NovelToon NovelToon
"The Chaebol'S Display Wife"

"The Chaebol'S Display Wife"

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cintapertama / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: nia nuraeni

​Cerita ini berpusat pada seorang wanita yang terjebak dalam pernikahan kontrak atau "pernikahan pajangan" dengan pewaris takhta perusahaan besar (Chaebol). Peran utamanya adalah menjadi pendamping sempurna di acara publik, namun di balik layar, hubungan mereka mungkin dingin atau penuh benci.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nia nuraeni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16: Pembersihan di Puncak Menara

​Pagi itu, atmosfer di lantai teratas Jacob Tower terasa begitu dingin, seolah-olah pendingin ruangan disetel ke suhu terendah untuk menyambut badai yang akan segera datang. Di dalam ruang kerja utama, Vanya Benjamin duduk dengan tenang. Tidak ada lagi keraguan di wajahnya. Di depannya, setumpuk dokumen hasil audit forensik yang dikerjakan oleh tim Pak Andrew selama 48 jam terakhir telah tersusun rapi.

​Pintu jati besar itu diketuk. Karlo melangkah masuk dengan gaya yang berusaha tetap angkuh, namun binar di matanya tidak bisa menyembunyikan kegelisahan. Di belakangnya, Gaby berjalan dengan langkah kecil, mencoba mempertahankan senyum profesionalnya yang selama ini menjadi tameng di kantor ini.

​"Duduklah," suara Vanya terdengar datar, namun memiliki kekuatan yang membuat bulu kuduk Karlo berdiri.

​"Vanya, apa lagi ini? Bukankah kemarin kita sudah bicara? Aku sedang mengusahakan pengembalian dana itu," Karlo mencoba membuka percakapan dengan nada akrab, berharap status 'kakak ipar' masih memiliki taji.

​Vanya tidak menjawab. Ia hanya menggeser sebuah map berwarna merah ke arah Karlo. "Aku memberimu waktu 48 jam untuk jujur, Karlo. Tapi kau justru menggunakan waktu itu untuk mencoba menghapus jejak digital di divisi properti. Sayangnya, Pak Hans jauh lebih cepat darimu."

​Karlo membuka map itu. Tangannya seketika membeku. Di dalamnya bukan hanya sekadar laporan selisih kas, melainkan daftar aset yang sangat mendetail.

​"Vila di Singapura atas nama perusahaan cangkang, kalung berlian blue carats yang dibeli di balai lelang bulan lalu, dan sebuah mobil sport mewah keluaran terbaru yang saat ini terparkir di apartemen Gaby," Vanya membacakan daftar itu satu per satu dengan nada seperti membacakan daftar belanjaan. "Semuanya dibeli menggunakan dana talangan proyek pembangunan rumah sakit yang seharusnya sudah berjalan bulan ini."

​Gaby tersentak, wajahnya berubah pucat pasi. "Nona, itu... itu hadiah dari Tuan Karlo atas dedikasi saya..."

​"Dedikasi?" Vanya tertawa kecil, tawa yang sangat elegan namun menyakitkan. "Dedikasi macam apa yang dihargai dengan mobil sport atas nama pribadi menggunakan uang perusahaan? Di Jacob Group, kita menyebutnya penggelapan, Gaby."

​Vanya berdiri, berjalan perlahan mengitari meja besar itu. Sepatu hak tingginya berdenting tajam di atas lantai marmer.

​"Karlo, Papa memberikan kepercayaan padamu untuk memimpin divisi properti karena beliau menganggapmu paling stabil. Tapi kau justru mengkhianati kepercayaan itu demi wanita ini dan gaya hidup mewah di luar negeri," Vanya berhenti tepat di belakang kursi Karlo. "Seorang pemimpin yang mencuri dari perusahaannya sendiri tidak layak berada di puncak."

​"Vanya, tolong... Rose dan Mikaila... jangan sampai mereka tahu," bisik Karlo dengan suara parau, harga dirinya kini hancur total.

​"Aku tidak akan menghancurkan keluargamu, Karlo. Itu tugasmu sendiri nanti jika kau tidak berubah," ucap Vanya tegas. "Tapi untuk perusahaan, keputusan ini final. Pak Andrew, silakan."

​Pak Andrew melangkah maju membawa surat keputusan resmi. "Tuan Karlo Jacob, mulai detik ini Anda secara resmi dicopot dari jabatan Direktur Divisi Properti. Anda diturunkan menjadi staf analis di departemen arsip tanpa tunjangan eksekutif. Seluruh akses perbankan dan fasilitas perusahaan atas nama Anda dibekukan."

​Karlo seolah tersambar petir. Dari Direktur menjadi staf arsip? Itu adalah penghinaan terbesar dalam hidupnya.

​"Dan untuk Anda, Gaby," Vanya menatap sekretaris itu dengan tajam. "Mengingat kau adalah kaki tangan utama dalam manipulasi data ini, kau diturunkan menjadi karyawan biasa di bagian administrasi gudang. Jika kau keberatan, silakan ajukan pengunduran diri, tapi ingat... seluruh aset yang kau terima dari Karlo harus dikembalikan dalam 24 jam."

​"Apa?! Mobil dan kalung itu milikku!" teriak Gaby histeris.

​"Semua aset itu dibeli dengan uang hasil penggelapan, Gaby," sela Pak Hans yang tiba-tiba muncul dengan dokumen penyitaan. "Vila di Singapura sudah kami ambil alih hak kepemilikannya pagi ini melalui otoritas hukum di sana. Mobil dan kalung berlian itu akan dijemput oleh tim keamanan sore ini. Jika ada penolakan, kasus ini akan langsung kami serahkan ke kepolisian."

​Gaby jatuh lemas di lantai, menangis meraung-raung menyadari kemewahan yang selama ini ia banggakan lenyap dalam sekejap. Sementara Karlo hanya bisa tertunduk lesu, menyadari bahwa ia baru saja kehilangan segalanya—kekuasaan, kekayaan, dan kehormatannya di depan adik ipar yang dulu selalu ia remehkan.

​"Bawa mereka keluar," perintah Vanya pada petugas keamanan.

​Saat Karlo dan Gaby digiring keluar melewati lobi utama, para staf kantor berbisik-bisik. Kabar jatuhnya sang putra mahkota kedua menyebar seperti api. Mereka kini tahu bahwa Nyonya Vanya bukan sekadar pemilik nama, melainkan penguasa yang memiliki mata di setiap sudut gedung

​Malam itu, suasana di Mansion Jacob terasa lebih mencekam daripada malam pembacaan wasiat. Olivia Jacob sudah berdiri di lobi utama dengan napas memburu, matanya merah menyala penuh amarah. Begitu pintu besar terbuka dan Vanya melangkah masuk dengan wajah lelahnya, sebuah gerakan cepat membelah udara.

​PLAK!

​Sebuah tamparan keras mendarat di pipi mulus Vanya hingga kepalanya terlempar ke samping. Sudut bibirnya sedikit berdarah, namun Vanya tidak berteriak. Ia hanya memegang pipinya yang panas membara, lalu perlahan memutar kepalanya kembali untuk menatap ibu mertuanya dengan tatapan yang sangat dingin—begitu dingin hingga membuat Olivia sempat tersentak.

​"Kau... kurang ajar! Berani-beraninya kau!" teriak Olivia histeris. "Kenapa anakku kau jadikan staf, hah?! Karlo itu Direktur! Dia pemilik sah darah Jacob, dan kau menjadikannya pesuruh di departemen arsip? Kau ingin mempermalukan keluargaku di depan seluruh kolega kita?!"

​"Mah, udah Mah... tolong jangan di sini," Karlo mencoba menarik lengan ibunya. Wajahnya tertunduk malu, ia tak berani menatap mata Vanya karena ia tahu betul apa yang ada di dalam tas kerja wanita itu.

​"Tidak! Mama tidak terima!" Olivia menepis tangan Karlo. "Vanya, kau pikir karena kau memegang surat wasiat sialan itu, kau bisa menginjak-injak harga diri anakku? Kembalikan jabatan Karlo sekarang juga atau aku akan menyeretmu ke pengadilan atas tuduhan pencucian otak pada suamiku!"

​Vanya menarik napas dalam, meredakan denyut di pipinya. Ia melirik Karlo yang gemetar, lalu kembali menatap Olivia. "Mama sudah tanya pada Kak Karlo belum? Apa yang akhirnya membuat dia turun jabatan?"

​Olivia terdiam sejenak, namun egonya tetap mendominasi. "Dia bilang kau mencari-cari kesalahan kecil untuk menyingkirkannya! Kau hanya ingin berkuasa sendirian!"

​Vanya tersenyum tipis, sebuah senyuman pahit. "Kesalahan kecil? Atau Mama lebih suka aku jelaskan semuanya di sini, di depan para pelayan dan di depan Rose yang sedang di atas?" Vanya sengaja mengeraskan suaranya saat menyebut nama Rose.

​"Atau aku harus jelaskan sekarang, Kak Karlo?

1
Dian Fitriana
update
Mudahlia Fitha
kok merinding ya
Mudahlia Fitha
😭😭😭🤧🤧kok sedih papa kyak menyimpan luka
Mudahlia Fitha
jgn mau ...biar aja mereka bangkrut
Mudahlia Fitha
hih kok pngen nonjok keluarga GK tau malu itu
Mudahlia Fitha
mantap saat nya bangkit van .kau bukan sampah ..
Mudahlia Fitha
kya harta namun miskin kebahagiaan buat apa coba
Mudahlia Fitha
kok Mlah AQ yg greget ah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!