Seorang pria miskin harus menelan pahitnya dikhianati dan ditinggalkan kekasihnya di saat yang sama. Sempat hancur dan hampir menyerah, dia akhirnya memilih bangkit demi membalas semuanya. Sampai suatu hari, dia menemukan liontin misterius warisan keluarga yang mulai mengubah hidupnya. Dengan cara yang tak biasa, dia perlahan membalikkan nasib lewat hubungan dengan para janda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon StarBlues, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17
Juan awalnya hanya ingin terus berjalan, menelan mentah-mentah semua hinaan itu dan menghilang di kegelapan jalan desa. Ia sudah terlalu muak untuk meladeni orang-orang yang merasa harga diri mereka diukur dari tebalnya dompet.
Baginya, beradu mulut dengan Ferdiyan hanya akan membuang energi yang sudah terkuras sejak siang tadi.
Ia menarik napas dalam. Paru-parunya terisi udara malam yang mendingin, namun sisa-sisa amarah di dadanya masih terasa panas membara. Kata-kata mantan kekasihnya terus berputar di telinganya seperti kaset rusak.
“Tidak berkembang.”
“Masih miskin.”
“Sengsara kalau bersamamu.”
Kalimat-kalimat itu bukan sekadar hinaan, tapi racun yang berusaha membongkar paksa luka lama yang susah payah ia tutup.
Juan mengepalkan tangan di saku celananya, merasakan denyut liontin di lehernya yang seolah ikut bereaksi terhadap emosinya.
Meski perih, ia tetap memilih diam. Diam adalah satu-satunya benteng terakhir untuk menjaga martabatnya agar tidak terlihat serendah mereka.
Namun, ketenangan itu pecah saat suara sepatu menghentak tanah dengan kasar tepat di belakang punggungnya.
“Hei! Pecundang!”
Langkah Juan terhenti. Suara Ferdiyan kini bukan lagi sekadar ejekan, tapi tantangan perang yang haus akan kekerasan. Juan menoleh pelan, menatap pria itu dengan wajah datar tanpa ekspresi.
“Hanya bisa kabur, hah? Nyalimu cuma sebatas jalan kaki?” Ferdiyan mendekat dengan langkah lebar, wajahnya memerah padam, urat lehernya menegang karena emosi yang meluap.
Juan tidak menjawab. Tatapannya dingin, memperhatikan Ferdiyan yang semakin maju seolah ingin menelan Juan hidup-hidup.
“Kau pikir kau siapa sekarang? Hanya karena berani menjawab tadi, kau merasa sudah hebat?” Ferdiyan meludah ke samping, sementara sang mantan kekasih berdiri beberapa langkah di belakangnya dengan tangan terlipat di dada.
Wanita itu menonton dengan cibiran yang sama, seolah sedang menyaksikan hiburan murah di pinggir jalan.
Juan membuka mulutnya perlahan. “Aku tidak mau ribut. Pulanglah.”
Juan tidak takut. Ia hanya merasa muak. Namun, nada bicaranya yang terlalu tenang justru dianggap sebagai penghinaan bagi ego Ferdiyan yang selangit. Pria itu maju dua langkah lagi, berdiri tepat di depan hidung Juan.
“Kau pikir aku takut? Kau pikir dengan gaya sok bijakmu itu aku bakal berhenti?”
Ferdiyan mengangkat kepalan tangannya. Juan tetap bergeming, kakinya kokoh menapak tanah. Ia tidak berniat memulai, tapi ia siap untuk mengakhiri.
Tanpa peringatan, kepalan tangan Ferdiyan melesat cepat. Kasar dan bertenaga, mengarah langsung ke rahang Juan.
Pukulan itu dimaksudkan untuk menghancurkan harga diri Juan di depan wanita yang mereka perebutkan.
Namun, hal yang membuat Ferdiyan terbelalak adalah saat pukulannya hanya mengenai angin. Dalam sepersekian detik, Juan menggeser kepalanya sedikit ke samping. Refleksnya kini jauh melampaui manusia biasa berkat kekuatan liontin itu.
Ferdiyan tertegun, mengira itu hanya kebetulan atau keberuntungan semata. Ia segera melepas pukulan kedua, kali ini lebih keras dan penuh tenaga. Lagi-lagi, tangannya hanya menghantam udara kosong.
Juan menghindar dengan sangat tenang. Ia tidak mundur, tidak pula menutup wajah. Ia bergerak seperti bayangan yang sudah tahu ke mana arah serangan itu sebelum Ferdiyan sendiri menyadarinya.
“Apa… apa-apaan kau ini?” gumam Ferdiyan dengan suara bergetar. Amarahnya kini mulai bercampur dengan rasa bingung yang luar biasa.
Juan masih bungkam. Namun, sorot matanya telah berubah. Tidak ada lagi kekosongan di sana. Yang ada hanyalah tatapan tajam dan dingin, sorot mata predator yang siap mematahkan mangsanya.
Ferdiyan menggertakkan gigi, egonya yang terluka membuatnya kalap. Ia merangsek maju dengan kombinasi pukulan serampangan, kanan, kiri, kanan, kiri, seperti petinju amatir yang kehilangan kendali.
Namun, tubuh Juan seolah menjadi licin. Ia hanya miring sedikit, menunduk setengah langkah, dan berputar halus. Semua pukulannya meleset telak.
Mantan kekasih Juan mulai kehilangan tawanya. Cibiran di wajahnya memudar, digantikan oleh mata yang membesar melihat pemandangan yang mustahil di depannya.
“Kenapa kau tidak bisa kupukul?!” teriak Ferdiyan, suaranya pecah.
Juan tetap diam. Ia merendahkan kuda-kudanya, otot-otot tubuhnya menegang siap meledak. Batas kesabarannya sudah habis saat Ferdiyan melayangkan pukulan kelima yang mengarah telak ke arah rahangnya.
Kali ini Juan tidak sekadar menghindar.
Tangannya bergerak secepat kilat, menangkap pergelangan tangan Ferdiyan dengan cengkeraman yang kuat seperti jepitan besi.
Dalam satu tarikan ringan namun bertenaga, Juan memutar tubuh Ferdiyan dan...
BUK!
Sebuah pukulan pendek namun solid mendarat tepat di ulu hati Ferdiyan.
Itu bukan pukulan sekuat tenaga, tapi cukup untuk membuat Ferdiyan tersentak hebat. Tubuhnya terpental tiga langkah ke belakang sebelum akhirnya jatuh terduduk, terengah-engah mencari oksigen yang seolah hilang dari paru-parunya.
Wajah Ferdiyan memucat. Rasa sakit itu menjalar dengan cepat, membuatnya mual.
Juan berdiri tegak di tempatnya. Ia tidak mengejar, tidak pula memaki. Ia hanya menatap Ferdiyan dengan sorot mata yang jauh lebih menyakitkan daripada pukulan fisiknya.
Ferdiyan mencoba bangkit dengan gemetar. Ia menyeka debu di bajunya, matanya merah penuh benci. “Kau… kau berani memukulku? Hah?!”
Ia berlari seperti banteng terluka ke arah Juan. Tanpa teknik, tanpa fokus, hanya emosi buta. Pukulan-pukulan liar kembali dilepaskan, namun hasilnya tetap sama.
Tak ada satupun yang menyentuh kulit Juan. Setiap serangan yang meleset justru menambah ketakutan di mata Ferdiyan. Ia merasa seperti sedang bertarung melawan hantu yang jauh lebih kuat dari apa yang pernah ia bayangkan.
“Kau bukan Juan yang aku kenal!” teriaknya frustrasi.
Juan masih diam. Saat Ferdiyan lengah karena kehabisan napas untuk sepersekian detik, Juan menggerakkan tubuhnya dengan presisi yang mematikan. Satu pukulan keras menghantam perut Ferdiyan.
DUGH!
Ferdiyan terlipat ke depan, jatuh berlutut sambil memegang perutnya yang terasa seperti diaduk-aduk. Wajahnya memerah padam, air matanya nyaris keluar menahan perih yang luar biasa.
Juan menatapnya sejenak, memberinya waktu untuk menyerah. Namun, kesombongan Ferdiyan ternyata lebih tebal dari rasa sakitnya.
Dengan kaki bergetar hebat, Ferdiyan memaksakan diri berdiri. Kali ini ia tidak memukul, melainkan mencoba menubrukkan seluruh berat badannya ke arah Juan. Sebuah gerakan putus asa dari orang yang sudah kalah.
Juan hanya bergeser miring sedikit. Dan dengan satu pukulan pendek yang sangat cepat, ia menghantam rahang bawah Ferdiyan dari arah samping.
PAK!
Bunyi benturan itu terdengar jelas di keheningan malam. Tubuh Ferdiyan terpental ke samping dan ambruk ke tanah. Debu jalanan beterbangan menutupi sosoknya yang tak lagi berdaya.
Ia mencoba bangun, tangannya meraba-raba tanah untuk menopang tubuh, namun lengannya terlalu lemas.
Wajahnya mulai membengkak, sudut bibirnya robek mengeluarkan darah segar, dan napasnya terdengar berat seperti mesin yang rusak. Ia kalah telak di hadapan wanita yang baru saja dipamerkannya.
Juan berdiri menatapnya tanpa rasa puas, apalagi bangga. Wajahnya tetap dingin, hanya terlihat lelah dengan drama manusia yang tidak bermutu ini.
Setelah beberapa detik memastikan Ferdiyan tidak akan menyerang lagi, Juan berbalik. Ia melangkah pergi tanpa mengucapkan satu kata pun.
Suara gesekan langkah terdengar di belakang, tapi bukan dari Ferdiyan. Mantan kekasihnya berdiri mematung di samping pria yang baru saja tumbang itu. Tatapannya sudah berubah total. Tidak ada lagi hinaan, tidak ada tawa, tidak ada kesombongan.
Hanya ada keheningan dan tatapan yang sulit diartikan. Ia menatap punggung Juan yang menjauh, mencoba memahami siapa sebenarnya pria yang baru saja mengalahkan Ferdiyan tanpa berkeringat sedikit pun.
Sosok yang dulu ia anggap lemah dan ia tinggalkan demi kemewahan, kini berjalan pergi dengan martabat yang tak tertandingi.
Angin malam kembali berhembus tenang. Suara langkah kaki Juan perlahan menghilang, menyatu dengan kegelapan jalan desa.
Tanpa menoleh.
Tanpa menyesal.
Tanpa ragu.