Damar Prakoso seorang pemuda yang datang dari desa ke kota dengan harapan sederhana -kerja, uang, hidup layak. Tapi kenyataan yang terjadi malah dia harus coba bertahan hidup karena sebuah virus mutasi sedang menyebar. Manusia mulai berubah menjadi makhluk agresif yang tidak lagi bisa dikendalikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adira Malam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DATA YANG HILANG
Angin malam berembus menusuk tulang di antara celah-celah reruntuhan beton kota. Suaranya mendesis, membawa bau debu, besi berkarat, dan samar-samar aroma busuk yang sudah terlalu akrab di hidung mereka.
Rombongan kecil itu berjalan terseok-seok dalam keheningan yang mencekam. Mereka menyusuri gang sempit yang diapit oleh bangkai kendaraan yang melintang tak beraturan. Di beberapa sudut, siluet tubuh manusia yang mulai membusuk terlihat telungkup di atas aspal, dikerubungi lalat-lalat malam yang berdengung malas. Tidak ada satu pun dari mereka yang bersuara sejak kaki mereka melangkah keluar dari perimeter markas lama beberapa jam yang lalu. Energi mereka sudah terkuras habis. Namun yang lebih melumpuhkan sebenarnya bukanlah rasa lelah di fisik, melainkan hantaman mental yang membuat dada mereka terasa lowong.
Mereka telah kehilangan segalanya dalam satu malam.
Damar berjalan di barisan paling depan, bahunya menegang dengan jemari yang tak lepas dari gagang senjatanya. Di sampingnya, Kapten Rendra melangkah dengan waspada yang sama tingginya, meski gurat keletihan yang amat sangat tercetak jelas di wajah tegas pria paruh baya itu. Di belakang mereka, Alya berjalan setengah menyeret kakinya sendiri sambil merangkul Rania. Bocah perempuan itu sudah terlalu lemah; matanya terpejam dengan kepala yang terkantuk-kantuk membentur pundak Alya, berjalan murni hanya karena dorongan refleks tubuhnya yang dipaksa bertahan. Sementara di barisan paling belakang, Pak Rangga berjalan terseok-seok sambil memapah seorang pria tua berwajah pias yang kaki kirinya dibalut kain usang bersimbah darah kering—sisa dari kepanikan serangan semalam.
Mereka bukan sekadar kehilangan dinding tempat berlindung. Mereka kehilangan ilusi tentang rasa aman yang selama beberapa bulan ini mereka rawat dengan susah payah.
Langit hitam perlahan memudar, berganti semburat abu-abu pucat yang suram saat fajar mulai mengintip dari balik cakrawala gedung-gedung mati. Cahaya fajar yang minim itu alih-alih memberikan kehangatan, justru menyingkap pemandangan yang jauh lebih mengerikan ketimbang apa yang disembunyikan oleh kegelapan malam.
Jalanan di depan mereka layaknya ladang pembantaian yang terbengkalai. Bangkai-bangkai *infected* bergelimpangan dengan posisi-posisi aneh; beberapa hancur tanpa kepala, yang lain terbelah dengan isi perut yang mengering. Kendaraan roda empat saling bertumpukan seperti rongsokan mainan raksasa yang dihancurkan dengan amarah. Bercak-bercak darah hitam yang sudah membatu melekat erat di permukaan jalan, membentuk pola-pola abstrak yang mengerikan. Di kejauhan, kepulan asap tipis masih membubung malas dari sisa-sisa kebakaran bangunan yang tampaknya terjadi berhari-hari lalu namun belum sepenuhnya padam.
"Berhenti dulu," bisik Kapten Rendra. Suaranya serak, nyaris tenggelam oleh deru angin pagi, namun cukup kuat untuk membuat seluruh rombongan langsung terpaku di tempat.
Rendra memberikan isyarat tangan agar mereka merapat ke dinding sebuah bangunan. Di hadapan mereka berdiri sebuah minimarket kecil. Papan namanya sudah patah menggantung, dan sebagian besar kaca depannya telah hancur berkeping-keping di lantai. Namun, pintu *rolling door* besinya masih setengah tertutup, menyisakan celah yang cukup untuk menyelinap masuk. Bagian dalamnya tampak gelap dan sunyi, memberikan kesan bahwa tempat itu setidaknya bisa menjadi persembunyian sementara yang layak.
"Kita ambil napas di sini, dua puluh menit," lanjut Rendra tanpa menoleh, matanya tetap menyapu jalanan di depan mereka. "Setelah itu kita harus langsung bergerak sebelum matahari tinggi dan pandangan terlalu terbuka."
Tidak ada yang memprotes. Kata 'istirahat' saat ini terdengar seperti anugerah terbesar bagi sendi-sendi mereka yang hampir lepas.
Satu per satu mereka menyelinap masuk melewati celah *rolling door* dengan senjata yang tetap terarah ke depan. Damar bergerak cepat ke sudut-sudut ruangan, menyorotkan senter kecilnya ke balik meja kasir yang berdebu dan barisan rak-rak pajangan yang sebagian besar sudah kosong dijarah. Sepatu boot-nya sesekali menginjak pecahan kaca dengan bunyi gemertak yang tertahan. Setelah memastikan tidak ada *infected* yang bersembunyi di balik kegelapan pojok toko, Damar akhirnya menurunkan laras senjatanya sedikit.
"Kosong. Bersih," gumam Damar.
Alya menghela napas lega yang terdengar bergetar. Dia perlahan menurunkan Rania dan membantunya duduk bersandar pada dinding di pojok ruangan, di antara tumpukan kardus kosong yang berdebu. Wajah gadis kecil itu tampak sangat kontras dengan jaketnya yang kotor; kulitnya pucat pasi dan lingkaran hitam tebal menggantung di bawah matanya yang sembab karena menangis semalaman tanpa henti.
"Minum dulu, Ran," kata Alya lembut. Dia merogoh tas ranselnya, mengeluarkan sebuah botol air mineral yang tinggal setengah lalu membukakan tutupnya sebelum menyerahkannya pada Rania.
Rania menerima botol itu dengan tangan yang gemetar pelan. Dia meneguknya sedikit, lalu mendongak menatap Alya dengan mata bulatnya yang bimbang. "Kak... markas kita... beneran udah gak ada, ya?"
Pertanyaan polos itu seketika membuat atmosfer di dalam minimarket terasa semakin menekan. Alya tertegun. Gerakan tangannya yang sedang merapikan rambut Rania yang kusut mendadak terhenti. Dia memandang keluar jendela, menatap puing-puing kota yang mati, sebelum akhirnya kembali menatap Rania dengan senyum tipis yang dipaksakan.
"...Iya, sayang. Tapi kita masih punya satu sama lain, kan?" bisik Alya, mencoba menyuntikkan keyakinan yang sebenarnya dia sendiri tidak miliki.
Rania tidak menjawab. Dia hanya menundukkan kepala dalam-dalam, menyembunyikan wajahnya di lutut sementara bahu kecilnya mulai berguncang pelan tanpa suara. Air matanya kembali membasahi celana kainnya yang sudah kotor.
Damar yang berdiri beberapa langkah dari mereka hanya bisa memalingkan wajah. Dia bersandar pada salah satu rak besi yang miring, menarik napas panjang lalu mengembuskannya dengan berat. Dadanya terasa seperti dihimpit batu besar. Kehilangan semalam bukan sekadar tentang hilangnya atap untuk berteduh atau dinding untuk berlindung dari angin malam. Mereka kehilangan tempat yang selama ini mereka sebut rumah. Mereka kehilangan secercah harapan kecil yang baru saja mulai mereka bangun dari puing-puing kehancuran dunia.
Di dekat jendela yang pecah, Kapten Rendra berdiri diam bak patung, mengintip dengan sangat hati-hati ke arah luar jalanan melalui celah tirai yang robek. Di kejauhan, tampak dua atau tiga figur *infected* berjalan dengan langkah terseret dan patah-patah, berputar-putar tanpa tujuan di sekitar tiang lampu jalan yang miring.
"Kalau kita terus memotong jalur ke arah utara," kata Rendra pelan, lebih seperti berbicara pada dirinya sendiri, meski matanya melirik ke arah Damar yang berada di dekatnya. "Mungkin di balik batas kota ada wilayah yang belum sepenuhnya lumpuh. Kita bisa cari tempat bertahan yang baru di sana."
"Mungkin," jawab Damar singkat, nadanya datar tanpa emosi.
Namun di dalam hatinya, sinisme Damar telah mengambil alih. *Tempat yang lebih aman?* Di dunia yang sudah gila ini, konsep tentang tempat aman terasa seperti dongeng pengantar tidur yang sengaja diciptakan agar orang-orang tidak memilih untuk mengakhiri hidup mereka lebih cepat. Selama beberapa bulan terakhir, ke mana pun mereka pergi, yang mereka temukan hanyalah variasi dari kematian yang sama.
Tiba-tiba—
"Pak! Sini sebentar!"
Panggilan tertahan itu datang dari arah belakang minimarket, memecah kesunyian ruangan dengan instan. Itu suara Rudi.
Dalam sekejap, semua orang yang ada di dalam toko langsung menegang. Damar dan Kapten Rendra secara refleks mengangkat senjata mereka kembali ke posisi siap tembak, sementara Pak Rangga langsung bergeser melindungi posisi Rania dan Alya.
Rudi berdiri di ambang pintu kayu yang menuju ke gudang penyimpanan bagian belakang toko. Napasnya memburu cepat, dan ekspresi wajahnya tampak campur aduk antara bingung dan cemas yang teramat sangat.
"Ada yang aneh di dalam sini," ucap Rudi setengah berbisik sambil melambaikan tangannya, memberi isyarat agar mereka mendekat.
Kapten Rendra bergerak paling depan dengan langkah tanpa suara, diikuti oleh Damar yang menjaga sisi flang. "Ada apa? Kau lihat *infected*?" tanya Rendra dengan nada rendah yang menuntut penjelasan.
"Bukan... maksudku, bukan itu. Lihat ini," kata Rudi sambil menunjuk ke dalam gudang yang remang-remang.
Mereka melangkah masuk ke dalam ruang gudang yang sempit. Ruangan itu dipenuhi oleh tumpukan kardus mie instan dan botol minuman yang sudah kedaluwarsa serta berjamur. Namun, di sudut paling belakang, di balik beberapa rak besi yang sengaja digeser oleh Rudi, terdapat sebuah pintu yang sangat tidak selaras dengan lingkungan sebuah minimarket pinggiran kota.
Pintu itu terbuat dari pelat baja tebal berwarna abu-abu gelap, tipikal pintu fasilitas militer atau bank tingkat tinggi, lengkap dengan engsel tanam yang kokoh.
Damar melangkah mendekat, mengulurkan tangannya untuk menyentuh permukaan logam yang terasa dingin menyengat. Dia memperhatikan detail di sekitar kusen pintu. "Ini jelas bukan pintu ruang penyimpanan barang toko," gumamnya heran.
Kapten Rendra ikut maju, menyorotkan senternya ke sisi kanan pintu. Di sana, tertanam sebuah panel digital kecil berbingkai logam yang memiliki permukaan kaca gelap. "Panel pemindai sidik jari," ujar Rendra dengan kening berkerut dalam. "Di minimarket sekecil ini?"
Semua orang yang berkumpul di pintu gudang saling berpandangan dengan tatapan bingung sekaligus curiga.
"Apa-apaan ini..." bisik Alya yang ikut mengintip dari belakang bahu Damar.
Rudi menelan ludah dengan susah payah, lalu menunjuk ke arah celah di dinding beton yang retak di samping pintu tersebut. "Gue tadi gak sengaja nyenggol rak ini, terus ngeliat ada celah kabel. Pas gue periksa... ada getaran halus dari dalam tembok. Ada kabel listrik yang masih aktif di sini."
"Listrik aktif?" Pak Rangga menyela dengan suara bergetar dari ambang pintu gudang. "Bagaimana mungkin? Seluruh jaringan listrik kota ini sudah mati total sejak bulan kedua karantina!"
"Itu artinya tempat di balik pintu ini punya sumber daya cadangan sendiri. *Generator otomatis* atau *power supply* bawah tanah yang masih berfungsi," potong Damar, matanya menatap tajam ke arah panel digital yang tiba-tiba berkedip memancarkan cahaya merah redup, seolah menegaskan ucapannya. "Tempat ini... minimarket ini cuma kedok."
Kapten Rendra terdiam selama beberapa detik, menimbang-nimbang risiko dalam kepalanya. Di satu sisi, mereka sedang dalam pelarian dan dikejar waktu. Di sisi lain, sebuah fasilitas tersembunyi dengan listrik yang masih menyala di tengah kota yang mati adalah sebuah anomali yang terlalu besar untuk diabaikan. Bisa jadi ada obat-obatan, senjata, atau setidaknya jalur evakuasi di bawah sana.
"Buka pintu ini," perintah Rendra tegas. "Rudi, Damar, cari cara."
Rudi langsung mengangguk dan mengeluarkan tas peralatan kecil dari sabuknya. Bersama Damar, mereka mulai membongkar paksa casing plastik panel sidik jari tersebut menggunakan obeng minus dan linggis kecil. Prosesnya tidak mudah; sistem keamanan pintu itu dirancang dengan sangat baik. Selama hampir lima belas menit yang menegangkan—di mana setiap detik terasa seperti jam bagi mereka yang berjaga—Rudi berkutat dengan jalinan kabel tembaga di dalam panel sementara Damar menahan bagian sasisnya agar tidak memicu alarm internal.
*KRETEK!*
Sebuah percikan api biru kecil meloncat dari dalam panel disertai bau gosong plastik terbakar.
*CEKLEK.*
Suara mekanisme pengunci hidrolik yang berat terdengar bergeser dari dalam pintu. Lampu indikator kecil di atas panel yang tadinya berwarna merah redup seketika berubah menjadi hijau solid. Pintu baja tebal itu berdesis pelan, kemudian terbuka sejarak beberapa sentimeter dengan sendirinya.
Seketika itu juga, seemburan udara yang sangat dingin dan berbau apek langsung menerpa wajah mereka. Suasananya begitu pekat, gelap, dan sunyi senyap. Di balik pintu itu, sebuah tangga semen yang curam mengarah turun ke kegelapan bawah tanah yang seolah tanpa dasar.
Semua orang mendadak terdiam, menghentikan aktivitas mereka seketika. Sebuah atmosfer yang ganjil dan menekan mendadak menguar dari lubang tangga tersebut, membuat bulu kuduk siapa pun yang mencium baunya meremang.
"Kita... beneran mau turun ke bawah?" tanya Alya pelan, suaranya menyiratkan keraguan yang mendalam sambil tangannya meremas pelan pundak Rania yang berdiri di dekatnya.
Kapten Rendra tidak langsung menjawab. Dia menarik pelatuk senjatanya, memastikan peluru sudah mengunci di dalam kamar senapan dengan bunyi klik yang dingin. Dia menatap lurus ke dalam kegelapan tangga.
"Kita sudah kehilangan rumah, dan kita tidak punya tempat tujuan yang pasti di atas sana," ucap Rendra dengan nada suara yang tak terbantahkan. "Kita sudah melangkah terlalu jauh untuk berbalik arah sekarang. Ikut saya."
Rendra melangkah memimpin jalan, menjadi orang pertama yang menapakkan kakinya di undakan tangga semen tersebut. Damar menyusul tepat di belakangnya, disusul oleh Rudi, kemudian Pak Rangga yang tetap menjaga posisi Alya dan Rania di tengah-tengah kelompok.
Langkah kaki boots mereka yang beradu dengan semen menggema pelan, menciptakan ritme yang monoton di dalam lorong bawah tanah yang sempit dan beratap rendah. Di sepanjang dinding beton yang berlumut tipis, beberapa lampu darurat berwarna kuning redup tampak menyala berkedip-kedip secara berkala, memberikan pencahayaan yang minim namun cukup untuk memandu jalan mereka agar tidak tersandung.
Semakin mereka melangkah turun, suhu udara di sekitar mereka merosot dengan tajam hingga uap napas mereka mulai terlihat samar di udara. Dan bersamaan dengan dingin yang menggigit itu, sebuah aroma aneh mulai menusuk hidung mereka.
Itu bukan bau anyir darah segar yang biasa mereka cium setelah serangan, juga bukan bau busuk daging dari mayat-mayat yang membusuk di jalanan atas. Ini adalah bau yang tajam, steril, namun memuakkan—bau kombinasi bahan kimia konsentrasi tinggi, *alkohol*, dan sesuatu yang menyerupai bau obat-obatan yang terbakar.
Begitu kaki Kapten Rendra menapak di undakan tangga terakhir, langkahnya mendadak mengunci. Seluruh rombongan di belakangnya otomatis ikut berhenti, terpaku oleh pemandangan yang tersaji di hadapan mereka saat senter-senter mereka menyapu ruangan.
Sebuah aula laboratorium yang sangat luas terbentang di bawah tanah.
Tempat itu tampak seperti sebuah pusat penelitian mutakhir yang telah ditinggalkan dalam kepanikan yang luar biasa. Puluhan meja laboratorium berbahan stainless steel berdiri dalam posisi berantakan; beberapa di antaranya terbalik. Tabung-tabung reaksi, gelas kimia, dan pecahan tabung kaca silinder berukuran raksasa berserakan di lantai, menggenangi lantai semen dengan cairan bening yang telah mengering dan meninggalkan noda berkerak.
Beberapa komputer dengan monitor tabung tebal dan layar datar masih menyala redup, mengeluarkan suara dengungan statis yang konstan dari mesinnya yang dipaksa bekerja oleh daya cadangan darurat.
Namun, yang paling merebut perhatian mereka adalah dinding utama di ujung ruangan. Di sana, terpasang sebuah logo lingkaran besar dari bahan logam tahan karat yang merefleksikan cahaya senter mereka secara dramatis. Di tengah logo tersebut, terdapat tulisan berhuruf balok yang tegas:
**GENESIS BIOTECH**
"Ya Tuhan Yesus..." lirih Pak Rangga, suaranya bergetar hebat saat tangannya secara refleks membuat tanda salib di dadanya.
Damar melangkah maju beberapa tindak, melewati Kapten Rendra yang masih terpaku. Jantungnya mulai berdegup dengan ritme yang jauh lebih cepat dan keras, memukul-mukul dinding dadanya. Tempat ini bukan sekadar bunker perlindungan warga sipil atau gudang logistik militer yang gagal. Ini adalah sebuah laboratorium penelitian tingkat tinggi yang disembunyikan dengan sangat rapi di bawah struktur kota.
Kapten Rendra dengan cepat menguasai keterkejutannya. Tatapan mata militernya yang tajam segera memindai sekeliling ruangan besar itu, mencari potensi ancaman atau hal-hal yang bisa menguntungkan posisi mereka.
"Menyebar, tapi tetap dalam jarak pandang satu sama lain," perintah Rendra dengan nada rendah namun penuh otoritas. "Cari apa saja yang bisa kita gunakan. Obat-obatan, persediaan makanan, atau senjata. Dan ingat, jangan menyentuh cairan apa pun sembarangan."
Kelompok itu pun mulai bergerak memisahkan diri dengan waspada. Alya berjalan mendekati deretan lemari kaca di sisi kiri yang tampaknya merupakan ruang penyimpanan medis, berharap menemukan antibiotik atau perban steril yang baru untuk luka kaki orang tua yang mereka bawa. Rudi dengan insting teknisnya langsung melangkah cepat menuju meja konsol utama di tengah ruangan, mencoba berinteraksi dengan salah satu komputer yang layarnya masih menampilkan baris-baris kode pencarian.
Sementara itu, Damar berjalan perlahan mendekati sebuah meja penelitian panjang di sudut ruangan. Meja itu tampak dipenuhi oleh tumpukan kertas, dokumen, dan map-map tebal yang berserakan seperti sengaja diaduk-aduk dengan tergesa-gesa.
Tangan Damar bergerak meraih sebuah map kulit berwarna lusuh yang permukaannya tertutup debu tipis. Dia mengusap debu tersebut dengan telapak tangannya. Di bagian sampul depan map itu, terdapat cap stempel berwarna merah tebal dengan tulisan:
**PROJECT GENESIS — HUMAN TRIAL PHASE**
Damar mengernyitkan dahi. *Human trial? Uji coba pada manusia?*
Perasaan tidak enak yang sangat kuat mendadak mencengkeram tengkuknya. Dengan tangan yang agak kaku, dia membuka halaman pertama dari dokumen tebal tersebut. Matanya dengan cepat membaca baris demi baris laporan ilmiah yang tertulis di sana, dan dalam hitungan detik, warna kemerahan di wajah Damar menguap, menyisakan kulit yang pucat pasi.
> **SUBJEK 04**
> **STATUS:** GAGAL / TERMINASI
> **EFEK SAMPING:**
> * Agresi motorik meningkat drastis (tidak terkendali).
> * Kehilangan fungsi kognitif total dan kemampuan berbahasa.
> * Mutasi jaringan epidermis dan struktur otot ekstrem dalam waktu 48 jam.
> **SUBJEK 05**
> **STATUS:** GAGAL / TERMINASI
> **EFEK SAMPING:**
> * Kematian fungsi otak luhur (hanya menyisakan batang otak).
> * Perilaku kanibalistik kompulsif terhadap sesama subjek.
>
Jemari Damar yang memegang pinggiran kertas mulai bergetar pelan. Lembaran-lembaran berikutnya penuh dengan grafik detak jantung yang mendatar, foto-foto rontgen struktur tulang yang berubah bentuk secara mengerikan, dan catatan observasi yang ditulis dengan dinginnya bahasa medis.
"Damar, kamu nemu sesuatu?"
Suara Alya mengejutkannya. Gadis itu berjalan mendekat dengan memegang beberapa botol cairan antiseptik di tangannya. Melihat ekspresi wajah Damar yang mengeras dan pucat, Alya langsung menghentikan langkahnya. "Ada apa?"
Damar tidak sanggup mengeluarkan kata-kata. Dia hanya mengangsurkan map lusuh itu ke depan dada Alya tanpa bersuara.
Alya menerima map itu dengan dahi berkerut, lalu mulai membaca lembar demi lembar catatan medis tersebut. Semakin jauh matanya membaca, semakin lebar pupil matanya terbuka karena syok. Napasnya mendadak tercekat di tenggorokan.
"Ini... ini gak mungkin..." suara Alya melemah, nyaris berupa bisikan yang bergetar. Dia menatap Damar dengan mata yang mulai berkaca-kaca karena ngeri. "Jadi... semua mahluk di luar sana... ini semua hasil eksperimen manusia?"
Kapten Rendra yang mendengar percakapan itu dari jarak beberapa meter langsung melangkah cepat menghampiri mereka. Tanpa basa-basi, dia merebut map tersebut dari tangan Alya yang sudah melemas. Pria paruh baya itu membaca baris demi baris dengan kecepatan tinggi, rahangnya perlahan mengencang hingga urat-urat di lehernya menonjol tegang.
Atmosfer di dalam laboratorium bawah tanah itu mendadak terasa jauh lebih dingin dan menyesakkan ketimbang sebelumnya, seolah dinding-dinding beton di sekeliling mereka perlahan merapat untuk mengubur mereka hidup-hidup.
"Bangsat..." gumam Rendra pelan, suaranya sarat dengan kemarahan yang tertahan di balik giginya yang mengatup rapat.
Tiba-tiba—
"Pak! Kapten! Komputer utamanya... videonya bisa dibuka!"
Teriakan Rudi dari meja konsol utama memotong ketegangan di antara mereka. Semua orang, termasuk Pak Rangga yang sedang menggendong Rania, langsung bergerak cepat mengerumuni meja komputer tempat Rudi berada.
Monitor tabung tua di depan Rudi berkedip-kedip beberapa kali, memancarkan cahaya biru dominan yang menerangi wajah-wajah tegang mereka. Di tengah layar, sebuah folder data dengan ikon yang rusak berhasil diekstrak oleh Rudi. Hanya ada satu file video di dalamnya dengan format penamaan angka acak. Rudi menekan tombol *Enter* pada papan ketik yang berdebu.
Layar monitor sempat bergaris-garis putih akibat gangguan sinyal statis, sebelum akhirnya menampilkan rekaman video beresolusi rendah.
Di dalam video itu, tampak seorang pria paruh baya mengenakan jas laboratorium putih yang sudah kusut. Penampilannya sangat berantakan; dasinya longgar, rambutnya acak-akan, dan terdapat kantung mata hitam yang sangat tebal di bawah matanya yang memerah karena kurang tidur. Di latar belakang video, sayup-sayup terdengar suara sirine alarm berbunyi putus-putus berisik, berpadu dengan suara ketukan keras yang samar pada pintu baja di luar ruangan perekaman.
Pria di dalam video itu menarik napas dalam, menatap langsung ke arah kamera dengan pandangan yang kosong dan putus asa.
*"Jika seseorang... jika ada manusia yang masih hidup dan menemukan rekaman ini... maka itu artinya semuanya sudah terlambat. Protokol karantina telah gagal,"* suara pria itu terdengar serak dan bergetar melalui pengeras suara komputer yang pecah.
Semua orang di depan monitor menahan napas, tidak ada yang berani membuat suara sekecil apa pun.
*"Project Genesis... ini sejak awal bukan tentang penelitian medis biasa untuk menyembuhkan penyakit. Kami mendapat perintah dan pendanaan penuh dari otoritas tinggi untuk menciptakan formula regenerasi biologis mutakhir. Sesuatu yang dirancang untuk kebutuhan militer taktis."*
Damar mengepalkan kedua tangannya di dalam saku jaket, kuku-kukunya memutih karena tekanan yang kuat.
*"Virus ini... kode awalnya seharusnya berfungsi untuk meningkatkan daya tahan tubuh manusia secara radikal di medan perang. Mempercepat penyembuhan luka fatal dalam hitungan menit, meningkatkan pasokan adrenalin, dan... menghilangkan rasa takut serta keraguan dalam kesadaran prajurit."*
Pria di dalam video itu mendadak menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan, bahunya berguncang. Ketika dia membuka wajahnya kembali, ekspresinya dipenuhi oleh penyesalan yang teramat dalam, penyesalan dari seorang pria yang tahu dia telah membuka pintu neraka.
*"Tapi kami gagal mengendalikan strukturnya. Kami salah menghitung kecepatan mutasi genetiknya."*
Gambar di layar monitor tiba-tiba dipenuhi oleh gangguan garis-garis horizontal yang parah akibat kerusakan data pita rekaman. Namun, suara pria itu masih bisa terdengar dengan jelas melalui sela-sela distorsi suara statis.
*"Subjek uji coba... mereka mulai kehilangan kesadaran diri dan memori kognitif dalam waktu singkat setelah injeksi. Mereka menjadi sangat agresif... memburu apa pun yang bergerak... lalu struktur tubuh mereka berubah menjadi sesuatu yang bukan lagi manusia..."*
Alya secara refleks menutup mulutnya sendiri dengan tangan, matanya terpejam erat seolah ingin menghapus bayangan yang muncul di kepalanya. Di sampingnya, Rania memeluk pinggang Pak Rangga dengan sangat erat, menyembunyikan wajahnya karena ketakutan mendengar suara alarm yang melengking dari video tersebut.
*"Pemerintah... mereka panik ketika tahu sampelnya bocor. Mereka memerintahkan seluruh fasilitas ini ditutup dan semua data dimusnahkan tanpa sisa. Tapi semuanya salah perhitungan. Virus itu sudah menyebar keluar dari laboratorium ini melalui sistem ventilasi kota, bahkan sebelum perintah karantina militer resmi diberlakukan..."*
*KLIK.*
Video itu terputus secara mendadak. Layar monitor berkedip sekali lagi sebelum akhirnya berubah menjadi hitam total, menyisakan refleksi wajah-wajah pucat kelompok Damar di permukaan kaca monitor.
Ruangan laboratorium bawah tanah itu seketika hening total. Keheningan yang begitu pekat hingga suara tetesan air dari pipa bocor di kejauhan terdengar seperti dentang lonceng kematian. Kenyataan yang baru saja mereka dengar terlalu besar, terlalu mengerikan untuk dicerna sekaligus.
Sampai akhirnya, Damar memecah keheningan dengan suara yang sangat pelan, namun dingin dan tajam.
"...Jadi, semua kehancuran ini... semua kematian di luar sana... memang disengaja sejak awal. Ini bukan bencana alam. Bukan takdir."
Kapten Rendra menatap layar monitor yang kosong dengan rahang yang mengeras hingga berbunyi gemertak. Matanya memancarkan kemarahan murni khas seorang prajurit yang menyadari bahwa sumpah yang selama ini dia pegang teguh telah dikhianati oleh sistem yang dia bela.
"Ini bukan wabah biasa," gumam Rendra, suaranya berat seperti batu yang bergeser. "Ini ruang eksperimen berskala besar."
Tiba-tiba—
*BIP. BIP. BIP.*
Sebuah suara notifikasi elektronik bernada tinggi muncul dari speaker komputer, memecah keheningan yang baru saja kembali terbangun.
Rudi yang tangannya masih berada di atas papan ketik langsung tersentak mundur satu langkah, matanya melebar menatap layar. "Tunggu... ada sesuatu lagi. Ada file lain yang terenkripsi tapi terbuka otomatis karena video tadi selesai diputar!"
Layar monitor kembali berkedip dengan latar belakang warna merah menyala. Sebuah jendela folder baru dengan logo tengkorak kecil muncul di tengah-tengah layar. Folder itu memiliki nama file dengan huruf kapital penuh:
**RESTRICTED — CITY TEST ZONE**
Jantung Damar rasanya seperti berhenti berdetak selama satu detik penuh saat melihat judul folder tersebut.
Rudi dengan ragu-ragu menggerakkan kursor, lalu mengetuk tombol untuk membuka folder tersebut. Detik berikutnya, seluruh isi ruangan seolah dibekukan oleh es tak kasat mata saat sebuah gambar grafis digital muncul di layar monitor.
Itu adalah gambar peta topografi kota tempat mereka tinggal dan bertahan hidup selama beberapa bulan ini.
Namun, peta itu tidak menampilkan nama-nama jalan atau distrik seperti biasa. Seluruh area kota, dari ujung barat hingga batas timur, diberi warna merah menyala yang pekat. Di sekeliling perimeter kota, terdapat garis pembatas tebal berwarna kuning dengan simbol barikade militer.
Dan tepat di bagian atas monitor, di atas gambar kota mereka yang malang, tertulis sebuah kalimat instruksi operasional yang sangat jelas dan dingin:
**EXPERIMENTAL CONTAINMENT AREA (ZONE-04)**
Alya melangkah mundur satu tapak dengan perlahan, tubuhnya mendadak lemas hingga dia harus berpegangan pada pinggiran meja besi agar tidak jatuh. "...Apa... apa maksudnya tulisan itu, Kapten?" suaranya nyaris habis, berubah menjadi bisikan yang parau.
Kapten Rendra menatap peta kota digital tersebut tanpa berkedip sedikit pun. Sorot matanya yang biasanya penuh dengan determinasi kepemimpinan, kini berubah menjadi sangat gelap, hancur, dan kosong.
"Artinya..." Rendra menjeda kalimatnya, menarik napas yang terasa sangat berat di tenggorokannya. "...sejak awal, kota ini memang tidak pernah direncanakan untuk diselamatkan. Kota ini sengaja diisolasi dan dijadikan kandang percobaan berskala besar untuk melihat seberapa cepat virus itu bekerja pada populasi manusia."
Kata-kata Rendra jatuh seperti hantaman palu godam di atas kepala mereka masing-masing.
Semua orang terdiam dalam kelumpuhan mental yang total.
Damar merasakan dadanya mendadak sangat sesak, seolah pasokan oksigen di dalam ruangan itu telah habis tersedot. Sebuah tawa hambar dan getir hampir saja lolos dari tenggorokannya. Berarti selama ini... perjuangan mereka untuk bertahan hidup, malam-malam tanpa tidur yang mereka lalui dengan ketakutan, kematian teman-teman mereka yang tewas tercabik-cabik di jalanan... semuanya tidak ada artinya.
Mereka bukan korban dari sebuah kecelakaan biologis yang malang. Mereka hanyalah sekumpulan tikus laboratorium yang sengaja dikurung di dalam kandang besi, dibiarkan saling memangsa dan mati perlahan demi sebuah data statistik penelitian yang dingin.
Dan sebelum siapa pun di antara mereka sempat mengeluarkan kata-kata atau meratapi kenyataan pahit itu lebih jauh—
*BRAKKKK!!!*
Sebuah suara hantaman keras yang sangat masif tiba-tiba menggema dari arah lorong tangga atas, tempat mereka masuk tadi. Suaranya begitu kuat hingga menyebabkan beberapa butir debu dan kerikil kecil rontok dari langit-langit beton laboratorium bawah tanah tempat mereka berada.
Secara refleks, insting bertahan hidup yang telah terlatih mengalahkan rasa syok mereka. Dalam waktu kurang dari satu detik, Damar, Kapten Rendra, dan Rudi langsung membalikkan tubuh dengan senjata yang telah terangkat lurus ke arah pintu tangga, mengunci sasaran.
Kemudian, dari kegelapan lorong tangga yang curam itu, terdengar sebuah suara.
*GROOOOAAARGHHH...*
Itu adalah suara geraman panjang yang bergaung rendah. Namun, getaran suara itu sama sekali berbeda dari suara *infected* biasa yang sering mereka temui di jalanan atas. Suara ini terdengar jauh lebih berat, lebih dalam, dengan frekuensi rendah yang membuat lantai semen di bawah kaki mereka terasa bergetar samar. Itu adalah suara dari sesuatu yang memiliki massa tubuh yang jauh lebih besar dan agresif.
Untuk pertama kalinya sejak wabah ini dimulai dan menghancurkan peradaban, Damar melirik ke arah Kapten Rendra yang berada di sisinya. Dan untuk pertama kalinya pula, Damar melihat jakun pria paruh baya yang tangguh itu turun naik dengan cepat. Wajah Kapten Rendra tampak benar-benar tegang, pias, dan gugup.
"Matikan monitornya," bisik Kapten Rendra dengan suara yang sangat rendah, hampir tidak terdengar namun penuh dengan urgensi yang mematikan.
"Sekarang!"