NovelToon NovelToon
Sebelum Kita Mengaku

Sebelum Kita Mengaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Perjodohan / Diam-Diam Cinta
Popularitas:885
Nilai: 5
Nama Author: hrarou

Sebuah perkahwinan kontrak antara pewaris museum seni dan ahli perniagaan dingin. Tanpa cinta, tanpa pilihan, hanya keheningan yang menyembunyikan perasaan yang pernah ada.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hrarou, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Lima Tahun

Cahaya matahari pagi menyusup di sela-sela pepohonan rimbun di taman belakang mansion Valehart, menciptakan pola cahaya keemasan di atas rerumputan yang masih berembun.

Aurora duduk dengan anggun di kursi rotan putih, menyesap teh melatinya yang masih mengepul. Di atas meja bundar di depannya, Lumina Orchid itu tampak berbeda. Di bawah sinar matahari, kelopaknya tidak lagi berpijar biru kuat seperti semalam, melainkan berubah menjadi warna ungu transparan yang berkilauan seperti kristal.

Arthur, sang kepala pelayan, berdiri dengan sikap sempurna di sampingnya. Ia memperhatikan bagaimana nyonya mudanya itu berkali-kali mencuri pandang ke arah bunga di atas meja.

"Sepertinya Nyonya sangat menyukai pemberian Tuan Lucien," ujar Arthur dengan suara tenang yang sopan.

Aurora hampir saja menjatuhkan cangkir tehnya. Ia berdeham, mencoba bersikap acuh tak acuh.

"Oh, ini? Hanya bunga langka untuk bahan penelitian, Arthur. Warnanya... lumayan unik."

Seorang maid yang berdiri tak jauh dari sana hanya bisa menahan senyum. Ia tahu betul bagaimana Nyonya mereka membawa pot bunga itu sepanjang malam, bahkan menaruhnya tepat di samping tempat tidur dan menatapnya berjam-jam sebelum akhirnya tertidur dengan senyum di wajahnya.

"Tentu saja, Nyonya," sahut Arthur dengan nada datar yang seolah menyiratkan ia tahu lebih banyak dari yang ia katakan.

"Tuan Lucien pergi sangat pagi sekali untuk mengurus sesuatu, namun beliau sempat berpesan agar bunga itu dipastikan mendapatkan suhu ruangan yang tepat agar tidak layu."

Aurora terdiam. Jarinya mengusap pinggiran cangkir teh.

Dia memperhatikan sedetail itu? batinnya.

Ia kembali menatap bunga itu.

Bayangan Lucien yang semalam tertawa rendah dan bersikap manis—meskipun menurutnya "menggelikan"—kembali muncul di benaknya. Tanpa sadar, kedua sudut bibirnya terangkat membentuk senyum kecil yang tulus.

"Arthur," panggil Aurora pelan tanpa mengalihkan pandangan dari bunga itu.

"Iya, Nyonya?"

"Apakah... Lucien pernah memberikan bunga pada wanita lain sebelum ini?"

Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibirnya, membuat suasana di taman itu mendadak terasa sedikit lebih serius.

Arthur merapikan letak teko teh di atas meja dengan gerakan yang sangat terlatih, wajahnya tetap tenang tanpa riak emosi berlebih.

"Sejauh yang saya tahu, Nyonya..." Arthur menjeda kalimatnya, memberikan penekanan yang halus.

"Tuan Lucien belum pernah memberikan bunga—atau perhatian dalam bentuk apa pun—kepada wanita lain selain kepada mendiang ibunya."

Aurora terdiam.

Tangannya yang sedang memegang cangkir teh membeku di udara.

"Satu-satunya wanita yang pernah mengisi perhatian beliau hanyalah ibunya. Setelah beliau wafat, mansion ini menjadi tempat yang sangat... dingin. Tuan Lucien hanya hidup untuk pekerjaan dan tanggung jawabnya," lanjut Arthur.

Arthur melirik sekilas ke arah bunga Lumina di atas meja, lalu kembali menatap Aurora dengan tatapan yang sedikit lebih hangat dari biasanya.

"Maka dari itu, melihat Tuan bersusah payah mencari bunga langka itu hanya untuk Anda... itu adalah sebuah pengecualian yang sangat besar."

Aurora merasa tenggorokannya mendadak kering. Ia segera menyesap tehnya untuk menutupi rasa gugup yang kembali menyerang.

Jadi, dia bukan hanya 'salah satu' dari sekian banyak wanita. Dia adalah satu-satunya wanita yang diperlakukan seperti ini oleh Lucien setelah ibunya.

Pikiran itu membuat wajah Aurora kembali menghangat. Ia menatap kelopak bunga ungu transparan itu dengan perasaan yang jauh lebih dalam sekarang. Ada rasa haru yang menyelusup pelan, mengalahkan rasa gengsi yang selama ini ia bangun setinggi dinding benteng.

"Begitu ya..." gumam Aurora pelan, suaranya nyaris seperti bisikan.

Ia kembali teringat wajah Lucien yang tenang namun intens semalam. Ternyata di balik sikap kaku dan kontrak dingin itu, ada sisi Lucien yang sangat asing bagi dunia, dan pria itu memilih untuk menunjukkannya kepada Aurora.

Aurora meletakkan cangkir tehnya perlahan ke atas lepek porselen. Suara denting halusnya memecah keheningan taman.

"Arthur," panggilnya, matanya masih terpaku pada pendaran bunga di depannya. "Seperti apa... sosok mendiang ibunya?"

Ia ragu sejenak, takut pertanyaannya dianggap terlalu mencampuri urusan pribadi.

"Maksudku, Lucien sepertinya sangat menghormatinya. Aku hampir tidak pernah mendengarnya bercerita tentang keluarganya."

Arthur menarik napas panjang, tatapannya menerawang seolah sedang memutar kembali memori lama yang sudah berdebu.

"Nyonya Besar adalah sosok yang sangat lembut, Nyonya. Sangat kontras dengan kepribadian Tuan Besar Valehart yang keras," jawab Arthur pelan.

"Beliau mencintai keindahan, sama seperti Anda. Beliau jugalah yang menanam mawar-mawar putih di sudut taman sana. Tuan Lucien sangat menyayangi ibunya. Bisa dikatakan, ibunyalah satu-satunya warna di hidup Tuan Lucien sebelum mansion ini kembali menjadi abu-abu setelah kepergian beliau."

Arthur menjeda, lalu ia memberikan senyum tipis yang penuh makna kepada Aurora.

"Tuan Lucien memiliki cara yang unik untuk mengenang ibunya. Beliau tidak banyak bicara, tapi beliau menjaga semua hal yang disukai ibunya tetap hidup di rumah ini. Dan sekarang..."

Arthur melirik bunga Lumina di meja.

"Melihat beliau membawakan bunga langka itu untuk Anda, saya merasa warna-warna itu mulai kembali ke mansion ini, Nyonya."

Dada Aurora terasa sesak oleh perasaan haru yang membuncah. Ia membayangkan Lucien kecil yang kehilangan satu-satunya sumber kehangatannya, tumbuh menjadi pria yang kaku dan stoic untuk melindungi dirinya sendiri.

Kini, Aurora menyadari satu hal. Lucien tidak hanya memberinya sebuah bunga langka. Pria itu sedang mencoba membuka kembali hatinya yang sudah lama mati, dan dia menggunakan Aurora sebagai alasannya.

......................

Suasana di dalam ruang rapat dewan direksi Valehart terasa sangat tegang. Para petinggi perusahaan sedang mempresentasikan laporan keuangan kuartal terakhir dengan angka-angka yang membosankan.

Namun, sang pemimpin rapat, Lucien Valehart, justru tampak berada di dunia lain.

Lucien duduk di kursi kebesarannya, menyandarkan punggung dengan gaya yang tetap berwibawa. Tangannya memegang sebuah pena emas, namun alih-alih mencatat poin penting, ia hanya memutar-mutar pena itu perlahan.

Matanya menatap lurus ke tumpukan dokumen di depannya, tapi pikirannya justru memutar ulang kejadian semalam. Ia teringat bagaimana wajah Aurora memerah padam di bawah cahaya bunga Lumina. Ia teringat teriakan lucu Aurora yang memintanya berhenti bersikap manis, padahal wanita itu jelas-jelas sedang salah tingkah.

Tanpa ia sadari, sudut bibirnya sedikit tertarik ke atas.

Sebuah senyum tipis yang hampir tidak terlihat, namun cukup untuk membuat seluruh ruangan mendadak hening karena kaget. Seorang Lucien Valehart tersenyum di tengah rapat serius? Itu adalah keajaiban dunia.

Aren Spencer, kawan baik sekaligus rekan bisnis terdekat Lucien, yang duduk tepat di sebelahnya, menyipitkan mata. Ia sudah memperhatikan gelagat aneh Lucien sejak awal rapat dimulai.

Aren berdeham cukup keras, namun Lucien tidak bereaksi.

"Tuan Valehart," panggil Aren dengan nada formal yang dibuat-buat, namun matanya berkilat jenaka.

"Bagaimana menurutmu tentang poin efisiensi di halaman empat?"

Lucien tidak bereaksi. Tangannya masih diam memegang pena, matanya tetap terpaku pada dokumen.

Aren menghela napas pendek, lalu sedikit memajukan tubuhnya. "Lucien," bisiknya, kali ini lebih tegas tapi hanya bisa didengar oleh Lucien. "Dokumennya terbalik."

Lucien tersentak kecil.

Ia segera menatap dokumen di tangannya—ternyata tidak terbalik, itu hanya akal-akalan Aren. Namun, gerakan refleks Lucien yang mendadak itu cukup membuktikan kalau dia memang sedang tidak ada di sana.

Lucien segera berdeham, memperbaiki posisi duduknya menjadi tegak sempurna kembali. Tatapan dingin dan tajamnya kembali muncul dalam sekejap.

"Lanjutkan," perintah Lucien pada manajer yang sedang presentasi, suaranya kembali berat dan berwibawa.

Aren bersandar kembali di kursinya sambil menahan tawa.

......................

Pintu ruang kerja Lucien tertutup rapat, meninggalkan kesunyian yang hanya diisi oleh suara detak jam dinding kuno. Lucien melepaskan dasinya yang terasa mencekik, lalu menghempaskan tubuhnya ke kursi kebesaran di balik meja mahoni yang luas.

Aren tidak langsung duduk. Ia berjalan menuju bar kecil di pojok ruangan, menuangkan dua gelas wiski, lalu meletakkan salah satunya di depan Lucien.

"Jadi..." Aren memulai, matanya berkilat penuh selidik.

"Apa yang terjadi kemarin sampai seorang Lucien Valehart kehilangan kemampuan untuk membaca laporan bisnis?"

Lucien hanya menatap gelasnya, tidak berniat menjawab.

Aren terkekeh, ia duduk di depan Lucien dengan santai.

"Ayolah, Lucien. Aku sudah mengenalmu sejak kita masih berantah di akademi. Kau sudah memandangi wanita itu dari jauh selama lima tahun. Lima tahun, kawan! Sejak dia masih gadis!"

Lucien akhirnya mendongak, tatapannya tajam. "Jangan mulai, Aren."

"Kenapa? Aku bicara fakta. Kau bahkan mendatangi ayahnya sebelum beliau wafat hanya untuk memastikan Aurora tetap aman di bawah namamu. Sekarang dia sudah jadi isterimu. Dia sudah ada di rumahmu, bahkan di bawah atap yang sama."

Lucien menghela napas panjang, suaranya terdengar berat dan penuh tekanan yang tertahan.

"Ini tidak sesederhana itu. Dia tidak tahu apa-apa tentang kesepakatanku dengan ayahnya. Baginya, ini hanya kontrak dingin untuk menyelamatkan nama keluarganya. Aku tidak ingin dia merasa terpaksa... aku tidak ingin dia memandangku sebagai pria yang memanfaatkan situasinya."

"Jadi kau lebih memilih menyiksa dirimu sendiri dengan melihatnya dari jauh?" Aren menggelengkan kepala, tidak habis pikir.

"Kau punya segalanya, Lucien. Kekuasaan, kekayaan, ketampanan. Tapi dalam urusan cinta, kau benar-benar pengecut yang menyedihkan."

Lucien terdiam.

Ia teringat kembali wajah Aurora saat memegang bunga Lumina tadi malam.

"Aku lebih suka melihatnya marah dan berteriak padaku, daripada melihatnya menatapku dengan rasa takut karena aku melanggar batasannya."

Aren menuangkan wiski ke gelas Lucien, lalu bersandar dengan gaya pongah.

"Sampai kapan kau akan terus bertingkah seperti pemuda tanggung yang sedang dilanda cinta monyet? Menatap potretnya secara sembunyi-sembunyi, mencarikannya tanaman langka dari antah-berantah, lalu melamun di tengah rapat direksi seperti orang yang kehilangan akal sehat?"

Aren menggelengkan kepalanya.

"Dia itu istrimu. Secara hukum dan kontrak, dia milikmu sepenuhnya. Apa susahnya langsung kau 'terjang' saja di ranjang? Kenapa kau malah bersikap seolah-olah kalian ini dua orang asing yang sedang menjalani kencan buta yang kikuk?"

Lucien hanya menatap gelasnya dengan tatapan tajam yang dingin.

"Kau bicara seolah semuanya semudah membalikkan telapak tangan."

"Memang mudah jika kau tidak sekaku patung di alun-alun kota itu!" sahut Aren cepat.

"Gunakan hakmu sebagai suami. Berikan dia sentuhan yang membuatnya tahu bahwa kau bukan sekadar rekan kontrak, melainkan seorang pria yang memiliki gairah."

1
Viaalatte
keren narasinya kaya novel cetak
Manusia Ikan 🫪
kamu mahasiswa arsitektur?
Manusia Ikan 🫪
Aurelia, namanya mirip nama Kekaisaran di novel ku/Smile/
Manusia Ikan 🫪
aku tinggal kan jejak bentar, nanti siang aku mampir lagi, sudah subuh soalnya😹
hrarou: terima kasih sudah mampir 😍🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!