NovelToon NovelToon
TIDAK ADA MAAF

TIDAK ADA MAAF

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Penyesalan Suami / CEO
Popularitas:20k
Nilai: 5
Nama Author: wiwi

Sinopsis Ringkas

Kayla selalu menjadi wanita sempurna—cantik, pintar, dan selalu juara sejak kecil. Namun setelah menikah muda dengan pria yang dicintainya, Adrian, hidupnya perlahan berubah. Demi menjadi istri yang baik, Kayla mengorbankan impian, penampilan, dan dirinya sendiri.

Sayangnya, semua pengorbanan itu justru membuat Adrian bosan.

Saat Adrian mulai berselingkuh dengan Bianca, Kayla tetap bertahan… sampai akhirnya ia lelah menjadi satu-satunya orang yang memperjuangkan pernikahan mereka.

Setelah dua tahun penuh luka, Kayla memilih bercerai.

Tak ada yang menyangka bahwa setelah pergi dari Adrian, Kayla kembali bersinar. Ia melanjutkan kuliah, meraih karier impian, dan berubah menjadi wanita yang begitu mempesona.

Di saat Adrian mulai menyesal dan mati-matian ingin mendapatkannya kembali, hadir Julian—CEO muda sekaligus kakak senior kampus yang diam-diam telah lama mencintai Kayla.

Namun hati Kayla sudah terlalu hancur untuk percaya pada cinta lagi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Retakan yang Semakin Jelas

“Karena aku nggak mau kehilangan rumah tangga aku.”

Kalimat yang keluar dari mulut Adrian itu membuat Bianca membeku di tempatnya. Kakinya terasa berat menapak lantai ruangan kantor yang dingin itu.

Wanita itu menatap lekat-lekat wajah pria di depannya cukup lama, seolah berharap bahwa semua kata-kata barusan hanya sebuah candaan buruk, atau sekadar alasan sesaat yang akan berubah sebentar lagi.

Namun tatapan mata Adrian terlalu serius. Wajahnya terlalu tegas. Dan ketegasan itulah yang membuat dada Bianca terasa dingin dan hancur seketika.

 

“Jadi sekarang… aku apa di mata kamu, Adrian?” tanya Bianca pelan, suaranya bergetar halus berusaha menahan tangis.

Adrian mengusap wajahnya kasar dengan kedua tangan, terlihat sangat lelah dan tertekan. “Kamu partner kerja aku. Rekan kerja yang baik,” jawabnya singkat.

Bianca langsung tertawa kecil. Namun tawanya terdengar begitu pahit, begitu menyakitkan, dan begitu penuh kekecewaan.

“Partner kerja?” ulangnya pelan sambil menggeleng-gelengkan kepala. “Cuma itu?”

“Aku nggak mau semuanya makin salah, Bianca. Aku nggak mau semuanya jadi makin rumit dan nyakitin siapa-siapa lagi.”

“Makin salah?” ulang Bianca lagi, matanya mulai berkaca-kaca. “Jadi selama ini apa yang kita bangun, apa yang kita rasain, apa kedekatan kita… emang dari awal udah salah di mata kamu?”

Pertanyaan itu membuat Adrian terdiam kaku. Mulutnya terbuka hendak menjawab, namun tak ada satu kata pun yang keluar.

Karena jauh di dalam hati nuraninya… ia tahu persis jawabannya. Dan ia tahu bahwa Bianca benar.

 

Bianca berjalan mendekat perlahan, langkahnya gontai namun mantap. Ia menatap lurus ke manik mata Adrian yang berusaha menghindar.

“Aku selalu ada pas kamu capek. Pas kamu lagi butuh teman ngobrol. Pas kamu lagi marah sama hal-hal di rumah,” ucap Bianca lirih, menumpahkan semua apa yang selama ini ia simpan. “Aku dengerin semua keluh kesah kamu. Aku nemenin kamu. Aku kasih semua kenyamanan yang kamu minta.”

Matanya mulai memerah kecil, air mata mulai menggenang di pelupuknya.

“Dan sekarang… pas kamu mulai sadar dan mau balik ke istri kamu… aku disuruh mundur, disuruh jaga jarak, dan dilupain begitu aja?”

Rasa bersalah langsung menghantam dada Adrian lagi, kali ini jauh lebih keras dari sebelumnya. Ia tidak berani menatap wajah wanita itu.

Karena tanpa sadar, tanpa ia sadari dampaknya… ia memang membiarkan Bianca masuk terlalu jauh ke dalam hidupnya. Ia memberi wanita itu perhatian, kenyamanan, dan kedekatan emosional.

Hal-hal berharga yang seharusnya hanya ia jaga dan berikan untuk istrinya sendiri.

 

“Aku nggak mau nyakitin siapa-siapa lagi,” ucap Adrian pelan, suaranya terdengar lemah dan penuh penyesalan.

Bianca tersenyum tipis, namun senyumnya terasa begitu perih.

“Sayangnya, Adrian… kamu udah terlanjur nyakitin dua perempuan sekaligus. Aku dan dia. Kamu bikin kami berdua sama-sama sakit hati,” jawabnya tegas.

Dan kalimat itu… seperti pukulan telak yang membuat Adrian tidak bisa berkata apa-apa lagi. Ia sadar ia adalah penyebab dari semua luka ini.

 

Sementara itu, di apartemen yang sunyi, Kayla sedang duduk di depan meja belajarnya, di hadapan layar laptop yang menyala. Ia sedang mengerjakan revisi naskah pertamanya sebagai pekerja lepas.

Namun pikirannya tidak benar-benar fokus. Matanya menatap kata-kata di layar tapi tidak benar-benar membacanya.

Pertengkaran hebat semalam masih terus terngiang di kepalanya. Setiap kata, setiap nada suara, dan setiap rasa sakit yang terungkap masih terasa jelas.

Aneh. Dulu, setelah bertengkar dengan Adrian, ia biasanya akan menangis lama, akan terpuruk, dan akan merasa sangat hancur.

Tapi sekarang… setelah semuanya terungkap, yang ia rasakan justru kekosongan yang luas.

Seolah dirinya perlahan mulai mati rasa. Seolah rasa sakit itu sudah terlalu sering datang hingga ia tak lagi bisa merasakannya.

 

Ponselnya yang tergeletak di samping keyboard tiba-tiba berbunyi pelan. Sebuah pesan masuk.

Nama Julian muncul di layar.

📩pesan. Julian

"Kamu lagi nggak sibuk atau free nanti malam"

Kayla membaca pesan itu beberapa detik. Jemarinya bergerak pelan membalas.

✉️pesan. Kayla

"Lumayan santai. Nggak ada jadwal keluar rumah. Kenapa emangnya?"

Tak lama kemudian balasan datang cepat.

📩Pesan. Julian

"Aku mau traktir makan atau kopi. Buat ngerayain kerjaan pertama kamu. Bangga banget lho 😄"

Kayla langsung tersenyum kecil melihat pesan itu. Ada rasa hangat yang menjalar di dadanya. Namun beberapa detik kemudian, senyum itu memudar lagi perlahan.

Karena sekarang… setiap kali Julian bersikap baik, setiap kali pria itu memberikan perhatian atau dukungan, ia justru merasa bersalah. Ia merasa berdosa.

Seolah tanpa sadar dirinya mulai menikmati perhatian dari pria lain, hal yang selama ini ia harapkan dari suaminya sendiri tapi tak pernah didapat.

✉️ pesan. Kayla

"Makasih banyak ya, tapi nggak usah repot-repot deh 😅"

Namun balasan Julian kembali datang, kali ini lebih cepat dari sebelumnya.

📩pesan. Julian

"Yah… cuma sekadar ngopi sebentar aja nggak bisa? Anggap aja sebagai senior yang bangga banget sama perjuangan juniornya. Aku cuma mau ngucapin selamat secara langsung kok."

Dan lagi-lagi… kalimat sederhana itu membuat hati Kayla terasa hangat.

Karena sudah lama sekali tidak ada orang yang mendukungnya sesederhana itu, seikhlas itu, dan tanpa menuntut apa pun sebagai gantinya.

 

Malam harinya, Adrian pulang lebih cepat dari biasanya. Langkahnya terasa berat namun penuh tekad.

Begitu masuk ke dalam apartemen dan menutup pintu, ia langsung melihat Kayla sedang duduk di kursi balkon, membiarkan angin malam menerpa wajahnya. Wanita itu sedang memegang ponsel dengan senyum kecil yang terukir jelas di wajahnya. Senyum yang indah namun bukan untuknya.

Dan entah kenapa… pemandangan itu langsung membuat dadanya terasa tidak nyaman lagi. Ada rasa cemburu yang kembali menggelora.

“Kamu lagi ngobrol sama siapa?” tanyanya sambil berjalan mendekat, nada suaranya tidak bisa disembunyikan.

Kayla mengangkat kepala perlahan, tidak terkejut sama sekali. “Sama Julian,” jawabnya jujur.

Jawaban yang apa adanya itu justru membuat Adrian semakin gelisah. Ia meletakkan tasnya sembarangan.

“Tentang apa? Masalah kerjaan?”

“Biasa aja. Cuma ngobrol,” jawab Kayla singkat, lalu kembali menatap langit malam.

“Kalian kok sering banget komunikasi dan ngobrol sekarang?”

Nada suara Adrian terdengar lebih tajam, lebih curiga, dan lebih menuntut dari yang ia sadari.

Dan Kayla langsung menghela napas pelan. Napas yang terdengar sangat lelah.

“Nah kan,” ucapnya pelan.

“Apa ‘nah kan’?”

“Kamu nggak suka. Kamu nggak tenang. Kamu curiga,” ucap Kayla datar.

“Aku cuma,,, aku cuma nggak enak aja lihatnya.”

“Takut kehilangan?” potong Kayla cepat.

Kalimat itu langsung membuat Adrian diam. Mulutnya terkatup rapat.

Karena lagi-lagi… Kayla benar. Itulah satu-satunya alasan di balik segala sikapnya belakangan ini.

 

“Kalau kamu nggak mau kehilangan aku…” ujar Kayla pelan, matanya menatap lurus ke arah kerlap-kerlip lampu kota di depan mereka, “…harusnya kamu mikirin itu, khawatirin itu, dan jagain itu dari dulu. Bukan sekarang.”

Dada Adrian langsung terasa sesak napas. Ia menelan ludah susah payah.

Karena setiap ucapan Kayla sekarang selalu terdengar seperti penyesalan yang datang terlambat. Seolah semua kata-katanya adalah pembenaran bahwa waktunya sudah habis.

 

Adrian berjalan mendekat lalu duduk di kursi sebelahnya perlahan. Jarak mereka dekat, namun rasanya masih sangat jauh.

“Kasih aku waktu, Kay. Kasih aku kesempatan buat benerin semuanya. Buat perbaiki kesalahan aku,” pintanya pelan, penuh harap.

Kayla tersenyum kecil. Namun kali ini senyumnya benar-benar lelah, benar-benar pasrah, dan benar-benar hampa.

“Aku udah kasih kamu waktu dua tahun, Adrian. Dua tahun aku nunggu, dua tahun aku berharap, dua tahun aku bertahan,” jawabnya lirih.

Dan untuk pertama kalinya… Adrian benar-benar tidak punya jawaban lagi. Tidak ada alasan, tidak ada pembelaan diri. Ia sadar bahwa ia sudah menghabiskan semua waktu yang diberikan kepadanya dengan sia-sia.

1
mama
km bner2 suami terberengsek andrian,yg km inget2 cm saat tatapan keyla kodong ddpn apartemen Bianca..nah trs saat km ciuman dan meluk pinggang Bianca lupaaa gituuu🤣
mama
terlambsaaaaaat🤣.. nok sana ke Bianca bntar lgi psti tlp nyariin km.. dan dgn pd km Cusss pergi trs keyla bakal diam ajjj,.sekarang rasain klu keysa udh pergi😄
Uthie
Dan nyebelin juga si Kayla nya pas dia selalu aja bilang sesudah disakitin hatinya: 'Tapi aku masih aja cinta pada Andrian" 😝
nyebelin banget dehhh 😌
Uthie
Lo nyalahin si Niancay, lahhh Lo juga harus nya liat diri Lo sendiri!!!!
yg selalu bikin si Bianca bergantung diri sama.kamu siapa???!!! Lo juga kan!!! 😝
Yg selalu nyamperin dia pas di Telp atau pesan suruh datang siapa?!??? Bahkan saat Kayla pingin di dengar untuk gak pergi ke cewek itu, tapi Lo tetep no 1 tuhh cewek buat Lo sok urusin!!! sedang Lo gak pernah mikir bagaimana perasaannya Kayla saat Lakinya lebih milih cewek lain!!! 😡😡😡
Mikir dongg Lo!!! 😡😤
Uthie
Basiiij bangettttt Lo Adrian 😝😝😝😝
Uthie
Basi lahhh si Adrian 😡
sunaryati jarum
Pilihan kamu pada Kayla sudah terlambat, Adrian.Karena dengan kesadaran kamu yang lebih mengutamakan wanita penyakitan itu.Coba jika kamu milih Bianca kebahagiaan Napa yang kau dapat,kau jadi perawatnya dan sandaran hidupnya selamanya, karena kejahatan kalian pada Kayla kesehatan Bianca tidak membaik tapi memburuk karena hatinya busuk.Itu harapan emak
sunaryati jarum
Kesadaran akan banyak kesalahan kamu sudah terlambat,cinta Keyla mungkin sudah akan berubah benci,dan tidak ada maaf bagimu
Anonim
awokawok lemah anjing
sunaryati jarum
Tinggal menunggu karma Bianca dan Adrian.Walaupun Bianca meminta jika Adrian tidak datang memberi harapan maka kejadian itu terhenti.Jadi keduanya harus menerima konskueinnya
sunaryati jarum
Nah gitu masa suami seperti itu masih diberi kesempatan, biarkan mengurus wanita berprnyakitan tapi mampu menyakiti hati istri
Agus Tina
Sukur ... rasain
Agus Tina
Bagus ... awalnya aku berharap mereka baikan tapi melihat sikap Adrian yang plin2 ... fix mending pisah aja ...
Uthie
Dan untuk sia Bianca, Selamat anda telah berhasil memisahkan suami - Istri tsb 👍😡
lapor ke Raja Iblis kamu tuhh.. misi kamu berhasil yaa Tan 😝
Uthie
Sukuriiinnnnn 😝😝😝

Bodoh terus kamu Kay kalau mengulang hal yg sama pada laki2 Plin plan macam itu 😡😡😡😡
Uthie
Bagussss dehhhh....
ngapain juga emang terus mempertahankan laki2 yg ada wanita lain di hati nya.... yg ada kamu cuma selingan doang!!!! 😤
Pinkan Aritra
akhirnya kayla pergi juga
mama
sokoooor,balik O ning Bianca mu yg sekarat.. selamat akhirnya keysa pergi🤣
mama
kapoooooooookkkkk
mama
gk sat set mls jdi mles bacanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!