Pernahkah kamu salah memilih pasangan hingga berujung maut?
Shanaya tewas setelah dipaksa menelan racun. Suaminya, Alvian, dan sepupunya, Anastasia, merampas perusahaannya. Mereka berdua bahkan membunuh ibu Shanaya demi uang.
Mati ternyata bukan akhir bagi Shanaya. Dia terbangun tujuh tahun di masa lalu, tepat tiga hari sebelum acara tunangannya dengan Alvian.
Shanaya menolak mati konyol untuk kedua kalinya. Dia menyusun siasat untuk membalas dendam. Targetnya adalah menghancurkan Alvian dan Anastasia.
Untuk itu Shanaya butuh panggung besar. Dia mengincar Steven Aditya, bos media televisi. Dulu Steven ikut andil dalam kehancurannya. Kali ini, Shanaya akan memaksa pria itu tunduk dan bekerja sama.
Satu kejutan menanti Shanaya. Bukan cuma dia yang kembali ke masa lalu. Ada satu orang lagi yang juga hidup kembali dan mengulang waktu. Siapa orang ini? Apakah dia sekutu yang akan membantu Shanaya, atau musuh yang jauh lebih mematikan?
Baca cerita ini dan temani Shanaya menagih balasa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
14. Sangat Kontras
Papan jadwal di dinding belakang panggung menampilkan coretan spidol hitam yang masih basah. Dinda, asisten utama Shanaya, menunjuk papan itu dengan jemari gemetar.
"Jam sebelas malam. Ini slot sisa. Tamu VIP dan media pasti udah bubar setelah acara utama jam sepuluh." Dinda menggigit bibir bawahnya menahan tangis. "Pasti ulah panitia yang kemarin siang makan bareng Anastasia."
Shanaya berdiri tenang. Tangannya menyematkan satu jarum pentul terakhir pada kerah gaun sutra hitam di hadapannya. Proyek kolaborasi Family United yang disetujui direksi bulan lalu ternyata hanya tameng. Anastasia memecah koleksi itu menjadi dua lintasan. Ia mengambil slot jam delapan malam untuk desain curiannya, lalu membuang koleksi Shanaya ke jam sebelas. Pemisahan paksa yang dirancang untuk mengubur karya Shanaya hidup-hidup.
"Biarin aja." Shanaya mengambil gunting kecil, memotong rapi sisa benang pada tepi gaun.
"Mbak, kita nggak bisa biarin. Publikasi koleksi ini bakal hancur kalau kursinya kosong!"
"Siapa bilang kosong?"
Layar ponsel Shanaya di atas meja rias menyala. Satu pesan masuk. Nama pria pemegang hak siar eksklusif acara ini tertera di sana.
Steven Aditya: Panitia mencoba memotong jam siaran live Kanal Satu. Saya perintahkan kru untuk menahan siaran sampai koleksi kamu keluar.
Shanaya mengetik balasan cepat. Kalian bakal dapat puncak rating tertinggi malam ini.
Kehadiran Steven dan kontrak siaran eksklusif itu mengunci segalanya. Anastasia boleh menyuap panitia acara untuk menukar jadwal di lokasi. Tapi sepupunya itu tidak punya kekuatan untuk mengusir tiga kamera utama Kanal Satu. Selama Steven menolak mematikan siaran, seluruh negeri masih akan menonton.
Jam terus berputar. Tepuk tangan dari panggung utama terdengar silih berganti.
Giliran Anastasia tiba.
Lewat layar monitor di ruang ganti, Shanaya menonton barisan model itu melenggang. Potongan gaun sifon bermotif bunga musim semi. Garis desain yang persis meniru siluet milik Chae Si-eun, desainer Korea itu. Publik awam bertepuk tangan. Tapi para kritikus mode di baris depan hanya memberikan penghargaan sopan. Tidak ada antusiasme berlebih.
Anastasia keluar dari balik tirai dengan wajah memerah bangga. Ia melambaikan tangan ke arah lensa kamera, merasa sudah memenangkan seluruh dunia.
Pukul sepuluh lewat empat puluh lima menit.
Tebakan Dinda terbukti. Suasana aula mulai riuh. Tamu-tamu undangan bangkit dari kursi mereka. Beberapa editor majalah merapikan tas. Fotografer independen mulai menurunkan lensa dari tripod.
Anastasia berdiri di ujung koridor. Ia melipat tangan di dada. Gadis itu menatap Shanaya dari kejauhan dengan ujung bibir terangkat, terang-terangan memamerkan kemenangan sementaranya.
"Mbak." Dinda terisak pelan. "Ruangannya udah mulai kosong."
Shanaya merebut radio panggil dari tangan pengarah lapangan yang berdiri kebingungan di dekatnya.
"Matikan semua lampu aula sekarang. Gelap total. Jangan sisakan satu titik cahaya pun."
"Tapi Nona, orang-orang sedang berjalan ke arah pintu keluar."
"Lakukan. Atau saya cabut semua dana sponsor Kesuma Group tahun depan."
Tiga detik kemudian, lampu aula padam total.
Suara penonton yang bersiap pulang terhenti seketika. Kepanikan kecil melanda ruangan raksasa itu. Langkah-langkah kaki tertahan. Kegelapan mutlak mengunci mereka di tempat.
Satu gesekan biola mengudara membelah keheningan.
Tajam. Menyayat. Menguasai seluruh frekuensi pendengaran.
Lalu dentuman bas bertalu keras satu kali, menghentak lantai marmer aula.
Lampu sorot merah menyala terang di ujung lintasan.
Model pertama Shanaya melangkah keluar.
Wanita itu mengenakan korset kulit hitam pekat dengan jubah organza merah darah yang melambai liar mengikuti setiap langkah kakinya. Warna merah yang mengingatkan pada luka yang menganga. Hitam yang menyimbolkan perlawanan. Garis desainnya brutal, tegas, dan menolak tunduk pada tren manis musiman.
Kamera Kanal Satu langsung mengambil fokus utama. Kilat lampu dari puluhan fotografer lain meledak secara refleks.
Model kedua menyusul. Setelan jas androgini dengan belahan dada rendah, berhias payet emas bermotif duri tajam di sepanjang garis bahu.
Orang-orang yang tadi sudah berada di ambang pintu keluar otomatis memutar tubuh mereka. Tidak ada satu pun yang melangkah pergi. Mereka tersihir. Koleksi ini membunuh semua sisa memori tentang gaun-gaun manis Anastasia yang tayang setengah jam lalu.
Perbedaan kelas mereka terlihat jelas. Anastasia membuat baju. Shanaya merakit senjata.
Di akhir lintasan, enam belas model berdiri berjajar. Panggung berubah menjadi lautan merah dan hitam yang mengintimidasi. Musik berhenti mendadak.
Aula itu sunyi selama empat detik penuh.
Tepuk tangan meledak. Riuh, beringas, meruntuhkan langit-langit gedung.
Editor senior dari majalah mode ternama berdiri paling pertama. Kritikus mode dan jurnalis segera mengikuti jejaknya. Standing applause yang langka menyapu seluruh ruangan tanpa aba-aba.
Di belakang panggung, senyum di wajah Anastasia runtuh tanpa sisa. Jemari gadis itu mencengkeram kasar ujung gaun sifonnya sendiri. Buku-buku jarinya memutih.
Anastasia baru saja menyadari satu fakta pahit. Dengan menggeser Shanaya ke akhir acara, ia tidak membuangnya ke jam kuburan. Ia justru menyumbangkan panggung puncak paling spektakuler untuk rivalnya.
"Ini giliran Mbak." Dinda membuka tirai panggung, menyeka air mata haru yang merusak riasan matanya.
Shanaya membetulkan kerah kemeja putihnya. Ia mengenakan celana lurus bahan hitam dan kemeja putih tanpa perhiasan apa pun. Sangat kontras dengan koleksi rancangannya yang glamor. Ia membiarkan karyanya yang bersuara paling lantang malam ini.