NovelToon NovelToon
FAVORITE DISASTER

FAVORITE DISASTER

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / CEO
Popularitas:989
Nilai: 5
Nama Author: Clarice Diane

Serena Roe tahu satu hal tentang cinta:
semua orang yang mendekatinya selalu membawa kehancuran.

Julian datang menawarkan ketulusan.
Damien membuatnya kecanduan.
Dan Axel, perlahan menghancurkan hidupnya tanpa ia sadari.

Tapi di antara mereka, siapa yang benar-benar mencintainya dan siapa yang betulan ingin memilikinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Clarice Diane, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

The Beginning Of Something Terrible

Perjalanan pulang dari resort berlangsung jauh lebih sunyi dibanding saat mereka datang. Kabut masih menggantung di sepanjang jalan pegunungan, sementara hujan kecil terus membasahi kaca mobil. Serena duduk diam di kursi penumpang sambil memperhatikan tetesan air yang meluncur perlahan di jendela. Pikirannya terlalu penuh sejak pagi tadi. Tentang bunga-bunga itu. Tentang Julian. Tentang Claire.

Dan yang paling mengganggu, adalah tentang cara Damien membicarakan perempuan itu semalam.

Pria itu menyetir dengan satu tangan, sementara tangan satunya resting santai di paha Serena seperti biasa. Jemarinya sesekali bergerak pelan, mengusap kulit perempuan itu tanpa sadar.

Posesif.

Dan Serena mulai sadar Damien selalu lebih banyak menyentuhnya saat pikirannya sedang sibuk.

“Kau mau menemuinya?”

Suara Damien akhirnya memecah keheningan.

Serena menoleh pelan. “Apa?”

“Julian.” Nada suaranya terdengar santai. Terlalu santai.

“Aku belum tahu.”

“Temui saja.”

Serena langsung mengernyit kecil. “Kau serius?”

“Kalian pernah saling mencintai.” Damien tersenyum tipis sambil tetap fokus pada jalan di depannya. “Kurasa tidak salah kalau dia ingin bertemu sekali lagi sebelum menikah.”

Cara Damien mengatakannya terdengar dewasa. Tenang. Seolah pria itu benar-benar tidak terganggu. Dan justru itu yang membuat Serena merasa aneh.

“Aku pikir kau bakal marah.”

“Aku memang tidak suka.” Jemari Damien bergerak pelan di paha Serena. “Tapi aku lebih tidak suka melihatmu terus merasa bersalah.”

Kalimat itu langsung membuat Serena diam. Karena Damien tahu. Pria itu selalu tahu bagian mana dalam diri Serena yang paling rapuh untuk disentuh.

“Aku tidak pernah berniat menyakitinya waktu itu,” bisik Serena pelan.

“Aku tahu.”

“Kau juga yang membuatku pergi.”

Tatapan Damien berubah samar sesaat. Namun hanya sepersekian detik sebelum kembali tenang.

“Ya,” gumamnya rendah. “Dan mungkin itu kesalahan terbesar yang pernah kulakukan.”

Hening kembali memenuhi mobil. Serena memalingkan wajah ke arah jendela, mencoba mengabaikan sesak aneh di dadanya. Kadang Damien mengatakan sesuatu dengan begitu tulus sampai Serena lupa pria itu bisa sangat manipulatif. Dan mungkin itu yang paling berbahaya dari Damien Knox. Fakta bahwa ia selalu terdengar seperti seseorang yang sedang menyelamatkanmu, padahal diam-diam ia sedang mengarahkanmu ke tempat yang ia inginkan.

“Aku cuma...” Serena mengembuskan napas kecil. “Aku tidak tahu harus bicara apa pada Julian.”

“Kalian tidak perlu membahas masa lalu.”

“Kau pikir semudah itu?”

“Tidak.” Damien tersenyum kecil tanpa humor. “Tapi kurasa Julian pantas mendapatkan penutupan yang layak.”

Kata itu lagi. Penutupan.

Entah kenapa Serena semakin tidak menyukai cara Damien mengucapkannya. Perempuan itu terdiam beberapa saat sebelum akhirnya menoleh lagi pada pria di sampingnya.

“Lalu Claire?”

Jemari Damien berhenti bergerak sesaat. Tatapannya tetap lurus ke jalan. Namun Serena bisa merasakan perubahan kecil di udara di dalam mobil.

“Kau mau melakukan apa selanjutnya?”

Hening. Hanya suara hujan dan mesin mobil yang terdengar pelan.

Damien akhirnya terkekeh kecil. “Kenapa?”

“Kau terdengar seperti seseorang yang belum selesai dengannya.”

Damien tidak langsung menjawab. Rahangnya terlihat sedikit mengeras sekarang. “Aku sudah mencoba selesai,” gumamnya akhirnya. “Selama bertahun-tahun.”

“Dengan menjadikanku pengganti?”

Pertanyaan itu keluar lebih tajam dari yang Serena maksudkan. Dan untuk pertama kalinya sejak tadi, Damien benar-benar menoleh menatapnya. Tatapannya gelap.

“Aku tidak pernah menganggapmu pengganti.”

“Namun kau tetap mencintai perempuan itu.”

Kalimat itu membuat suasana langsung berubah lebih berat. Damien mengembuskan napas pelan sebelum kembali fokus menyetir.

“Kau pikir aku menikmati itu?”

“Aku tidak tahu apa yang ada di kepalamu lagi, Damien.” Dan itu jujur. Serena benar-benar tidak tahu.

Kadang Damien terlihat begitu mencintainya sampai Serena merasa dirinya gila karena masih meragukan pria itu. Namun di saat lain, Damien terasa seperti seseorang yang sanggup menghancurkan hidup orang lain dengan wajah tenang.

“Aku hanya ingin dia bahagia,” gumam Damien tiba-tiba.

Serena langsung menoleh cepat. Dan Damien tetap melanjutkan dengan nada rendah yang nyaris terdengar lelah.

“Claire terlalu baik untuk hidup dalam hubungan yang tidak ia inginkan.”

“Kau pikir dia tidak mencintai Julian?”

Damien diam beberapa detik terlalu lama. Lalu tersenyum kecil. Samar sekali.

“Itu masalahnya.” Jawaban itu langsung membuat jantung Serena berdetak aneh.

Karena untuk pertama kalinya, Serena menangkap sesuatu dari cara Damien berbicara tentang Claire. Harapan.

Pria itu masih berharap. Dan mungkin itu sebabnya dirinya terlihat begitu tenang sekarang. Seolah Damien sudah memikirkan sesuatu jauh di depan sana.

“Kau menakutkan saat diam seperti ini,” bisik Serena pelan.

Sudut bibir Damien terangkat sedikit. “Aku tidak melakukan apa-apa.”

“Itu justru yang membuatku takut.”

Damien akhirnya menoleh lagi pada Serena. Tatapannya lembut.

Pria itu mengangkat tangannya lalu membelai pipi Serena singkat dengan punggung jemarinya.

“Aku tidak akan menyakiti Claire.” Nada suaranya terdengar sangat meyakinkan.

Sangat tulus. Dan entah kenapa, itu sama sekali tidak membuat Serena merasa lega.

Mobil akhirnya memasuki pusat kota.

Lampu-lampu kota mulai memenuhi jalanan malam yang basah oleh hujan. Serena baru hendak kembali memikirkan kata-kata Damien tadi ketika matanya menangkap sebuah motor hitam beberapa meter di belakang mobil mereka.

Pengendaranya mengenakan helm gelap.

Diam. Tidak bergerak terlalu dekat. Namun tetap mengikuti mereka.

Jantung Serena langsung berdetak sedikit lebih cepat.

“Damien.”

“Hm?”

“Ada motor dari tadi di belakang kita.”

Tatapan Damien langsung bergerak ke kaca spion. Dan dalam satu detik saja, seluruh ekspresi pria itu berubah dingin.

...----------------...

...To be continue...

1
Azizi zahra
semangat nulisnya author 💪
kentos46: lanjut thor💪👍
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!