Semua bermula saat regu berjumlah enam anggota mahasiswa hendak bertolak ke sebuah perkampungan pelosok demi tugas KKN, mereka menolak ikut rombongan bus kampus, memilih menaiki mobil pribadi.
Sampai pertengahan jalan, sang sopir berbelok arah, mencari jalur alternatif agar cepat sampai tujuan, tapi malah memasuki wilayah tidak terdaftar pada peta digital maupun konvensional.
Keanehan, kejanggalan mulai terjadi kala sang waktu merambat memasuki malam hari. Langit berangsur-angsur berubah warna layaknya api menyala.
Ada apa sebenarnya? lantas bagaimana dengan nasib para mahasiswa, termasuk Candra Kanti, gadis pendiam yang dapat merasakan aura mistis disekitarnya ...?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Butiran garam kasar : 29
“Apa yang kamu lihat, Ji?” tanya Sambara, ragu-ragu mendekati sang teman.
“Kok ada itu, apa sih namanya … yang untuk menebang pohon besar_”
“Minggir lu! Bisa-bisanya gelagapan!” Sambara menarik belakang kaos Aji, lalu menggantikan posisi berdiri, menatap lekat bagian dalam yang hanya terlihat sedikit.
“Hewan apa yang butuh dipotong menggunakan mesin gergaji?” Sambara melihat sebuah sinso digantung tali tambang.
“Ayo cari kuncinya. Jangan buang-buang waktu!” Kanti memeriksa plastik tergantung pada paku dinding. Sengaja menyela agar pembahasan tidak melebar, berakhir terlalu lama di sini. Mereka harus gerak cepat, berpacu dengan waktu.
“Kira-kira, dimana orang desa menyimpan anak kunci?” gumam Aji, dia mencari di bawah kolong dipan dapur, tidak ketemu.
“Bawah keset, pot bunga. Aku pernah nonton drama pedesaan!” seru Ahwaya, senyumnya luntur saat tidak mendapati alas kaki, lantai pun masih tanah lembab.
“Sambara, coba kamu berjinjit. Terus raba lubang ventilasi atas pintu itu!” Kanti menunjuk lubang udara.
Kaki Sambara berjinjit, tangannya dapat mencapai ventilasi sebanyak empat buah. “Dapat!”
Mereka semua tersenyum, seakan tengah berada di area permainan seru. Aslinya mau mencari jejak tubuh manusia salah satunya teman sendiri.
Candra Kanti memasukkan anak kunci ke lubang besi. Dua kali putaran tidak penuh, akhirnya berhasil, lalu didorong sampai terbuka separuh.
“Kok aku merinding, ya?” Aya mengelus lengannya. Tidak yakin mau masuk, tapi ikut juga karena Kanti sudah lebih dulu melangkahkan kaki.
“Ruangan ini luas banget ternyata.” Kanti berputar pelan, mendongak memandang ngeri gergaji mesin, lalu ada empat gancu yang digantung seperti mata kail.
Aji melangkah hati-hati, menghindari membuat suara gaduh. “Ini bau amis.”
“Apanya?” Sambara langsung mendekat, melihat Aji yang menempelkan hidung di dinding batu bata tidak disemen halus.
Dicubitnya butiran semen berwarna merah kehitaman. Lalu dicium demi lebih meyakinkan apa yang tadi tertangkap oleh indera penciumannya. “Benar, bau amis. Apa darah hewan ya?”
Sambara meniru seperti temannya, meremas semen perekat batu bata. “Aneh baunya, buat enek perutku.”
Disaat kedua pemuda sibuk menebak noda merah pekat di dinding, Kanti masuk lebih dalam lagi, berdiri dekat tumpukan jerami. Jemarinya menyentuh batang padi menguning, lalu dia terlonjak.
“Kenapa? Ada apa, Kanti?” Aya yang selalu mengikuti temannya, benar-benar terkejut.
“Tiba-tiba aja seperti ada aliran arus listrik menyetrum kulitku,” bisik Kanti, tidak pergi dari sana. Ia berjongkok, menatap jeli lantai yang dijadikan alas tumpukan jerami.
“Aya, tolong aku dorong tumpukan batang padi ini!” Kanti berlutut, kecurigaannya menguat kala melihat sesuatu di tanah.
“Ada apa disini?” tanya Aya sambil mendorong. “Berat banget.”
Dua orang wanita tidak berhasil menggeser posisi tumpukan jerami setinggi satu meter lebih.
Aji dan Sambara datang membantu. Mereka yang rajin fitness, memiliki otot terbentuk dari olahraga rutin, sekuat tenaga menggulingkan tumpukan jerami.
Usaha cukup menguras energi itu berhasil, jerami berpindah ke depan, tertahan dinding tembok.
“Garam? Tumpah atau sengaja di sebar?” Aya menjumput garam kasar di tanah.
Kanti berlutut, memperhatikan saksama kontur tanah bergelombang, lalu mengetuk-ngetuk dengan kepalan tangan.
“Ambil cangkul!” titahnya tidak mau dibantah.
Sambara yang berlari mencari keberadaan benda tadi di bawah masuk.
“Ada apa, Kanti? Kamu nemuin apa?” Aji menerima cangkul. “Biar aku aja, bagian mana mau dikorek?”
“Aya, kamu minggir dulu!” Kanti berdiri, kakinya menghentak lantai, otak merekam bunyi, lalu menandai suara kosong. “Bagian ini. Pada garis kubuat dengan ujung sandalku!”
Aji bersiap-siap mencungkil tanah menggunakan ujung sisi cangkul.
Duk!
“Sepertinya ada penutup terbuat dari bahan besi.” giginya ngilu kala cangkul beradu dengan benda keras menghasilkan bunyi nyaring. Aji mundur, meminta Sambara mengambil parang.
Kedua pemuda itu mencoba mengeruk tanah, membuangnya ke samping. Benar saja ada penutup besi yang tadi beradu dengan cangkul.
“Baunya!” keluh Sambara, cepat-cepat menutup hidung.
“Tarik pegangan itu, Ji!” suara Kanti bergetar, air matanya jatuh dengan sendirinya. “Cepat! Sekarang!”
Sambara sampai terkejut, terlebih melihat wajah mulai bermandikan air mata.
Kriettt ….
Penutup persegi kotak besar itu ditarik, menghasilkan bunyi berat. Tanah diatas terjatuh ke dalam melalui sela terbuka.
“Itu suara air, kan?” ucap Sambara, tanah terjatuh tadi seperti benda dibuang ke air.
“Senternya!” Kanti meminta alat penerang milik Aji yang dibawa Ahwaya.
Degup jantung Candra Kanti seperti suara alarm dinamit, rona pucat menjalar pada pipi, mengusir semu kemerahan. Tangannya bergetar membuat nyala senter bergoyang.
Dia membungkuk di tepi lubang yang ditaksir memiliki kedalaman lumayan, lebar hampir mencapai satu meter.
“Air, apa ini sumur?” Aji berbisik, dapat dilihatnya sinar senter menyorot air, setengah meter dari permukaan tanah.
“Itu tali apa apa?” netra Aya menemukan tali mengambang di permukaan air putih keabu-abuan, berbau masam membuatnya menelan ludah.
Tubuh Kanti rubuh, dia berlutut, dengan tangan gemetaran, mencoba meraih seutas tali tidak tenggelam.
Aji menahan menahan lengan kiri Kanti, senter langsung diambil alih oleh Sambara yang belum dapat menerka, tapi jantungnya sudah berpacu.
“Pak Aan! Kok cepet banget pulangnya?!” suara Abeer seperti menggunakan toa.
“Mampus kita. Gimana ini?!” Sambara panik.
Belum sempat Candra Kanti meraih tali, badannya ditarik sampai terjengkang menimpa Aji.
“Saya lupa membawa arit, mau sekalian merumput.” pak Aan hendak masuk ke dalam ruang makan bersebelahan dengan dapur bersih.
“Dimana benda tajam itu diletakkan, Pak? Biar saya bantu ambilkan!” Abeer kentara sekali menghalangi.
“Tidak perlu. Biar saya sendiri!”
.
.
Bersambung.
ngk rela Kanti sampai nikah SMA aksata
baru baca lg karya kak cublik yg ini, saking sibuk'y d dunia nyata
tapi...ada seseorang yg bisa nolong kanti....CUBLIK...lah orangnya
KAK CUB..please jangan sama set-an sesat ya
jahat banget..
kanti..ayo usaha..
ga rela kl.kanti pasangan sm harimau
berharap aya,pacarnya, ember ,aji bisa ingat lagi
siapa yg hapus ingatan mereka ber 3?
duh aku ko ya sebel banget sama aksata🙈
mereka bingung dengan perasaan mereka sendiri, merasakan sedih, kehilangan, dan menyayangi tanpa tau sebabnya.
kaya orang linglung