NovelToon NovelToon
Di Balik Topeng Kembar

Di Balik Topeng Kembar

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mafia / CEO
Popularitas:527
Nilai: 5
Nama Author: Diyanathan

Ziva kembali ke keluarga kandungnya setelah dua puluh tahun terpisah, namun ia harus menyembunyikan identitas aslinya sebagai bos mafia yang kejam.

Di sana, ia bertemu Arsen—pria yang dikenal sebagai pengusaha sukses, tapi ada aura bahaya yang tak bisa dibohongi oleh naluri Ziva.

Mereka saling tertarik, tapi sama-sama memakai topeng.

Saat rahasia terbongkar, akankah cinta mereka bertahan... atau justru menjadi alasan untuk saling menghancurkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diyanathan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Laporan Rahasia & Bayang-bayang Tak Dikenal

Sore itu, matahari mulai merunduk ke barat, menyisakan cahaya keemasan yang membias indah di permukaan kaca gedung tinggi Grup Arganza. Jam kerja usai, para karyawan berhamburan keluar dengan wajah lega, saling berpamitan satu sama lain. Di antara kerumunan itu, Ziva dan Zea berjalan beriringan keluar dari lobi utama, napas mereka terasa lega setelah menyelesaikan hari pertama magang yang cukup melelahkan namun penuh kesan.

Baru saja melangkah keluar gerbang, Zea langsung menoleh ke arah kakaknya dengan wajah sedikit canggung namun penuh semangat.

"Kak, maaf ya... aku tidak bisa pulang bersamamu. Tadi siang ada teman lama kuliah yang hubungi, katanya sudah menunggu lama di kafe seberang sana. Kami sudah ada janji lama untuk bertemu dan ngobrol, aku nggak enak kalau membatalkannya," ucap Zea sambil menunjuk bangunan di seberang jalan. "Kamu nggak apa-apa kan pulang sendiri? Nanti aku langsung pulang ke rumah ya, jangan dicariin."

Ziva hanya tersenyum tipis lalu mengangguk santai. "Ya sudah, pergilah. Hati-hati di jalan, jangan pulang terlalu malam. Ingat, ada 'singa' yang galak menunggu di rumah, kalau kamu telat nanti yang susah kamu sendiri," canda Ziva sambil mengedipkan sebelah mata.

Zea tertawa kecil sambil melambaikan tangan, lalu segera berlari kecil menyeberangi jalan meninggalkan Ziva sendirian di depan pintu masuk perusahaan.

Setelah kepergian adiknya, ekspresi wajah Ziva perlahan berubah. Senyum ringannya hilang, digantikan oleh tatapan tajam dan waspada yang hanya muncul saat ia beralih menjadi pemimpin organisasi. Ia tidak langsung beranjak. Sebenarnya, ia pun sudah memiliki janji penting yang tidak boleh diketahui siapa pun, bahkan oleh keluarganya sendiri. Ia berjanji bertemu dengan Gabriel, tangan kanan kepercayaannya, orang yang paling ia andalkan di dunia bawah tanah.

Ziva berdiri tenang di tepi trotoar, punggungnya tegap, matanya menatap lurus ke depan namun indranya menangkap setiap gerakan di sekelilingnya. Ia menunggu, seolah hanya gadis biasa yang sedang menunggu antar-jemput.

Tak lama kemudian, terdengar suara deru mesin halus namun bertenaga mendekat. Sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam pekat, jenis edisi terbatas yang jumlahnya hanya ada beberapa unit di seluruh negeri, melaju pelan lalu berhenti tepat di hadapan Ziva. Pintu penumpang depan terbuka perlahan dari dalam, mengundangnya masuk. Tanpa ragu sedikit pun, Ziva segera melangkah masuk dan menutup pintu rapat-rapat di belakangnya.

Begitu pintu tertutup, suasana di dalam mobil terasa hening, kedap suara, dan aman sepenuhnya. Di balik kemudi, duduklah Gabriel. Pria berwajah tegas, dingin, namun sangat setia itu menatap Ziva sekilas lewat kaca spion, lalu menyerahkan sebuah map tebal berwarna hitam yang tertutup rapat dengan segel khusus.

"Nona," sapa Gabriel dengan nada rendah dan serius, seolah takut ada yang mendengar meski tak mungkin. "Ini laporan lengkap mengenai kondisi markas utama kita saat ini, perkembangan anggota, serta rincian hasil pengintaian yang saya lakukan terhadap keluarga cabang—keluarga Paman Efendi beserta seluruh jaringan dan orang-orang yang bekerja untuk mereka, sesuai perintah Anda."

Ziva menerima map itu, jari-jarinya yang lentik menyentuh permukaannya sejenak sebelum membukanya sekilas untuk memeriksa isinya sekilas. Di sana tercatat segala hal: kebiasaan mereka, transaksi keuangan, siapa saja rekanan mereka, hingga kelemahan-kelemahan yang dimiliki. Semuanya rapi, rinci, dan akurat.

"Bagus sekali, Gabriel," jawab Ziva pelan namun tegas, ada nada puas yang terselip di sana. "Aku sangat suka cara kerjamu yang teliti, cepat, dan rapi seperti ini. Kamu tahu betul apa yang aku butuhkan. Terima kasih sudah bekerja keras."

"Kehormatan bagi saya, Nona. Hidup dan mati saya adalah milik Anda," jawab Gabriel sopan namun penuh ketulusan.

Namun, wajah Gabriel kembali berubah serius. Ia menoleh sedikit ke arah Ziva, ada keraguan namun juga kewaspadaan tinggi di matanya.

"Tapi Nona... ada satu hal lain yang saya temukan saat menjalankan tugas ini, hal yang cukup aneh dan membuat kami semua bertanya-tanya," lanjut Gabriel perlahan. "Selama kami mengikuti dan mengawasi setiap gerak-gerik anggota keluarga Sterling—mulai dari Tuan James, Nyonya Victoria, Kakak-kakak Anda, hingga Anda sendiri dan Nona Zea... kami menemukan fakta yang mencurigakan. Ada sekelompok orang lain, sangat terlatih, bergerak diam-diam, dan sangat cerdik. Mereka juga sedang mengawasi dan mengikuti kalian semua, setiap saat, di mana pun kalian berada. Bahkan cara mereka bergerak dan teknik penyamaran yang mereka gunakan... setara, atau mungkin bahkan lebih mahir dibandingkan pasukan kita sendiri."

Ziva diam sejenak, matanya menatap keluar jendela yang tertutup tirai gelap. Ia tidak terkejut sama sekali, malah sudut bibirnya terangkat sedikit membentuk senyum tipis yang penuh arti.

"Aku sudah tahu soal itu sejak awal, Gabriel," jawab Ziva tenang. "Aku merasakan kehadiran mereka sejak kejadian di rumah saat keluarga Efendi datang, bahkan sejak hari pertama aku kembali ke rumah. Aku menduga ada kekuatan lain yang bergerak, kekuatan yang sama kuatnya, sama cerdasnya, dan sama telitinya dengan kita. Hanya saja... sampai sekarang kita belum bisa memastikan siapa mereka, apa tujuan mereka, apakah mereka musuh yang berniat jahat, atau justru kawan yang diam-diam melindungi kita."

Ziva berhenti sejenak, lalu menatap tajam ke arah Gabriel.

"Tapi satu hal yang pasti, selama mereka tidak berniat buruk dan tidak menyakiti keluargaku, biarkan saja mereka. Kita tetap berjalan di jalur kita sendiri. Tetap waspada, tetap hati-hati, dan jangan lengah sedetik pun. Dan ingat satu hal paling penting: utamakan keselamatan keluarga, terutama Zea. Dia yang paling polos, paling lemah, dan paling mudah menjadi sasaran. Jangan sampai ada celah sedikit pun untuk bahaya mendekat padanya."

"Siap, Nona. Saya dan pasukan akan selalu siap siaga 24 jam penuh," jawab Gabriel tegas.

Mobil mewah itu pun akhirnya melaju kembali membelah jalanan kota yang mulai ramai kendaraan. Gabriel mengemudi menuju salah satu restoran paling eksklusif dan terkenal di pusat kota, tempat yang selalu penuh namun memiliki akses khusus dan ruangan privat yang sangat aman.

Sesampainya di sana, mereka langsung diantar masuk melewati lorong khusus, menuju ruangan VIP yang terletak di bagian paling dalam, terpisah dari pengunjung lain, kedap suara, dan dijaga ketat oleh orang-orang kepercayaan Gabriel. Di sana, mereka bisa berdiskusi lebih leluasa, menyusun rencana selanjutnya, dan menyiapkan langkah menghadapi badai besar yang sudah terasa anginnya semakin kencang.

Di balik kemewahan dan ketenangan itu, Ziva tahu benar: perang belum dimulai, tapi semua pihak sudah bersiap lengkap di garis depan. Dan ia, sebagai putri keluarga Sterling sekaligus pemimpin bayangan, harus memastikan keluarganya tetap aman, apa pun yang terjadi.

1
YusWa
karya baru Thor? semangat semoga sukses
Mimpi Pencatat: Terimakasih suportnya ya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!