Liora William Anderlecht, putri dari keluarga konglomerat terbesar di Italia, tumbuh dalam luka akibat pengkhianatan ibunya sendiri.
Sejak kecil, ia dipaksa menjadi kuat melindungi tiga adik laki-lakinya dan menggantikan peran seorang ibu yang telah pergi.
Dingin. Tegas. Tak tersentuh.
23 tahun berlalu, setelah kematian sang ayah, Liora mengambil alih kekuasaan keluarga. Namun dunia yang ia hadapi bukan hanya tentang bisnis…
Melainkan juga bayang-bayang masa lalu.
Karena ayahnya… adalah mantan ketua mafia.
Kini, Liora bersumpah akan melindungi keluarganya dengan segala cara.
Dan siapa pun yang berani menyentuh mereka…
Akan merasakan balas dendamnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Thahara Maulina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10. Kehilangan Yang Kedua.
Pagi itu sebenarnya begitu tenang. Matahari belum tinggi, angin lembut menyapu pepohonan, dan suasana rumah masih terasa hangat. Namun, entah mengapa, hati Liora justru dipenuhi firasat buruk. Ada sesuatu yang menekan dadanya sesuatu yang tidak mampu ia jelaskan dengan kata-kata.
Di dalam mobil, ia menggenggam tangan suaminya dengan kuat, seakan takut kehilangan sentuhan itu kapan saja.
“Mas… kamu pasti sembuh. Aku yakin kamu bisa melewati ini. Kamu harus kuat, ya…” ucapnya dengan suara nyaris berbisik.
Adrian menoleh pelan, memberikan senyum yang meski samar, tetap terasa tulus dan hangat.
“Aku pasti sembuh, sayang. Kamu jangan terlalu khawatir.”
Kata-katanya terdengar meyakinkan, namun ada guratan lelah di wajahnya—lelah yang tak pernah ia tunjukkan sebelumnya.
Perjalanan ke rumah sakit berlangsung cukup lama. Ketika mereka sampai, seorang perawat segera menyambut.
“Pasien atas nama Adrian Wiratama William Anderlecht, silakan masuk, Pak.”
Adrian mengangguk, lalu masuk ke ruangan dokter sementara Liora menunggu di luar. Setiap detik terasa seperti satu menit penuh kecemasan. Ia berjalan mondar-mandir, duduk, lalu berdiri lagi, mencoba meredakan rasa gelisah yang justru makin menjerat pikirannya.
Beberapa waktu kemudian, Adrian keluar dari ruang pemeriksaan dengan wajah tenang, seolah tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Mereka pun pulang ke mansion.
Di rumah, Liora membantunya dengan penuh perhatian.
“Mas… setelah ini kamu istirahat, ya,” ucapnya lembut.
“Iya, sayang…” Adrian menjawab lirih.
Namun ketika mereka naik tangga…
“Akh…” Adrian tiba-tiba meringis, memegang dadanya. Raut wajahnya berubah drastic.
“Mas?!” Liora langsung panik dan mencoba meraih tubuhnya.
Belum sempat ia menahan
Bruk!
Adrian jatuh dan tak sadarkan diri.
“MAS!!”
Teriakan Liora menggema di seluruh mansion.
“Tolong! Cepat bantu Tuan Adrian ke kamar!” serunya pada para pelayan, suaranya bergetar hebat.
Para pelayan bergegas mengangkat tubuh Adrian dan membawanya ke kamar. Dengan tangan gemetar, Liora langsung menghubungi dokter.
Tidak lama kemudian, dokter Allen datang dengan wajah serius, seakan membawa kabar yang tidak pernah ingin didengar siapa pun.
“Dokter… jujur saja pada saya… apakah ada sesuatu yang disembunyikan suami saya?” tanya Liora, suaranya serak dan penuh ketakutan.
Dokter Allen terdiam cukup lama sebelum akhirnya menarik napas berat.
“Anda benar, Nyonya…”
Detak jantung Liora berdegup kencang.
“Selama ini, Tuan Adrian memang menunjukkan trauma dan ketakutannya hanya kepada Anda. Tapi… ada penyakit lain yang jauh lebih serius.”
Liora terpaku.
“Maksud Anda… apa?”
Dokter menunduk.
“Tuan Adrian mengidap kanker tulang stadium akhir.”
Seakan seluruh dunia berhenti berputar.
“S-sejak kapan…?” suara Liora hampir tidak terdengar.
“Sejak sebelum pernikahan Anda. Beliau rutin melakukan pemeriksaan secara diam-diam. Tapi kondisinya semakin memburuk.”
Air mata Liora jatuh, mengalir tanpa henti.
“Kami sudah berusaha, Nyonya… namun pada tahap ini… yang bisa kita lakukan hanyalah menunggu.”
Saat itu juga—seakan tubuhnya kehilangan tenaga—Liora terjatuh lemas, memegang mulutnya yang bergetar.
Tak lama kemudian, pintu kamar terbuka keras.
“Tuan! Nyonya!” seru kepala pelayan.
“Tuan ingin bertemu Anda… untuk terakhir kalinya.”
Hati Liora seperti diremas. Dengan cepat ia berlari menuju kamar.
“Mas!!”
Adrian terbaring di ranjang, napasnya berat dan tidak beraturan. Tangannya bergerak lemah, memanggil Liora untuk mendekat.
Liora langsung memeluknya.
“Mas… kenapa kamu tidak bilang padaku? Kenapa kamu biarkan aku tidak tahu apa-apa? Kenapa kamu harus sembunyikan semua ini?” tangis Liora pecah.
Adrian menatapnya dengan sisa tenaga, tersenyum lemah.
“Maafkan aku, sayang… aku hanya… tidak ingin kamu bersedih sejak awal. Aku tidak ingin kamu menjalani pernikahan dengan ketakutan kehilangan…”
“Kamu bukan beban!” Liora menggenggam tangannya erat.
“Kamu bukan beban bagiku, Adrian! Jangan tinggalkan aku… aku mohon…”
Adrian mengusap pipinya pelan.
“Sayang… kalau aku pergi nanti… aku ingin kamu hidup bahagia. Temukan seseorang yang bisa menjagamu…”
Liora menggeleng keras, air mata mengalir semakin deras.
“Tidak! Aku tidak akan menikah lagi! Cintaku hanya untukmu. Hanya kamu, Adrian.”
Ia menggenggam wajah Adrian.
“Aku hanya mencintaimu.”
Adrian tersenyum… senyum paling lembut yang pernah ia berikan.
“Teruslah tersenyum, sayang… aku… suka melihatmu… tersenyum…”
Perlahan… matanya terpejam.
“Mas…?”
Hening.
“Mas…?”
Dan napas itu… berhenti.
“MASSS!!”
Tangisan Liora pecah, memenuhi seluruh ruangan. Ia memeluk tubuh suaminya erat, seakan tubuh itu masih hangat, seakan jika ia memeluk cukup kuat—Adrian akan kembali membuka mata.
Namun tidak ada jawaban.
Tidak akan pernah ada lagi.
Malam itu, mansion William Anderlecht berubah menjadi lautan duka. Para tamu, kerabat, dan rekan bisnis datang, memberikan doa dan ucapan belasungkawa.
Victor memeluk kakaknya erat.
“Kak…” suaranya pecah.
“Kita sudah kehilangan Ayah, Ibu… dan sekarang… Kak Adrian…”
Liora menatap kosong, seolah jiwanya ikut pergi bersama suaminya.
“Kakak… tidak tahu luka macam apa ini…” ucapnya lirih.
“Kakak baru mulai bahagia… tapi semuanya hilang begitu saja…”
Ia mengusap air matanya yang tidak kunjung berhenti.
“Kakak tidak akan menikah lagi. Cinta kakak… hanya untuk Adrian.”
Albert dan Sean hanya bisa menunduk, menahan tangis melihat kakak mereka hancur.
Tidak lama kemudian, tiga gadis kecil berlari menghampiri.
“Tante!”
Viora.
Viola.
Viera.
Tanpa ragu, mereka memeluk Liora erat, seakan mencoba menyatukan kembali hatinya yang sudah retak.
“Tante… kenapa harus Tante yang merasakan semua ini…” ujar mereka sambil menangis.
Liora memeluk mereka balik, suaranya pecah.
“Tante juga tidak tahu… sayang…”
“Kami akan selalu ada untuk Tante,” ucap mereka bersama-sama, mencoba memberikan kekuatan.
Liora tersenyum tipis, meski hatinya penuh luka.
“Terima kasih… girls… Kalau tidak ada kalian… Tante tidak tahu harus bagaimana…”
Suaranya bergetar, matanya kembali berkaca-kaca.
“Tante bahkan tidak sempat punya anak… karena waktu Tante dan Paman Adrian… tidak sepanjang yang Tante kira…”
Malam itu…
Seorang wanita kuat, yang dikenal sebagai ratu iblis
wanita yang tidak pernah menunjukkan kelemahan
kembali kehilangan alasannya untuk tersenyum.
Dan untuk pertama kalinya sejak lama…
ia merasa benar-benar sendirian.