Lue Ang yang hampir mati diselamatkan oleh wanita tua, di sana Lue Ang diberitahu kalau dirinya memiliki spirit.
Untuk membalaskan dendam yang diterimanya selama ini, Lue Ang mencoba berkulivasi dan mengembangkan spirit yang ada di dalam tubuhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cici aremanita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kembali Pergi
Lue Ang menghampiri penjaga yang terlihat sangat mengkhawatirkan sang pangeran, sebenarnya Lue Ang tidak ingin menggunakan herbal berharganya untuk orang lain, tapi setelah melihat penjaga yang dengan tulus mengkhawatirkan sang pangeran Lue Ang mengeluarkan sesuatu dari dalam cincin penyimpanannya.
"Ambillah ini," ucap Lue Ang.
Terlihat kebingungan di wajah penjaga yang melihat Lue Ang memberikan bunga padanya, Lue Ang yang melihat itu menarik nafas sebelum menjelaskan.
"Bunga ini bukan sembarang bunga, taruh saja di hidungnya dan sedikit tekan tidak lama dia akan sadar," ucap Lue Ang.
"Baiklah aku akan percaya," sahut penjaga yang langsung menuruti perkataan Lue Ang.
Beberapa saat kemudian Pangeran perlahan membuka matanya, melihat penjaganya nya sudah kembali Pangeran menarik nafas panjang, sang pangeran mengira penjaganya sudah mati lebih dulu darinya.
"Bagaimana?" Tanya pangeran.
"Tidak, Raja hanya mengirim dua prajurit untuk mengawal Pangeran ke perguruan," ucap sang penjaga.
"Aku sudah menduganya," sahut pangeran.
"Jadi para pembunuh bayaran sudah diatasi mereka," sambung Pangeran.
"Sebenarnya aku terlambat datang, sesampainya di sini kami melihat kedua pembunuh bayaran sudah mati, ada seorang pria yang sudah membunuh mereka orang itu juga memberikan kelopak ini untuk menyadarkan Pangeran," ucap sang penjaga.
"Apa kamu yakin yang baru saja kamu katakan?" Tanya Pangeran.
"Pangeran bisa melihatnya sendiri," sahut sang penjaga.
Pangeran yang merasa penasaran siapa yang menolongnya bergegas keluar dan turun dari kereta kuda, Pangeran menghampiri Lue Ang yang sedang bicara dengan kedua prajurit.
Dari kereta kuda yang terbuka Pangeran terus memperhatikan Lue Ang, Lue Ang mungkin lebih muda darinya tapi bisa menghabisi dua pembunuh bayaran, sebenarnya siapa dia dan dari mana asalnya pikir Pangeran.
"Apa kamu yang sudah membunuh mereka?" Tanya salah satu prajurit.
"Itu hanya kebetulan saja karena anggota lain dari pembunuh bayaran itu sudah aku bunuh sebelumnya, aku melakukannya bukan untuk membantu kalian," sahut Lue Ang.
"Kalau begitu kami mewakili keluarga kerajaan berterima kasih padamu," sahut prajurit lainnya.
"Itu tidak perlu," ucap Lue Ang bersiap pergi.
"Kalau boleh tau ke mana kamu akan pergi?" Tanya sang prajurit.
"Ke perguruan Langit Tinggi," sahut Lue Ang.
Kedua prajurit yang mendengar Ke mana tujuan Lue Ang saling pandang, sangat kebetulan sekali Pangeran mereka juga akan pergi ke perguruan Langit Tinggi.
Keduanya menatap satu sama lain karena berpikiran sama, jika Pangeran pergi bersamanya pasti akan lebih aman dan itu mengurangi tugas mereka untuk menjaga pangeran.
"Tunggu, kamu yang sudah menyelamatkanku bukan?" Tanya Pangeran Zuan.
"Aku hanya menyelesaikan dendam pribadi pada mereka, aku tidak berniat menyelamatkan siapapun," ucap Lue Ang.
"Tidak peduli apapun alasannya kamu sudah membantuku, kita memiliki tujuan yang sama kamu bisa ikut dengan ku," sahut Pangeran Zuan.
"Dia memang sudah menyelamatkan Pangeran tapi satu kereta kuda dengan orang biasa itu menyalahi aturan kerajaan," ucap sang penjaga.
"Yang dikatakan penjaga benar, tapi jika kamu menggantikan kusir bukankah tidak masalah," sahut salah satu prajurit.
"Dia sudah menyelamatkan ku bagaimana bisa menjadi Kusir," ucap Pangeran Zuan.
"Pangeran harga diri keluarga kerajaan juga akan dipertaruhkan jika Pangeran menaiki satu kereta kuda dengan orang biasa, apalagi orang itu tidak memiliki hubungan apapun dengan Pangeran," sahut salah satu prajurit.
"Tapi dia sudah menyelamatkan ku," ucap Pangeran Zuan.
"Itu bukan sesuatu yang bisa membuatnya naik satu kereta dengan seorang Pangeran," sahut prajurit lain.
Lue Ang bisa mendengar perdebatan prajurit dan Pangeran, padahal dirinya belum tentu setuju untuk menjadi keduanya tapi Pangeran dan Prajurit malah terus berdebat sendiri.
"Menjadi Kusir jauh lebih baik, dengan begitu kamu akan lebih cepat sampai ke perguruan Langit Tinggi," ucap Ameng.
"Sebenarnya aku juga berpikir seperti itu," sahut Lue Ang sambil tersenyum.
"Jadi apa kamu bisa membawa kereta kuda?" tanya Ameng.
"Tentu saja," sahut Lue Ang.
"Bagaimana? Apa kamu menerimanya?" Tanya salah satu prajurit.
"Aku menerimanya dengan dua syarat, itu juga jika kalian tidak keberatan," ucap Lue Ang.
"Katakan saja, asal permintaan mu tidak sulit pasti akan kami kabulkan," sahut prajurit lainnya.
"Yang pertama aku hanya mengantarnya sampai perguruan Langit Tinggi dengan selamat setelah itu aku tidak akan terlibat dengannya lagi, kedua aku tidak ingin kalian ikut karena itu mengganggu ku," ucap Lue Ang.
Kedua prajurit saling pandang satu sama lain, kedua syarat yang diminta oleh Lue Ang sama sekali tidak berat dan itu malah menguntungkan mereka tentu saja mereka harus segera menyetujuinya.
"Tidak masalah, karena kamu juga menjamin keselamatan Pengeran Zuan kami bahkan akan memberitahu Raja agar nanti Raja menyiapkan hadiah untukmu," ucap salah satu prajurit.
"Itu tidak perlu, kalau begitu kami berangkat sekarang karena perjalanan menuju perguruan Langit Tinggi sangat jauh," sahut Lue Ang.
Lue Ang yang sudah naik mencoba memperhatikan sekilas kuda di depannya, kuda terlihat baik baik saja dan tidak nampak terluka sedikitpun, perjalanan mereka bisa dilanjutkan dengan cepat.
"Kita berangkat sekarang," ucap Lue Ang.
Pangeran Zuan dan penjaganya yang masih berada di bawah bergegas naik kembali ke kereta kuda, tepat setelah masuk ke dalam kereta kuda Pangeran Zuan terlihat tenang berbeda dari sebelumnya.
Klotak klotak klotak.
Lue Ang membawa kereta kuda seperti sudah terbiasa mengendalikannya, saat masih berada di kediaman cabang keluarga Ang hampir setiap hari disuruh membersihkan kandang kuda, Lue Ang mengambil kesempatan itu untuk berlatih menunggangi kuda dan mengendalikannya.
Lue Ang tersenyum sendiri karena dirinya tidak lagi berjalan kaki seperti sebelumnya, walau sebenarnya dirinya tidak berniat sama sekali menjadi Kusir seorang Pangeran kerajaan.
Perjalanan benar benar menjadi lebih singkat, dari perkiraan Lue Ang tidak lama lagi mereka akan sampai di kota tempat perguruan Langit Tinggi berdiri, tugas menjadi Kusir juga sebentar lagi akan selesai setibanya di sana.
"Sepertinya kamu memang tidak banyak berbicara," ucap Pangeran Zuan dari dalam kereta.
"Aku hanya berbicara pada orang yang aku kenal," sahut Lue Ang.
"Berani sekali kamu berkata seperti itu," ucap sang penjaga.
"Aku hanya mengatakan yang sebenarnya, terlalu banyak bicara bisa membuat kita mendapatkan banyak masalah," sahut Lue Ang.
"Tidak apa," ucap Pangeran Zuan.
"Kalau boleh tahu kenapa kamu ingin pergi ke perguruan Langit Tinggi?" Tanya Pangeran Zuan.
"Itu urusan ku," ucap Lue Ang.
"Dari yang sudah kulihat sepertinya kamu tidak ingin ke perguruan Langit Tinggi, aku hanya ingin mengatakan memaksakan diri memang tidak bagus tapi itu bukan urusan ku," sambung Lue Ang
Pangeran Zuan seketika terdiam, dirinya ingin mengakrabkan diri dengan Lue Ang tapi sepertinya orang yang sudah membantunya itu tidak berniat demikian.