Saat langit retak dan hukum purba kembali berkuasa, manusia jatuh ke dasar rantai makanan. Di tengah keputusasaan itu, Rifana bangkit dengan luka yang tak kunjung sembuh dan ingatan yang perlahan terasa asing.
Di dunia di mana para Superhuman mulai membangun tatanan baru di atas reruntuhan, Rifana hanyalah anomali yang membawa aroma maut ke mana pun ia melangkah. Dia tidak memiliki kekuatan yang memukau, hanya kemampuan adaptasi yang gila dan perasaan bahwa dirinya bukan lagi manusia yang sama.
Berapa lama dia bisa bertahan di dunia yang tak lagi mengenali keberadaannya? Dan apa yang sebenarnya mengawasi dari balik fajar yang tak kunjung tiba?
Jadwal Up : 18.30 WIB
6-7 Ch/minggu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lloomi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nafas terakhir Bumi
"Ah sialan hujan lagi" Gerutu seorang pemuda di dalam hatinya, langkahnya lemah berjalan dibalik gelapnya malam.
Rifana tak tahu harus kemana, kakinya berkedut beberapa kali saat rintik hujan mulai turun dari cakrawala membasahi pakaiannya secara perlahan.
Mendongak ke langit, air yang dingin mengalir menembus pori-porinya, "Yah pulang aja dah" Menggaruk rambut hitamnya yang terurai, sebenarnya tak ada alasan untuknya di luar pada jam ini.
Namun dia bosan di rumah, setelah lulus dari sekolah ia mengurung diri selama beberapa tahun.
Mengingat hal itu selalu membuat Rifana aneh, rasa sedih dan amarah tercampur dalam emosinya, tinjunya yang terkepal perlahan lemas kembali setelah beberapa tarikan nafas.
"Mengapa aku mengingat itu lagi" Wajahnya suram, ada beberapa hal yang selalu ingin ia lupakan bahkan baginya butuh waktu lama untuk melupakan sesuatu.
Matanya mengamati suasana malam kota yang sepi, tak jauh di depannya Rifana melihat dua remaja yang tampaknya dalam perjalanan pulang.
"Gua masih ga nyangka sih bro, tadi it-" Belum selesai dengan perkataannya, remaja lain disampingnya mengambil kesempatan itu.
"Ah batu sih lu, kata gua juga apa" Remaja berhoodie menyela temannya, "Film itu bener bener layak buat ditonton kan, lu nya aja gamau percaya" Dia mendengus meraih bahu temannya.
Rifana melihat mereka dengan aneh, 'Film ya?' tanpa sadar ia merasa iri pada keduanya. Bukan berarti dia tidak pernah menonton film, hanya saja perasaan itu sedikit berbeda saat kesendirian terus memeluknya.
Tak ada hal lain yang bisa dilakukannya selain menghela nafas panjang.
'Gini nih kalo gapunya temen' gumamnya pasrah, bertahun tahun terisolasi dalam kesendirian kemampuan sosialnya menjadi sangat buruk.
Dia dengan cepat melewati kedua remaja itu yang kini asik berbincang tentang film yang baru saja mereka tonton.
Di tengah jalan langkahnya terhenti saat sesuatu di dalam sakunya bergetar pelan.
Brt.. 'huh?' dengan cepat ia merogoh sakunya untuk mengambil ponsel model lama yang digunakannya.
"Notif?" Pikirnya cepat, namun akal sehatnya menyangkal sebagai balasan 'Ah mikir apa coba gua, mana ada notif sial' Ia menekan tombol power dan melihat.
Matanya menelusuri layar ponsel itu, namun rintik hujan yang jatuh mengenai layar membuatnya bergerak secara acak.
'Eh sial,' Layar itu berkedip beberapa kali membuat Rifana panik dan mencoba mengusapnya dengan bagian bajunya yang belum basah 'Mending gua pulang dulu dah, palingan juga notif dari aplikasi yang gapernah kepake'
Itu wajar, lagipula notifikasi apa yang akan muncul di ponsel seorang introvert yang tak punya teman kaya dia? Paling mungkin notifikasi dari aplikasi acak yang nawarin langganan mahal yang bahkan ga bakal pernah dia lirik sebelumnya.
Atau notif dari update bab terbaru webnovel favoritnya.
Tapi pikiran itu dengan cepat hilang darinya, terakhir kali ia membaca itu seminggu yang lalu dan sang author mengatakan akan hiatus selama beberapa hari, itulah mengapa dia kebosanan saat ini.
Dia memasukan ponsel kedalam sakunya dan menyusuri langkahnya kembali. Hujan diluar semakin membesar, tak memberikan pilihan baginya selain berteduh.
Tep.. Tep..
Langkahnya cepat 'Harusnya disini' dia berbelok di salah satu jalan, dan setelah beberapa saat sebuah minimarket terlihat di sisi jalan 'Nah itu dia' Rifana berlari lebih cepat dan masuk kedalam.
'Akhirnya...' Dia berjalan terhuyung dan duduk di kursi besi yang terletak di depan. Ia menepuk bagian celananya yang kotor dengan tanah setelah berlari melewati taman.
Gerimis itu kini telah bertransformasi menjadi badai, petir menyambar beberapa kali membuat langit yang gelap berkedip beberapa kali.
Membuka ponselnya, Rifana melihat jam yang kini menunjukan pukul 23.12 kini ia terjebak disini tanpa bisa pulang.
'Ha... Syukurlah tempat ini masih buka' Setelah menghela nafas lega ia menyandarkan punggungnya kebelakang, ingatannya tentang tempat ini telah kabur ditelan waktu.
Kapan terakhir kali dia kesini? Ia tak yakin, mungkin 4 tahun yang lalu. Dia tak ingat pasti, saat itu ia masih bersekolah dan seringkali datang kemari sebelum pulang ke rumah.
Rumahnya berjarak 2 KM dari sini, itu menyadarkannya kalau dia pergi terlalu jauh tadi, 'Kenapa coba gua malah jalan keluar ya?' Rifana memikirkan keputusannya.
Itu melelahkan, namun setidaknya tubuhnya bergerak setelah lama diam jadi sebenarnya tak begitu buruk.
Hanya saja. Ugh, merasakan kakinya berdenyut Rifana memijat betisnya secara perlahan 'Beneran kambuh dong, sialan, ngide gini ya gua' Kakinya terus berdenyut.
Rasanya panas dan aneh, Rifana tak tahu apa yang terjadi dengan kakinya. Sejak lama telah seperti ini, namun saat dirinya pergi ke dokter semua jawabannya sama.
Semua dokter mengatakan kalau kakinya sehat dan tak memiliki masalah apapun.
Jadi apakah dia berhalusinasi sekarang? Tidak, karena rasa nyeri di kakinya begitu nyata hingga membuatnya lemas.
"Iseng bat iseng" gerutunya "Nyari masalah sih gua pergi ke luar, apa kebosenan bikin gua bego ya?"
Grr...
Rifana mematung 'Sempet ya gua laper?' melihat kedalam dia beranjak dari kursi dan berjalan tertatih masuk kedalam minimarket.
Saat ia melangkah masuk, bau harum yang aneh menusuk masuk kedalam hidungnya 'Benar benar nostalgia' Dia masih mengingat bau itu, 'Gua penasaran, si kakek itu masih ada gak ya?'
Rasa dingin semakin kuat saat ia masuk, udara AC ditambah dengan baju Rifana yang basah memperkuat rasa dingin itu.
"Halo apa ada orang?"Ucapnya di depan konter, namun setelah menunggu beberapa saat tak ada seorangpun yang datang "Kayanya lagi pada istirahat," Dia berbalik dan menyusuri bagian minuman, alisnya mengerut "Minumannya dingin semua cok"
Dia berjalan memutar dan mengambil salah satu cemilan di rak, keripik kentang rasa seaweed favoritnya. Ia hendak kembali ke kasir saat suara serak yang dalam memanggilnya dari belakang.
"Nak rifa apakah itu kamu?"
Dari balik ruang karyawan, sesosok pria tua berjalan bungkuk menyelinap ke konter kasir.
Rambutnya yang memutih mengalami kebotakan di beberapa sisi, memantulkan cahaya lampu yang terang.
Rifana melihat pria tua itu dan tersenyum "Ini aku, lama tak bertemu pak tua" Dia membawa camilan itu ke konter dan "Apakah kopi masih ada?" Tanyanya pada pria tua itu.
Dibalik konter pria itu menggelengkan kepalanya "Kau tak berubah ya nak" Dia kemudian mengambil gelas kertas di sisi dan berjalan ke mesin air panas di sisi lainnya.
"Yang biasa?"
"Ya, yang biasa" Ucap Rifana menjawabnya.
Dia tak ingat pasti tentang pria tua ini, setelah kejadian beberapa tahun yang lalu memorinya selalu terasa salah di beberapa tempat.
Rifana mengamati pria itu yang dengan cepat membuat segelas kopi dan menempatkannya di konter, pria tua itu meraih camilan Rifana dan mengecek harganya.
"Baiklah, itu 32K" Dia tak mengatakan hal lain dan berbalik kebelakang.
Rifana mengeluarkan ponselnya dan dengan cepat membayar dengan QR, tanpa kata dia membawa kopi dan keripik yang dibelinya.
Dia berbalik dan hendak keluar, namun mengejutkan.
"Eh.." Matanya membelalak.
Melalui kaca tipis, badai berkecamuk dengan keras. Angin yang dingin membawa bau getir yang aneh ke seluruh tempat.
Layaknya seseorang yang bernafas, angin berembus dalam ritme yang beraturan.
Rifana ditinggalkan tanpa kata, matanya menyaksikan segalanya; Kekacauan itu terjadi dengan kecepatan yang gila.
Entah berapa lama waktu yang berlalu, ritme itu mulai kacau dan terburu-buru. Dan dengan putus asa, yang terakhir.
Telah dihembuskan.
Visi Rifana terguncang, langit yang gelap telah pecah menjadi ribuan kepingan cahaya, menciptakan gugusan bintang-bintang yang berkedip dengan cahaya yang gemilang.
Terpesona oleh keagungan surgawi, pikirannya kosong. Dan untuk sesaat, dia kehilangan segalanya, seolah jiwanya ditarik keluar secara paksa; tubuhnya lemah tanpa kuasa.
Sungguh keindahan yang menghancurkan, sistem saraf Rifana menjerit merasakan bahaya, bulu kuduknya menegang dengan kulitnya yang mulai mendingin.
Keringat dingin mengucur deras melewati keningnya, dan dalam sekejap.
Dunia menjadi kabur.
"Gelap..."
Rifana, kehilangan kesadarannya.