"Sepuluh tahun tanpanya adalah sunyi yang menyiksa. Tapi kepulangannya adalah badai yang tak terduga."
Dulu, Alea hanyalah gadis kecil yang menangis tersedu-sedu saat Uncle Bima—sahabat termuda ayahnya—memilih pergi ke luar negeri. Janji untuk memberi kabar ternyata menjadi kebohongan besar selama satu dekade penuh.
Kini, di usia 18 tahun, Alea bukan lagi "burung kecil" yang lemah. Namun, tepat saat ia akan memulai lembaran baru di bangku kuliah, pria yang pernah menghancurkan hatinya itu kembali muncul. Bima kembali bukan sebagai paman yang lembut, melainkan sosok pria dewasa yang posesif, penuh teka-teki, dan gemar melontarkan godaan yang membuat jantung Alea berpacu tidak keruan.
Terpaut usia 15 tahun, Bima tahu ia seharusnya menjaga jarak. Namun, melihat Alea yang kini begitu memesona, "paman" nakal ini tidak ingin lagi sekadar menjadi sahabat ayahnya.
"Sst, little bird... kau sudah cukup bersinar. Sekarang, waktunya pulang ke sangkarmu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35. Jerat yang Mengetat
Tiga hari berlalu sejak malam penghakiman yang hampir merenggut nyawa Baskara. Koridor rumah sakit yang semula terasa seperti tempat pelarian sementara, kini mulai terasa seperti medan perang baru bagi Alea. Setiap pagi, ia terjaga dengan perasaan cemas yang konstan, memeriksa monitor jantung Daddy, lalu melirik ke luar jendela, setengah berharap—sekaligus takut—bahwa SUV hitam milik Bima akan terparkir di bawah sana.
Namun, Bima tidak muncul. Ketidakhadiran pria itu justru terasa jauh lebih meneror daripada kedatangannya. Alea tahu betul watak Bima; pria itu tidak sedang menyerah, ia hanya sedang menarik undian, mengamati dari jauh bagaimana bidak-bidak caturnya bergerak sesuai dengan skenario kejam yang sedang ia susun.
Pagi itu, Baskara sudah dipindahkan ke ruang perawatan biasa. Meskipun selang oksigen sudah dilepas, wajahnya masih menyisakan gurat kelelahan yang teramat sangat. Alea sedang duduk di sisi ranjang, mengupas buah apel dengan tangan yang masih sedikit gemetar, mencoba mengulas senyum terbaiknya demi menjaga stabilitas emosi sang ayah.
"Dad, makan buahnya sedikit ya? Kata dokter, Daddy harus banyak makan makanan segar supaya pemulihan dinding jantungnya lebih cepat," ujar Alea lembut, menyodorkan sepotong apel yang telah dipotong rapi.
Baskara menatap putrinya, menerima potongan buah itu dengan senyuman lemah yang dipaksakan. "Kau sendiri sudah makan, Nak? Sejak kemarin Daddy lihat kau hanya minum kopi. Jangan sampai kau yang ikut jatuh sakit di sini."
"Alea sudah makan roti tadi bersama Revan, Dad. Daddy jangan khawatirkan Alea," dusta Alea. Faktanya, jangankan makan, menelan air putih saja rasanya seperti menelan duri. Rasa bersalah di dalam dadanya masih terlalu pekat untuk membiarkannya menikmati rasa makanan.
Tepat saat itu, pintu kamar rawat terbuka pelan. Revan melangkah masuk. Namun, tidak seperti biasanya di mana pemuda itu selalu berusaha tampil tegap dan tenang di depan Baskara, pagi ini wajah Revan tampak sangat kusut. Matanya merah karena kurang tidur, dan rahangnya mengatup begitu rapat hingga urat-urat di lehernya menonjol. Ada keputusasaan yang teramat besar yang coba ia sembunyikan di balik langkah kakinya.
Alea menyadari perubahan seketika itu. Ia meletakkan pisau buah dan piring kecil di atas meja nakas, lalu berdiri menghampiri Revan. "Revan? Ada apa? Kau baik-baik saja?" bisik Alea rendah, tidak ingin suaranya terdengar oleh Daddy.
Revan menatap Alea dengan tatapan mata yang hancur. Ia tidak langsung menjawab, melainkan melirik sekilas ke arah Baskara yang sedang memperhatikan mereka dengan raut bingung.
"Alea... bisa kita bicara di luar sebentar?" suara Revan terdengar parau, seolah ada beban ribuan ton yang sedang menekan tenggorokannya.
Alea menoleh ke arah Daddy. "Dad, Alea keluar sebentar ya, mau bicara dengan Revan tentang administrasi."
Baskara hanya mengangguk pelan. "Pergilah. Jangan terlalu lama."
---
Begitu pintu kamar rawat tertutup rapat di belakang mereka, Revan langsung menarik napas dalam-dalam, lalu meninju dinding semen rumah sakit dengan tangan kanannya hingga menimbulkan suara benturan yang cukup keras.
"Revan! Apa yang kau lakukan?!" Alea terpekik ngeri, mencoba meraih tangan Revan yang kini memerah dan lecet.
"Bajingan itu, Alea... Bima benar-benar monster yang tidak punya hati!" desis Revan, suaranya bergetar hebat karena amarah yang bercampur dengan air mata yang nyaris tumpah. "Dia melakukan apa yang dia katakan malam itu. Dia benar-benar menghancurkanku sampai ke akar-akarnya."
Jantung Alea berdegup kencang. Firasat buruk langsung menyergap benaknya. "Apa... apa yang Bima lakukan, Revan?"
Revan menyugar rambutnya dengan kasar, wajahnya memerah padam. "Pagi ini, pihak bank resmi menyita rumah keluarga kami. Seluruh aset sisa milik ibuku dibekukan atas perintah kurator hukum yang bekerja di bawah perusahaan Bima. Tapi itu belum yang terburuk, Alea..." Revan menjatuhkan tubuhnya di atas kursi tunggu koridor, menenggelamkan wajahnya di antara kedua lutut.
"Ibuku... ibuku yang sedang dirawat karena syok berat di rumah sakit sebelah, pagi ini dipaksa keluar dari ruang perawatan. Pihak rumah sakit memutus sepihak seluruh jaminan medisnya karena aliran dana dari rekening kami diblokir total oleh pengacara Bima. Mereka bilang... kami tidak punya kemampuan finansial lagi untuk membayar biaya pengobatan." Revan terisak hancur. "Ibuku hampir terkena serangan stroke semalam, Alea! Dan bajingan itu dengan sengaja memutus urat nadi kehidupan kami hanya untuk membalas dendam atas rekaman video itu!"
*DEG!*
Dunia seolah berputar di sekitar Alea. Seluruh tubuhnya mendadak kaku dan mendingin. Kalimat-kalimat ancaman Bima di koridor rumah sakit malam itu kembali terngiang dengan sangat jelas di telinganya.
> *“Mari kita lihat seberapa lama benteng moralitasmu ini bisa bertahan tanpa uang dan fasilitas dari ayahmu yang sedang sekarat itu... Saat kau akhirnya menyadari bahwa kau tidak punya kekuatan apa-apa... kau akan merangkak kembali ke sangkar emasku dengan tanganmu sendiri.”*
Bima sedang membuktikan ucapannya. Pria itu sengaja tidak menyentuh Baskara atau Alea secara langsung untuk saat ini; ia memilih untuk menghancurkan orang-orang di sekitar Alea terlebih dahulu. Bima sedang mempreteli satu per satu pilar pelindung Alea, menunjukkan kekuasaannya yang mutlak, agar Alea melihat secara langsung bahwa menolaknya adalah sebuah kesalahan yang akan menuntut tumbal nyawa orang lain.
"Revan... maafkan aku... ini semua karena aku," rintih Alea, ia ikut bersimpuh di depan Revan, air matanya tumpah ruah membasahi lantai koridor. Rasa sakit hati dan bersalah kini bercampur menjadi satu, menciptakan badai emosi yang mengoyak-ngoyak jiwanya. Revan telah menolongnya, menyelamatkan Daddy-nya dari kematian, dan sekarang keluarga pemuda itu harus hancur lebur sebagai bayarannya.
"Ini bukan salahmu, Alea. Ini salah monster itu!" Revan mendongak, mencengkeram kedua bahu Alea dengan tatapan mata yang putus asa. "Tapi aku tidak tahu harus berbuat apa lagi sekarang. Aku tidak punya uang untuk memindahkan ibuku ke klinik lain. Pengacara kami tidak ada yang berani mengambil kasus ini begitu mendengar nama Bima yang berada di balik instruksi pembekuan aset. Kami tamat, Alea. Kami benar-benar dihancurkan oleh pria yang pernah kau panggil 'Uncle' itu."
Alea menatap wajah Revan yang hancur, lalu menoleh ke arah pintu kamar rawat Daddy. Di dalam sana, ayahnya sedang terbaring lemah dengan penyakit jantung yang sewaktu-waktu bisa kambuh kembali jika mendengar berita buruk. Dan di luar sana, Bima sedang duduk di atas singgasana keangkuhannya, memegang kendali atas hidup dan mati orang-orang yang Alea sayangi.
Kabut ketakutan sempat mencoba merayap kembali, membisikkan opsi gila bahwa jika ia kembali merangkak ke pelukan Bima dan menyerahkan tubuhnya lagi, semua penderitaan Revan dan Daddy akan selesai dalam sekejap. Namun, begitu mengingat wajah pucat Daddy di bawah masker oksigen semalam, Alea langsung menyentak pikiran lemah itu jauh-jauh.
*Tidak. Jika aku kembali padanya sekarang, aku hanya akan menjadi boneka yang mati perlahan di dalam sangkar emasnya, dan Daddy akan mati karena malu,* batin Alea mengeras.
Alea perlahan berdiri, menghapus air mata di pipinya dengan kasar. Kesadaran baru yang dingin dan tajam kini menuntun setiap tarikan napasnya. Jika Bima ingin bermain dengan cara yang kejam, maka Alea tidak boleh lagi bersikap seperti burung kecil yang ketakutan. Ia harus mencari cara lain, jalan alternatif yang berada di luar jangkauan kekuasaan finansial Bima.
"Revan, dengarkan aku," ujar Alea dengan nada suara yang mendadak berubah menjadi sangat tenang dan berwibawa, sebuah perubahan yang sempat membuat Revan tertegun mendengarnya. "Berapa total biaya pengobatan darurat ibumu yang dibutuhkan saat ini untuk dipindahkan ke rumah sakit umum?"
Revan menyebutkan sebuah nominal yang cukup besar untuk ukuran mahasiswa, namun tidak terlalu besar bagi keluarga pengusaha seperti Baskara.
Alea merogoh tasnya, mengeluarkan sebuah kartu debit hitam dari dalam dompetnya—sebuah kartu tambahan atas nama dirinya yang terhubung langsung dengan rekening pribadi Daddy untuk keperluan mendesak. "Bawa kartu ini. Gunakan untuk melunasi seluruh biaya administrasi ibumu dan pindahkan beliau ke rumah sakit umum daerah yang tidak bisa diintervensi oleh jaringan swasta milik Bima. Rekening pribadi Daddy yang ini tidak terhubung dengan sistem korporasi perusahaan, jadi Bima tidak akan bisa membekukannya tanpa proses pengadilan yang memakan waktu berbulan-bulan."
Revan menerima kartu itu dengan tangan gemetar. "Alea... tapi bagaimana dengan Pak Baskara? Jika beliau tahu—"
"Daddy tidak akan tahu jika kita tidak mengatakannya. Lagipula, Daddy pasti akan melakukan hal yang sama jika tahu sahabat dan keluarganya sedang dizalimi seperti ini," potong Alea tegas. Ia mencengkeram jemari Revan, menyalurkan sedikit kekuatan yang tersisa di dalam dirinya. "Pergilah urus ibumu sekarang, Revan. Selamatkan beliau. Biarkan aku yang berjaga di sini untuk menghadapi apa pun yang akan dikirimkan oleh Bima selanjutnya."
Revan menatap Alea dengan tatapan penuh rasa terima kasih yang teramat dalam, sebelum akhirnya mengangguk cepat dan berlari meninggalkan koridor rumah sakit demi menyelamatkan nyawa ibunya.
Kini, Alea kembali berdiri sendirian di bawah temaram lampu neon koridor. Ia menatap kartu debit yang tersisa di dompetnya, lalu menatap lurus ke ujung lorong yang sepi. Jerat yang dipasang oleh Bima kini sedang mengetat di lehernya, mencoba memaksanya untuk menyerah. Namun, malam ini, di tengah dinginnya dinding rumah sakit, Alea tahu bahwa burung kecil yang dulu selalu patuh di bawah kendali sang predator, kini telah belajar bagaimana cara mengembangkan sayapnya di tengah badai, siap bertarung demi mempertahankan sisa-sisa kehormatan keluarganya.