Setelah Andra menikah lagi, Armila berubah. Ia menjadikan suaminya ini ada, tapi tiada. Sapaan, rayuan dan keberadaanku serupa angin lalu.
Diamnya armila membuat Andra stres.
Pernikahannya dengan resti pun menjadi tidak harmonis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saskiah Khairani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TAK SANGGUP
ARMILA
Entah apa yang membuatku berani berkata seperti itu. Mengatakan sesuatu yang bahkan tak pernah terlintas sebelumnya di cerukan kepala. Mana mungkin aku meletakkan hati pada pria lain bahkan sampai berniat menikah dengannya.
Mungkin gumpalan amarah sekaligus kesedihan terlalu kuat mendesak hingga memunculkan sebuah pembelaan diri. Ya, lemparan tuduhan dari Mas Andra kuat sekali menohok dinding-dinding harga diri hingga bereaksi sedahsyat ini.
Kalimat itu telah terucapkan, tak mungkin ditarik kembali. Mengklarifikasi pun tak mungkin, jadi lebih baik kulanjutkan saja untuk menghantam balik pria tak tahu diri ini.
"Kenapa, mas tak menyangka 'kan? Kamu pikir aku wanita bodoh yang bisa bertahan selamanya dengan pria bodoh! Atau Aku wanita yang akan pasrah diinjak-injak oleh jalang bernama Resti di setiap harinya? Atau menunggu ditendang dari rumah ini sebagai gelandangan? Pikirmu semua orang tidak punya otak?"
Aku menghentakkan tangan mas Andra yang masih menempel di bahu. Cengkramannya telah melunak. Kegarangannya pun luluh lantak.
"Jika ada pria baik menawarkan cinta dan kebahagiaan hidup mengapa barus bertahan dengan lelaki yang air mataku pun tak mampu meluluhkannya? Bahkan, sebagai suami kamu tak mampu membelaku dari kejahatan wanita lain yang berambisi untuk melenyapkannya! Bahkan dengan mudah percaya begitu saja pada sebuah fitnah yang kuyakin dari perempuan laknat itu!"
Inilah badai salju yang tersembunyi di balik kebekuan dua bulan ini.
Muntahannya bahkan bisa melumat seluruh jiwa dan raga mas Andra.
Kobaran api yang tadi melingkupi Mas Andra padam seketika. Tubuh pria itu limbung hingga perlu sandaran untuk menopangnya. Ia mengempaskan diri di tepi ranjang, lalu mengusap wajahnya kasar.
Sesungguhnya keadaan tubuhku pun tak jauh beda. Dua kaki ini seperti kehilangan kemampuan menopang beban raga. Aku butuh sandaran agar tak segera ambruk ke lantai.
Karena sudah tak sanggup, aku meluncurkan diri ke lantai. Aku hanya butuh duduk, bukan ingin menangis atau menperlihatkan diri lemah di hadapan fitnah.
Kurasakan tangannya menyentuh bahu ini. Lalu berubah menjadi dekapan pada tubuh wanita yang dekapan pada tubuh wanita yang tengah berjatuhan air matanya. Aku merasakan pelukannya semakin erat hingga punggung ini menempel pada dadanya.
Tak ada kata yang keluar setelah ini dari bibir kami. Hanya helaan berat di bibirnya serta isakan dari sisiku.
Aku minta izin pada masa Andra untuk tidur di kamar lain saat ini. Aku butuh merenungkan perjalanan hidup yang terlalu dalam menorehkan luka. Kami sama-sama perlu menenangkan pikiran dan hati agar tak salah mengambil keputusan.
"Biar aku yang tidur di kamar lain, kau di sini saja!"
Lepas berkata begitu, mas Andra berlalu. Ia tak menengok lagi hingga tubuhnya menghilang di balik pintu.
Aku tetap memandang ke arah pintu walau ia tak lagi ada di sana.
Menghilangnya sosok itu membawaku pada satu hayalan jika kepergian tersebut untuk selamanya. Apa aku telah siap kehilangan semua kenangan kami.
Tentang canda tawa, senyuman dan kebahagian. Tentang pelukan, kehangatan dan kenyamanan. Pun saat kami menangis bersama dalam menyambut kehadiran buah hati tercinta.
Kurebahkan tubuh yang sedang kehilangan kekuatan. Mata ini menerawang ke arah plafon dan menembusnya hingga mengawang menuju angkasa.
Di ingatan ini kejar mengejar kenangan suka dan duka. Awal perjumpaan, jatuh cinta hingga mengikat janji setia.
Tapi, seluruh sketsa itu seolah musnah oleh terjangan pengkhianatan. Ibarat badai yang menghantam apa saja yang ada di depannya.
Kini, kebahagiaan itu tinggal puing-puing yang terserak. Hampir tak ada sisa reruntuhan yang dapat ditegakkan kembali. Jikapun akan diperbaiki, butuh pengorbanan besar dicurahkan.
Di sini aku memandangi puing, lalu meratapi. Mengapa harus ada badai yang menghancurkan segalanya. Mengapa harus aku yang mengalami semua ini.
Tuhan, aku sakit hati!
Tuhan, aku tak sanggup lagi.
Tuhan, tolong akhiri derita ini.
Di tiap hari aku harus menahan sakit yang menusuk-nusuk hati. Hampir-hampir di semua bagian kepingan merah itu telah berdarah.
Selama ini aku bertahan atas keadaan sebab tak mau mengambil sembarang keputusan. Meski tertatih, aku mencoba terus mewaraskan pikiran dan perasaan. Menahan agar tak terjadi ledakan yang akan lebih membumihanguskan sisa-sisa reruntuhan.
Tapi, kejadian kali ini membuatku semakin sadar bahwa menetap di sisa reruntuhan cinta itu membahayakan. Fitnah demi fitnah akan terus menyerang. Bahkan, nyawaku dan Affan jadi taruhan.
Resti bukan wanita baik yang memang menginginkan sebuah rumah tangga sakinah. Ia lebih mirip siluman yang hendak menguasai mas Andra keseluruhan. Wanita jahat itu telah dan sedang merencanakan kehancuranku.
Hidup bersama wanita seperti itu tak berfaedah sama sekali. Tinggal menunggu waktu saja kehancuran hidupku ini.
Aku berani mengambil keputusan untuk menyelamatkan diri, juga melindungi bayi mungil itu. Cerai memanglah sesuatu yang dibenci, tapi jika tak ada jalan lain Tuhan pun memperkenankannya.