Dulu aku adalah pria biasa di Bumi, tapi suatu hari aku tewas tersambar petir dan terbangun di dunia lain. Namun, aku tidak memiliki sistem atau kemampuan curang; aku hanyalah manusia biasa. Lalu, aku memutuskan untuk menulis novel yang terinspirasi dari game Honkai Star Rail, dimulai dari High Cloud Quintet
dan saya juga setelah selesai dari dunia anime danmachi saya memutuskan untuk menambahkan alur nya ke berbagai dunia mulai dari anime hingga game
(Pernyataan penolakan: Saya bukan pemilik anime Danmachi; pencipta Danmachi adalah Fujino Omori, dan saya juga bukan pemilik Honkai Star Rail) Ini hanyalah cerita fanfiction yang saya buat
dan saya membuat fanfiction ini dengan bantuan AI, jadi jika Anda tidak ingin membaca cerita ini, itu tidak masalah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon the anonym, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23: Tanda Kutipan Bintang dan Panggilan Kehancuran
Suasana di dalam Twilight Manor, markas besar Loki Familia, tidak pernah terasa sedingin malam ini. Padahal, rombongan ekspedisi Lantai 60 baru saja kembali dengan kemenangan telak. Tidak ada korban jiwa. Namun, tidak ada pesta perayaan. Keheningan yang mencekam menyelimuti lorong-lorong batu markas itu, seolah setiap petualang tahu bahwa apa yang terjadi di kedalaman labirin bukanlah sesuatu yang bisa dirayakan.
Loki melangkah cepat menyusuri lorong menuju sayap medis pribadi. Wajah sang Dewi Penipu sangat kaku, matanya merah menyala menahan amarah dan ketakutan yang bercampur aduk setelah penemuannya di ruang bawah tanah penulis bernama Anonym. Peringatan dari Hermes yang dikendalikan masih terngiang jelas di kepalanya.
Bintang-bintang telah turun untuk bermain.
Loki mendorong pintu kamar Finn tanpa mengetuk. Di dalam, kapten ras Pallum itu sedang duduk di tepi ranjangnya, bertelanjang dada. Luka-luka fisiknya telah disembuhkan oleh ramuan tingkat tinggi, namun wajahnya tampak lelah dan pucat. Riveria berdiri di sudut ruangan, menyilangkan tangan dengan ekspresi muram.
"Loki," sapa Finn pelan, menatap Dewi-nya.
"Jangan banyak bicara, Finn," potong Loki cepat, suaranya bergetar menahan emosi. Ia berjalan mendekat dan berdiri tepat di belakang kaptennya. "Berbaliklah. Aku harus melihatnya dengan mataku sendiri."
Finn menurut. Ia memutar tubuhnya, memperlihatkan punggungnya yang kecil namun penuh dengan bekas luka pertempuran.
Loki menahan napas. Jari-jarinya yang gemetar perlahan menyentuh kulit punggung Finn. Di sana, tepat di tengah punggungnya, lambang badut tersenyum yang menjadi lambang Falna Loki Familia masih terukir jelas dengan warna hitam kemerahan. Tinta ilahi itu masih ada, dan status Finn sebagai Level 6 tidak hilang. Ia masih milik Loki.
Namun, yang membuat darah Loki serasa membeku bukanlah Falna itu. Melainkan apa yang berada tepat di bawahnya.
Terukir menembus kulit, bukan dengan tinta ilahi melainkan dengan bekas luka bakar yang memancarkan cahaya cyan redup sedingin es, adalah sebuah lambang yang benar-benar asing. Bentuknya menyerupai busur kosmis yang ditarik maksimal dengan anak panah meteor, membelah tiga bintang.
Itu adalah stigmata dari Path of The Hunt. Lambang faksi Xianzhou dan pemuja Aeon Lan.
"Lambang ini..." Loki mengusap tanda itu, dan seketika jari sang Dewi terasa seperti tersengat aliran listrik statis yang menolak keilahiannya. Ia menarik tangannya dengan cepat. "...ini bukan kutukan sihir, kan, Riveria?"
"Bukan, Loki," jawab Riveria muram. "Sihir penyembuhan terkuatku bahkan tidak bisa menyentuhnya. Tanda itu... seolah-olah mengakar langsung ke jiwa Finn. Ia tidak merusak Falna Anda, melainkan berdampingan dengannya."
Finn menundukkan kepalanya, menatap kedua telapak tangannya sendiri. "Aku masih memiliki kekuatan Falna-mu, Loki. Aku masih bisa merasakan Mind dan staminaku. Tapi... ada sesuatu yang lain sekarang. Saat tanda ini muncul, pikiranku menjadi sangat jernih. Semua keraguan, semua rasa sakit fisik, lenyap. Seolah-olah ada suara tanpa wujud yang memberitahuku bahwa selama aku mengincar musuh dengan niat membunuh yang murni, anak panah langit tidak akan pernah meleset."
"Itu karena tubuhmu telah menjadi konduktor bagi energi entitas bajingan di luar sana!" geram Loki, mengusap wajahnya dengan kasar. "Penulis itu... tulisan sialan dari Anonym telah membuka celah. Dan kau, Finn, kau tanpa sadar menjawab panggilannya saat kau putus asa melawan mutan Evilus itu."
Finn menoleh. "Apakah ini berarti aku bukan lagi bagian dari Familia ini?"
"Jangan bicara omong kosong!" bentak Loki, matanya berkaca-kaca namun rahangnya mengeras. Ia menempelkan kedua tangannya di bahu Finn. "Kau adalah anakku! Selama lambang badut ini ada di punggungmu, kau adalah kapten Loki Familia! Persetan dengan Aeon atau entitas bintang apa pun itu! Aku tidak akan membiarkan mereka merebut jiwamu!"
Meskipun Loki meneriakkan kata-kata itu dengan penuh keyakinan, di dalam hatinya yang paling dalam, sang Dewi tahu ia sedang ketakutan. Jika seorang manusia fana bisa mendapatkan kekuatan absolut yang setara atau bahkan melampaui keajaiban Tenkai hanya dengan meyakini sebuah konsep alam semesta... maka era para Dewa di Orario sedang menghitung hari.
Di Waktu yang Sama – Kamar Pribadi Aiz Wallenstein
Di sayap lain Twilight Manor, jauh dari kamar Finn, Aiz Wallenstein tertidur gelisah.
Jendela kamarnya sedikit terbuka, membiarkan angin malam Orario meniup tirai putihnya. Namun, kamar itu terasa sangat panas. Keringat membasahi dahi dan leher Aiz. Tangan kirinya mencengkeram selimut erat-erat hingga buku-buku jarinya memutih.
Sejak ia menggunakan Skill Avenger yang dipadukan dengan pemahaman barunya tentang kehancuran mutlak di Lantai 60 tadi, pikirannya terasa tidak stabil. Niat membunuh yang selama ini ia pendam dalam-dalam untuk membantai monster, kini mendidih tanpa bisa ia kendalikan.
Dan malam ini, kelelahan itu menariknya jatuh ke dalam mimpi yang paling dalam.
Aiz biasanya memimpikan masa lalu. Padang rumput emas, ibunya, Aria, yang tersenyum padanya, atau kilatan sayap hitam dari Naga Bermata Satu yang merenggut segalanya.
Namun kali ini, mimpinya tidak berlatar di dunia nyata.
Aiz membuka matanya di dalam mimpi. Ia tidak berdiri di atas tanah, melainkan melayang di ruang hampa yang dipenuhi oleh bintang-bintang yang hancur. Alam semesta di sekitarnya robek, memperlihatkan lautan magma keemasan yang mendidih di balik kain realitas. Planet-planet di kejauhan retak, meledak menjadi debu kosmis yang membakar.
"Di... mana ini?" bisik Aiz, suaranya tertelan oleh keheningan luar angkasa yang pekat.
Ia memegang pinggangnya, mencari pedang Desperate miliknya, namun ia tidak bersenjata.
Tiba-tiba, gravitasi di ruang mimpi itu bergeser. Aiz mendongak, dan matanya melebar hingga batas maksimal.
Dari balik lautan bintang yang mati, bangkitlah sesosok entitas raksasa yang besarnya tidak bisa diukur oleh akal sehat manusia. Ia berwujud seperti seorang pria yang tubuhnya terbuat dari materi gelap kosmis dan otot yang sekeras besi bintang. Kulitnya yang berwarna abu-abu arang dipenuhi oleh retakan-retakan luka yang memancarkan cahaya magma keemasan—seolah tubuhnya sendiri adalah wadah kehancuran yang tak sanggup menahan kekuatannya. Rambut putih panjangnya melayang seperti badai nebula.
Itu adalah Nanook. Sang Aeon Kehancuran (The Destruction).
Aiz tidak bisa bernapas. Tekanan yang memancar dari entitas itu bukan hanya sekadar aura intimidasi layaknya monster kelas bos di Dungeon. Ini adalah konsep murni dari "Akhir". Entitas ini tidak membenci ciptaan; ia hanya melihat bahwa penciptaan adalah sebuah kesalahan, dan menghancurkannya adalah bentuk keselamatan.
Nanook menundukkan kepalanya yang seukuran galaksi, menatap lurus ke arah wujud kecil Aiz yang mengambang di kehampaan. Mata emas raksasa itu mengunci jiwa Sang Putri Pedang.
Entitas itu tidak memiliki mulut yang bergerak, namun suaranya bergema langsung menghancurkan pertahanan batin Aiz. Suaranya terdengar seperti runtuhnya jutaan gunung berapi secara bersamaan.
"Putri yang malang. Hatimu adalah tungku yang membakar dirimu sendiri. Kau menyebut dirimu 'Avenger' (Pembalas Dendam), namun pedangmu terlalu tumpul untuk memotong akar dari penderitaan dunia ini."
Aiz memegangi kepalanya, rasa sakit yang luar biasa menusuk pelipisnya. "S-siapa kau...? Apa yang kau inginkan dariku?!"
Tatapan Nanook terasa membakar kulitnya.
"Aku adalah jawaban dari keputusasaanmu. Di dalam darahmu, mengalir kebencian yang murni terhadap anomali yang disebut monster. Tapi kau membatasi dirimu dengan aturan dewa-dewa palsu yang lemah. Kau membunuh satu monster, dan dunia ini akan melahirkan seribu monster lainnya. Itu adalah siksaan tanpa akhir."
Tangan raksasa Nanook, yang ujung jari-jarinya memancarkan api keemasan, perlahan terulur ke arah Aiz, mengisi seluruh pandangannya.
"Jangan hanya menebas dahan yang membusuk, Anakku. Bakar seluruh hutannya. Hancurkan labirin itu. Hancurkan dunia yang membiarkan monster-monster itu hidup. Pinjamlah bara apiku. Berjalanlah di atas Path Kehancuran, dan jadikan dirimu pedang yang akan merestart alam semesta ini menjadi ketiadaan yang suci."
Di dalam dunia nyata, di atas ranjangnya di Twilight Manor, tubuh Aiz Wallenstein melengkung kaku. Suhu tubuhnya melonjak drastis. Dari punggung tangannya, perlahan-lahan muncul urat-urat bercahaya emas kemerahan, persis seperti warna magma yang mengalir di tubuh Aeon Nanook.
Skill Avenger miliknya yang selama ini menjadi kekuatan utamanya, kini beresonansi dengan paksa, bermutasi karena terpapar oleh energi Path yang jauh lebih primitif dan merusak.
Di dalam mimpi, Aiz menatap tangan raksasa yang terulur padanya. Nalar manusianya menjerit untuk lari, untuk menolak tawaran gila yang akan menghancurkan segalanya—termasuk teman-temannya di Loki Familia. Namun, sebagian dari jiwanya yang paling gelap, bagian yang selama ini menangis darah karena kehilangan ibunya, merasakan godaan yang sangat manis.
Godaan untuk melepaskan segala beban dan membakar dunia ini hingga menjadi abu.