"Dulu aku hanyalah pemuda biasa tanpa bakat, tanpa kekuatan, dan tanpa tujuan. Dunia terasa abu-abu sampai akhirnya aku bertemu dengannya—cahaya yang menerangi hidupku dan mengajarkanku arti cinta."
Namaku Li Yao. Aku tidak memiliki bakat kultivasi, namun cintaku padanya membuatku rela membelah langit dan bumi demi menjadi kuat. Bersamanya, aku merasakan kebahagiaan yang tak terlukiskan, hingga sebuah malam kelam mengubah segalanya.
Mata keparat merenggut nyawanya di hadapanku. Aku tak berdaya. Aku hanya bisa menangis melihat darahnya menetes. Saat napas terakhirnya berhembus, sebuah sumpah setan terucap:
"Aku akan membasmi mereka semua. Walau harus menjadi iblis, walau harus menyeberangi lautan darah, dendam ini akan kubayar lunas!"
Kini, dunia tidak lagi memiliki Li Yao yang lembut. Yang tersisa hanyalah Pendekar Berhati Es, seorang pembunuh dingin yang pedangnya selalu basah oleh darah musuh. Setiap tebasan adalah doa dendam, setiap nyawa yang melayang adalah persembahan unt
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichsan Ramadhan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1 Pemuda Desa yang Tak Punya Bakat
Matahari baru saja menampakkan ujungnya dari balik punggung gunung yang megah, menyinari Desa Qingyun yang terletak di kaki bukit. Suasana pagi itu tenang, dihiasi suara kicauan burung dan aroma tanah basah setelah hujan semalam. Namun, di tengah ketenangan itu, ada satu sosok yang sedang memandang jauh ke arah puncak gunung dengan tatapan penuh kerinduan dan juga kepahitan.
Itu adalah Li Yao, seorang pemuda berusia enam belas tahun yang berpakaian sederhana, berbahan kain kasar yang sudah terlihat beberapa bagiannya mulai tipis. Di tangannya tergenggam sebuah cangkul kayu yang sudah usang, sementara kakinya yang telanjang menapak kuat di atas tanah sawah yang becek.
Di kejauhan, di puncak Gunung Azure Cloud, berdiri megah sekte kultivator terkenal, Sekte Awan Biru. Setiap tahun, mereka selalu mengirimkan murid-muridnya turun ke desa untuk mencari calon penerus, anak-anak yang memiliki bakat untuk mengolah energi alam, atau yang biasa disebut Qi.
"Li Yao! Apa yang kau lamunkan di sana? Cepat selesaikan pekerjaanmu, nanti matahari makin tinggi!" seru seorang tetua desa yang lewat dengan gerobak sayur, membuyarkan lamunan panjang pemuda itu.
Li Yao tersentak, buru-buru menunduk dan mengangguk hormat. "Baik, Pak Tua. Maaf, saya hanya... melihat ke arah gunung saja."
"Gunung? Hahaha, jangan melamun terlalu tinggi, Nak," sahut lelaki tua itu sambil tertawa getir, namun nadanya terdengar menenangkan. "Kita ini orang desa. Nasib kita adalah membajak sawah, menanam padi, dan makan dari keringat sendiri. Dunia para pendekar dan kultivator itu terlalu tinggi untuk kita raih."
Li Yao hanya bisa tersenyum kecut. "Saya tahu, Pak. Hanya saja... saya iri melihat anak-anak lain yang bisa terbang dan memancarkan cahaya kekuatan."
Sejak kecil, Li Yao memang memiliki obsesi besar untuk menjadi seorang kultivator. Ia ingin menjadi kuat, ingin bisa melindungi orang-orang di sekitarnya, dan ingin melihat dunia yang luas di luar desa ini. Namun, kenyataan seringkali lebih kejam daripada mimpi.
Sore harinya, di alun-alun desa, kerumunan orang mulai berkumpul. Hari ini adalah hari pengujian bakat yang ditunggu-tunggu. Sebuah kristal penguji berwarna biru tua diletakkan di atas meja batu. Murid dari Sekte Awan Biru yang berjubah putih berdiri dengan gagah, wajahnya penuh kesombongan namun dihormati semua orang.
Satu per satu anak desa maju. Saat tangan mereka menyentuh kristal itu, batu itu akan bersinar dengan intensitas yang berbeda-beda. Ada yang bersinar redup, ada yang terang, menandakan potensi mereka.
"Akhirnya giliranmu, Li Yao! Ayo coba, siapa tahu kau adalah jenius yang tersembunyi!" seru salah satu temannya, mendorong bahu Li Yao pelan.
Dengan jantung berdebar kencang, Li Yao melangkah maju. Keringat dingin mulai membasahi pelipisnya. Ia menatap murid sekte itu dengan penuh harap.
"Silakan letakkan tanganmu dan alirkan energimu sejauh yang kamu bisa," kata murid sekte itu dengan nada datar.
Li Yao menutup matanya. Ia mengingat semua buku murahan yang pernah ia baca, ia mencoba merasakan aliran energi di udara, mencoba menariknya masuk ke dalam tubuh, mencoba mengumpulkannya di tangan. Perlahan, ia meletakkan telapak tangannya ke permukaan kristal yang dingin itu.
Satu detik... lima detik... sepuluh detik berlalu.
Kristal itu tetap gelap gulita. Tidak ada satu pun titik cahaya yang muncul. Bahkan cahaya yang paling redup sekalipun tidak ada. Suasana di alun-alun menjadi hening sejenak, lalu disusul dengan tawa kecil dan bisik-bisik.
"Hahaha, lihat itu! Batu itu bahkan tidak mau menyapa dia!"
"Dasar bodoh, mana mungkin orang desa sepertinya punya bakat."
"Buang-bai waktu saja."
Wajah Li Yao memerah padam, bukan karena marah, tapi karena malu dan sakit hati. Ia mencoba lebih keras lagi, memaksakan seluruh tenaganya, hingga wajahnya memerah dan napasnya memburu. Namun, kristal itu tetap mati.
"Cukup," suara dingin murid sekte itu memotong. "Turunlah. Tidak perlu memaksakan diri. Beberapa orang memang terlahir hanya untuk menjadi tanah, dan yang lainnya menjadi langit. Kamu jelas termasuk yang pertama."
"Tapi... Tuan, tolong beri saya kesempatan sekali lagi! Saya bisa berlatih keras! Saya mau menjadi murid anda!" pinta Li Yao dengan suara bergetar, matanya memancarkan keputusasaan.
Murid sekte itu mendengus dingin, "Bakat adalah anugerah surgawi. Tanpa akar yang baik, menanam apa pun juga akan mati. Kamu tidak punya akar roh. Tubuhmu seperti tembok bata, energi alam tidak bisa masuk dan tidak bisa disimpan. Terimalah nasibmu, anak desa. Jangan bermimpi menjadi pendekar."
Ting!
Seolah ada petir yang menyambar di kepala Li Yao. Tidak punya akar roh? Jadi selama ini mimpiku hanyalah angan-angan kosong belaka?
Ia menarik tangannya perlahan. Tangannya gemetar. Ia melihat ke bawah, melihat tanah yang berlumpur, lalu melihat ke atas ke arah para pendekar yang melayang pergi meninggalkan desa.
Dunia seakan runtuh di hadapannya. Ia hanyalah seorang pemuda biasa, tanpa bakat, tanpa keistimewaan, dan takdirnya hanyalah menjadi petani yang membajak sawah sampai tua.
Namun, di dalam hatinya yang hancur itu, masih tersisa sepercik api kecil yang enggan padam.
'Apakah benar... aku tidak akan pernah bisa menjadi kuat?' batinnya bertanya pada dirinya sendiri, diiringi air mata yang tertahan di pelupuk mata.