Lin Tian sadar dari tidur panjangnya selama 200 tahun dan mendapati tubuhnya masih seperti pemuda 18 tahun. Satu hal yang paling mengganjal: di istana ratu ular, semua makhluk memiliki tubuh ular, tapi ia berkaki dua sempurna. Siapa ayahnya? Siapa sebenarnya Kakek Han yang begitu ia rindukan? Ibunya, Ratu Medusa, mengurungnya berabad lamanya hanya untuk menyembunyikan sesuatu. Kini Lin Tian pergi ke dunia manusia. Bukan untuk bertualang, tapi untuk menggali satu rahasia yang ibunya lebih memilih membekukannya daripada mengakuinya. Rahasia terbesar tentang siapa dirinya yang sebenarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YUKARO, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Murid Kehormatan
Lin Tian berjalan keluar dari kediaman keluarga Bai dengan langkah cepat. Bai Feng berlari kecil di belakangnya, mencoba menyamakan langkah.
"Hei, Lin Tian, tunggu! Kau tidak perlu marah seperti itu," ucap Bai Feng sambil terengah-engah.
Lin Tian tidak menjawab. Ia terus berjalan menuju gerbang utama, matanya lurus ke depan. Bukan marah. Ia hanya merasa ada sesuatu yang tidak beres dengan pria bernama Lao Hui itu. Cara bicaranya, cara menatapnya, cara ia melontarkan pertanyaan-pertanyaan aneh tentang ayah. Semua itu terasa seperti seseorang yang sedang menguji sesuatu.
"Lin Tian!" Bai Feng menarik lengan temannya. "Dia hanya orang tua yang suka bicara filosofi. Ayahku juga sering didatangi orang seperti itu. Jangan dimasukkan ke hati."
Lin Tian berhenti. Ia menoleh ke arah Bai Feng lalu menghela napas.
"Aku tidak marah. Aku hanya tidak suka pertanyaan pertanyaan yang tidak ada jawabannya. Lebih baik kita kembali ke sekte. Masih ada waktu untuk latihan sore."
Bai Feng mengangkat bahu. "Baik, kalau itu maumu."
Mereka naik ke atas pedang terbang masing masing lalu melesat ke angkasa. Perjalanan kembali ke Sekte Ombak Biru hanya memakan waktu seperempat jam. Matahari mulai bergeser ke barat, langit berubah warna menjadi jingga kemerahan.
Sesampainya di sekte, mereka langsung menuju lapangan latihan. Beberapa murid sudah berkumpul di sana, ada yang sedang berlatih pedang, ada yang duduk bersila memulihkan Qi. Seorang murid bertubuh tegap dengan otot kekar berdiri di tengah lapangan. Ia memegang tongkat kayu sepanjang satu meter.
"Hari ini kita latihan ketahanan fisik. Siapa pun yang jatuh sebelum aku bilang berhenti akan lari keliling sekte sepuluh kali," ucap murid itu dengan suara keras.
Lin Tian dan Bai Feng segera bergabung dengan yang lain. Mereka berdiri dalam tiga barisan. Latihan dimulai dengan pemanasan, lalu dilanjutkan dengan gerakan gerakan dasar tinju dan tendangan. Keringat mulai membasahi jubah mereka.
Setelah satu jam, latihan beralih ke sparring berpasangan. Lin Tian berhadapan dengan seorang murid lain yang bertubuh lebih kecil. Gerakan Lin Tian lincah dan efisien. Ia membiarkan lawannya menyerang lebih dulu, lalu menghindar dengan gesit secepat kilat. Satu pukulan ke perut dan satu sapuan kaki membuat lawannya jatuh ke tanah.
"Bagus," ucap murid yang memimpin latihan sambil mengangguk. "Kau cepat, Lin Tian. Tapi jangan hanya mengandalkan kecepatan. Kekuatan juga penting."
Lin Tian mengangguk. Ia membantu lawannya berdiri lalu kembali ke posisi.
Latihan berlangsung hingga senja tiba. Semua murid kelelahan, jubah mereka basah oleh keringat. Bai Feng tergeletak di tanah dengan tangan dan kaki terbuka lebar.
"Aku tidak kuat... tubuhku remuk semua," keluh Bai Feng.
"Kau bilang begitu setiap kali latihan selesai," ucap Lin Tian sambil menyeka keringat di dahinya.
"Ini terakhir kalinya. Besok aku tidak akan datang lagi."
"Kau bilang begitu setiap kali latihan selesai juga."
Bai Feng tertawa pelan lalu menggeliat kesakitan.
Setelah itu mereka berjalan menuju pemandian besar khusus pria. Bangunan itu terletak di belakang asrama, terbuat dari batu bata merah dengan atap genteng melengkung. Uap air panas mengepul dari celah celah dinding, menandakan bahwa air di dalamnya masih hangat.
Lin Tian membuka pintu kayu yang berat. Di dalam, kolam batu selebar sepuluh meter sudah terisi air jernih. Beberapa murid lain sudah lebih dulu berada di sana, duduk terendam hingga leher sambil memejamkan mata.
Lin Tian melepas jubah putihnya lalu memasukkan tubuhnya ke dalam air. Hangatnya air menyelimuti otot otot yang pegal, melepaskan ketegangan setelah latihan berat. Bai Feng duduk di sampingnya sambil mendesah puas.
"Ini bagian terbaik dari latihan," ucap Bai Feng sambil menyandarkan kepala di tepi kolam. "Seandainya kita bisa begini sepanjang hari tanpa perlu bertarung atau lari lari."
"Kalau begitu kau tidak akan pernah jadi kultivator yang kuat."
"Siapa bilang aku mau jadi kuat?" Bai Feng membuka satu matanya. "Aku hanya mau hidup nyaman, punya banyak uang, dan dikelilingi wanita cantik. Itu cukup."
Lin Tian tertawa kecil. Ia tidak akan pernah mengerti ambisi temannya itu. Tapi ia menghormatinya. Setiap orang punya jalannya masing masing.
Mereka mandi sekitar setengah jam. Setelah tubuh terasa segar kembali, Lin Tian dan Bai Feng keluar dari pemandian, mengenakan jubah bersih yang mereka ambil dari cincin penyimpanan masing masing.
Kembali di asrama, Lin Tian duduk bersila di atas dipan. Ia memejamkan mata, mengatur napas, dan mulai bermeditasi. Qi mengalir pelan di dalam tubuhnya, melewati setiap meridian, membersihkan sisa sisa kelelahan dari latihan sore. Pikirannya tenang, tidak ada yang mengganggu.
Bai Feng di kamar sebelah juga melakukan hal yang sama. Sesekali terdengar suara dengkur pelan dari arah kamarnya, tanda bahwa ia tertidur di tengah meditasi. Lin Tian tersenyum sendiri lalu kembali memejamkan mata.
Malam berlalu dengan tenang.
Keesokan paginya, lonceng sekte berbunyi lebih awal dari biasanya. Satu kali, dua kali, tiga kali. Tanda bahwa semua murid harus berkumpul di lapangan utama.
Lin Tian membuka matanya. Ia bangkit dari dipan, mencuci muka sebentar, lalu mengenakan jubah putihnya. Bai Feng sudah menunggu di depan pintu dengan mata masih setengah terpejam.
"Apa lagi sekarang? Aku baru saja tidur nyenyak," gumam Bai Feng.
"Ayo cepat. Pasti ada pengumuman penting," ucap Lin Tian.
Mereka berjalan cepat menuju lapangan utama. Murid murid lain juga berdatangan dari segala arah. Beberapa di antara mereka masih mengucek mata, yang lain sudah berpakaian rapi seperti siap bertempur.
Di atas panggung batu, Tetua Chen berdiri dengan sikap tegap. Di sampingnya berdiri seorang pria tua berjubah abu abu. Wajahnya teduh, matanya dalam, rambutnya hitam keabu-abuan. Lin Tian mengerutkan kening.
Lao Hui.
Apa yang dilakukan pria itu di sekte?
Tetua Chen mengangkat tangannya. Semua murid langsung terdiam.
"Aku punya dua pengumuman penting hari ini," suara Tetua Chen bergema di seluruh lapangan. "Pertama, sekte kita kedatangan seorang tetua kehormatan. Beliau adalah seorang bijak yang telah berkelana di berbagai benua, memiliki wawasan luas tentang jalur keabadian."
Tetua Chen menunjuk ke arah Lao Hui. "Mulai hari ini, beliau akan tinggal di sekte kita dan memberikan bimbingan kepada para murid. Kalian harus sangat sopan kepada beliau. Panggil Tetua Lao atau Pak Tua. Jangan sekali kali bersikap tidak hormat."
Para murid mulai berbisik. Seorang tetua kehormatan adalah hal yang jarang terjadi di sekte sekelas Ombak Biru. Biasanya hanya sekte besar yang memiliki sumber daya untuk menarik orang orang berpengalaman.
Lao Hui melangkah maju satu langkah. Ia menatap kerumunan murid di hadapannya dengan tatapan teduh.
"Aku tidak datang ke sini untuk mengubah cara sekte ini berjalan. Aku hanya ingin berbagi apa yang aku ketahui. Ilmu itu seperti air. Jika ditampung, ia akan basi, jika dialirkan, ia akan tetap jernih."
Tetua Chen mengangguk setuju lalu melanjutkan, "Pengumuman kedua. Tetua Lao akan menerima satu murid untuk dijadikan murid pribadi. Satu orang yang beruntung akan belajar langsung dari beliau. Cara pemilihannya... sederhana."
Lao Hui tersenyum tipis. Ia menutup kedua matanya. "Aku akan berjalan di antara kalian dengan mata tertutup. Kemana pun jari telunjukku menunjuk, itulah orang yang terpilih."
Bisik bisik semakin keras. Murid murid saling berpandangan. Ada yang bersemangat, ada yang cemas, ada juga yang tidak peduli.
Lao Hui mulai berjalan. Langkahnya pelan, hampir seperti melayang. Sepatu kainnya tidak mengeluarkan suara saat menyentuh tanah. Ia melewati barisan pertama, lalu barisan kedua. Matanya tetap terpejam rapat.
Lin Tian berdiri di barisan ketiga, di antara Bai Feng dan seorang murid lain yang tidak ia kenal. Ia tidak terlalu mempedulikan pemilihan ini. Menjadi murid pribadi seorang tetua kehormatan berarti lebih banyak pelajaran, lebih banyak tanggung jawab, dan lebih sedikit waktu untuk bersantai.
Tapi ia ingat pesan Kakek Han. Jangan terlalu menggebu gebu mengejar sesuatu. Nikmati setiap proses. Jika ini adalah jalan yang terbuka di hadapannya, ia akan menerimanya. Jika tidak, ia akan tetap berjalan di jalurnya sendiri.
Lao Hui terus berjalan. Ia melewati beberapa murid, beberapa kali tangannya hampir menyentuh bahu seseorang, tapi ia selalu menariknya kembali. Seolah ia sedang mencari sesuatu yang sangat spesifik. Seolah ia sudah tahu siapa yang ia cari sejak awal.
Dan kemudian jari telunjuk Lao Hui berhenti.
Tepat di depan Lin Tian.
"Kau," ucap Lao Hui dengan mata masih terpejam. "Pemuda berjubah putih dengan aura yang mengalir seperti sungai bawah tanah."
Lin Tian terdiam. Ia menatap jari telunjuk yang hampir menyentuh dadanya. Ia menatap wajah Lao Hui yang tenang. Ia kemudian menoleh ke samping, melihat Bai Feng yang membelalakkan mata dengan mulut terbuka lebar.
Tetua Chen mengangguk dari atas panggung. "Lin Tian. Mulai hari ini, kau adalah murid pribadi Tetua Lao. Jangan sia siakan kesempatan ini."
Lin Tian menangkupkan tangannya, sedikit membungkuk. "Terima kasih, Tetua Chen. Terima kasih... Pak Tua."
Lao Hui membuka matanya. Sorot matanya dalam, seperti seseorang yang melihat melampaui apa yang tampak di permukaan.
"Jangan berterima kasih, kita belum mulai. Jalan di depanmu panjang dan berliku. Aku hanya akan menemanimu beberapa langkah. Sisanya... kau harus berjalan sendiri."
Lin Tian mengangguk. Ada rasa aneh di dadanya lagi. Getaran yang sama seperti saat pertama kali ia bertemu Lao Hui di kediaman keluarga Bai. Ao Mo di dalam cincin penyimpanannya bergetar pelan, seperti pedang yang mengenali genggaman lama.
Bai Feng menepuk pundak Lin Tian sambil berbisik, "Selamat, teman, kau murid pribadi tetua kehormatan sekarang. Jangan lupakan aku saat kau sudah jadi kultivator besar."
Lin Tian tersenyum kecil. "Aku tidak akan lupa. Kau terlalu berisik untuk dilupakan."
Bai Feng tertawa pelan. Murid murid lain mulai bubar. Beberapa menatap Lin Tian dengan rasa iri, yang lain acuh tak acuh.