NovelToon NovelToon
AEXDREAM HIGH SCHOOL

AEXDREAM HIGH SCHOOL

Status: tamat
Genre:Ketos / Bad Boy / Idola sekolah / Tamat
Popularitas:625
Nilai: 5
Nama Author: Viana18

SMA Aexdream adalah sekolah elit yang hanya diisi oleh murid-murid dari kalangan keluarga terpandang, jenius, dan berbakat di berbagai bidang. Di sini, aturan dan gengsi adalah segalanya, apalagi bagi para pengurus OSIS yang dianggap sebagai “raja dan ratu” di lingkungan sekolah. Di antara mereka, ada satu pasangan yang selalu jadi sorotan: Mark, Ketua OSIS yang dingin, perfeksionis, dan sering dibilang kayak “robot nggak punya hati”, serta Gisel, Wakil Ketua OSIS yang cerdas, tegas, tapi punya mulut tajam dan gampang kesal kalau lihat kelakuan Mark yang sok sempurna.

Sejak awal menjabat, Mark dan Gisel selalu bertentangan. Mulai dari rapat yang berakhir debat panas, proker yang nggak pernah satu pendapat, sampai hal sepele kayak pemilihan tema acara sekolah—semua jadi ajang adu argumen. Bagi Gisel, Mark itu cuma cowok sombong yang ngira dia paling benar, sedangkan bagi Mark, Gisel cewek yang terlalu keras kepala dan susah diatur. “Dasar bossy cat! Paling seneng deh bikin aku pusing!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Viana18, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27

Kekalahan telak di depan gerbang sekolah kemarin sore tak membuat Sowon menyerah. Justru, rasa sakit hati dan egonya yang tinggi malah membakar tekadnya jadi makin liar. Di kamar kamarnya yang luas dan mewah malam itu, Sowon duduk diam menatap foto lama dirinya bersama Jeno — foto masa-masa indah saat mereka masih jadi pasangan paling dikagumi di sekolah. Matanya menatap tajam, bibirnya mengerucut keras. Baginya, Jeno adalah miliknya, dan Karina hanyalah penghalang yang harus disingkirkan dengan cara apa pun.

"Lo menang kali ini, Karina... tapi tunggu aja. Gue belum selesai. Gue bakal bikin Jeno inget siapa yang sebenernya paling ngerti dia, siapa yang paling pas buat dia. Dan gue bakal bikin lo sadar, kalau lo nggak bakal pernah bisa ngalahin sejarah kita berdua," batin Sowon dengan penuh tekad gelap.

Dia sudah menyusun rencana matang. Rencana terakhir, langkah paling berani dan paling ekstrem yang bakal dia lakukan sebelum mereka semua lulus sekolah dan berpisah jalan. Sowon tau, dalam dua hari lagi bakal ada acara Reuni Akbar & Malam Puncak Budaya SMA Aexdream — acara besar yang dihadiri seluruh murid, guru, dan bahkan banyak alumni lama. Di situ lah dia bakal bertindak. Di momen yang ramai, emosional, dan penuh kenangan itulah dia bakal meletakkan semua kartu asnya.

Keesokan harinya, Sowon mulai bergerak diam-diam. Dia menggunakan pesona, kepintarannya, dan koneksi teman-teman lamanya buat mengatur segalanya. Dia mencari tau hal-hal kecil yang sangat pribadi soal Jeno — hal-hal yang cuma dia yang tau, hal-hal masa lalu yang tersembunyi, kebiasaan-kebiasaan kecil, lagu kesukaan lama, tempat rahasia mereka dulu, sampai barang-barang kenangan yang masih dia simpan rapi sampai sekarang.

Dia juga sengaja mendekati teman-teman dekat Jeno dulu — anak-anak angkatan di atas atau teman sekelas lama — dan menanamkan pemikiran bahwa hubungan dia dan Jeno itu takdir yang terputus paksa, dan sekarang saatnya diperbaiki.

"Dulu kita emang sempurna banget kan? Semua orang bilang kita pasangan terbaik sepanjang masa. Sayang banget cuma karena jarak jadi putus. Sekarang gue udah balik, rasanya kayak ada yang belum selesai gitu lho... padahal kita berdua sama-sama masih sayang kan? Cuma Jeno-nya lagi bingung aja karena ada orang baru," ucap Sowon pelan dan sedih di depan teman-teman itu, membuat mereka semua ikut kasihan dan mulai mendukung diam-diam rencananya.

Dua hari berlalu cepat, dan tibalah hari acara besar itu. Sekolah dihias megah dan indah sekali. Lampu warna-warni, hiasan tradisional dan modern menyatu, panggung besar berdiri gagah di tengah lapangan. Suasana sangat meriah, penuh tawa, musik, dan pertunjukan seni. Semua murid berpakaian rapi dan elegan, tak terkecuali rombongan enam pasangan kita.

Jeno dan Karina datang berdua, tampak serasi dan bahagia banget. Sejak kejadian di gerbang kemarin, hubungan mereka makin kuat dan damai. Jeno selalu berada di sisi Karina, tangan mereka tak pernah lepas saling genggam, seolah menegaskan ke seluruh dunia bahwa mereka tak terpisahkan.

Namun, di sudut gelap, Sowon memperhatikan mereka dengan tatapan tajam. Dia tampil beda malam itu. Berpakaian anggun nan elegan, riasan menawan, dan senyum yang disiapkan khusus buat rencananya. Dia menunggu momen yang tepat, menunggu saat suasana jadi hening dan emosional — yaitu sesi penampilan kenangan dan cerita dari para murid.

Saat pembawa acara mengumumkan ada sesi "Berbagi Cerita & Kenangan Indah Sekolah", Sowon langsung mengangkat tangan dengan berani, meminta izin naik ke panggung. Nama Sowon sudah terkenal, jadi tepuk tangan langsung menyambutnya ramah.

Dia berjalan naik ke panggung dengan tenang dan anggun, memegang mikrofon. Matanya menyapu seluruh penonton, lalu berhenti tepat di arah Jeno dan Karina. Tatapannya tajam tapi tersenyum manis.

"Halo semuanya... Seneng banget bisa berdiri di sini lagi, di tempat yang banyak banget cerita buat gue. Buat yang belum kenal, gue Sowon, dulu pernah bersekolah di sini sebelum pindah, dan sekarang alhamdulillah udah balik lagi buat nyelesaiin pendidikan gue di tempat yang paling gue cintai ini," suara Sowon terdengar lembut dan memikat, membuat seisi lapangan hening mendengarkan.

Dia menghela napas seolah terharu, lalu melanjutkan.

"Di sekolah ini, gue dapet banyak hal. Teman, ilmu, dan... cinta pertama gue. Cinta yang tulus banget, indah banget, dan yang gue kira bakal abadi selamanya. Dulu, gue sama dia jadi pasangan yang dipuji semua orang. Kita sama-sama pinter, sama-sama suka hal yang sama, kita ngerti satu sama lain tanpa harus ngomong. Kita punya lagu khusus, punya tempat rahasia, punya janji-janji kecil yang kita simpan baik-baik."

Sowon berhenti sebentar, matanya berkaca-kaca, suaranya makin lembut dan menyayat hati.

"Tapi takdir berkata lain. Gue harus pergi, harus pindah jauh. Kita putus bukan karena benci, bukan karena ada masalah, tapi semata-mata karena keadaan. Dulu, sebelum gue pergi, gue sempat janji sama dia... 'Kita pisah cuma sebentar ya. Kalau emang kita emang ditakdirkan bareng, nanti kita bakal ketemu lagi, dan semuanya bakal balik kayak semula.' Dan hari ini... gue udah balik. Gue berdiri di sini, berharap janji itu masih berlaku. Berharap, rasa itu belum hilang. Karena bagi gue, dia tetap satu-satunya orang yang paling ngerti gue, orang yang paling pas sama gue, dan orang yang paling gue sayang seumur hidup gue."

Suara gemuruh bisik-bisik mulai terdengar di antara penonton. Semua orang tau siapa yang dimaksud Sowon. Pandangan perlahan beralih ke arah Jeno yang duduk kaku, wajahnya serius banget, dan ke arah Karina yang duduk diam, tangannya dingin dan gemetar pelan.

Sowon tersenyum sedih, lalu mengeluarkan sebuah kotak kecil dari saku gaunnya. Dia membukanya, memperlihatkan sebuah kalung sederhana tapi indah dengan liontin bentuk bulan sabit.

"Kalung ini... gue kasih dia dulu pas ulang tahunnya. Katanya dia bakal simpan selamanya, sebagai tanda kalau gue selalu ada di hatinya, kayak bulan yang selalu ada di langit. Dan dia pernah kasih gue yang sama persis. Sampai sekarang, gue masih pake kalung itu setiap hari. Masih sama persis, masih sama sayangnya."

Dia menatap tepat ke mata Jeno, suaranya makin lantang dan penuh harapan.

"Jeno... gue tau lo ada di sini. Gue tau lo dengerin gue. Gue nggak nuntut apa-apa, gue cuma mau lo inget. Inget semua hal indah kita, inget janji kita, inget gimana bahagianya kita dulu. Lo mungkin sekarang punya orang baru, tapi gue yakin... di sudut hati lo yang paling dalem, tempat gue masih ada di sana, masih kosong buat gue. Gue balik bukan buat ganggu, tapi buat nunggu. Nunggu lo sadar, kalau pasangan sejati itu nggak bakal terpisah sama waktu atau jarak. Gue bakal nunggu, Jeno. Sampai kapan pun. Sampai lo sadar, kalau gue lah yang paling cocok buat lo."

Tepuk tangan meledak kencang sekali. Banyak murid yang terharu, banyak yang ikut sedih dan mendukung Sowon. Di mata banyak orang, Sowon terlihat begitu tulus, begitu setia, dan begitu menyedihkan. Dia turun dari panggung dengan langkah pelan, matanya masih tak lepas dari Jeno, lalu berjalan melewati tempat duduk mereka. Saat lewat di dekat Jeno, dia berbisik pelan, cuma terdengar berdua saja.

"Gue tau lo masih simpan kalung itu, Jeno. Gue tau lo belum buang semua kenangan itu. Lo cuma lagi pura-pura lupa aja. Tunggu aja... nanti lo bakal nyari gue pas lo sadar, kalau Karina nggak bisa ngasih apa yang gue punya."

Suasana jadi kaku banget di meja mereka. Karina menunduk dalam, dadanya sesak sekali. Kata-kata Sowon, kenangan yang dia angkat, janji-janji masa lalu... semuanya terasa begitu nyata, begitu kuat, dan begitu menakutkan. Apalagi saat dia ingat, dia memang belum pernah tau soal kalung itu, belum pernah tau soal lagu khusus atau janji-janji kecil itu. Keraguan yang sempat hilang, kini tumbuh lagi lebih besar dan lebih tajam.

Dia menoleh pelan ke arah Jeno. Cowok itu diam, menatap kosong ke panggung. Wajahnya datar, tapi Karina bisa merasakan ketegangan di tubuhnya. Apakah Jeno tergoda? Apakah Jeno kangen? Apakah Sowon beneran punya tempat khusus yang nggak bakal bisa dia gapai?

Teman-teman yang lain — Mark, Gisel, Haechan, Ningning, dan yang lain — langsung diam dan cemas. Mereka semua ngerasa rencana Sowon ini licik banget. Dia nggak menyerang Karina, tapi dia menyerang hati dan ingatan Jeno. Dia memutarbalikkan fakta, membuat masa lalu terlihat lebih indah dan lebih suci dari kenyataannya.

Jeno perlahan menoleh, bertatapan mata dengan Karina. Dia bisa lihat ketakutan yang mendalam di mata ceweknya. Tanpa kata-kata, Jeno langsung menggenggam tangan Karina lebih erat dari sebelumnya — sangat erat, sampai Karina bisa merasakan kekuatan dan ketegasan yang mengalir lewat genggaman itu.

Jeno berdiri, menarik tangan Karina supaya ikut berdiri bersamanya. Dia menatap Sowon yang sudah duduk di sisi lain ruangan, lalu dengan suara cukup keras dan jelas supaya terdengar orang-orang di sekitarnya, dia bicara.

"Sowon... makasih udah ngingetin gue sama masa lalu. Makasih udah jaga kenangan itu baik-baik. Lo bener, dulu kita emang bahagia. Dulu kita emang punya banyak hal indah. Dan kalung itu... gue emang masih simpan. Gue simpan bukan karena gue masih sayang, bukan karena gue masih berharap, tapi karena itu bagian dari sejarah hidup gue, bagian dari proses gue jadi orang yang sekarang."

Jeno menghela napas panjang, suaranya makin tegas dan penuh keyakinan, menarik perhatian banyak orang di sekitarnya.

"Tapi ada satu hal yang lo lupa, Sowon. Kenangan itu cuma cerita lama. Yang hidup, yang nyata, dan yang ada sekarang itu Karina. Lo bilang lo paling ngerti gue? Lo bilang lo paling pas sama gue? Denger ini baik-baik..."

Jeno memutar tubuhnya sepenuhnya, menghadap Karina, menatap ceweknya itu dengan tatapan paling lembut dan paling dalam yang pernah dia tunjukkan. Dia mengangkat tangan Karina ke atas dada kirinya, tepat di jantungnya.

"Sowon tau apa gue suka dulu. Tapi Karina tau apa yang gue butuhin sekarang. Sowon tau kebiasaan gue waktu itu. Tapi Karina tau ketakutan gue, kelemahan gue, dan mimpi gue sekarang. Sowon sayang sama sosok Jeno yang dulu, yang muda, yang lugu, dan yang belum tau apa-apa. Tapi Karina sayang sama gue, apa adanya, sama segala kurang dan lebih gue, sama masa lalu dan masa depan gue."

Dia menoleh kembali ke arah Sowon yang menatapnya dengan mata terbelalak kaget.

"Lo bilang kita sempurna? Lo bilang kita takdir? Kalau emang beneran takdir, kita nggak bakal terpisah cuma karena jarak. Kalau emang beneran kuat, kita bakal nunggu satu sama lain. Tapi kita enggak. Kita udah selesai, Sowon. Dan lo bener satu hal... tempat di hati gue udah penuh. Penuh sama Karina. Nggak ada lagi ruang kosong, nggak ada lagi tempat sisa buat masa lalu."

Jeno melepas genggamannya sebentar, lalu mengeluarkan sesuatu dari saku bajunya — sebuah kalung bulan sabit yang persis sama dengan yang ditunjukkan Sowon tadi. Tanpa ragu sedikit pun, dia melepaskan kalung itu dari lehernya, barang kenangan yang bertahun-tahun dia simpan, dan meletakkannya di atas meja.

"Gue simpan ini lama banget. Hari ini... hari yang pas buat gue nyimpen kenangan itu selamanya di masa lalu. Mulai sekarang, satu-satunya ikatan yang ada di hidup gue cuma sama Karina. Lo boleh nunggu, lo boleh berharap, tapi gue kasih tau sekali aja: gue nggak bakal pernah berbalik ke belakang. Gue jalan ke depan, dan di depan sana, cuma ada Karina."

Suasana hening seketika. Semua orang terpukau. Keberanian Jeno, ketegasan Jeno, dan kesetiaan Jeno bikin siapa pun yang lihat jadi terharu dan kagum. Sowon diam mematung, air mata jatuh membasahi pipinya. Rencana besarnya, langkah terakhirnya, usahanya selama ini... semuanya hancur lebur bukan karena dia kurang berusaha, tapi karena cinta Jeno dan Karina ternyata jauh lebih kokoh, jauh lebih nyata, dan jauh lebih kuat dari apa pun yang bisa dia tawarkan.

Karina menangis diam-diam, tapi kali ini bukan air mata takut atau sedih, melainkan air mata bahagia dan bangga yang luar biasa. Dia memeluk lengan Jeno erat sekali, merasa jadi perempuan paling beruntung sedunia.

Malam itu berakhir dengan kemenangan cinta sejati. Sowon sadar sepenuhnya bahwa dia sudah kalah telak, dan tak ada lagi yang bisa dia lakukan selain menerima kenyataan dengan lapang dada dan melangkah maju. Dia menyadari bahwa cinta lama yang dipaksakan takkan pernah indah, dan melepaskan adalah jalan terbaik buat dirinya sendiri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!