NovelToon NovelToon
Ruang Ajaib: Dunia Yang Tersembunyi

Ruang Ajaib: Dunia Yang Tersembunyi

Status: sedang berlangsung
Genre:Ruang Ajaib / Dunia Lain / Penyelamat
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: septian123

Aureliana Virestha terbiasa hidup dalam bayang-bayang, diremehkan dan disalahkan oleh dunia yang tidak pernah memberinya tempat.

Namun di ambang kematian, ia menemukan sesuatu yang mengubah segalanya sebuah ruang misterius yang hanya bisa ia akses sendiri. Awalnya hanyalah tempat penyimpanan sederhana, tetapi perlahan ruang itu menunjukkan keajaiban yang melampaui logika.

Saat dunia di luar mulai kacau dan manusia saling mengkhianati, Aureliana menyadari bahwa kekuatan ini bisa menjadi kunci untuk bertahan dan bangkit. Di tengah ancaman, rahasia, dan pilihan yang berat, ia harus menentukan apakah akan terus menjadi orang yang diinjak, atau menciptakan dunianya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septian123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 1 Hari Yang Buruk

Pagi itu, Aureliana Virestha sudah berdiri di depan cermin kecil yang retaknya membelah bayangannya menjadi dua bagian yang tidak pernah benar-benar utuh. Ia merapikan rambut panjangnya dengan gerakan yang sudah terlalu sering dilakukan, lalu mengikatnya menggunakan karet usang yang mulai kehilangan elastisitas. Wajahnya tetap terlihat lembut dengan garis yang tenang dan mata yang jernih, tetapi semua itu terasa biasa saja jika dibandingkan dengan perempuan-perempuan di kantor yang selalu tampil mencolok dengan pakaian mahal dan riasan sempurna.

Ia menatap dirinya sedikit lebih lama dari biasanya, seolah berharap ada sesuatu yang berubah tanpa ia sadari. Namun yang ia lihat tetap sama, sosok yang sudah terlalu dikenalnya dengan segala kekurangan yang tidak pernah benar-benar hilang. Napasnya ditarik perlahan sebelum akhirnya ia mengalihkan pandangan, seakan enggan berlama-lama menghadapi kenyataan yang tidak pernah memberinya kejutan.

Hari ini pasti akan berjalan seperti kemarin, dan mungkin juga seperti hari-hari sebelumnya yang nyaris tidak bisa dibedakan satu sama lain. Tidak ada hal baru yang benar-benar terjadi dalam hidupnya, hanya rutinitas yang terus berulang tanpa memberi ruang bagi perubahan. Satu-satunya hal yang terasa berbeda hanyalah rasa lelah yang perlahan menumpuk, meskipun ia sendiri tidak tahu kapan tepatnya semua itu mulai terasa berat.

Di meja kecil dekat pintu, ibunya sudah menyiapkan sarapan sederhana yang selalu sama setiap pagi. Nasi putih yang masih hangat, telur dadar tipis yang dimasak dengan hati-hati, dan sambal seadanya yang aromanya cukup kuat untuk memenuhi ruangan kecil itu. Seharusnya suasana seperti ini terasa menenangkan, tetapi bagi Aureliana, semua itu lebih seperti pengingat bahwa hidupnya terus berjalan dalam lingkaran yang tidak pernah berubah.

“Kamu berangkat lebih pagi hari ini?” tanya ibunya dengan suara pelan, seolah tidak ingin mengganggu keheningan pagi.

“Iya, Bu. Ada laporan yang harus selesai,” jawab Aureliana singkat sambil menarik kursi.

Ibunya mengangguk pelan, lalu tersenyum tipis meskipun sorot matanya menyimpan kekhawatiran yang tidak pernah benar-benar diucapkan. “Jangan terlalu dipaksakan. Kamu kelihatan capek akhir-akhir ini.”

Aureliana hanya membalas dengan senyum kecil yang nyaris tidak terlihat, lalu mulai makan tanpa banyak bicara. Ia tidak ingin memperpanjang pembicaraan tentang kelelahan yang bahkan tidak bisa ia jelaskan dengan baik. Mengakuinya pun tidak akan mengubah apa pun, karena dunia tetap berjalan dengan caranya sendiri tanpa peduli bagaimana perasaannya.

Ia menghabiskan sarapannya lebih cepat dari biasanya, lalu meraih tas lamanya yang sudah mulai pudar warnanya. Setelah berpamitan, ia melangkah keluar rumah dengan langkah yang ringan, meskipun hatinya terasa berat tanpa alasan yang jelas. Udara pagi masih dingin, tetapi jalanan sudah dipenuhi orang-orang yang bergerak dengan tujuan masing-masing.

Aureliana berjalan di antara mereka tanpa benar-benar merasa menjadi bagian dari keramaian itu. Ia melihat banyak wajah dengan ekspresi berbeda, ada yang tergesa-gesa, ada yang santai, dan ada pula yang tampak bersemangat menjalani hari. Namun di antara semua itu, ia justru merasa semakin terpisah, seolah dirinya hanya lewat tanpa benar-benar berada di tempat yang sama.

Sesampainya di kantor, suasana sudah dipenuhi aktivitas seperti biasa. Deretan meja tertata rapi, suara ketikan keyboard terdengar bersahutan, dan percakapan kecil muncul di beberapa sudut ruangan tanpa benar-benar mengganggu ritme kerja. Namun ketika Aureliana melangkah masuk, beberapa orang sempat melirik sekilas sebelum kembali fokus pada pekerjaan masing-masing.

Ia sudah terbiasa dengan hal seperti itu, jadi tidak ada yang benar-benar ia pikirkan lebih jauh. Tidak ada yang secara terang-terangan mengabaikannya, tetapi juga tidak ada yang benar-benar menganggap kehadirannya penting. Posisi seperti itu sudah terlalu lama ia tempati, hingga akhirnya terasa biasa saja.

“Aureliana, kamu akhirnya datang juga.”

Suara itu membuatnya menoleh sedikit, dan ia langsung mengenali sosok di sampingnya tanpa perlu memastikan lagi. Naresta Mahindra berdiri dengan penampilan yang selalu terlihat sempurna, mulai dari pakaian hingga riasan yang tidak pernah terlihat berlebihan. Senyumnya tampak ramah di permukaan, tetapi ada sesuatu yang membuatnya terasa dingin.

“Ada yang harus kamu cek nanti. File dari klien kemarin.”

“Baik,” jawab Aureliana singkat tanpa menambahkan apa pun.

Naresta hanya mengangguk, lalu berjalan pergi tanpa menunggu respons lebih lanjut, seolah percakapan itu memang tidak membutuhkan balasan yang panjang. Aureliana pun langsung duduk di kursinya, membuka komputer, dan mulai bekerja seperti biasa tanpa mencoba memikirkan hal lain.

Ia membaca data yang diberikan dengan teliti, mencocokkan angka demi angka dengan fokus yang tidak berubah sejak dulu. Pekerjaan itu mungkin terlihat sederhana bagi orang lain, tetapi ia selalu berusaha melakukannya dengan sebaik mungkin. Baginya, kesalahan sekecil apa pun bisa membawa dampak besar, dan ia tidak ingin menjadi penyebab masalah bagi siapa pun.

Beberapa jam berlalu tanpa gangguan berarti, hingga suasana yang semula tenang tiba-tiba berubah karena suara keras yang memecah perhatian semua orang.

“Aureliana!”

Ia mengangkat kepala dengan cepat, dan hampir seluruh ruangan ikut menoleh ke arah yang sama. Darvian Prasetya berdiri di depan dengan wajah tegang yang tidak biasa, membuat suasana mendadak terasa lebih berat dari sebelumnya.

“Apa kamu yang mengerjakan laporan untuk klien Ardentia Group?”

“Iya, Pak. Saya yang mengerjakan draft-nya,” jawabnya dengan hati-hati.

“Kalau begitu, coba kamu jelaskan ini.”

Berkas yang dilemparkan ke mejanya membuat beberapa kertas sedikit berantakan, tetapi tanda merah yang memenuhi halaman itu langsung menarik perhatian. Aureliana segera membuka dan membaca dengan cepat, mencoba memahami apa yang sebenarnya terjadi.

Ada yang tidak sesuai, dan ia bisa melihatnya dengan jelas. Namun masalahnya bukan sekadar kesalahan biasa, karena data seperti ini bukan sesuatu yang akan ia lewatkan begitu saja.

“Pak, saya yakin data yang saya kirim sebelumnya sudah sesuai. Mungkin ada perubahan setelah—”

“Jangan mencari alasan,” potong Darvian dengan nada yang lebih tajam dari sebelumnya.

Suara bisik-bisik mulai terdengar di sekitar mereka, meskipun tidak ada yang benar-benar berani berbicara dengan jelas. Aureliana bisa merasakan tatapan orang-orang yang tertuju padanya, sebagian penasaran, sebagian lagi seolah sudah memiliki kesimpulan sendiri.

“Apa kamu tahu klien itu hampir membatalkan kerja sama karena laporan ini?” lanjutnya tanpa memberi kesempatan. “Kalau mereka benar-benar mundur, kamu yang akan bertanggung jawab.”

Aureliana menggenggam berkas itu lebih erat, mencoba menahan perasaan yang mulai menekan dari dalam. Ia tahu ini bukan kesalahannya, dan ia juga tahu bahwa ia sudah memeriksa semuanya dengan teliti sebelum mengirimkan file tersebut.

“Pak, boleh saya cek kembali file aslinya? Saya yakin—”

“Kamu pikir ini masih bisa diperbaiki hanya dengan dicek ulang?” suara Darvian semakin meninggi. “Kesalahan tetaplah kesalahan.”

Ruangan itu kembali sunyi, tetapi kali ini terasa lebih menekan dari sebelumnya. Tidak ada yang mencoba membela, dan tidak ada yang menawarkan bantuan, seolah semua orang memilih untuk menjaga jarak dari masalah yang bukan milik mereka.

“Mulai sekarang, kamu tidak perlu lagi menangani klien besar. Fokus saja pada pekerjaan ringan, sepertinya itu lebih cocok untukmu.”

Kalimat itu terasa lebih menyakitkan daripada yang ia bayangkan, bukan hanya karena isinya, tetapi juga karena diucapkan di depan banyak orang tanpa memberi ruang untuk menjelaskan. Aureliana menunduk pelan, menahan semua yang ingin ia katakan.

“Baik, Pak.”

Darvian pergi tanpa menambahkan apa pun, meninggalkan suasana yang masih dipenuhi ketegangan. Tidak butuh waktu lama sebelum bisik-bisik mulai terdengar lebih jelas, seolah semua orang akhirnya merasa bebas untuk berbicara.

“Padahal kelihatannya rajin.”

“Rajin belum tentu kompeten.”

“Kasihan sih, tapi ya memang kurang.”

Aureliana tetap diam dan kembali menatap layar komputernya, meskipun huruf-huruf yang muncul terasa sulit untuk dipahami. Pikirannya terus kembali pada kejadian tadi, mencoba mencari penjelasan yang tidak bisa ia temukan saat ini.

Di sudut ruangan, Naresta berdiri dengan ekspresi yang sulit ditebak. Ia sempat menatap Aureliana beberapa detik sebelum tersenyum tipis dan berbalik pergi, seolah tidak ada yang perlu diperhatikan lebih jauh.

Waktu terasa berjalan lebih lambat setelah itu, dan setiap detik seperti memberi tekanan yang tidak bisa dihindari. Aureliana tetap menyelesaikan pekerjaannya, meskipun fokusnya tidak lagi seutuh sebelumnya. Ia tahu ada yang tidak beres, tetapi tanpa bukti, semua itu hanya akan terdengar seperti alasan.

Sore hari, pesan dari ibunya masuk dan mengingatkannya pada hal-hal yang tetap harus ia lakukan di luar pekerjaan. Ia membaca pesan itu cukup lama sebelum membalas singkat, lalu meletakkan ponselnya kembali tanpa mencoba memikirkan hal lain.

Ketika jam kerja berakhir, suasana kantor berubah menjadi lebih ringan. Beberapa orang mulai bercanda, membicarakan rencana setelah pulang, dan meninggalkan ruangan dengan langkah santai. Namun Aureliana tetap berada di tempatnya lebih lama, merapikan meja dengan perlahan seolah ingin memastikan semuanya kembali seperti semula.

Saat akhirnya keluar dari gedung, langit sudah mulai gelap dan lampu jalan menyala satu per satu. Ia berjalan tanpa terburu-buru, membiarkan langkahnya mengikuti arah tanpa perlu dipercepat.

Di minimarket kecil, ia membeli beberapa kebutuhan yang diminta ibunya. Kasir menyapanya dengan ramah, tetapi ia hanya membalas dengan senyum tipis karena tidak memiliki cukup energi untuk berbicara lebih banyak.

Perjalanan pulang terasa lebih panjang dari biasanya, meskipun jaraknya tidak berubah. Setiap langkah terasa lebih berat, dan pikirannya dipenuhi oleh hal-hal yang terus berulang tanpa memberi jawaban.

Sesampainya di depan rumah, ia berhenti sejenak sebelum membuka pintu. Cahaya dari dalam terlihat hangat, tetapi ia tidak langsung merasa tenang seperti yang seharusnya.

Ia masuk, menyapa ibunya, lalu menyerahkan belanjaan tanpa banyak bicara. Setelah itu, ia langsung menuju kamar dan menutup pintu perlahan.

Di dalam kamar, ia duduk di tepi tempat tidur dan membiarkan keheningan mengisi ruang yang sempit itu. Tidak ada suara selain detak jam yang terdengar pelan, tetapi justru itu membuat semuanya terasa lebih nyata.

Aureliana menatap lantai tanpa fokus, membiarkan pikirannya kembali pada semua yang terjadi hari ini. Tidak ada perubahan, tidak ada keadilan, dan tidak ada seseorang yang benar-benar mencoba memahami.

Ia mengangkat kepala perlahan, menatap langit-langit yang kusam dengan pandangan kosong yang sulit dijelaskan. Rasa lelah itu tidak lagi sekadar fisik, tetapi sesuatu yang lebih dalam dan sulit dihilangkan.

Kalau hidup memang seburuk ini… apa gunanya aku bertahan?

1
SENJA
hapalin cara masuk dan keluar ruang dimensi nya 🤭
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩
mampir kak
Andira Rahmawati
kok bisa keluar masuk dgn bebas pdhl ststusnya msh pasien..
Andira Rahmawati
hadir thorr...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!