Lin Chen dulunya adalah jenius nomor satu di Kota Awan Merah. Namun, pada usia 12 tahun, Meridiannya dihancurkan oleh musuh misterius, membuatnya menjadi "Sampah" yang tidak bisa mengumpulkan Qi. Dihina oleh klannya dan tunangannya dibatalkan, Lin Chen jatuh ke titik terendah. Suatu malam, darahnya secara tidak sengaja membangunkan sebuah relik kuno peninggalan ibunya: Sisik Naga Primordial. Relik ini tidak hanya memulihkan meridiannya, tetapi juga memberinya Teknik Kultivasi terlarang: Seni Pemakan Surga Sembilan Naga. Dimulailah perjalanan Lin Chen dari kota kecil yang terpencil menuju puncak semesta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18: Arena Hidup dan Mati, Pertunjukan Berdarah Dimulai
Matahari perlahan turun ke ufuk barat, membiaskan cahaya senja berwarna merah darah yang menyapu seluruh penjuru Pegunungan Awan Surgawi.
Di pusat Pelataran Luar, berdiri sebuah panggung batu raksasa berbentuk persegi delapan. Permukaan batu tersebut berwarna merah kecokelatan, warna yang berasal dari darah ribuan murid yang telah meresap ke dalam pori-pori batu selama berabad-abad. Ini adalah Arena Hidup dan Mati. Tempat di mana segala dendam dan perselisihan diselesaikan dengan nyawa, tanpa ada satu pun aturan sekte yang bisa campur tangan.
Sore ini, tribun di sekeliling arena disesaki oleh lebih dari sepuluh ribu murid luar. Bahkan beberapa Tetua Luar tampak berdiri di kejauhan, mengamati dengan penuh minat. Berita tentang murid baru yang mematahkan kaki anak buah penguasa sektor Barat dan menerima tantangan maut dalam waktu kurang dari setengah hari telah menjadi tontonan paling menarik tahun ini.
"Lihat! Kakak Senior Zhang Kuang datang!" teriak salah satu murid.
Dari arah kerumunan yang membelah, seorang pemuda berbadan besar dengan otot-otot yang menonjol seperti bongkahan baja melangkah maju. Ia memanggul sebuah golok raksasa bergerigi di pundaknya. Aura ganas dari Ranah Pengumpulan Qi Bintang 6 Tahap Puncak meledak dari tubuhnya, membuat murid-murid di sekitarnya menahan napas dan mundur perlahan.
Zhang Kuang melompat dan mendarat di atas arena dengan suara dentuman keras yang menggetarkan panggung. Ia menatap ke sekeliling bak seekor harimau yang mencari mangsa.
"Mana anak baru bernama Lin Chen itu?!" raung Zhang Kuang, suaranya mengandung Qi yang memekakkan telinga. "Apakah si pengecut itu sudah lari terkencing-kencing dan bersembunyi di lubang jamban?!"
Para pengikut Zhang Kuang tertawa keras dari pinggir arena, memprovokasi suasana.
"Siapa yang lari?"
Sebuah suara yang tenang, tak terlalu keras namun terdengar sangat jelas di telinga setiap orang, tiba-tiba memecah tawa mereka.
Semua mata serentak beralih ke salah satu pintu masuk arena. Di sana, seorang remaja berjubah abu-abu sederhana berjalan menaiki tangga batu dengan langkah yang santai. Tidak ada senjata di tangannya. Fluktuasi Qi yang dipancarkannya hanya berada di batas Bintang 1 Pengumpulan Qi.
Banyak murid luar yang menggelengkan kepala penuh rasa kasihan.
"Hanya Bintang 1? Perbedaan lima tingkat kecil? Ini bukan pertarungan, ini pembantaian sepihak."
"Kudengar dia menyinggung Kakak Senior Liu Meng'er. Dia sudah ditakdirkan mati sejak menginjakkan kaki di gunung ini."
Lin Chen mengabaikan semua bisikan itu. Ia berdiri sepuluh langkah di depan Zhang Kuang. Ekspresi wajahnya sedatar air danau yang membeku.
"Jadi kau yang bernama Lin Chen," Zhang Kuang menancapkan golok raksasanya ke lantai arena. Mata buasnya menatap Lin Chen penuh kebencian. "Kau berani membuat adik sepupuku cacat, dan kau berani menolak berlutut di depanku. Hari ini, aku akan mencincang setiap inci dagingmu dan memberinya makan anjing liar!"
"Kau terlalu banyak bicara untuk seseorang yang akan mati," potong Lin Chen santai. Ia melirik ke arah tangan kosong Zhang Kuang. "Di mana peti matimu? Bukankah sudah kukatakan pada anjing peliharaanmu untuk membawakannya?"
Urat nadi di dahi Zhang Kuang seketika menonjol, wajahnya memerah karena amarah yang meledak-ledak. Dihina di depan puluhan ribu murid oleh seorang anak baru berstatus Bintang 1 adalah penghinaan yang tidak bisa dimaafkan.
"MATI KAU, BINATANG KECIL!"
Zhang Kuang mencabut goloknya. Qi berwarna merah darah yang pekat membungkus bilah senjata raksasa itu. Ia menerjang maju bak banteng gila. Kecepatannya sangat mengejutkan untuk ukuran tubuh sebesar itu.
Seni Golok Pembelah Gunung: Tebasan Mengamuk!
Angin melolong saat golok raksasa itu ditebaskan secara vertikal, mengincar untuk membelah tubuh Lin Chen menjadi dua bagian yang simetris sempurna. Kekuatan tebasan ini bisa dengan mudah membelah batu karang setebal sepuluh meter.
Kerumunan menahan napas. Banyak murid perempuan yang menutup mata mereka, tak sanggup melihat tubuh Lin Chen terbelah.
Namun, yang terjadi selanjutnya membuat waktu seolah membeku di seluruh pelataran luar.
Lin Chen tidak mundur satu inci pun. Ia mengangkat tangan kanannya perlahan, menutupi jarinya dengan lapisan tipis Qi emas yang ia tekan agar tidak terlalu mencolok, lalu... ia hanya mengulurkan telunjuk dan jari tengahnya.
TRANGGG!
Suara benturan logam yang sangat melengking bergema.
Mata puluhan ribu penonton nyaris melompat keluar dari rongganya. Golok raksasa yang diayunkan dengan kekuatan penuh oleh ahli Bintang 6 itu kini berhenti total di udara. Ujung bilahnya yang tajam ditahan dengan santai di antara dua jari Lin Chen.
Udara di sekitar bilah golok itu bergetar hebat, namun jari Lin Chen bahkan tidak bergeser sedikit pun. Ia berdiri di sana layaknya dewa perang yang tak tertembus.
"I-Ini tidak mungkin!" Zhang Kuang terbelalak, wajahnya yang garang kini dipenuhi teror murni. Ia mencoba menekan goloknya ke bawah, lalu mencoba menariknya kembali, tapi senjata itu seolah tertancap di rahang naga purba, tak bergerak sama sekali. "Ilmu sihir apa yang kau pakai?!"
"Kekuatanmu... sangat mengecewakan," bisik Lin Chen dingin.
KRAK!
Lin Chen sedikit memutar pergelangannya. Bilah golok raksasa berbahan baja berat itu seketika retak dan patah menjadi belasan serpihan logam tajam.
Sebelum Zhang Kuang sempat membuang gagang goloknya dan mundur, Lin Chen mengibaskan lengan bajunya. Sebuah gelombang Qi yang tak terlihat namun membawa daya tolak mematikan menyapu serpihan-serpihan baja itu.
Jleb! Jleb! Jleb!
"AARGHHH!"
Zhang Kuang menjerit histeris. Belasan serpihan goloknya sendiri menancap dalam di kedua bahu, paha, dan perutnya. Darah segar menyembur ke segala arah. Tubuh besarnya terhuyung mundur sebelum akhirnya jatuh berlutut di atas arena, menodai batu nisan kuno itu dengan darah merah yang hangat.
Hanya satu serangan balasan yang santai. Bahkan bukan sebuah teknik bela diri resmi.
Keheningan yang mematikan mencekik seluruh tribun. Para Tetua Luar yang menonton dari kejauhan saling berpandangan dengan wajah pucat pasi. Mengalahkan Bintang 6 dengan batas kekuatan Bintang 1 tanpa repot-repot menggunakan tenaga... fondasi kultivasi anak ini terlalu menakutkan!
Di atas arena, Lin Chen berjalan perlahan mendekati Zhang Kuang yang mengerang kesakitan di lantai. Setiap langkah kakinya terdengar seperti detak jam kematian di telinga sang penguasa sektor Barat.
"K-Kau... Kau menyembunyikan kultivasimu!" Zhang Kuang memuntahkan darah, matanya menatap Lin Chen dengan ketakutan yang tak terlukiskan. Arogansinya telah hancur menjadi debu. "Ampuni aku... Aku mengaku kalah! Kakak Senior Meng'er yang menyuruhku melakukan ini! Ini semua perintah dari puncak utama!"
Lin Chen berhenti tepat di depan Zhang Kuang, memandang rendah layaknya menatap serangga.
"Di Arena Hidup dan Mati, kata 'menyerah' tidak memiliki arti," suara Lin Chen datar dan tanpa belas kasihan. "Dan mengenai Liu Meng'er... jangan khawatir. Kalian hanya harus menungguku di neraka sebentar. Aku akan segera mengirimnya untuk menemani kalian."
Mendengar hal itu, mata Zhang Kuang melebar. "Jangan! Jika kau membunuhku, faksi Liu Meng'er tidak akan per—"
BAM!
Sebelum kalimatnya selesai, Lin Chen mengangkat kaki kanannya dan menginjak tengkorak Zhang Kuang dengan kekuatan brutal.
Suara retakan tulang yang mengerikan bergema di keheningan alun-alun. Kepala Zhang Kuang amblas ke dalam lantai batu arena. Ia mati seketika tanpa sempat menyelesaikan jeritannya.
Pertarungan itu berakhir bahkan sebelum matahari benar-benar tenggelam.
Angin senja bertiup menyibakkan jubah abu-abu Lin Chen. Ia berbalik dan menatap langsung ke arah kerumunan puluhan ribu murid luar. Tatapannya sangat tenang, namun hawa membunuh ekstrem yang tersembunyi di dalamnya membuat semua murid tanpa sadar mundur selangkah.
"Dengar baik-baik," suara Lin Chen bergema, dilapisi oleh Qi sehingga mencapai setiap sudut pelataran luar. "Siapa pun yang ingin menjadi anjing penjaga Liu Meng'er, kalian dipersilakan mencariku di Kamar 444. Tapi ingat... bawalah peti mati kalian sendiri."
Setelah menjatuhkan ancaman yang begitu arogan dan menakutkan, Lin Chen melangkah turun dari arena, berjalan membelah lautan manusia yang secara otomatis minggir dengan wajah gemetar penuh rasa hormat dan teror.
Mulai malam ini, Pelataran Luar Sekte Pedang Awan Surgawi memiliki raja iblis baru.
Satu Jam Kemudian, di Puncak Teratai Es.
Liu Meng'er sedang duduk meminum teh hangat saat pelayannya berlari masuk dengan napas tersengal-sengal dan wajah sepucat kertas. Berita dari Pelataran Luar telah merambat naik ke puncak inti dengan kecepatan kilat.
"K-Kakak Senior Meng'er... Gawat...!" pelayan itu langsung berlutut hingga kepalanya membentur lantai batu.
"Ada apa panik begitu? Bukankah aku sudah bilang jangan menggangguku jika itu bukan hal penting?" tegur Liu Meng'er dingin. "Apakah Zhang Kuang sudah selesai membereskan sampah dari Kota Awan Merah itu?"
"T-Tidak, Kakak Senior..." suara pelayan itu bergetar hebat. "Zhang Kuang... Kakak Senior Zhang Kuang telah terbunuh di Arena Hidup dan Mati! Hanya dengan satu serangan! Lin Chen mematahkan senjatanya dengan tangan kosong dan menginjak kepalanya hingga hancur!"
Prang!
Cangkir teh di tangan Liu Meng'er terjatuh dan pecah berkeping-keping.
"Apa kau bilang?!" Liu Meng'er berdiri secara mendadak, matanya membelalak tak percaya. Fluktuasi Qi Bintang 5-nya tidak stabil karena emosinya yang meledak. "Zhang Kuang berada di Bintang 6! Bagaimana mungkin si sampah cacat itu bisa mengalahkannya?!"
"B-Benar, Kakak Senior! Seluruh murid luar menyaksikannya. Lin Chen bahkan... bahkan menyebarkan ancaman ke seluruh sekte. Ia bilang siapa pun yang menjadi pengikut Anda akan mati, dan dia berjanji akan... mengirim Anda ke neraka."
Dada Liu Meng'er naik turun. Amarah, rasa malu, dan sepercik rasa takut yang tak mau ia akui mulai menggerogoti hatinya. Anak cacat yang ia buang sebulan yang lalu kini merangkak naik ke gunungnya seperti roh pendendam yang tak bisa dihentikan.
"Sombong! Sangat sombong!" Liu Meng'er menggertakkan giginya hingga berdarah. Ia mengepalkan tangannya kuat-kuat. "Karena kau sangat ingin mati, Lin Chen... maka aku tidak akan menahan diri lagi. Kita akan lihat apakah nyawamu cukup keras untuk bertahan hidup di Sekte Awan Surgawi!"