NovelToon NovelToon
Tanah Berdebu

Tanah Berdebu

Status: sedang berlangsung
Genre:Pernikahan rahasia
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Warning !!!
Cerita ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat, atau alur, Adalah Hasil Imajinasi Penulis, Murni Kebetulan Semata. Interpretasi agama dalam cerita ini merupakan bagian dari pengembangan karakter dan tidak dimaksudkan untuk mengubah ajaran atau akidah yang ada. Terimakasih 🙏

Di balik jubah sucinya sebagai pewaris pesantren, Zavier El-Shaarawy menjalani kehidupan ganda yang gelap di gemerlap Kota A. Sebagai pria liar yang haus kebebasan, ia terjerat dalam asmara membara bersama Zaheera Bareeka, gadis kota yang menjadi pusat dunianya. Namun, rahasia itu runtuh saat takdir menyeret mereka kembali ke tembok pesantren yang kaku.
Demi menutupi dosa dan menyelamatkan kehormatan keluarga, Zavier nekat membawa Zaheera masuk ke dunianya. Di bawah pengawasan Keluarga, sebuah pernikahan rahasia dilangsungkan demi menghalalkan sentuhan yang terlanjur melampaui batas.

Happy Reading Dear 🤗🌷

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#1

Kota A tidak pernah tidur; ia hanya berdenyut dalam ritme yang semakin liar saat matahari terbenam. Malam ini, di salah satu klub malam paling eksklusif di jantung kota, udara terasa berat, kental dengan aroma whisky mahal yang menguap, asap rokok elektrik, dan parfum desainer yang bercampur menjadi satu.

Dentuman bass dari musik techno bervolume tinggi tidak sekadar terdengar, melainkan terasa, menggetarkan lantai marmer dan detak jantung siapa pun yang berani masuk ke dalamnya.

Di tengah lantai dansa yang penuh sesak, di bawah sorotan lampu strobe yang berdenyut warna-warni, sepasang kekasih berdiri membeku, seolah-olah dunia di sekitar mereka telah berhenti. Zavier El-Shaarawy mencengkeram pinggang Zaheera Bareeka dengan posesif, menariknya begitu rapat hingga tidak ada lagi celah udara di antara mereka. Bibir mereka bertautan dalam sebuah ciuman yang dalam, penuh tuntutan, dan sarat akan keputusasaan yang menyakitkan.

Mereka tidak memedulikan tatapan mata yang tertuju pada mereka. Teman-teman satu angkatan, bahkan orang asing yang lewat, semuanya diabaikan. Selama dua tahun ini, cinta mereka telah menjadi rahasia umum di kalangan pergaulan elite Kota A. Zavier, dengan rahang tegas dan tatapan mata yang tajam, adalah sosok karismatik yang selalu menjadi pusat perhatian. Zaheera, dengan kecantikan liarnya dan gaya fashion yang selalu berani, adalah ratu di setiap pesta.

Malam ini adalah pesta perayaan ganda: kelulusan mereka dari High School ternama dan perpisahan akbar. Namun, bagi Zavier dan Zaheera, ini bukanlah perayaan kemenangan, melainkan sebuah eksekusi mati bagi hubungan mereka yang penuh gairah.

Bibir mereka bertaut dalam ciuman yang dalam dan penuh keputusasaan. Tangan Zavier merengkuh pinggang Zaheera yang ramping, sementara jemari Zaheera tenggelam di rambut lebat kekasihnya.

Di sekolah, mereka adalah pasangan yang selalu membuat seluruh kelas berteriak histeris jika melihat keromantisan mereka. Mereka adalah definisi power couple remaja: kaya, rupawan, dan tak tersentuh.

Zavier melepaskan ciumannya perlahan, dahi mereka masih bersentuhan. Napasnya memburu di tengah panasnya ruangan.

"Maafkan aku, Sayang," bisik Zavier, suaranya parau tertelan dentuman musik. "Aku harus kembali ke kotaku besok. Aku tidak akan lagi di sini. Aku akan kuliah di sana, mengurus hal-hal yang sudah lama aku tinggalkan."

Mata Zaheera berkaca-kaca di bawah sorotan lampu neon. "Aku akan sangat merindukanmu, Zavi. kota ini nggak akan sama tanpa kamu."

"Aku juga akan merindukanmu, Zaheera. Lebih dari apa pun," jawab Zavier sungguh-sungguh.

Selama dua tahun berpacaran, Zaheera hanya tahu bahwa Zavier tinggal bersama paman dan bibinya di sebuah mansion mewah di kota A. Zavier tidak pernah secara spesifik menceritakan asalnya. Ia hanya bilang ia berasal dari "sebuah kota kecil yang tenang di sudut kota". Besok, mereka akan memulai babak baru yang paling mereka takuti: LDR

Esok pagi, Zavier harus meninggalkan semua gemerlap Kota A, whisky kesukaannya, teman-temannya yang riuh, dan yang paling berat: Zaheera, Kekasihnya. Ia harus kembali ke kampung halamannya, sebuah desa sunyi di pelosok kota, untuk memenuhi takdirnya.

"Huuu! Zavi! Zee! Get a room, woi!" teriak salah satu teman mereka, melempar serbet kain ke arah mereka sambil tertawa mabuk.

Ciuman itu terlepas perlahan. Napas Zavier memburu, matanya yang biasa tenang kini menggelap oleh emosi yang membuncah. Ia menyapukan ibu jarinya ke bibir Zaheera, menghapus sisa lipstik yang berantakan karena ciuman mereka. Zaheera menatapnya dengan mata yang mulai berkaca-kaca, kontras dengan eyeliner cat-eye-nya yang tajam.

"Aku akan sangat merindukanmu, Zavi..." bisik Zaheera, suaranya parau, hampir tenggelam oleh dentuman musik. Ia meremas kemeja satin hitam Zavier seolah takut pria itu akan menguap jika ia melepaskannya. "Kumohon... jangan pernah hilang kabar. Tetap beri kabar sampai di sana besok, oke? Janji padaku."

Zavier tersenyum tipis, sebuah senyum yang sarat akan kesedihan yang coba ia sembunyikan. Ia mencium kening Zaheera lama. "Tentu, Sayang. Aku janji. Aku tidak akan pernah melupakanmu. Aku mencintaimu, Zaheera Bareeka."

"Aku lebih mencintaimu, Zavier El-Shaarawy," balas Zaheera, air mata akhirnya jatuh membasahi pipinya yang mulus.

Pukul dua pagi. Pesta masih berlangsung liar, namun Zavier dan Zaheera memutuskan untuk melarikan diri. Mereka butuh waktu berdua, hanya mereka, sebelum realita yang kejam memisahkan mereka.

Zavier membawa Zaheera ke apartemen penthouse miliknya di lantai teratas gedung pencakar langit Kota A. Apartemen mewah itu adalah "istana rahasia" mereka selama dua tahun ini, tempat di mana Zavier menanggalkan jubah-nya dan menjadi pria liar yang hanya memuja Zaheera.

Pintu apartemen terbuka, menampakkan pemandangan city skyline Kota A yang memukau melalui dinding kaca raksasa. Aroma whisky single malt yang mahal dan wangi reed amber memenuhi ruangan. Tanpa menyalakan lampu, hanya diterangi oleh cahaya kota di kejauhan, Zavier kembali menarik Zaheera ke dalam pelukannya.

Kebutuhan mereka satu sama lain meledak menjadi gairah yang tak terbendung. Selama dua tahun, penyatuan seperti ini telah menjadi ritual mereka, sebuah cara untuk saling mengikat jiwa dan raga. Namun, malam ini rasanya berbeda. Malam ini sarat akan keputusasaan, sebuah upaya putus asa untuk mengukir memori sedalam-dalamnya di kulit mereka masing-masing, agar rasa itu tidak akan pernah pudar oleh jarak dan waktu.

Zavier mengangkat Zaheera, membawanya menuju ranjang king size yang empuk di kamar utama. Pakaian mereka terlepas satu per satu, berserakan di lantai marmer yang dingin, berjatuhan bersama air mata dan janji-janji yang dibisikkan dengan parau. Di bawah selimut sutra berwarna arang, mereka menyatu dalam ritme yang penuh emosi.

"Zavi... Zavi..." desah Zaheera, mencengkeram punggung kekasihnya dengan kuku-kukunya yang dicat merah maroon. Selama dua tahun, penyatuan seperti ini telah menjadi bahasa tubuh mereka, sebuah ritual untuk saling mengikat jiwa dan raga.

Zavier terengah, napasnya memburu di ceruk leher Zaheera, menghirup aroma parfum dan aroma tubuh kekasihnya yang sangat ia hafal. Ia bergerak dengan ritme yang penuh dengan keputusasaan, seolah-olah setiap gerakannya adalah sebuah upaya untuk mengukir rasa itu sedalam-dalamnya di kulit Zaheera, agar memori ini tidak akan pernah pudar oleh jarak dan waktu yang akan memisahkan mereka.

"Janji padaku, Zee... jangan pernah berpaling pada pria lain di kota ini," bisik Zavier di sela-sela kenikmatan yang membuncah. "Hanya aku, oke? Hanya aku."

"Hanya kamu, Zavi... hanya kamu, Aku bersumpah," balas Zaheera, air mata kebahagiaan dan kesedihan bercampur menjadi satu.

Ruangan itu dipenuhi dengan suara desahan yang bersahutan dengan janji-janji setia yang terus mereka ucapkan. Di bawah naungan cahaya gemerlap Kota A dari kejauhan, Zavier dan Zaheera merayakan malam terakhir mereka, mengubur masa lalu mereka yang liar dalam sebuah penyatuan yang paling intens yang pernah mereka lakukan.

Mereka tidak tahu apa yang akan terjadi esok, namun di dalam kamar ini, mereka adalah raja dan ratu atas takdir cinta mereka sendiri, meski hanya untuk satu malam lagi.

...****************...

Minggu pertama setelah kepergian Zavier adalah masa-masa yang sulit bagi Zaheera. Ponselnya adalah satu-satunya penyambung nyawa. Namun, perlahan tapi pasti, komunikasi mereka mulai tersendat.

"Maafkan aku, Sayang," suara Zavier terdengar kresek-kresek di telepon suatu malam, beberapa minggu setelah kepindahannya. "Di kampungku memang tidak ada sinyal. Kadang aku harus naik ke perbukitan hanya untuk mendapatkan satu bar sinyal agar bisa menelepon mu."

"Aku mengerti, Zavi," jawab Zaheera lesu, duduk di balkon kamarnya yang menghadap gemerlap lampu kota Jakarta. "Aku merindukanmu. Aku sangat mencintaimu."

"Aku juga mencintaimu, Zee. Sangat."

Yang tidak diketahui Zaheera adalah kebenaran pahit di balik hilangnya sinyal itu.

Di tempat Zavier berada, ponsel adalah barang haram. Zavier bukan sekadar "pulang kampung", ia kembali ke dunianya yang asli—dunia yang dibatasi pagar-pagar tinggi dan aturan ketat. Ponselnya berkali-kali dirazia oleh pengurus karena ia kedapatan menggunakannya secara sembunyi-sembunyi di jam pelajaran kitab.

Hingga akhirnya, komunikasi itu terputus total. Zavier hilang bak ditelan bumi. Tidak ada kabar, tidak ada pesan, tidak ada tanda-tanda kehidupan di media sosialnya. Zaheera patah hati, dan satu-satunya cara ia melarikan diri adalah dengan menenggelamkan diri lebih dalam ke dunia malam yang liar.

Minggu kedua, setelah komunikasi terakhir dengan Zavier, Zaheera berada di The Zenith lagi. Ia sedang menyesap gelas kelimanya malam itu, dikelilingi teman-temannya yang sibuk membicarakan fashion week di Paris, ketika ponselnya bergetar.

Nama 'Daddy Narendra' muncul di layar. Zaheera mengernyit. Daddynya jarang menelepon di jam seperti ini kecuali ada hal yang sangat mendesak.

"Yes, Dad? Aku lagi sama teman-teman nih," Zaheera berteriak melawan suara musik yang memekakkan telinga.

"Zaheera, pulang sekarang. Kita akan pindah ke rumah baru besok pagi," suara Narendra terdengar sangat tenang, terlalu tenang untuk ukuran pria yang biasanya sibuk dengan urusan bisnis bernilai miliaran.

"Pindah? Dad, aku sudah bilang aku nggak mau pindah ke kota mana pun itu! Aku masih kuliah, teman-temanku di sini!"

"Semuanya sudah diputuskan, Sayang. Mommy juga sudah menyetujuinya. Kita akan memulai hidup baru yang lebih tenang. Daddy sudah menjual rumah ini, menyumbangkan mobil-mobil sport itu ke yayasan, dan menyedekahkan sebagian besar aset kita. Kita akan berhijrah."

Zaheera merasa dunianya seolah berhenti berputar. Hijrah? Menjual rumah? Menyedekahkan aset?

"DADDY GILA!" teriak Zaheera, namun Narendra sudah mematikan teleponnya.

Malam itu, untuk pertama kalinya, Zaheera pulang dengan langkah gontai bukan karena alkohol, melainkan karena syok.

Di rumah, ia menemukan Mommy-Nya, Kayes sedang mengepak pakaian ke dalam koper-koper sederhana. Mommy Kayes, yang biasanya terobsesi dengan perawatan wajah di Swiss dan tas Hermes, kini mengenakan jilbab panjang dan tersenyum lembut.

"Ini yang terbaik untuk kita, Zee. Daddy ingin kita hidup lebih berkah," kata Kayes pelan.

Zaheera hanya bisa menangis di kamarnya yang luas, menatap rak sepatunya yang kini kosong karena sebagian besar telah dikirim ke panti asuhan oleh ayahnya.

Perjalanan menuju desa itu memakan waktu 9-10 jam. Sepanjang jalan, Zaheera hanya diam, menatap keluar jendela dengan pandangan kosong. Ia merasa seolah-olah ia sedang menuju tempat pembuangan sampah sejarah.

Saat mobil—sebuah SUV menengah yang jauh lebih sederhana dari mobil-mobil mereka sebelumnya—berhenti di depan sebuah rumah, Zaheera menarik napas panjang.

Rumah itu tidak melarat. Itu adalah rumah kalangan menengah yang cukup Mewah. Catnya berwarna krem bersih, ada teras dengan beberapa tanaman hias, dan halamannya cukup luas. Di dalamnya, ruang tamu dilengkapi dengan kursi sofa kain yang cukup nyaman dan TV layar datar 40 inci. Ada AC yang terpasang di setiap kamar, meski suaranya tidak sesenyap AC sentral di rumah mereka dulu.

Namun, bagi Zaheera Bareeka yang sudah terbiasa dengan lantai marmer Italia, plafon setinggi tujuh meter, dan pelayan yang siap sedia 24 jam, rumah ini terasa seperti sel penjara.

"Selamat datang di rumah baru kita," kata Narendra sambil menurunkan koper terakhir. Ia tampak sangat lega, seolah-olah beban dunia telah terangkat dari bahunya. "Mulai sekarang, kita belajar untuk hidup sederhana, nyaman, dan yang paling penting, tenang."

"Tenang?" Zaheera tertawa sinis, matanya menyapu ruangan yang menurutnya sempit itu. "Rumah ini panas, Dad! AC-nya butuh waktu lama buat mendinginkan ruangan. Sofanya kasar di kulitku. Dan lihat ini... dapur kecil begini? Di mana tempat untuk koki kita?"

"Kita tidak butuh koki lagi, Zee. Mommy yang akan memasak untuk kita," sahut Kayes lembut dari arah dapur. "Ayo, Sayang, lihat kamarmu. Sudah Mommy tata Rapi."

Zaheera masuk ke kamarnya. Ukurannya hanya seperempat dari kamarnya di Kota A. Tidak ada walk-in closet. Hanya ada lemari kayu dua pintu yang berbau kamper. Ia melemparkan tas desainer miliknya ke atas kasur yang terasa jauh lebih keras dari biasanya.

Ia membuka jendela kamarnya. Pemandangannya bukan lagi gedung-gedung pencakar langit, melainkan jalanan desa yang kecil dan di seberang jalan, terlihat bangunan-bangunan dengan kubah-kubah kecil. Suara santri yang sedang menghafal bait-bait sya'ir terdengar sayup-sayup, terbawa angin sore yang lembap.

"Aku benci tempat ini," bisik Zaheera pada dirinya sendiri. "Aku benci Daddy. Aku benci semua ini."

Ia merasa ayahnya sedang melakukan bunuh diri finansial. Baginya, menyumbangkan harta yang dikumpulkan selama puluhan tahun demi sebuah "ketenangan" adalah kebodohan yang tak termaafkan. Ia merindukan Kota A. Ia merindukan kemewahan. Dan di atas segalanya, ia merindukan Zavier, Kekasihnya.

Ia tidak tahu bahwa di desa ini, di balik tembok-tembok tinggi pesantren yang ia benci itu, Zavier El-Shaarawy—kekasihnya yang hilang—sedang berjuang melawan kerinduan yang sama, sambil memegang tasbih di bawah pengawasan ketat ayahnya.

Dunia baru ini bukan sekadar tentang perpindahan rumah; ini adalah panggung di mana kesombongan akan diuji, dan cinta yang dimulai di lantai dansa akan dipaksa tunduk di bawah sujud yang panjang.

...🌷🌷🌷🌷...

...Happy Reading Dear 😍 ...

1
winpar
thorrrr lnjut ceritanya thorrrr
Ros🍂: ashiappp kak🥰
total 1 replies
Nasya Sifa Aura
semangat thor 💪💪💪
Ros🍂: Jangan lupa di-like ya kak🙏 biar Author semangat, ma'aciww 🥰
total 1 replies
Nasya Sifa Aura
di tggu up ny ya thor jgn lm2 ,, aku nggak sanggup nggu lm2 🤣🤣🤣
Ros🍂: persis Zavier 🤣 nggak kuat lama-lama 🥰🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!