NovelToon NovelToon
HUSH, LITTLE BIRD

HUSH, LITTLE BIRD

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Dark Romance / Konflik etika
Popularitas:6.8k
Nilai: 5
Nama Author: Senja_Puan

"Sepuluh tahun tanpanya adalah sunyi yang menyiksa. Tapi kepulangannya adalah badai yang tak terduga."

Dulu, Alea hanyalah gadis kecil yang menangis tersedu-sedu saat Uncle Bima—sahabat termuda ayahnya—memilih pergi ke luar negeri. Janji untuk memberi kabar ternyata menjadi kebohongan besar selama satu dekade penuh.

Kini, di usia 18 tahun, Alea bukan lagi "burung kecil" yang lemah. Namun, tepat saat ia akan memulai lembaran baru di bangku kuliah, pria yang pernah menghancurkan hatinya itu kembali muncul. Bima kembali bukan sebagai paman yang lembut, melainkan sosok pria dewasa yang posesif, penuh teka-teki, dan gemar melontarkan godaan yang membuat jantung Alea berpacu tidak keruan.

Terpaut usia 15 tahun, Bima tahu ia seharusnya menjaga jarak. Namun, melihat Alea yang kini begitu memesona, "paman" nakal ini tidak ingin lagi sekadar menjadi sahabat ayahnya.

"Sst, little bird... kau sudah cukup bersinar. Sekarang, waktunya pulang ke sangkarmu."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 33. Penjaga yang tersisa

Malam semakin larut merayap menuju pagi, namun binar lampu neon di koridor rumah sakit tidak sedetik pun meredup. Bunyi tit tit tit yang konstan dari mesin elektrokardiogram (EKG) di dalam ruang ICU terdengar samar dari balik bilik kaca, menjadi satu-satunya melodi yang menemani sunyinya penyesalan Alea. Revan sudah pamit beberapa saat lalu untuk mengurus administrasi darurat dan membersihkan sisa kekacauan di rumah, meninggalkan Alea sendirian dalam kesunyian yang mencekam.

Alea masih setia berdiri di depan kaca, menatap tubuh Daddy yang ringkih. Kedua tangannya meraba kaca tebal itu, seolah dengan begitu ia bisa menyalurkan kehangatan kepada sang ayah yang terbaring kaku. Pikirannya kembali melayang pada bentakan demi bentakan yang ia lontarkan kepada Bima beberapa jam lalu.

*“Kau egois! Kau monster! Bagaimana bisa kau menawarkan diri mengantarnya setelah kau menghancurkan seluruh sisa hidupnya?!”*

Kalimat itu terus terngiang, membakar dadanya dengan rasa perih yang teramat sangat. Alea tersenyum sumbang dalam tangisnya yang mulai mengering. Lucu sekali bagaimana ia menyebut Bima seorang monster, padahal dirinyalah yang membuka pintu agar monster itu bisa masuk dan mengobrak-abrik hidup ayahnya. Sejak awal, ia tahu Bima adalah seorang predator yang manipulatif. Namun, kabut adiksi dan gairah semu di tahun pertama kuliahnya telah membutakan segalanya. Ia telah menukar kesehatan dan ketulusan Daddy demi sentuhan posesif yang nyatanya hanyalah jaring jebakan yang mematikan.

Tiba-tiba, keheningan koridor dipecah oleh langkah kaki yang tegas dan beritme konstan. Langkah kaki yang sangat familier di telinga Alea. Sebuah langkah kaki yang selalu berhasil membuat bulu kuduknya meremang sekaligus memicu adrenalinnya untuk berpacu cepat.

Alea menoleh ke arah ujung koridor. Jantungnya seketika mencelos.

Di sana, di bawah temaram lampu rumah sakit, Bima berjalan mendekat. Pria itu tidak lagi mengenakan kemeja hitamnya yang berlumuran darah; ia telah menggantinya dengan kemeja flanel gelap yang bersih. Sudut bibirnya yang pecah dan pipinya yang memar akibat pukulan membabi buta dari Daddy telah dibersihkan, meskipun bengkak keunguan di wajah kerasnya masih terlihat dengan sangat jelas. Penampilannya masih tetap tegap, angkuh, dan memancarkan aura dominasi yang mutlak, seolah kekalahan telat di rumah Baskara tadi sama sekali tidak mampu menggores harga dirinya.

Melihat sosok itu, insting Alea langsung bergejolak. Rasa takut dan benci kini berbaur menjadi satu, menciptakan tameng pelindung yang siap ia pasang.

"Kenapa kau ke sini, Bima?" desis Alea dengan suara parau namun sarat akan penekanan yang tajam saat Bima berhenti tepat dua langkah di hadapannya. "Aku sudah mengusirmu. Aku sudah bilang jangan pernah berani mendekatiku lagi."

Bima tidak langsung menjawab. Sepasang mata elangnya menatap Alea dari ujung kepala hingga ujung kaki, memperhatikan kemeja kasual Alea yang masih menyisakan noda darah kering miliknya sendiri. Seringai tipis—dingin dan penuh kepuasan misterius—terukir di bibirnya yang terluka.

"Kau pikir sepotong bentakan histeris di tengah kepanikanmu bisa benar-benar menjauhkanmu dariku, *Little Bird*?" suara Bima terdengar rendah, berat, dan bergema di lorong yang sepi. Pria itu melangkah maju satu kali lagi, memangkas jarak di antara mereka hingga Alea bisa mencium aroma maskulin bercampur tembakau mahal yang menguar dari tubuh Bima. "Aku ke sini untuk memastikan apakah sahabat lamaku masih bernapas, atau aku harus segera mempersiapkan pemakaman yang megah untuknya."

"KAU BAJINGAN!" Alea setengah berteriak, amarahnya kembali tersulut. Ia mendorong dada bidang Bima dengan kedua tangannya, namun tubuh kekar itu tetap bergeming bagai dinding batu. "Daddy seperti ini karena kau! Karena perbuatan menjijikkan kita! Dan kau masih bisa bicara seolah-olah ini semua adalah lelucon?!"

Bima mencengkeram kedua pergelangan tangan Alea yang berada di dadanya. Cengkeramannya tidak menyakitkan, namun begitu kuat hingga mengunci pergerakan Alea sepenuhnya. Ia menunduk, memaksa Alea untuk menatap lurus ke dalam matanya yang kelam dan tak terselami.

"Dengarkan aku baik-baik, Alea," bisik Bima tepat di depan wajah gadis itu, suaranya sedingin es. "Baskara sudah mengidap penyakit jantung itu sejak kau masih mengenakan seragam SMA. Dia menyembunyikannya darimu karena dia menganggapmu lemah. Dan malam ini, serangan itu terjadi karena dia terlalu memaksakan diri untuk menghajarku. Aku menerima setiap pukulannya, aku membiarkan darahku mengotori lantainya, semata-mata karena aku menghormati haknya sebagai ayahmu untuk malam ini saja."

Bima mendekatkan bibirnya ke telinga Alea, membuat bulu kuduk gadis itu meremang oleh sensasi ngeri yang teramat pekat. "Tapi waktuku untuk mengalah sudah habis. Aku sudah memberikanmu waktu beberapa jam ini untuk menangis dan meratapi rasa bersalahmu. Sekarang, kembalilah bersamaku. Singkirkan drama anak berbakti ini sebelum aku kehilangan kesabaranku."

Alea menatap wajah Bima dari jarak sedekat ini. Di dalam benaknya, sempat terlintas bayangan bagaimana sentuhan pria ini selalu bisa menenangkannya di dalam kamar terisolasi mereka. Namun, begitu matanya melirik ke arah bilik kaca—melihat masker oksigen yang menutupi wajah Daddy—jangkar moral di dalam jiwa Alea mendadak mengeras. Kabut adiksi itu tidak lagi mampu membutakannya.

Alea menyentakkan tangannya dari cengkeraman Bima dengan tatapan penuh kebencian yang murni. "Tidak akan pernah lagi, Bima. Sentuh aku satu kali lagi, dan aku bersumpah akan meneriakkan namamu di rumah sakit ini agar semua orang tahu kau adalah monster yang mencoba membunuh sahabatmu sendiri."

Alea mundur, menyandarkan punggungnya pada kaca ruang ICU, menempatkan dirinya sebagai tameng hidup di depan tubuh Daddy. "Kau bilang aku lemah? Iya, aku memang lemah selama ini karena membiarkan diriku dikendalikan oleh nafsu gila dan rasa takutku padamu. Tapi mulai malam ini, di depan Daddy yang sedang bertaruh nyawa karena kesalahanku, aku bersumpah... aku tidak akan pernah kembali ke sangkar emasmu lagi. Aku memilih Daddy. Dan kau... kau tidak lebih dari sekadar masa lalu menjijikkan yang ingin kuhapus dari hidupku."

Mendengar sumpah yang keluar dari bibir Alea, kilatan amarah yang teramat pekat sempat melintas di mata elang Bima. Rahangnya mengatup sangat rapat hingga urat-urat di lehernya menegang. Ego dan kepemilikannya ditolak mentah-mentah untuk kedua kalinya oleh gadis yang sama. Namun, Bima segera menguasai emosinya kembali. Seringai kejam yang meremehkan kembali bertengger di wajahnya yang memar.

"Sumpah yang sangat indah, Alea," ujar Bima dengan nada meremehkan yang amat tajam. Ia mundur selangkah, lalu merapikan flanelnya kembali. "Mari kita lihat seberapa lama benteng moralitasmu ini bisa bertahan tanpa uang dan fasilitas dari ayahmu yang sedang sekarat itu. Ingat satu hal... kau sudah masuk terlalu dalam ke dalam duniaku. Sekali seekor burung kecil merasakan tangan sang predator, dia tidak akan pernah bisa terbang bebas lagi."

Bima berbalik, melangkah lebar meninggalkan koridor rumah sakit tanpa menoleh lagi. Langkah kakinya yang menjauh bergaung di sepanjang lorong, meninggalkan getaran ngeri yang masih membekas di dada Alea.

Begitu sosok Bima menghilang di balik pintu tikungan, lutut Alea benar-benar lemas. Ia melorot jatuh terduduk di lantai, menangis terisak-isak sembari memeluk lututnya sendiri. Perang yang sesungguhnya baru saja dimulai. Ia telah menyatakan perang terbuka pada seorang predator sekelas Bima, dan malam ini, di bawah dinginnya lampu rumah sakit, Alea tahu ia harus menguatkan hatinya demi menjadi penjaga terakhir untuk nyawa Daddy yang tersisa.

1
Lalat
anjr serius baskara bilang cinta ke cowo? /Sweat/
Senja_Puan: Kalau ga baca lanjutannya, aku yang buat juga geli kak🤣but, yang dicintai Baskara kan kepintarannya 🤭
total 1 replies
Lalat
sukaa sama ceritanya
Senja_Puan: jangan lupa di like kakak😍
total 1 replies
Anom
Tumpengan Bima
Anom
akhirnya pecah telor 🤭
Anom
kaya ABG anjir🤣
Anom
Good Alea
Yasa
Kak, aku jujur aja ya. kayanya kamu lebih cocok garap novel yang hot/dark gini deh😄 lebih ngena dari pada yang komedi🤣
Yasa
Bima, U bener2 ya. Ini masih hari pertama kah???
Yasa
Gila kak, baru episode pertama udah sat set.
Senja_Puan: thanks kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!