NovelToon NovelToon
Transmigrasi Santriwati Jago Silat Dalam Obsesi Sang Pengusaha Dunia

Transmigrasi Santriwati Jago Silat Dalam Obsesi Sang Pengusaha Dunia

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Romansa Fantasi / Balas Dendam
Popularitas:6.1k
Nilai: 5
Nama Author: namice

“Benciku adalah candu, dan obsesinya adalah penjara paling mematikan.”

Ceisya, seorang santriwati tengil sekaligus hacker cerdas, tiba-tiba terbangun dalam tubuh Ceisyra Valenor—tokoh antagonis yang seharusnya mati tragis.

Namun takdir berubah…
Kaelthas Virelion, penguasa dunia bawah yang dingin dan kejam, justru terobsesi padanya—bahkan menikahinya secara rahasia.

Di tengah fitnah licik sang adik, Clarisse, serta ancaman Axton—rival berbahaya yang mulai kehilangan kendali karena dirinya—Ceisya terjebak dalam permainan yang mematikan.

Haruskah ia melarikan diri dari sangkar emas itu…
atau bertahan dalam perlindungan berbahaya dari pria posesif yang siap menghancurkan dunia demi dirinya?

“Kamu adalah napasku, Ceisyra. Dan aku tidak akan membiarkan siapa pun merebutmu dariku.”

Takdir, obsesi, dan kekuasaan bertabrakan.

Mampukah Ceisya mengendalikan nasibnya sendiri… atau justru tenggelam dalam obsesi yang semakin dalam?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon namice, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jiwa Santriwati dalam Tubuh Sang Antagonis

​Malam di sudut kota itu terasa jauh lebih sunyi dari biasanya. Langit hitam pekat tanpa rembulan, hanya dihiasi kerlip bintang yang tampak malu-malu di balik gumpalan awan tipis. Angin malam berembus pelan, menyelinap melalui celah jendela asrama pesantren yang sedikit terbuka, membawa aroma tanah basah dan sisa-sisa wangi kembang kamboja dari area pemakaman di belakang pondok.

​Di dalam sebuah kamar sederhana berdinding cat putih yang mulai mengelupas, seorang gadis bernama Ceisya tengah berbaring tengkurap. Ia tidak sedang menghafal bait-bait Alfiyah atau menelaah kitab kuning seperti biasanya. Alih-alih memegang tasbih, jemarinya justru lincah menggulir layar ponsel yang cahayanya menerangi wajahnya yang putih bersih.

​"Gila! Ini penulisnya dendam apa gimana sih sama tokoh ini?" gumam Ceisya dengan nada kesal yang tertahan.

​Ceisya, santriwati berusia delapan belas tahun yang dikenal paling vokal dan "pecicilan" di angkatannya, tengah terjebak dalam pusaran emosi sebuah novel web berjudul Posesif Sang Penguasa Dunia yang Dingin. Sebuah cerita yang tengah booming di jagat maya, namun bagi Ceisya, setiap babnya terasa seperti siksaan mental.

​Pikirannya tertuju pada satu nama: Ceisyra Valenor. Nama yang hampir mirip dengannya, namun memiliki nasib yang seribu kali lebih tragis. Dalam novel tersebut, Ceisyra digambarkan sebagai putri sulung keluarga Valenor yang angkuh, berhati dingin, dan selalu iri pada adiknya, Clarisse Aveline. Clarisse adalah Malaikat bagi semua orang—lemah lembut, cantik, dan selalu menangis di saat yang tepat untuk memancing simpati.

​"Kalau aku jadi dia, sudah aku banting itu si Clarisse pakai teknik sapuan bawah!" gerutu Ceisya lagi. Ia membetulkan letak jilbab instannya yang berantakan karena ia terlalu banyak bergerak saking emosinya.

​Sebagai santriwati yang sudah bertahun-tahun menekuni bela diri silat di bawah bimbingan Abah Kyai, Ceisya paling anti melihat ketidakadilan. Baginya, Ceisyra Valenor hanyalah korban dari narasi yang dipaksakan. Ceisyra selalu disalahkan atas segala kecelakaan yang menimpa Clarisse, padahal tidak ada satu pun bukti nyata yang menunjukkan ia pelakunya.

​Tiba-tiba, suara teriakan melengking dari luar asrama membuyarkan lamunan Ceisya.

​"CEISYA! ASTAGFIRULLAH, BURUAN KELUAR! UDAH DITUNGGUIN DI DEPAN GERBANG!"

​Ceisya terlonjak kaget sampai ponselnya hampir menghantam hidungnya sendiri. "Iya, iya! Sabar napa, ini lagi beresin barang!" balasnya tak kalah kencang.

​Malam itu ia memang ada janji untuk keluar sebentar membeli perlengkapan asrama bersama temannya.

Dengan terburu-buru, Ceisya menyambar ponsel dan dompet kecilnya. Ia berlari keluar melewati lorong asrama yang remang-remang, sandal jepitnya mengeluarkan bunyi plak-plok yang beradu dengan ubin koridor.

​Di depan gerbang pesantren yang menjulang tinggi, jalanan cukup ramai dengan kendaraan yang lalu lalang. Cahaya lampu jalanan berpendar kuning, menciptakan bayangan panjang di atas aspal. Ceisya melihat temannya berdiri di seberang jalan, melambaikan tangan dengan heboh seolah sedang mengusir lalat.

​"Ayo cepetan, Cei! Keburu toko bukunya tutup!" teriak temannya dari seberang.

​"Sabar! Ini juga udah lari-lari!" sahut Ceisya.

​Saat ia mulai melangkah menyeberang, matanya secara refleks melirik ke arah layar ponsel yang masih menyala di tangannya. Layar itu masih menampilkan bab terakhir yang ia baca—sebuah adegan di mana Ceisyra Valenor berdiri di tepi balkon, menatap kosong ke arah keluarganya yang tengah memeluk Clarisse, sebelum akhirnya ia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya sendiri karena tidak ada yang percaya padanya.

​‘Nyebelin banget... Kalau aku yang jadi dia, aku nggak akan pernah menyerah seperti itu,’ batin Ceisya.

​Namun, di tengah lamunannya, suara decitan rem mobil yang sangat keras memekakkan telinga. Suaranya seperti besi yang bergesekan dengan kecepatan tinggi, menciptakan bau sangit karet terbakar yang menusuk hidung.

​"CEISYA, AWAS!!!"

​Cahaya lampu mobil yang sangat terang menabrak matanya, membutakan pandangannya dalam sekejap. Ceisya tidak sempat berpikir. Tubuhnya bergerak secara refleks—insting seorang pesilat yang sudah mendarah daging. Ia mendorong temannya yang berdiri di dekat jangkauan mobil, namun tubuhnya sendiri tak sempat menghindar.

​DUAAAKK!

​Dunia Ceisya mendadak berubah menjadi gelap gulita. Tidak ada rasa sakit yang luar biasa, hanya ada rasa hampa yang dingin, seolah jiwanya ditarik paksa keluar dari raga yang ia kenali selama delapan belas tahun ini.

​"....Ceisyra...."

​Suara itu terdengar seperti gema di dalam gua yang sunyi. Dingin, datar, dan penuh otoritas.

​"Ceisyra Valenor, bangun. Jangan membuang waktuku dengan akting pingsan yang menyedihkan ini."

​Ceisya mengerang. Kepalanya terasa sangat berat, seolah ada ribuan ton batu yang menekan dahinya. Perlahan, ia mencoba membuka kelopak matanya. Hal pertama yang ia tangkap adalah cahaya lampu kristal raksasa yang menggantung di langit-langit kamar. Lampu itu begitu mewah, berkilauan seperti berlian yang disusun rapi, sangat kontras dengan lampu bohlam kuning redup yang biasa ia lihat di kamar asramanya.

​"Apa ini...?" gumam Ceisya lirih. Suaranya terdengar berbeda. Tidak serak seperti biasanya, melainkan halus dan memiliki nada yang anggun, meski terdengar sangat lemas.

​Ia mencoba menggerakkan tangannya. Saat tangannya masuk ke dalam jangkauan pandangan, Ceisya membeku. Tangannya... kulitnya begitu putih pucat dan halus, jemarinya panjang dan lentik dengan kuku yang dipoles warna merah mawar. Ini bukan tangannya. Tangannya adalah tangan seorang pesilat—sedikit kasar di bagian telapak, dengan bekas luka kecil akibat latihan.

​"Sudah puas mengagumi dirimu sendiri?"

​Ceisya menoleh dengan kaku ke arah sumber suara. Di sana, berdiri seorang wanita paruh baya dengan gaun beludru berwarna biru tua yang tampak sangat mahal. Wajahnya cantik, namun garis-garis di wajahnya menunjukkan kemarahan yang mendalam. Matanya menatap Ceisya seolah ia adalah hama yang menjijikkan.

​"Siapa... Anda?" tanya Ceisya bingung.

​Wanita itu tertawa sinis, sebuah tawa yang tidak mengandung kebahagiaan sedikit pun. "Luar biasa. Sekarang kamu menggunakan taktik hilang ingatan untuk menghindari hukuman? Setelah apa yang kamu lakukan pada Clarisse, kamu pikir aku akan tertipu?"

​Deg. Nama itu lagi. Clarisse.

​Pikiran Ceisya mulai bekerja cepat. Ia melirik ke sekeliling ruangan. Kamar ini luasnya mungkin seukuran gedung serba guna di pesantrennya. Perabotannya terbuat dari kayu jati berukir emas, karpet bulu tebal yang menutupi lantai, dan aroma parfum mawar yang sangat kuat menyengat hidung.

​"Clarisse Aveline?" Ceisya memastikan dengan suara bergetar.

​"Jangan berani-berani menyebut namanya dengan mulut kotor itu!" bentak wanita itu, yang Ceisya sadari sekarang Clara ibu dari Ceisyra yang asli—namun di novel digambarkan tidak pernah sedikit pun mencintai putri sulungnya itu.

​Clara melangkah mendekat, memberikan aura intimidasi yang kuat. "Clarisse masih menangis di kamarnya karena kamu mendorongnya di tangga. Beruntung ada yang menolongnya. Jika tidak, kamu mungkin sudah berada di penjara bawah tanah sekarang!"

​Setelah melempar kata-kata tajam itu, Clara melangkah pergi, membanting pintu besar kamar itu hingga suaranya bergema ke seluruh ruangan.

​Ceisya terduduk diam di atas kasur yang sangat empuk. Ia segera menyambar sebuah cermin perak yang terletak di atas meja kecil di samping tempat tidur. Wajah yang terpantul di sana adalah wajah yang sangat cantik, namun terlihat sangat menderita. Mata yang besar dengan bulu mata lentik, hidung mancung, dan bibir tipis yang merah alami.

​"Ini beneran Ceisyra Valenor..." bisiknya tak percaya. Ia menyentuh pipinya, merasakan tekstur kulit yang begitu sempurna. "Aku benar-benar masuk ke dunia novel itu? Jadi antagonis yang bakal mati dihukum penggal?"

​Ketakutan sempat menjalar di hatinya selama beberapa detik. Membayangkan dirinya akan mati dengan tragis di tangan axton, musuh tunangannya yang tak lain Kaelthas Virelion, membuat bulu kuduknya meremang. Namun, Ceisya bukan gadis sembarangan. Bertahun-tahun hidup mandiri di pesantren dan ditempa latihan fisik silat yang keras membuatnya memiliki mental baja.

​Ia menghela napas panjang, mencoba menenangkan detak jantungnya yang berpacu. "Oke, Ceisya. Tarik napas, buang. Kamu sudah sering menghadapi preman pasar waktu pulang pondok, masa cuma lawan alur novel saja takut?"

​Ceisya terkekeh pelan. Sifat tengilnya mulai muncul ke permukaan. Ia turun dari ranjang, merasakan sensasi karpet bulu di bawah kakinya. Gaun tidur yang ia pakai sangat tipis dan panjang, membuatnya merasa sedikit tidak nyaman.

​"Dihukum karena hal yang nggak aku lakukan? Difitnah sama adik muka dua?" Ceisya merapikan rambut panjangnya yang berwarna hitam berkilau. Ia menatap bayangannya di cermin dengan tatapan yang kini jauh lebih tajam dan hidup.

​"Mereka nggak tahu saja kalau di dalam tubuh Ceisyra yang lemah dan haus kasih sayang ini, sekarang isinya adalah santriwati yang jago smackdown."

​Ia melangkah menuju pintu besar kamar itu. Dengan gerakan anggun namun penuh tenaga, ia memutar gagang pintu yang dingin. Begitu pintu terbuka, ia langsung berhadapan dengan seorang gadis yang tampak sangat rapuh. Gadis itu mengenakan gaun putih polos, matanya sembab seperti baru saja menangis selama berjam-jam.

​"Ka... Kakak?" ucap gadis itu dengan suara yang bergetar hebat, seolah ia sangat ketakutan melihat Ceisyra.

​Ceisya berhenti tepat di depan gadis itu—Clarisse Aveline. Sang tokoh utama yang dicintai semua orang. Ceisya tidak langsung membalas. Ia justru menyilangkan tangan di depan dada, menatap Clarisse dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan tatapan menyelidik.

​Mata "pesilat"-nya bekerja. Ia melihat bagaimana Clarisse sengaja merundukkan bahunya agar terlihat lebih kecil, bagaimana jemarinya sedikit gemetar yang tampak sangat tidak natural.

​"Akting yang sangat berkelas," bisik Ceisya tepat di dekat telinga Clarisse saat ia melangkah melewatinya. Suaranya terdengar santai, namun mengandung ancaman yang dingin.

​Clarisse membeku di tempat. Ia menoleh ke arah kakaknya dengan wajah bingung. "Kakak bicara apa? Aku—"

​Ceisya berhenti sejenak, menoleh sedikit sambil memberikan senyum miring yang sangat tengil. "Lanjutkan saja tangisanmu itu. Tapi ingat satu hal, air mata nggak akan mempan lagi di hadapanku. Mulai sekarang, permainan ini ganti aturan."

​Ceisya melangkah pergi meninggalkan lorong itu dengan langkah mantap. Ia tahu, hari ini Kaelthas Virelion akan datang.

1
Wahyuningsih
💪💪💪 dlm upnya yg busnyk n hrs tiap hri jgn lma2 up thor tk enak menunggu sehat sellu n jga keshtn
namice: terimakasih banyak ya kak sudah baca novel ku dan supportnya 😘😘😘🌹🌹🌹🌹
total 1 replies
Atik R@hma
mantapp,double up dong🤣🤣
namice: 😘😘, terimakasih banyak ya kak sudah baca novel ku 😘😘😘🌹🌹🌹🌹
total 1 replies
vew
thor banyakin upnya ,, suka sama ceritanya .. semangat 💪💪
namice: 😘😘, terimakasih banyak ya kak sudah baca novel ku dan support-nya 😘😘😘🌹🌹🌹🌹
total 1 replies
ᵉᶠ ↷✦; 𝓔 𝓵 𝓵 𝓮 ❞
yang pasti harus ikut bertarung dong Cey
namice: 😁😁, terimakasih banyak ya kak sudah baca novel ku 😘😘😘🌹🌹🌹🌹
total 1 replies
ᵉᶠ ↷✦; 𝓔 𝓵 𝓵 𝓮 ❞
lahh, ini sebenarnya ortu kandung gak sih
kok kejam amat
namice: 😁😁, terimakasih banyak ya kak sudah baca novel ku 😘😘😘🌹🌹🌹🌹
total 1 replies
ᵉᶠ ↷✦; 𝓔 𝓵 𝓵 𝓮 ❞
tupai dong dia 🤣
namice: 🤣🤣, terimakasih banyak ya kak sudah baca novel ku 😘😘😘🌹🌹🌹🌹
total 1 replies
ᵉᶠ ↷✦; 𝓔 𝓵 𝓵 𝓮 ❞
siap² aja kalian semua, nunggu emak singa yang cantik akan beraksi
namice: 🤣🤣, terimakasih banyak ya kak sudah baca novel ku 😘😘😘🌹🌹🌹🌹
total 1 replies
ᵉᶠ ↷✦; 𝓔 𝓵 𝓵 𝓮 ❞
sippp Cey, banting aja mereka 1 per 1
namice: 🤣🤣, terimakasih banyak ya kak sudah baca novel ku 😘😘😘🌹🌹🌹🌹
total 1 replies
Wahyuningsih
💪💪💪💪 thor dlm up yg buanhk n hrs tiap hri jgn lma upnya thor tk enak menunggu sehat sellu n jga keshtn
namice: terimakasih banyak ya kak sudah baca novel ku dan supportnya 😘😘😘🌹🌹🌹🌹
total 1 replies
Wahyuningsih
💪💪💪💪💪💪💪💪 thor jgn ampe kendor kolor kli y thor 😁😁😁
namice: 🤣🤣, terimakasih banyak ya kak sudah baca novel ku dan suporternya 😘😘😘🌹🌹🌹🌹
total 1 replies
Intan Aprilia Rahmawati
next dong
namice: 😘😘, terimakasih banyak ya kak sudah baca novel ku 😘😘😘🌹🌹🌹🌹
total 1 replies
Wahyuningsih
thor novel yg kmaren aja nggantung gk up2 eeeeh udah ada yg bru di tamatin dlu lah thor novel yg kmaren syg critanya bagus klau gk dterusin
namice: 😄, iya kak novel yang kemarin terkontrak tapi gak dapat reward kak, jadi cuma kontrak ga di gaji, karena pembacanya sedikit kak 😔😔.. terimakasih banyak ya kak sudah baca novel ku 😘😘🌹🌹🌹🌹
total 1 replies
CaH KangKung,
lanjut
namice: terimakasih banyak ya kak sudah baca novel ku, aku akan update lagi satu 😘😘😘🌹🌹🌹🌹
total 2 replies
CaH KangKung,
like...🥀🥀
namice: 😘😘😘, terimakasih banyak ya kak sudah baca novel ku 😘😘😘😘🌹🌹🌹🌹
total 1 replies
CaH KangKung,
👣👣
namice: 😘😘 terimakasih banyak ya kak sudah baca novel ku, love you sekebon untukmu 😘😘😘🌹🌹🌹🩷🩷🩷
total 1 replies
azka aldric Pratama
hadir
namice: love you sekebon untukmu kak 😘😘😘🌹🌹🌹🌹
total 1 replies
Yuni Alyssa
jangan buat gampang dapetin cwe nya tor... jangan lp ya bales dendam nya yg sadis ama keluarganya 🤣🤣🤣
༻♛A̷͙ͭͫ̕ḑ̴̞͛̒ỉ͔͖̜͌r̴̨̦͕̝a̤♛༺
seru ni novel 😁
menarik banget alurnya 😃
seperti biasa kutunggu cerita tamat dulu baru ku baca
namice: iya kak tidak apa-apa kak😘
total 1 replies
Yuni Alyssa
klo aku punya keluarga begitu... aku nikah sm cowo nya truz ku ancurin bapak emaknya apalagi si pick me... sebar dulu biar jadi bulan2an netizen 🤣🤣🤣....
namice: 🤣🤣🤣, terimakasih banyak ya kak sudah baca novel ku😘😘😘😘🌹🌹🌹🌹
total 1 replies
Wahyuningsih
mampus kau
namice: 😘😘, terimakasih banyak ya kak sudah baca Novel ku 😘😘😘🌹🌹🌹🌹
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!