NovelToon NovelToon
Frekuensi Kematian

Frekuensi Kematian

Status: tamat
Genre:Action / Teen School/College / Tamat
Popularitas:120
Nilai: 5
Nama Author: Lovey Dovey

Di SMA Nambu, kelas 3-B adalah kelas paling viral-bukan karena prestasi, tapi karena jumlah problem child-nya. Malam itu, hukuman belajar tambahan untuk 30 siswa mereka berubah jadi mimpi buruk hidup-hari saat invasi makhluk asing berawal di sekolah mereka. Makhluk-makhluk fotofobia yang mengerikan, terluka oleh cahaya terang tapi memangsanya seperti ngengat, menjadikan sekolah sebagai arena berburu. Dipimpin oleh ketua kelas yang panik dan wakilnya yang berusaha tegar, mereka harus bertahan dengan satu aturan: JANGAN MENYALA.


Apakah mereka berhasil melawan makluk itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lovey Dovey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hari dimana Seoul Berhenti Bernapas

Persiapan berlanjut dengan suasana yang berbeda. Tidak ada lagi bisikan-bisikan saling menyalahkan. Hanya fokus pada tujuan: bertahan, dan membawa setiap orang sampai ke stasiun. Mereka mengikatkan tali tambang di pinggang mereka, menghubungkan satu kelompok dengan kelompok lain, sebagai simbol bahwa mereka tidak akan terpisahkan.

Mereka siap menghadapi kegelapan di luar, karena kegelapan di dalam ruangan-ketakutan dan keraguan-telah sedikit terpecahkan oleh cahaya persatuan yang mereka temukan di ujung keputusasaan.

Pukul 10:00 tepat.

Sinar matahari siang menerobos masuk dari jendela retak, namun tidak memberikan kehangatan. Hanya cahaya terang yang menusuk, mengungkap debu yang berputar di udara dan wajah-wajah pucat tiga puluh siswa kelas 3-B. Mereka berdiri dalam formasi yang sudah mereka sepakati, terbagi menjadi tiga kelompok yang diikat secara simbolis dengan tali tambang yang melingkar di pinggang beberapa orang di setiap barisan.

Jimin dan Jaemin memimpin kelompok depan. Di belakang mereka, kelompok tengah dipimpin Mark dan Minjeong. Kelompok belakang dijaga oleh Sungchan dan Jeno. Napas mereka terdengar serempak, tegang.

"Semua ingat isyarat tangan," bisik Jimin, menengok ke belakang. "Tangan di kepala: berhenti. Tangan kepal: ada bahaya. Tunjuk arah: bergerak. Jangan ada suara."

Anggukan-anggukan tegas membalas instruksinya. Mata mereka penuh dengan ketakutan, tapi juga tekad. Mereka telah memilih untuk percaya pada satu sama lain.

Jaemin meletakkan tangannya di gagang pintu. Dia menoleh sekali lagi ke arah Minjeong di barisan tengah. Minjeong menganggak, matanya mengatakan, "Ayo." Sungchan, yang melihat pertukaran tatapan itu, hanya menarik napas dalam dan mengencangkan genggamannya pada potongan kayu runcing di tangannya.

Klik.

Saat Jaemin membuka pintu kelas, dunia yang mereka kenal benar-benar runtuh. Bau pertama yang menyergap bukanlah bau kapur atau debu sekolah, melainkan bau besi tua yang kental dan manis-muak, menggantung di udara koridor yang pengap.

Dan di sana, terbentang seperti peringatan yang mengerikan, adalah tiga sosok yang tak lagi bernyawa.

"Oh Tuhan..." desis Yeri, langsung menutup mulutnya. Tubuhnya gemetar.

Mayat ketiga satpam itu tergeletak di koridor. Seragam biru mereka sobek-sobek, terkoyak oleh sesuatu yang memiliki cakar sangat tajam. Lantai di sekitarnya menghitam oleh cairan yang sudah kering. Ekspresi teror terakhir membeku di wajah mereka yang pucat.

"Astaga... itu... itu Pak Heri," gumam jiwoo. suaranya pecah. Tangannya mencengkeram lengan Mark dengan kencang. Wajah pria tua yang biasanya ramah itu kini tampak pucat dan terdistorsi oleh penderitaan terakhir, mata terbuka lebar menatap langit-langit. Seragam birunya yang rapi telah menjadi kain sobekan yang basah kotor.

Chenle langsung muntah kering. Ningning memalingkan muka, menekan tangannya ke mulut agar tidak menjerit. Sunkyung menangis tersedu-sedu dengan suara tertahan, wajahnya terkubur di punggung Minjeong. Bahkan Mark dan Jimin yang berusaha tegar, terlihat pucat dan hampir kehilangan keseimbangan.

"Jangan... jangan lihat, jangan lihat," NingNING berbisik pada dirinya sendiri sambil memalingkan muka, tetapi bayangan itu sudah terpateri di retina matanya. Chenle di sampingnya sudah berlutut, muntah tanpa henti, isi perutnya yang hampir kosong hanya menyisakan cairan pahit. Suara muntahnya yang teredam menambah horor suasana.

Minjeong merasakan Sunkyung menggigil tak terkendali di sisinya. "Tutup mata, Lam. Pegang erat gue. Jangan lepas," bisiknya, suaranya rendah namun tegas, meski tangannya sendiri dingin. Sungchan, dari posisinya di belakang, melihat bagaimana pundak Minjeong menegang, dan dia ingin sekali mendekat, tapi kakinya terpaku. Rasa jijik dan ketakutan yang mendalam melumpuhkan semua orang.

"Jangan lihat. Fokus ke depan. Jalan," bisik Jaemin, suaranya serak. Dia sendiri merasa perutnya mual. Tapi mereka harus melangkah. Melewati mayat-mayat itu adalah ritual peralihan dari dunia 'aman' mereka di kelas, menuju neraka di luar.

"Kita harus lewati mereka," kata Jaemin, suaranya datar dan kosong, seperti sedang membaca instruksi teknis. Tapi matanya, yang biasanya tenang, sekarang berbinar dengan ketakutan yang tertahan. "gak ada jalan lain. Langkah pelan. Jangan sentuh... apapun."

Mereka bergerak seperti barisan hantu, menyusuri dinding, berusaha menjauh sebisa mungkin dari pemandangan mengerikan di tengah koridor. Setiap helaan napas terasa seperti menghirup kematian itu sendiri. Saat Haechan hampir menginjak genangan hitam yang lengket, Jeno dengan refleks cepat menariknya. Mata mereka saling bertaut, keduanya sama-sama melihat bayangan kengerian di mata satu sama lain.

DI LUAR SEKOLAH

Saat mereka akhirnya menyelinap keluar dari pintu samping, harapan bahwa dunia luar masih agak normal sepenuhnya hancur berantakan.

Seoul bukan lagi Seoul. Seoul yg biasanya ramai, kini sepi seperti gak berpenghuni

"Ini... gak mungkin," desis Sohee, matanya membelalak menatap jalan raya di depan mereka. Mobil-mobil bertumpuk seperti mainan yang dihancurkan anak marah. Sebuah bus terguling menghalangi jalan, kacanya pecah total, dan dari dalamnya tergantung lengan tak bergerak. Bangunan-bangunan pencakar langit berdiri bisu, jendela-jendelanya ada yang pecah, mengeluarkan asap hitam yang mengepul lambat ke langit biru yang tak bersalah. Dan di mana-mana, di trotoar, di dalam mobil, bahkan tergantung di pagar-mayat. Ada yang terlihat utuh seolah tertidur, ada yang terkoyak sehingga sulit dikenali lagi sebagai manusia.

Bau yang lebih kuat menyergap mereka: bau daging terbakar, bensin, dan di bawahnya semua, bau daging busuk yang mulai tercium di udara siang yang mulai hangat.

"Ibu... ayah..." bisik Juun tiba-tiba, air matanya mengalir deras. Kerusuhan di sekelilingnya adalah bukti bahwa orang tuanya, yang mungkin sedang berada di kantor atau di jalan, juga menghadapi nasib yang tidak diketahui. Tangisannya yang pelan memicu yang lain. Hina memeluk dirinya sendiri, menggigit bibir hingga berdarah agar tidak ikut menjerit.

"Kita gak bisa diam di sini!" suara Jimin memotong keputusasaan. Dia berdiri di depan mereka, wajahnya pucat tetapi matanya berapi-api. "Setiap detik kita berdiri di tempat terbuka, kita adalah target. Lihat! Bayangan! Kita harus bergerak dari bayangan ke bayangan!"

Mereka merayap, menyusuri dinding toko-toko yang hancur. Setiap kali harus menyebrang, jantung mereka serentak berdebar kencang. Mereka menjadi seperti tikus, kecil, tak berdaya, dan dipenuhi teror murni.

...

Setelah berhasil melewati satu blok dengan selamat, mereka bersembunyi di balik sebuah truk pengangkut yang terbalik, napas mereka tersengal-sengal. Stasiun Gangnam masih terlihat seperti mimpi yang jauh di ujung horizon kota yang hancur.

Tiba-tiba, dari arah plaza terbuka di persimpangan depan, terdengar suara yang sudah mereka takuti.

KREEEENG-!

Lengkingan itu, lebih keras dan lebih dekat dari yang mereka dengar semalam, menusuk udara. Diikuti oleh teriakan manusia yang pendek dan penuh kengerian. "TOLONG-!"

Dengan sangat hati-hati, Jaemin dan Jimin saling pandang, lalu perlahan mengintip dari ujung bemper truk.

Plaza yang dulu ramai dengan air mancur dan pejalan kaki itu sekarang menjadi panggung horor. Di atas atap sebuah mobil sedan, berdiri salah satu makhluk itu. Sinar matahari menyinari tubuhnya yang ramping dan tinggi, memantulkan kilauan aneh dari kulitnya yang seperti gabungan antara logam dan kulit ular. Tubuhnya dipenuhi oleh puluhan titik cahaya kecil berwarna biru pucat yang berkedip-kedip secara acak, seperti bintang yang sakit. Kepalanya yang memanjang tanpa fitur wajah yang jelas berputar pelan, seolah memindai area. Dan di kakinya, seorang pria berseragam kurir-masih memegang paket-tergeletak tak bergerak, dengan lubang mengerikan di bagian dada.

"Dia... lagi makan?" bisik Giselle, suaranya bergetar penuh kengerian sambil memegang tabletnya seperti perisai. Dari balik lensa kacamatanya, air mata mulai menggenang.

Mereka menyaksikan, terpaku dan ngeri, saat makhluk itu membungkuk. Suara yang sudah mereka dengar di koridor sekolah kembali terdengar, lebih jelas sekarang di keheningan kota mati: Slurp. Jlep. Crunch. Suara tulang remuk.

A-na memalingkan wajah dan muntah hebat ke aspal. Stella dengan cepat menutupi mulutnya, wajahnya sendiri hijau pucat. Mark menunduk, bahunya naik turun karena napas yang tersedak. Kenyataan ini sepuluh kali lebih mengerikan daripada yang mereka bayangkan.

Jimin, dengan wajah seperti topeng batu, memberi isyarat tangan: Mundur. Perlahan. Cari rute lain. Tangannya yang memberi isyarat gemetar tak terkendali.

Seperti mesin yang distarter, mereka mulai mundur, merangkak di antara rongsokan mobil, mata tak lepas dari monster di plaza. Setiap gerakan terencana, setiap napas ditahan.

Lalu, bunyi itu.

KRESSHK!

Suara renyah, keras, dan sangat jelas, seperti seseorang menginjak keripik dengan sengaja. Bunyi itu bergema di dinding-dinding bangunan yang sepi.

Semua kepala berbalik dengan panik. Wonbin, yang berjalan di tengah-tengah kelompok, berdiri membeku. Di bawah sepatu ketsnya yang sudah kotor, sebongkah plester gipsum dan daun kering yang tersembunyi di balik pecahan kaca remuk menjadi debu. Wajahnya yang biasanya tenang dan pendekar itu kini putih bagai salju, matanya membelalak penuh kengerian tak terperi.

"Sorry... gue gak..." gumam wonbin, tapi sudah terlambat.

Di plaza, sang pemangsa langsung mengangkat kepala. Titik-titik cahaya biru di tubuhnya tiba-tiba berkedip dengan frekuensi gila, seperti alarm bahaya. Kepalanya yang tak berwajah itu berputar cepat, dan seketika terkunci pada arah sumber suara-pada kelompok mereka di balik tumpukan mobil.

SKREEEEEEEEEEEEE-!!!

Lengkingan kemarahan yang memekakkan memecah langit, berbeda dengan lengkingan sebelumnya. Ini adalah teriakan berburu. Mereka melihat makhluk itu mendorong tubuhnya dari mobil dengan kekuatan yang tak masuk akal, dan dengan kepakan sayap besar seperti membran kelelawar yang tiba-tiba terbuka dari punggungnya, ia meluncur ke arah mereka.

"LARI! SEMUA LARI SEKARANG!" teriak Jimin, suaranya parau dan pecah oleh kepanikan.

Kekacauan mutlak. Tiga puluh remaja berhamburan seperti kawanan burung yang ditembaki. Tidak ada lagi formasi, tidak ada lagi bisikan. Hanya teriakan ketakutan, langkah kaki yang berdesakan, dan napas yang terengah-engah. Mereka berlari buta ke arah gang terdekat, menyusuri lorong sempit yang penuh sampah, terdorong oleh adrenalin dan ketakutan akan kematian yang begitu dekat.

Di belakang, suara kepakan sayap semakin keras, semakin dekat. WHOOSH. WHOOSH. Diiringi suara cakar menyentuh logam dan kaca pecah saat makhluk itu memburu mereka melalui lorong.

Mereka belok kiri, kanan, tanpa arah.

Akhirnya, mereka melihat sebuah pintu terbuka menuju area parkir bawah tanah sebuah gedung perkantoran. Tanpa pikir panjang, mereka menyelam masuk ke dalam gelap yang menawarkan ilusi perlindungan.

"Masuk,cepet" Perintah Jimin

Jeno dan Sungchan yang paling belakang dengan susah payah mendorong pintu rolling gate besi yang berat itu. GRIND... CLANG! Pintu tertutup, memutus hubungan mereka dengan dunia luar yang dipenuhi teror.

Di dalam kegelapan total parkiran yang lembab dan berbau oli, mereka semua terjatuh, bersandar di dinding atau hanya tergeletak di lantai beton yang dingin. Suara yang terdengar hanyalah deru napas yang tak terkendali, batuk-batuk, dan sesekali isakan tangis yang ditahan.

Wonbin duduk terpisah, menyandarkan kepalanya di lutut yang ditekuk. Tubuhnya diguncang oleh getaran hebat. "Maaf gue... gue... gue gak lihat... gue hampir bunuh kita semua...." suaranya hanyalah rintihan yang penuh rasa bersalah.

Minjeong, yang masih memegang tangan Sunkyung, melihat ke arahnya. "Bukan... salah lo, Wonbin," katanya, meski suaranya masih gemetar. "Itu... kecelakaan."

"Tapi itu hampir jadi kecelakaan TERAKHIR kita!" sahut A-na, suaranya masih tinggi oleh sisa panik. "Kita hampir mati karena lo gak hati-hati!"

"Diam, A-na!" tegur Stella, tapi nada suaranya juga masih terpengaruh ketakutan.

Jaemin, yang duduk dekat pintu dengan telinga masih mendengarkan ke arah luar, akhirnya berbicara. Suaranya lelah, tapi tegas.

"Menyalahkan gak akan ngubah apa pun. Kita semua takut. Kita semua bisa membuat kesalahan. Wonbin membuatnya hari ini. Besok bisa jadi gue. Atau Jimin, atau sion, atau lo a-na. Atau siapa pun." jaemin jeda, menarik napas.

"Yang penting kita selamat. Dan kita belajar: bahkan daun kering bisa menjadi lonceng kematian kita. Sekarang kita tahu. Sekarang kita harus lebih hati-hati lagi. Sepuluh kali lipat lebih hati-hati."

....

1
tׁׁׅׅhׁׁׅׅ֮֮ɑׁׅᥣׁׅ֪ɑׁׅׅ
oalah👏👏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!