Kalian pasti pernah kan, seenggaknya sekali seumur hidup, rebahan di kamar sambil menatap langit-langit terus ngehayal: "Coba aja tidur doang bisa dapet duit, pasti gue udah jadi orang terkaya di dunia." Nah, hayalan konyol yang sering kita impikan pas lagi capek-capeknya hidup itu, mendadak jadi kenyataan buat Abdul. Pemuda miskin korban PHK ini doanya dikabulkan secara ajaib. Sekali merem, saldo banknya bertambah 10 juta. Makin nyenyak dia ngorok, makin triliunan uang yang masuk ke rekeningnya secara legal! Tapi ternyata, dapet duit cuma modal tidur itu gak sesantai kedengarannya. Karena gak pernah keluar rumah tapi mendadak kaya raya, Abdul langsung dicurigai satu kampung pelihara babi ngepet, digerebek warga pas lagi enak tidur, dikejar-kejar orang pajak, sampai didatangi mantan pacar yang dulu ninggalin pas lagi sayang-sayangnya, Ups!.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arrofy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10 MIMPI KEDUA DI MODE UPGRADE
Malam itu, alam seolah sedang berpihak pada kedamaian Gang Seng. Sejak pukul delapan malam, hujan deras berdurasi lama mengguyur seluruh wilayah kelurahan, meredam segala bentuk kebisingan yang biasanya merajalela.
Suara anak-anak bermain bola dan musik dangdut tetangga lenyap, digantikan oleh simfoni rintik hujan yang menghantam atap genteng rumah Abdul dengan ritme yang menenangkan. Suasana berubah menjadi sangat sejuk, bahkan cenderung dingin, membuat hawa gerah yang biasanya menyiksa kamar sempit itu menguap seketika.
Abdul menarik kain sarung klasiknya hingga sebatas dada. Dengan posisi terlentang yang sangat rileks, ia menikmati keheningan malam yang langka ini. Tubuhnya yang lelah setelah seharian membantu Rian menata meja potong kain di teras lambat laun mulai tenggelam ke dalam fase tidur yang sangat dalam. Kenyamanan fisik dan ketenangan pikiran membuat Abdul memasuki fase tidur nyenyak yang sempurna.
Di dalam tidurnya yang pulas, Abdul mulai bermimpi secara alami. Ia merasa sedang berjalan sendirian di bawah koridor sebuah mall megah yang ber-AC dingin. Langkah kaki membawanya berhenti di depan sebuah toko kaca besar yang memajang deretan motor matic terbaru dengan kilauan cat yang sangat mewah.
Di dalam mimpi itu, Abdul berjalan mendekati sebuah motor matic bongsor berwarna hitam doff yang tampak sangat gagah. Mata Abdul tertuju pada sebuah lembaran kertas spesifikasi yang tertempel di stang motor tersebut, di mana pada bagian paling bawah tertera harga jual kendaraan dengan angka yang sangat mendetail: Rp26.435.000,00.
"Keren banget ini motor, kapan ya aku bisa beli yang kayak begini secara tunai," gumam Abdul di dalam mimpinya, mengagumi angka tersebut sebelum akhirnya bayangan mimpi itu perlahan kabur dan menghilang seiring berjalannya waktu malam.
---
Sementara di peraduan nyata, jam menunjukkan pukul 04:50 fajar. Abdul masih bernapas teratur dalam tidurnya. Namun ponsel jadul di dekat kepalanya mendadak memancarkan pendar keemasan mistis yang memotong kegelapan kamar. Tulisan sistem rahasia kembali bekerja di atas layar:
[Sistem Keberuntungan Kaum Rebahan Berhasil Memindai Gelombang Otak Subjek.]
[Mimpi Alami Berunsur Finansial Terdeteksi: Keinginan Membeli Motor Matic Baru.]
[Nominal Akumulasi Visual dalam Mimpi: Rp26.435.000,00.]
[Melakukan Konversi Energi Astral Mimpi Menjadi Saldo Rekening Nyata...]
[Proses Konversi Selesai. Mengirimkan Dana ke Rekening Target...]
Pendar emas lenyap seketika begitu fungsi konversi selesai dilepaskan oleh sistem gaib, menyisakan sebuah getaran SMS biasa.
---
Pukul lima subuh tepat, mata Abdul terbuka perlahan. Efek dari tidur yang sangat berkualitas membuat tubuhnya terasa sangat segar dan bugar. Sambil menguap kecil, ia merenggangkan kedua tangannya ke atas. Ingatan tentang motor hitam dan angka dua puluh enam juta di dalam mimpinya tadi masih tercetak jelas di benaknya, membuat Abdul tersenyum sendiri mengingat betapa indahnya jika mimpi itu jadi kenyataan.
Saat Abdul baru saja hendak beranjak dari kasur, handphone jadul di dekat bantalnya tiba-tiba bergetar pendek. Sebuah nada dering SMS masuk memecah keheningan subuh. Abdul mengambil handphone tersebut tanpa ekspektasi berlebih, lalu membuka kotak masuk pesan.
[Bank Suka: Transaksi Kredit Otomatis Rp26.435.000,00. Saldo Akhir Anda: Rp51.085.000,00.]
Detik itu juga, mata Abdul yang semula masih agak mengantuk langsung terbuka lebar. Ia terperanjat hingga posisi duduknya menjadi tegak seketika. Napasnya tertahan di tenggorokan saat matanya terpaku pada deretan angka nominal uang yang masuk ke rekeningnya.
Dua puluh enam juta empat ratus tiga puluh lima ribu rupiah.
Abdul merasa dadanya berdegup kencang, bukan hanya karena jumlah uangnya yang kembali bertambah secara misterius, melainkan karena keakuratan angkanya. Ia mengingat kembali detail lembaran kertas di stang motor dalam mimpinya beberapa menit yang lalu. Angkanya sama persis sampai ke digit ratusan rupiah terakhir. Tidak meleset satu angka pun.
"Gila... ini beneran gila," bisik Abdul sambil memegangi kepalanya yang mendadak terasa pening karena syok.
"Kok angkanya bisa sama persis begini lagi sih? Kayanya emang sama deh kayak di mimpi tadi subuh. Kemaren amplop cokelat angkanya pas, sekarang harga motor di mimpi aku juga pas banget sama duit yang masuk dari bank. Ini aku yang punya kekuatan gaib, atau bank ini emang beneran dikendalikan sama jin?"
Rasa merinding menjalar di sepanjang punggung Abdul. Perasaan takut bercampur bingung mulai berkecamuk di dalam dadanya. Fenomena ini sudah di luar batas logika manusia normal. Bagaimana mungkin sebuah sistem perbankan resmi bisa mentransfer uang dengan nominal acak yang persis sama dengan isi mimpi seorang manusia di dalam kamar reot Gang Seng?
Namun, Abdul yang dasarnya berpikiran praktis dan tidak mau pusing mencoba menenangkan dirinya sendiri. Ia menarik napas dalam-dalam lalu mengembuskannya perlahan.
"Tenang, Dul, tenang. Jangan mikir yang aneh-aneh. Mungkin ini cuma kebetulan yang super langka," kata Abdul pada dirinya sendiri, mencoba mencari pembenaran yang logis meskipun terdengar dipaksakan.
"Bisa jadi karena aku saking pengennya punya motor motor baru, otak aku ngebayangin harga pasarannya secara detail, dan di saat yang sama, oknum di bank sono lagi salah ngetik transferan dengan nominal segitu ke rekening aku. Ya, pasti kayak gitu."
Meskipun hatinya masih dipenuhi tanda tanya besar yang belum terjawab, Abdul tidak bisa memungkiri rasa bahagia melihat total saldonya yang kini sudah menembus angka lima puluh satu juta rupiah. Uang sebanyak itu belum pernah ia miliki seumur hidupnya secara halal.
Sambil tersenyum lebar, ia menyimpan kembali handphonenya ke dalam saku celana, mengabaikan misteri gaib di balik transferan tersebut dan memilih untuk fokus pada kenyataan bahwa ekonomi keluarganya kini sudah jauh dari kata terancam.