Bertahan atau melangkah pergi?
Memberi pertolongan atau malah menyudutkan?
Banyak hal yang harus di mengerti dengan meluaskan pendengaran ataupun penglihatan. Agar mempercayai tidak mendapat balasan dari seorang penghianatan-- yang tersembunyi di balik kesalahannya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aytysz_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
00^15
Hasil evolusi dari usaha uang sangat tidak bermanfaat bagi orang lain tapi begitu berarti bagi diri sendiri. Hampir saja memenuhi ketentuan dari keputusan final yang akan menghancurkan kepercaaan seseorang. Karena telah mengabaikan pikiran positif yang sangat berlian, untuk tetap diam pada posisinya saat ini. Akan tetapi, ego benar-benar menjadi prioritas utama dalam kehidupan.
Hanya ingin keluar dari lingkup sunyi dan hampa Hingga keluguan sesaa terus saja melekat pada diri. Mungkin yang melihatnya saat ini akan menganggapnya sebagai perempuan tidak tahu malu. Karena begitu berani menggoda milik seseorang.
Dan, 'bodoh' kata itu yang langsung tercetus dalam hati. Karena telah mempertahankan sikap tidak tahu apa-apa, padahal tahu segalanya. Jika menerima tawaran itu adalah keputusan yang salah.
Diam, sesekali menelan ludahnya. Merasa canggung akan suasana yang menyelimuti diri. Berjalan beriringan dengan sosok pemuda tampan penuh kehangatan setiap kali berada di dekatnya.
"Kau ingin makan lebih dulu sebelum pulang kerumah?" Tawarnya yang semakin membuat ego menjadi-jadi.
"Jika itu tidak memakan banyak waktu aku tidak masalah." Rendah sang gadis, mengangguk kecil. Tersenyum kecil penuh kepahitan.
Kepala pemuda itu mengangguk pelan. "Oke, kita makan dulu sebelum pulang."
Sang gadis hanya bergumam.
"Anrey?" Panggilan rendah yang sangat ampuh membuat sang empu meboleh ke samping, untuk membalas tatapan gadis cantik tidak banyak bicara itu.
"Seharusnya kau tidak mengajakku keluar, seharusnya kau membatalkannya. Karena itu akan membuat orang lain salah paham jika melihat kita jalan berdua. Apalagi, kita tidak begitu akrab di sekolah." Sambung sang gadis penuh keberanian, hanya ingin menghindarkan masalah besar maupun kecil dari hidupnya.
"Kita bisa memulainya malam ini. Aku akan jadi teman yang baik untuk mu. Aku akan membantumu di saat mereka mengganggumu." Tanggap Anrey yang sangat paham dengan isi kepala sang gadis saat ini.
Akan tetapi, Anrey tidak mengerti dan memahami arti di balik perkataan sang gadis.
"Kau sangat mudah mengatakan hal seperti itu, Anrey. Tapi tidak dengan ku." Batin sang gadis, yang berusaha untuk menyakinkan diri jika setelah ini, ia tidak akan pernah lagi berurusan dengan Anrey. Setelah tugas kelompok itu selesai.
"Kau bisa membeli barang-barang itu dengan Aldi. Kenapa kau mengajakku?" Tanya sang gadis, yang tidak bermaksud mengganti topik pembicaraan.
"Tidak hanya Aldi, Yuna dengan Austyn pun juga berada di ruang belajar. Dan hanya dirimu yang tidak ada di sana." Diam sejenak, menghentikan langkah kakinya di depan salah satu tempat yang menjual beberapa macam makanan.
"Jadi aku tidak ingin mengganggu waktu belajar mereka, dan aku mengajak mu membeli barang kebutuhan kelompok. Apa kau menyesalinya?" Imbuh Anrey, kini memberikan sate telur puyuh kepada Anna yang tidak langsung menerimanya.
"Benar, mereka ada di ruang belajar." Rendah Anna, dengan kepala mengangguk kecil. Tersenyum masam. Mulai membuka mulut untuk menikmati satu persatu telur puyuh yang berada di tangan kanannya.
"Anna, sebenarnya ada beberapa hal yang ingin aku tanyakan padamu." Sangat hati-hati, Anrey kembali membuka suara.
"Jika kalimat itu tidak akan menyakiti ku, tanyakanlah." Balas Anna dengan tenang.
"Kau mendapat beasiswa dari sekolah karena nilai yang sempurna. Tapi, kenapa kau tidak masuk ke dalam daftar murid penerima jam tambahan belajar? Sedangkan Austyn, nama dia ada didalam daftar itu. Bukankah, peringkat mu lebih bagus darinya? Apa kau tidak__"
"Bagaimana dengan mu?" Cepat Anna, merasa sedikit kesal akan satu persatu kalimat yang keluar dari mulut Anrey.
"Bukankah peringkat mu itu jauh lebih bagus dariku? Tapi kau juga ada disini, bukan di ruang belajar." Sambung Anna.
Diam, sekilas membasahi bibirnya yang terasa kering. Sebelum memberi jawaban. "Seharusnya aku di sana, tapi tidak untuk malam ini."
"Apa?" Gumam Anna yang sangat spontan.
"Pelajaran tambahan itu tidak wajib di lakukan. Dan aku hanya ingin menghirup udara malam sekali-kali." Ambigu Anrey, tersenyum simpul menatap Anna yang sulit untuk berkata-kata.
Hingga, kesadaran menyerang jiwanya. Kenapa Anna baru sadar? Jika Anrey masih memakai seragam sekolahnya. Dan kenapa Anna baru paham, jika orang sepertinya tidak ada di dalam daftar itu.
"Kau tidak perlu pusing memikirkan perkataan ku, karena itu benar-benar tidak penting sebenarnya." Ucap Anrey yang kini menikmati sate ampela ati. Walaupun rasanya sedikit pahit, tapi Anrey menyukainya.
"Anrey, jika aku menyakan hal itu pada pihak sekolah. Kira-kira seperti apa respon mereka?" Tanya Anna yang sangat ingin tahu kenapa namanya tidak ada di antara 30 murid teratas menurut sekolah.
Tidak langsung memberi respon, Anrey diam sejenak. Terlihat sangat jelas dari kerutan samar di kening pemuda itu. Seperti tengah mencari jawaban yang pas, agar Yuna tidak mencurigai apapun. "Tanyakan sendiri pada kepala sekolah. Itu yang akan mereka lontarkan kepadamu."
"Apa__ hal itu menyangkut uang?" Ragu Anna.
"Kenapa kau bisa berpikir seperti itu?" Tidak begitu cepat, Anrey malah melontarkan balik pertanyaan untuk Anna.
"Masalahnya__"
"Bukankah itu sangat menyenangkan?" Suara familiar menyapa pendengaran mereka yang begitu kompak menoleh kesatu objek di depan mata mereka saat ini.
"Seharusnya kau tidak mengucap janji jika kau tidak sanggup menepatinya." Tambah orang itu dengan sorot mata penuh arti.
"Kau bisa membatalkannya dengan ku, tapi kau tidak bisa membaca keadaanya akan seperti apa." Semakin meninggi oktaf itu disuarakan. Tanpa peduli jika perkataannya menarik perhatian beberapa pengunjung di tempat itu.
"Kau ingin menjadikan ku perempuan jahat, Anrey?" Serunya dengan amarah yang sulit untuk dikendalikan.
"Yuna__" risau Aldi yang baru saja tiba. Sebentar melihat dua insan familiar di depan matanya. "Sepertinya kau meninggalkan buku mu."
Menahan diri untuk tidak membuat keributan, Yuna mengikis jaraknya dengan dua insan di depan matanya saat ini. Setelah menyentak pelan tangan Aldi yang mencekal pelan lengannya.
"Jika kau menyukainya, seharusnya kau mengakhiri lebih dulu hubungan mu dengan ku . . bukanya bermain busuk seperti ini." Geram Yuan, mengangguk kecil. Sebelum beralih pada Anna.
"Dan kau, seharusnya kau sadar diri. Bagaimana bisa orang seperti mu sangatlah rendah? Bukankah kau harus menjaga harga dirimu? Jika kau bertingkah seperti ini, kau tidak ada bedanya dengan seorang jalang." Sambung Yuna yang benar-benar sangat berani. Tanpa peduli akan kalimat gang keluar dari mulutnya, bisa membuat lawan bicara sakit hati.
"Yuna!!" Tegur Anrey yang merasa bersalah, walau niat sebenarnya bukan ingin membuat amarah itu ada pada diri Yuna.
"Cukup." Diam sejenak. "Terserah apa yang ingin kalian lakukan. Yang jelas, jangan pernah berusaha meminta maaf padaku. Karena aku sangat membenci hal itu."
Gusar, gelisah, kecewa gang perlahan datang menguasai jiwa. Ampuh membuat sukma suli untuk bernapas. Bukan karena menyesal telah melepas seseorang. Hanya saja, kepercayaan yang selama ini Yuna berikan dihancurkan begitu saja oleh sosok yang Yuna sayangi.
"Yuna__" sangat rendah, Anrey mulai berani menenangkan perasaan Yuna. "Ada beberapa alasan yang perlu kau dengar dariku."
"Dan apa yang kau lihat malam ini, itu jauh dari apa yang kau pikirkan. Jadi__"
"Apapun itu alasan mu, aku harus mengakhirinya. Karena ini bukan pertama kalinya aku bisa memaklumi kalian berdua." Diam sejenak, sebelum memutar tumit untuk melangkah pergi dari tempat itu.