NovelToon NovelToon
Kisah Arkan Dan Nara

Kisah Arkan Dan Nara

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak / CEO
Popularitas:917
Nilai: 5
Nama Author: Rani Febrianti

Sinopsis:

Arkan Dirgantara, CEO dingin dan angkuh, terpaksa menikahi Nara—gadis sederhana yang dijodohkan—hanya demi memenuhi permintaan keluarga dan menyelamatkan bisnis. Pernikahan ini hanyalah perjanjian dua tahun tanpa cinta, karena hati Arkan sudah lama tertutup dan milik wanita lain di masa lalu.

Di bawah satu atap, mereka berdua berjuang dengan perasaan masing-masing. Nara yang sabar dan tulus perlahan meruntuhkan tembok tinggi di hati Arkan, sementara Arkan berusaha menepis rasa nyaman yang tumbuh, merasa bersalah pada kenangannya. Saat wanita masa lalu itu kembali hadir, ujian terbesar pun datang: akankah Arkan tetap pada janji setianya pada kenangan, atau ia sadar bahwa Nara-lah kenyataan yang selama ini ia cari? Sebuah kisah tentang pernikahan terpaksa, luka masa lalu, dan cinta yang tumbuh perlahan di antara dua dunia yang berbeda.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani Febrianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 14: Di Balik Topeng Kebohongan

Perjalanan pulang malam itu terasa begitu panjang, sunyi, dan menyesakkan. Di dalam mobil mewah yang melaju cepat membelah jalanan kota yang sepi, suasana terasa lebih dingin daripada udara malam yang menusuk tulang. Arkan duduk di kursi belakang, tubuhnya terkulai lemas, matanya menatap kosong ke luar jendela yang tertutup rapat. Wajahnya pucat pasi, bibirnya kering dan pecah-pecah, sementara hatinya terasa hancur berkeping-keping, sakitnya jauh melebihi apa pun yang pernah ia rasakan seumur hidupnya.

Di sebelahnya, Kirana duduk dengan anggun, senyum kemenangan tipis tak pernah lepas dari bibirnya. Ia sesekali melirik ke arah Arkan, puas melihat pria itu tampak begitu kalah, begitu hancur, dan begitu tidak berdaya. Baginya, malam ini adalah kemenangan besar. Ia berhasil membungkam Nara, berhasil membuat gadis itu menyerah dan berjanji akan pergi jauh, serta berhasil membawa Arkan kembali ke sisinya—meski dengan cara paksa dan penuh ancaman. Tapi bagi Kirana, cara apa pun sah-sah saja selama ia bisa mendapatkan apa yang menjadi haknya.

"Kamu lihat sendiri, kan, Arkan?" ucap Kirana lembut, suaranya terdengar manis namun mengandung racun yang mematikan. Ia menyentuh lengan Arkan pelan, namun Arkan langsung menarik lengannya menjauh, seolah sentuhan wanita itu adalah api panas yang bisa membakar kulitnya.

Kirana tidak tersinggung. Ia malah tersenyum makin lebar.

"Nara sendiri yang memutuskan untuk pergi. Dia yang bilang dia tidak mau mengganggu kita lagi. Dia sadar diri, Arkan. Dia tahu tempatnya di mana. Dia cuma gadis biasa, orang kecil, tidak pantas berada di lingkaran kita. Lebih baik begini. Semuanya jadi jelas. Tidak ada lagi orang ketiga, tidak ada lagi kebingungan. Sekarang cuma ada kamu dan aku, seperti dulu, seperti yang kita rencanakan sejak lama."

Arkan tidak menjawab. Ia masih diam, matanya memandang jauh ke kegelapan. Di kepalanya, bayangan wajah Nara terus berputar—wajah pucat itu, mata yang basah namun tegas, senyum perpisahan yang menyakitkan itu. Kata-kata Nara tadi malam terus bergema di telinganya: "Biarkan saya pergi... itu satu-satunya cara supaya saya merasa aman dan tenang."

Arkan mengerti. Arkan paham betul. Nara tidak pergi karena ia menyerah pada cinta mereka. Nara pergi karena ia takut. Ia takut Kirana akan menindas orang tuanya, merusak nama baik keluarganya, dan membuat hidup mereka semakin menderita. Nara mengorbankan cintanya demi keselamatan dan ketenangan orang-orang yang dicintainya. Dan Arkan sadar, dialah penyebab semua ini. Dialah yang membuat Nara harus merasa takut dan harus mengorbankan kebahagiaannya sendiri.

Rasa benci pada dirinya sendiri merayap naik di dada Arkan, bercampur dengan rasa marah yang membara pada Kirana. Untuk pertama kalinya, Arkan melihat wanita yang dulu ia puja itu dengan mata terbuka sepenuhnya. Ia tidak lagi melihat Kirana sebagai gadis manis, lembut, dan penuh kasih sayang yang ia tinggalkan lima tahun lalu. Yang ia lihat sekarang adalah wanita yang berwajah dua—wanita yang di depannya bertingkah laku manja dan sedih, tapi di belakangnya ternyata kejam, licik, dan tidak segan-segan mengancam nyawa dan masa depan orang lain demi ambisinya semata.

"Kamu sudah puas, Kirana?" tanya Arkan tiba-tiba, suaranya terdengar rendah, serak, dan sangat dingin—sangat berbeda dari nada bicara lembutnya dulu. Ia menoleh menatap Kirana tajam, tatapannya begitu menusuk hingga Kirana sedikit tersentak kaget. "Kamu sudah puas membuat orang lain menderita demi kepuasan egomu sendiri? Kamu sudah puas mengancam, menekan, dan memaksa orang yang sama sekali tidak bersalah?"

Wajah Kirana sedikit berubah, namun ia segera kembali memasang topeng sedihnya. Ia memegang tangan Arkan, mengelusnya perlahan.

"Apa sih yang kamu omongkan, Arkan? Aku melakukan semua ini demi kita. Demi cinta kita. Aku tidak mau ada halangan, aku tidak mau ada orang lain yang merusak kebahagiaan kita. Kamu salah paham kalau bilang aku menindas dia. Dia sendiri yang merasa tidak cocok, dia sendiri yang merasa tersisih. Aku cuma memperjelas keadaan saja."

"Kau pembohong!" desis Arkan melepaskan tangan Kirana dengan kasar. Matanya membelalak menahan amarah yang meluap. "Aku tidak buta, Kirana! Aku dengar semuanya! Aku lihat bagaimana caramu berbicara padanya, bagaimana kamu mengancam akan menghancurkan nama baiknya dan keluarganya! Kamu pikir aku tidak tahu apa-apa? Kamu pikir aku masih sama bodohnya seperti lima tahun lalu yang menelan mentah-mentah semua kata-kata manismu?!"

Arkan kembali membuang muka, napasnya memburu.

"Kamu berubah, Kirana. Atau mungkin... kamu memang seperti ini dari awal, hanya saja aku yang terlalu buta karena cinta sampai tidak pernah menyadarinya. Kamu bukan wanita yang aku kenal dulu. Wanita yang aku cintai dulu tidak akan pernah tega menyakiti hati orang lain, apalagi orang yang tidak punya daya seperti Nara."

Kirana terdiam. Senyum di bibirnya lenyap seketika. Ia menatap Arkan dengan pandangan tak percaya. Ia tidak menyangka Arkan akan berani berbicara sekeras dan setajam ini padanya. Ia pikir setelah Nara pergi, Arkan akan kembali menjadi miliknya sepenuhnya, tunduk dan patuh seperti dulu. Tapi ternyata, kepergian Nara justru membuka mata Arkan dan membuat benih-benih kebencian serta kekecewaan tumbuh subur di hati pria itu.

"Jadi... sekarang aku yang kamu salahkan? Aku yang kamu tuduh jahat? Demi wanita itu?" suara Kirana mulai bergetar, campuran antara marah dan kaget. Air mata mulai menggenang lagi—senjata andalannya yang mulai kehilangan kekuatannya di mata Arkan. "Aku sudah menunggu kamu lima tahun, Arkan! Aku berjuang sendirian di negeri orang, menahan rindu, menahan kesepian... dan begitu aku pulang, kamu malah membanding-bandingkan aku dengan wanita lain? Kamu lebih memihak dia daripada aku? Padahal dialah orang asing yang masuk di antara kita!"

"Kalau dia orang asing, maka aku lebih memilih orang asing yang tulus daripada orang terdekat yang penuh kepalsuan!" jawab Arkan tegas, lalu ia tidak mau berbicara lagi. Ia kembali menatap ke luar jendela, membiarkan Kirana menangis dan marah di sebelahnya sendirian.

Mobil akhirnya memasuki gerbang rumah besar keluarga Arkan. Lampu-lampu taman menyala terang, menerangi halaman luas yang dulu terasa megah dan membanggakan, namun malam ini terasa begitu dingin, kosong, dan seperti penjara mewah. Mobil berhenti tepat di depan pintu utama. Arkan turun lebih dulu tanpa menunggu Kirana, berjalan cepat masuk ke dalam rumah dengan langkah lebar, seolah ingin segera menjauh dari wanita itu.

Kirana mengejar dari belakang, berjalan tergesa-gesa dengan wajah merah padam menahan emosi yang meluap.

"Arkan! Tunggu aku! Kita belum selesai bicara!" seru Kirana sambil menutup pintu utama dengan keras. Suara bantingan pintu itu bergema di seluruh ruangan.

Di lorong, Bu Inah sedang berdiri diam, seolah sudah menunggu kedatangan mereka. Wanita tua itu menundukkan kepalanya dalam-dalam saat melihat Arkan lewat. Di pipi kirinya masih terlihat jelas bekas kemerahan bekas tamparan Kirana tadi siang. Arkan sempat melirik sekilas, dan hati Arkan terasa nyeri melihatnya. Ia ingat betul Nara pernah bercerita betapa baik dan perhatiannya Bu Inah padanya, betapa wanita tua itu selalu ada untuk Nara saat ia merasa kesepian. Dan sekarang, Arkan tahu pasti bahwa Kirana-lah penyebab kemerahan di pipi itu.

Arkan berhenti sejenak di depan Bu Inah. Ia tidak bertanya, tapi tatapannya yang penuh rasa bersalah sudah cukup menjawab segalanya. Bu Inah hanya menggeleng pelan, memberi isyarat agar Tuan mudanya itu tidak perlu khawatir, lalu berjalan perlahan pergi ke dapur.

"Dasar pembual dan pengadu," gumam Kirana sinis saat melewati Bu Inah, cukup keras agar wanita itu mendengarnya.

Arkan mengepalkan tangannya kuat-kuat di sisi tubuhnya. Ia ingin sekali membalas, ia ingin sekali menegur Kirana, tapi ia sadar saat ini posisinya masih lemah. Kirana memegang ancaman atas masa depan Nara. Jika Arkan bertindak sembarangan sekarang, Kirana bisa saja menepati ancamannya dan melakukan hal buruk pada keluarga Nara. Arkan harus sabar. Ia harus mencari cara lain. Ia harus mencari bukti, dan ia harus mencari cara untuk menjatuhkan Kirana tanpa membahayakan nyawa dan nama baik Nara.

Arkan berjalan menaiki tangga dengan cepat, menuju kamarnya. Ia berniat mengunci diri di sana, menjauh dari Kirana, dan merencanakan langkah selanjutnya. Namun Kirana lebih cepat, ia berlari kecil dan berdiri menghalangi pintu kamar utama Arkan, melarang pria itu masuk.

"Kamu mau ke mana? Mau lari lagi? Tidak! Kita harus bicara sampai selesai!" seru Kirana bernapas berat. Matanya melotot, rambutnya sedikit berantakan, wajahnya yang cantik kini terlihat menyeramkan dan penuh kegilaan. "Kamu pikir setelah apa yang terjadi malam ini, kamu bisa diam saja? Kamu pikir aku akan membiarkanmu melamunkan dia lagi? Mulai sekarang, Arkan, aku tidak akan melepaskanmu sedetik pun. Aku akan selalu ada di dekatmu. Aku akan pastikan kamu tidak punya waktu, tidak punya kesempatan, dan tidak punya pikiran lain selain aku! Kamu milikku! Selamanya milikku!"

Arkan menatap Kirana lekat-lekat, rasa kasihan mulai bercampur dengan rasa jijik di hatinya. Ia melihat betapa rusaknya wanita ini oleh rasa cinta dan egonya sendiri.

"Kamu pikir dengan mengurungku, dengan mengancam, dengan memaksaku... kamu bisa memiliki hatiku, Kirana?" tanya Arkan pelan, suaranya tenang namun tajam menyayat hati. Ia menatap lurus ke manik mata wanita itu. "Kamu salah besar. Semakin kamu memaksaku, semakin kamu menyakiti orang-orang yang aku sayangi... semakin jauh kamu mendorongku pergi. Hatiku bukan benda yang bisa kau ambil dan kau simpan seenaknya. Dan ketahuilah... mulai detik ini, musuhku bukan lagi masa lalu atau perasaanku yang bingung. Musuhku sekarang adalah kamu, Kirana. Kamu lah satu-satunya penghalang kebahagiaanku."

Perlahan Arkan menyingkirkan tubuh Kirana dari depan pintu dengan gerakan halus namun tegas. Ia masuk ke dalam kamarnya, lalu menutup dan mengunci pintu itu rapat-rapat tepat di depan wajah Kirana yang terbelalak kaget dan marah.

"Arkan! Buka pintunya! Buka sekarang juga!!" Kirana menggedor pintu itu keras-keras, berteriak histeris, memukul, dan menendang daun pintu kokoh itu. "Kamu tidak berhak mengunciku keluar! Ini rumahku! Kamu milikku! Arkan!!"

Di dalam kamar, Arkan bersandar di belakang pintu, meluncur turun hingga ia duduk di lantai dingin. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan, dan untuk pertama kalinya malam itu, air matanya jatuh deras. Tangis yang tertahan sejak sore itu akhirnya pecah juga. Ia menangis bukan hanya karena kehilangan Nara, tapi juga karena menyesal telah membiarkan wanita jahat seperti Kirana masuk kembali ke dalam hidupnya, menyesal telah menyia-nyiakan wanita tulus seperti Nara, dan menyesal telah menjadi penyebab utama segala penderitaan ini.

Di luar pintu, teriakan Kirana perlahan mereda, berganti dengan isak tangis yang panjang dan penuh dendam. Kirana akhirnya berhenti menggedor. Ia berdiri diam di depan pintu itu, napasnya memburu, matanya menatap pintu kayu itu dengan kilatan kebencian yang baru—kebencian bukan lagi pada Nara saja, tapi kini juga pada Arkan.

"Kamu mau begini, ya, Arkan?" bisik Kirana pelan, suaranya dingin dan mengerikan. Senyum aneh terukir kembali di bibirnya yang gemetar. "Kamu pikir kamu bisa melawanku? Kamu pikir kamu bisa mengkhianatiku dan hidup bahagia? Kita lihat saja. Kalau kamu tidak mau jadi milikku dengan suka rela... aku akan pastikan kamu tidak akan pernah bahagia dengan siapa pun. Termasuk dia. Aku akan pastikan Nara menyesal seumur hidupnya pernah bertemu denganmu."

Kirana berbalik badan, berjalan pergi dari depan pintu itu dengan langkah tegap dan penuh rencana jahat. Ia tidak lagi menuju kamar tamu tempatnya menginap kemarin. Ia berjalan menuruni tangga, menuju ruang kerja Arkan. Ada sesuatu yang harus ia lakukan malam ini juga. Ada sesuatu yang harus ia cari.

Di dalam ruang kerja yang luas itu, Kirana menyalakan lampu meja yang redup. Ia berjalan ke arah meja kerja Arkan, membuka laci demi laci dengan ceroboh. Ia tahu Arkan menyimpan banyak dokumen penting di sini, termasuk salinan kontrak pernikahannya dengan Nara, juga berkas-berkas perusahaan keluarga Arkan. Kirana bukan wanita bodoh. Ia datang bukan hanya membawa cinta masa lalu, tapi juga membawa ambisi dan keinginan menguasai segalanya. Ia tahu betul betapa kayanya keluarga Arkan, betapa besar kekuasaan yang mereka miliki. Itulah salah satu alasan kuat mengapa ia bertahan menunggu selama lima tahun dan berjuang mati-matian kembali ke sini.

"Di mana... di mana kertas itu..." gumam Kirana sambil merobek tumpukan berkas di atas meja.

Akhirnya tangannya menyentuh sebuah map biru tebal di laci paling bawah, tersembunyi di balik tumpukan buku catatan. Di sampulnya tertulis jelas: Perjanjian Kerjasama dan Pernikahan Arkan Adhitama dan Nara Salsabila.

Kirana menarik napas panjang, tersenyum kemenangan. Ia membuka map itu, membaca lembar demi lembar dengan mata berbinar. Ia menemukan pasal demi pasal yang mengatur hak dan kewajiban kedua belah pihak, juga klausul tentang pembatalan perjanjian. Dan di sana, ia menemukan apa yang ia cari. Sebuah poin yang sangat menguntungkan bagi rencananya.

"Jadi begini aturannya..." bisik Kirana penuh kemenangan. Ia mengambil ponselnya, memotret setiap halaman dengan cepat dan teliti. "Kalau Nara yang mengajukan pembatalan sepihak sebelum waktunya habis, maka dia dan keluarganya wajib mengembalikan seluruh dana bantuan yang pernah diberikan keluarga Adhitama, serta membayar denda kerugian materiil dan immateriil yang nilainya berkali-kali lipat jumlahnya... Nilainya ratusan juta, bahkan miliaran rupiah."

Kirana tertawa kecil, suara tawanya terdengar gila dan menyeramkan di ruangan sunyi itu.

"Paman Haris dan keluarganya itu kan orang miskin, orang kecil... mana mungkin mereka punya uang sebanyak itu? Kalau aku menuntut hak ini... mereka tidak akan sanggup membayar. Aku bisa mengajukan gugatan ke pengadilan, aku bisa menyita apa saja yang mereka punya, aku bisa membuat mereka masuk penjara karena ingkar janji..."

Mata Kirana berkilat jahat. Rencana sempurna kini terbentuk di kepalanya. Ia tidak hanya akan memisahkan Arkan dan Nara. Ia akan menghancurkan hidup mereka sepenuhnya. Ia akan membuat Nara menyesal pernah berani merebut hati Arkan darinya. Ia akan membuat Nara dan keluarganya bertekuk lutut, hidup dalam kesusahan dan rasa malu selamanya.

"Arkan sayang... kamu mau membela dia? Kamu mau mencintai dia? Silakan saja. Tapi kamu tidak akan pernah bisa bersamanya. Karena kalau kamu mendekat lagi... kalau kamu masih keras kepala... aku akan langsung menyerahkan bukti ini ke pengadilan. Dan aku pastikan kekasihmu itu akan hancur lebur, kehilangan rumahnya, kehilangan harga dirinya, dan menderita seumur hidupnya karena utang yang tidak akan pernah bisa dia bayar."

Kirana menutup map itu kembali, menyimpannya ke tempat semula dengan rapi seolah tidak pernah disentuh. Ia berdiri, merapikan pakaiannya, dan berjalan keluar dari ruang kerja itu dengan langkah ringan dan penuh percaya diri. Permainan belum selesai. Justru, babak pertempuran yang paling kejam baru saja dimulai.

Sementara itu, di kamar tidur utama, Arkan duduk diam di tepi kasurnya yang besar dan dingin. Di tangannya, ia menggenggam benda kecil yang baru saja ia ambil dari laci meja riasnya—sebuah jepit rambut sederhana berwarna biru muda. Jepit rambut milik Nara. Gadis itu meninggalkannya di sini, terlupakan, namun bagi Arkan benda kecil itu kini menjadi harta paling berharga yang tersisa.

Arkan menempelkan benda kecil itu di dadanya, di dekat jantungnya yang berdenyut sakit. Ia berjanji dalam hati, berjanji sekuat tenaga, berjanji demi nyawanya sendiri.

Nara... tunggu aku. Bertahanlah. Aku tahu Kirana tidak akan berhenti sampai di sini. Aku tahu dia akan berusaha mencelakai kamu dan keluargamu dengan cara apa pun. Tapi aku tidak akan membiarkannya. Aku akan cari tahu kebusukan dia. Aku akan cari cara untuk menjatuhkannya dan membebaskan kita semua dari cengkeramannya. Apapun yang terjadi... aku akan datang menjemputmu. Dan kali ini, aku tidak akan pernah melepaskanmu lagi.

Malam semakin larut. Di rumah besar itu, dua kekuatan besar sedang bersiap berhadapan—satu sisi didorong oleh cinta dan penyesalan yang tulus, sisi lain didorong oleh ambisi, kebencian, dan kegilaan. Dan di tengah-tengah semua itu, Nara yang polos dan tulus sedang bersiap meninggalkan rumah orang tuanya esok pagi, tanpa tahu bahwa badai yang jauh lebih besar dan mengerikan sedang bergerak cepat menghampiri hidupnya.

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!