sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam metalik berhenti mendadak tepat di belakang kedua preman itu, membuat suara decitan ban yang memekakkan telinga.

​Kedua preman itu menoleh dengan kesal, silau oleh lampu xenon mobil tersebut. Pintu kemudi tidak terbuka, melainkan kaca jendela hitamnya yang perlahan turun secara otomatis.

​Dari dalam mobil yang sejuk oleh AC, samar-samar tercium aroma parfum maskulin yang sangat mahal—perpaduan antara wangi kayu sandalwood dan blackpepper yang langsung mendominasi udara malam yang dingin. Di balik kemudi, duduk seorang pria dengan setelan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku, menampilkan jam tangan mewah melingkar di pergelangan tangannya yang kokoh.

​Jantung Kiara seolah berhenti berdetak saat cahaya lampu jalan menerangi wajah pria itu.

​Profesor Adrian.

​Dia adalah Adrian Alkatiri, dosen pembimbing sekaligus profesor muda berusia dua puluh sembilan tahun yang terkenal paling dingin, kejam, dan tanpa ampun di seluruh universitas tempat Kiara kuliah. Pria yang biasanya menatap mahasiswanya dengan pandangan menguliti di dalam kelas, kini sedang berada di sini, menatap Kiara dari dalam mobil mewahnya.

​Adrian tidak melihat ke arah dua preman yang mulai menatapnya dengan pandangan mengancam. Mata elangnya yang tajam beriris gelap langsung mengunci tubuh Kiara yang basah kuyup. Tatapan Adrian perlahan turun, menilai bagaimana kaus putih basah itu menempel ketat di dada Kiara, mengekspos bentuk payudara gadis itu yang membusung karena napas yang memburu. Sudut bibir Adrian terangkat sangat tipis—sebuah senyuman tengil sekaligus penuh dominasi yang belum pernah Kiara lihat di kampus.

​"Butuh tumpangan, Mahasiswaku?" Suara bariton Adrian terdengar berat, dalam, dan begitu tenang di tengah gemuruh hujan, namun sanggup menggetarkan bagian terdalam dari diri Kiara.

​"Woy, sialan! Jangan ikut campur ya! Pergi kamu dari sini kalau tidak mau mobil mewahmu ini hancur!" gertak salah satu preman sambil memukul kap mesin mobil Adrian.

​Adrian sama sekali tidak mengalihkan pandangannya dari Kiara. Dia mengabaikan gertakan tersebut seolah kedua pria besar itu hanyalah kerikil kecil. Adrian mengetukkan jemarinya yang panjang secara ritmis di atas setir mobil.

​"Utang pamanmu pada bos mereka adalah tiga ratus lima puluh juta rupiah, Kiara. Dan mereka tidak akan melepaskanmu begitu saja malam ini," ujar Adrian, menyebutkan nominal yang membuat Kiara makin lemas. Bagaimana dosennya bisa tahu?

​"Pak... tolong saya..." lirih Kiara dengan bibir yang sudah membiru karena kedinginan dan ketakutan.

​Adrian menyandarkan punggungnya ke jok kulit mobil yang empuk. Wajahnya yang luar biasa tampan dengan rahang tegas dan rambut yang tertata rapi mengekspos aura kekuasaan yang mutlak.

​"Aku bisa melunasinya dalam satu detik, Kiara. Aku bisa membawamu keluar dari neraka ini sekarang juga," ucap Adrian dengan nada sensual yang merayap di indra pendengaran Kiara. "Tapi, kamu tahu betul prinsipku di kelas, bukan? Tidak ada nilai gratis di dunia ini. Begitu juga dengan pertolonganku."

​"M-maksud Bapak?"

​Adrian menatap lekat-lekat mata Kiara yang berkaca-kaca. "Masuk ke mobilku, tanda tangani kontrak untuk menjadi milikku selama satu tahun penuh, atau kubiarkan kedua pria berwajah sangar ini membawamu malam ini untuk memuaskan nafsu bos mereka. Pilihan ada di tanganmu, Sayang."

​Kata 'Sayang' yang keluar dari bibir seksi Adrian terdengar seperti sebuah bisikan iblis yang paling memikat sekaligus mematikan.

​Salah satu preman yang sudah habis kesabaran kembali melangkah mendekati Kiara, siap menarik paksa lengan gadis itu. Ketakutan luar biasa langsung merenggut akal sehat Kiara. Menjadi santapan para rentenir atau menyerahkan dirinya pada sang profesor yang misterius?

​"S-saya ikut Bapak! Tolong saya, Pak!" jerit Kiara histeris saat tangan preman itu nyaris menyentuh kulit bahunya.

​Mendengar itu, Adrian tersenyum puas. Dia menekan sebuah tombol di dasbor mobilnya. Jendela mobil kembali menutup rapat, dan dalam hitungan detik, Adrian keluar dari mobil. Pria itu memiliki tinggi badan hampir seratus sembilan puluh sentimeter, membuat kedua preman di depannya langsung tampak kerdil.

​Tanpa rasa takut sedikit pun, Adrian mengeluarkan sebuah cek dari dompet kulitnya, menuliskan angka di atasnya dengan pulpen emas, lalu melemparkannya tepat ke dada salah satu preman.

​"Bawa itu ke bank besok pagi. Dan jika aku melihat wajah kalian lagi di sekitar gadisku, kupastikan kalian membusuk di penjara sebelum matahari terbit," ucap Adrian dengan nada suara yang begitu dingin, sedingin es yang mampu membekukan darah siapapun yang mendengarnya.

​Kedua preman itu melihat angka yang tertera di cek. Mata mereka terbelalak. Tanpa banyak bicara lagi, mereka langsung berbalik dan berlari meninggalkan gang, menyadari bahwa pria di depan mereka bukan sekadar orang kaya biasa, melainkan seseorang yang memiliki kekuasaan besar.

​Setelah kedua preman itu pergi, keheningan malam kembali menguasai gang sempit itu, menyisakan suara deru hujan dan deru mesin mobil yang halus.

​Adrian berbalik, berjalan perlahan mendekati Kiara yang masih menyandarkan tubuhnya di dinding batu. Setiap langkah kaki Adrian yang terbalut sepatu pantofel mahal terdengar seperti ketukan lonceng kematian bagi kebebasan Kiara.

​Adrian berhenti tepat satu jengkal di depan Kiara. Tubuhnya yang tinggi besar sepenuhnya mengeliminasi hawa dingin hujan, menggantikannya dengan aura panas tubuh pria itu yang mendominasi. Adrian menundukkan kepalanya, mendekatkan wajahnya ke telinga Kiara hingga helai rambutnya yang sedikit basah menyentuh pipi gadis itu.

​"Pilihan yang sangat cerdas, Kiara," bisik Adrian. Napasnya yang hangat beraroma mint menyapu kulit leher Kiara yang sensitif, membuat tubuh gadis itu meremang hebat dengan sensasi aneh yang mendadak membakar gairahnya.

​Tangan Adrian yang besar dan hangat perlahan terulur, menjalar ke pinggang Kiara yang ramping, meremasnya dengan lembut namun penuh penekanan, seolah sedang menandai wilayah kekuasaannya yang baru. Sontak, Kiara memekik pelan, mendongak dan menatap langsung ke dalam mata elang Adrian yang kini berkilat penuh gairah lapar dan obsesi yang gelap.

​"Mulai malam ini... seluruh tubuhmu, jiwamu, dan setiap desahanmu... adalah milikku, Kiara. Jangan harap kamu bisa lepas," bisik Adrian dengan senyum tengilnya sebelum menarik tubuh Kiara yang basah ke dalam dekapannya yang panas, membawanya masuk ke dalam mobil menuju tempat di mana kontrak gelap mereka akan segera dimulai.

1
cynth
KIND OF NOVEL I'VE BEEN LOOKING FOR (ToT)! Ini jatuhnya kayak dark romance kah, Thor? Gragas banget si Adrian 😭
Yolan Manik: yasudah, semangat ya thor💪
total 4 replies
cynth
Serem 😭
gendiz: ayo kita ngumpet kak 😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!