NovelToon NovelToon
TUMBAL PESUGIHAN LANANG SEWU

TUMBAL PESUGIHAN LANANG SEWU

Status: sedang berlangsung
Genre:Spiritual / Iblis / Tumbal / Misteri
Popularitas:428
Nilai: 5
Nama Author: Towang Risawang

Dihimpit hutang dan keputusasaan, Agus, seorang pria penuh ambisi yang gagal, meyakinkan istrinya, Endang, untuk melakukan pesugihan Lanang Sewu, meskipun ritualnya menuntut pengorbanan keintiman yang sakral. Untuk mempertahankan kehormatan istrinya, Agus merencanakan penipuan tingkat tinggi: menyewa Sari, seorang wanita yang memiliki kemiripan fisik dengan Endang, dan menyamarkannya secara spiritual menggunakan sihir. Penipuan ini berhasil. Mereka hidup dalam kemewahan sementara waktu, menikmati hadiah dari Raden Titi Kusumo, entitas pesugihan yang karismatik tapi terluka secara emosional. Namun, kecerdasan spiritual Titi Kusumo perlahan mencium kepalsuan itu. Ketika penyamaran terbongkar, semua kekayaan lenyap, dan Titi Kusumo memulai pembalasan keji, menargetkan tidak hanya nyawa Agus dan Endang, tetapi juga orang-orang tak bersalah di sekitar mereka, memaksa pasangan itu menghadapi kebenaran pahit bahwa penebusan sejati tidak dapat dibeli.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Towang Risawang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Penghalang Spiritual

Agus hanya bisa berdiri membeku, menyaksikan keris itu menghunjam turun ke arah Sari, sang tumbal palsu, yang kini sudah dikosongkan jiwanya oleh Mbah Jari.

SRETTT.

Keris yang bersinar merah darah itu menghujam bukan ke Sari, melainkan ke kuali besi di sampingnya, membelah wadah itu menjadi dua dengan presisi gaib yang mengerikan. Cairan hitam pekat yang mengepul menyembur ke segala arah, uapnya yang panas dan amis menyentuh kulit Mbah Jari dan Agus, menghasilkan luka bakar yang menyakitkan, bukan fisik, melainkan luka bakar spiritual yang membuat jiwa mereka meronta.

Mbah Jari menjerit, mencengkeram wajahnya. “Kutukan! Itu kutukan! Kau tidak bisa menyentuhku!”

Raden Titi Kusumo melangkah maju, tanpa ekspresi. Kekuatan yang ia pancarkan jauh melampaui apa pun yang pernah Agus bayangkan. Ini bukan sekadar siluman, tapi manifestasi amarah kerajaan yang kuno.

“Kau mencemari perjanjian yang suci, Jari,” suara Titi Kusumo bergetar, membawa resonansi gemuruh. “Kau berusaha menipu rasa sakitku dengan darah yang dingin. Aku tidak menghukum tumbal itu. Aku menghukum pengkhianat.”

Titi Kusumo membiarkan keris itu jatuh. Ia mengangkat tangannya yang mengenakan sarung tangan sutra hitam. Energi kegelapan yang pekat mulai berputar di ujung jarinya, mengarah ke Mbah Jari.

“Tidak! Jangan!” Mbah Jari mencoba merangkak mundur, menjauhi gubuknya sendiri. “Aku hanya menjalankan perintah! Aku hanya perantara!”

“Perantara kepalsuan,” balas Titi Kusumo.

Energi itu menyambar Mbah Jari seperti cambuk. Tubuh Mbah Jari tersentak, matanya yang tajam dan menakutkan kini membelalak dalam keputusasaan yang sunyi. Sukmanya ditarik paksa dari raganya, meninggalkan cangkang kosong yang ambruk di tanah kering.

Agus terhuyung mundur. Ia tidak punya waktu untuk memikirkan uang atau cek. Semua rencana, semua perhitungan, semua kelicikan yang ia susun, hancur dalam hitungan detik. Mbah Jari, sang spesialis penyamaran astral yang dihargai seratus lima puluh juta, kini hanyalah mayat yang tergeletak di samping sungai kering.

Agus menatap Sari, yang masih terbaring tak sadarkan diri. Tumbalnya. Aset terakhirnya.

“Aku tidak bisa mengambilnya,” bisik Agus pada dirinya sendiri.

Titi Kusumo kini menoleh, matanya yang membara tertuju pada Agus. “Kau mau lari, Agus? Kau pikir kau bisa menyembunyikan kebohonganmu di balik hutan jati yang terbakar ini?”

Agus tidak menjawab. Ia bergegas mendekati Sari, mengangkat tubuhnya yang lemas dan memanggulnya. Sari terasa dingin dan ringan, seperti boneka yang baru diisi kapas.

“Aku harus pergi!” teriak Agus, berlari kencang menuju batas hutan tempat ia meninggalkan mobilnya.

Titi Kusumo tidak mengejar. Ia hanya tertawa, tawa yang dingin dan penuh kemenangan, yang menggema di hutan mati itu. “Lari, Agus. Lari sejauh mungkin. Aku ingin melihat seberapa jauh kakimu bisa membawamu, sebelum aku datang untuk menagih. Kau tidak akan bisa keluar dari wilayahku.”

Agus tidak peduli dengan ancaman itu. Ia terus berlari, didorong oleh adrenalin dan ketakutan absolut. Ia mencapai mobilnya, membuka pintu belakang dengan kasar, dan melempar Sari ke kursi belakang. Uang tunai lima puluh juta dan cek yang tadi ia bawa dari Mbah Jari tergeletak di lantai mobil. Agus menyambar uang tunai itu dan membuang ceknya. Ia tidak lagi percaya pada janji uang.

Ia menyalakan mesin, menginjak gas tanpa ampun. Ban mobil memutar pasir dan ranting kering, mobil melaju kencang kembali ke jalan setapak yang sempit.

Saat ia mencapai jalanan utama, ia melihat ke spion. Tidak ada Titi Kusumo. Tidak ada asap. Hanya hutan jati yang terbakar, sunyi dan gelap. Rasa lega sesaat menyelimutinya, tetapi itu segera digantikan oleh ketegangan yang lebih besar.

Titi Kusumo tidak perlu mengejar. Ia sudah ada di sini.

Agus mengemudi selama sepuluh menit. Ia seharusnya sudah mencapai pertigaan jalan yang menuju ke jalan tol. Tetapi ia tidak melihat apa-apa selain pepohonan yang tak berujung dan gelap.

“Di mana jalan tolnya?” gumam Agus, mencondongkan tubuh ke depan.

Ia memperlambat laju mobil. Jalanan terlihat sama persis seperti lima menit yang lalu: aspal retak, semak-semak lebat. Ia tidak ingat melihat pohon beringin yang sangat besar ini sebelumnya.

Ia menghentikan mobil. Ia mengecek GPS di ponselnya, tetapi tidak ada sinyal sama sekali. Ia kembali ke titik nol.

“Ini ilusi,” bisik Agus, jantungnya mulai berdebar kencang. Ia telah berputar-putar di tempat yang sama.

Ia mencoba menenangkan dirinya. “Aku hanya lelah. Aku hanya panik.”

Ia kembali melajukan mobilnya, kali ini lebih lambat, mencoba mencari tanda-tanda yang familiar. Tiba-tiba, ia mendengar suara tawa dari kursi belakang.

Agus menoleh ke belakang. Sari masih tidak sadarkan diri, tetapi kepalanya bersandar ke jendela, dan matanya sedikit terbuka. Tatapan itu kosong, tetapi bibirnya menyunggingkan senyum.

“Kenapa kamu tertawa?” tanya Agus, suaranya serak.

Sari tidak menjawab. Namun, tawa itu berlanjut, kini terdengar seperti tawa Endang yang mengejek.

“Kau pikir kau bisa lari dariku, Lanang?” bisik suara itu, terdengar bukan dari mulut Sari, tetapi dari speaker mobil yang mati.

Agus menjerit, menginjak rem mendadak. Mobilnya terhenti.

“Titi Kusumo!” teriak Agus. “Jangan ganggu aku! Aku akan mengembalikan apa pun yang kau berikan!”

Keheningan. Lalu suara Endang lagi, lebih dekat, seolah-olah Endang sedang duduk di kursi penumpang.

“Endang yang asli sudah menolakmu, Agus. Kau ingin menukar Endang yang palsu, tetapi Endang yang palsu ini sudah kotor oleh sentuhan Mbah Jari. Aku tidak mau sisa-sisa. Aku mau yang murni.”

Agus melihat ke kursi penumpang. Tidak ada siapa-siapa. Ia menoleh ke spion, dan ia melihat refleksi Sari. Tetapi refleksi Sari kini memiliki bercak hitam besar di pergelangan tangannya, sama persis seperti tanda yang ditinggalkan Titi Kusumo pada Endang.

“Apa yang kau lakukan pada Sari?” tuntut Agus, panik.

“Aku hanya mempercepat prosesnya,” jawab Titi Kusumo, suaranya kini terdengar seperti bisikan di telinga Agus. “Kau ingin tumbal yang sempurna? Aku akan menyempurnakannya. Kau ingin Endang palsu? Aku akan membuatnya menjadi tumbal yang sesungguhnya. Kau hanya butuh satu pengorbanan, Agus. Dan pengorbanan itu harus tulus. Entah Endang, atau Sari yang percaya bahwa dia adalah Endang.”

Agus gemetar. Ia menyadari kengerian rencana Titi Kusumo. Entitas itu tidak hanya ingin balas dendam; ia ingin menyempurnakan ritualnya, menggunakan Sari sebagai wadah, dan mengambil Sari pati spiritualnya.

Tiba-tiba, kaca depan mobil Agus diselimuti oleh kabut tebal, bukan kabut biasa, tetapi kabut yang berbau melati dan logam. Agus tidak bisa melihat apa-apa di luar. Ia mencoba menyalakan wiper, tetapi kabut itu tebal dan tidak bergerak.

“Kau tidak akan pergi ke mana-mana, Agus. Aku akan membuatmu menyaksikan bagaimana tumbalmu dikuasai oleh kegelapan,” bisik Titi Kusumo.

Agus panik, ia mencoba memundurkan mobil, tetapi ia mendengar bunyi benturan keras dari belakang. Ia menoleh ke belakang, dan melalui kabut tipis di kaca belakang, ia melihat sekilas siluet besar, seperti pohon tumbang yang menghalangi jalan.

Ia terjebak.

Agus meraih Sari, mencoba membangunkannya. “Sari! Bangun! Kita harus keluar dari sini!”

Sari hanya mengerang, matanya setengah terbuka. Agus menggoncangnya.

“Kamu harus bangun! Titi Kusumo akan mengambilmu!”

Sari menatap Agus, dan kali ini, senyum itu bukan senyum Endang, melainkan senyum kosong yang dingin dan jahat.

“Aku sudah mati, Agus,” bisik Sari, suaranya pelan, tetapi jelas. “Kamu yang membunuhku. Dan sekarang, aku akan menjadi milik Pangeran.”

Sari mengangkat pergelangan tangannya. Bercak hitam itu kini menyebar, membentuk garis-garis tipis seperti urat nadi yang menghitam.

“Dia sudah mengambil sebagian dariku,” kata Sari.

Tiba-tiba, Sari mencengkeram lengan Agus dengan kekuatan yang luar biasa. Cengkeraman itu dingin, sedingin es, dan Agus merasakan energi negatif mengalir ke tubuhnya.

“Aku akan memberimu jalan keluar, Agus,” kata Sari, tetapi suaranya kini adalah suara Titi Kusumo yang diSaring melalui pita suara Sari. “Kembali ke Endang. Dan berikan aku pengorbanan yang tulus, atau aku akan menggunakan wadah ini untuk menghancurkanmu dan istrimu. Aku hanya butuh—"

Pintu mobil Agus tiba-tiba terlepas dari engselnya dengan suara KRAKK, terlempar jauh ke dalam semak-semak. Angin dingin menerpa wajah Agus, membawa bau melati busuk.

Di ambang pintu yang kosong, berdiri sesosok prajurit khodam tinggi, mengenakan zirah kuno, wajahnya tertutup helm besi yang dingin. Prajurit itu mengangkat tombaknya, dan ujung tombak itu diarahkan tepat ke jantung Sari yang kini terbaring pasrah di kursi belakang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!