NovelToon NovelToon
Api Di Brantas: Kisah Jatuhnya Singhasari

Api Di Brantas: Kisah Jatuhnya Singhasari

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Mengubah Takdir / Balas Dendam
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Restu Agung Nirwana

Di lembah Brantas yang tenang, Wira hidup sebagai pemuda desa biasa, tanpa nama besar, tanpa warisan, dan tanpa tahu bahwa darah yang mengalir di tubuhnya menyimpan rahasia berbahaya. Ketika desa tempat ia tinggal dibakar dalam pusaran perebutan kuasa antara Gelang-Gelang, Singhasari, dan para penguasa yang saling mengkhianati, Wira kehilangan segalanya dalam satu malam. Dari reruntuhan itu, ia dipaksa melarikan diri, bertahan hidup, dan perlahan menapaki jalan yang mengubahnya dari anak desa menjadi pendekar yang disegani.

Di bawah bimbingan Ki Rangga, bersama sahabat setianya Panca, Wira melewati latihan keras, perburuan, pengkhianatan, dan pertarungan hidup-mati. Sementara itu, Jayakatwang dan kekuatan-kekuatan besar lain bergerak di atas panggung sejarah, menjatuhkan kerajaan dan membangun tatanan baru.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Agung Nirwana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31: Jalur Pengucapan

Ruang di balik panel batu itu jauh lebih luas dari yang Wira bayangkan.

Begitu mereka masuk, udara dingin dan kering langsung menyapu wajahnya. Langit-langit ruangan melengkung tinggi, dipenuhi garis ukiran tua yang membentuk pola lingkaran dan cabang-cabang garis seperti akar. Di bagian tengah lantai terdapat jalur batu yang memanjang lurus ke depan, sementara di sisi kiri dan kanan ada pilar-pilar pendek yang berjajar rapi. Cahaya redup masuk dari celah-celah sempit di atas, cukup untuk menampakkan debu yang melayang pelan di udara.

Wira berdiri diam beberapa detik, menahan napas.

Ruang ini berbeda dari ruang bawah tanah lain yang mereka datangi. Tidak terasa seperti gudang, tidak pula seperti tempat sembunyi biasa. Ruangan ini terasa seperti tempat upacara. Tempat orang-orang lama pernah berdiri untuk memutuskan sesuatu yang penting.

Ki Rangga menyapu pandangan ke seluruh ruangan. “Jaga jarak.”

Jaya bergerak ke sisi kanan dan menatap jalur batu di tengah. “Ada bekas langkah.”

Raden Seta melangkah ke belakang Wira sambil tetap menggenggam naskah dan catatan yang dibawa dari Watu. Panca berdiri paling dekat dengannya, masih dengan wajah tegang. Arya masuk terakhir bersama Watu. Pria tua itu menatap ruangan ini dengan ekspresi berat, seperti orang yang telah terlalu lama menghindari tempat yang sama.

Wira menoleh pada Watu. “Ini jalur pengucapan?”

Watu mengangguk pelan. “Benar.”

Panca langsung mengerutkan dahi. “Kenapa namanya selalu terdengar seperti hal yang tidak baik?”

Watu menatapnya singkat. “Karena memang bukan hal baik.”

Jaya berjalan ke sisi kiri ruangan dan menemukan sebuah panel batu yang lebih gelap dari dinding lain. Di atasnya ada ukiran kecil membentuk garis memutar yang berhenti di sebuah titik.

“Ini kunci pengarah,” katanya.

Ki Rangga mendekat dan memeriksa ukiran itu. “Bisa dibuka?”

Watu mengangguk. “Jika nama yang hilang disebut di ruang ini.”

Wira menatapnya. “Pradipta?”

Watu menggeleng kecil. “Bukan nama keluarga. Yang dibutuhkan adalah nama yang paling dulu ditahan di sini.”

Raden Seta langsung melihat catatan yang ia bawa. Ia membalik beberapa lembar lalu berhenti pada satu halaman. Setelah membaca cepat, wajahnya berubah.

“Ada satu nama lain,” katanya pelan. “Nama yang ditulis di samping Danar.”

Wira menoleh cepat. “Siapa?”

Raden Seta mengangkat kepala. “Laras.”

Ruangan seketika hening.

Wira merasa napasnya tertahan. Nama itu muncul lagi. Saksi kedua. Orang yang menemani ibunya. Orang yang mungkin masih hidup. Jika nama itu memang yang harus disebut, berarti tempat ini bukan hanya untuk pengucapan penghapusan, tetapi juga untuk membuka kembali jejak yang disembunyikan.

Watu mengangguk kecil. “Kalau benar catatan itu berasal dari jalur lama, maka Laras adalah nama yang ditahan terakhir sebelum pintu ketiga ditutup.”

Ki Rangga memandang Wira. “Coba sebut.”

Wira menatap lorong batu di depan, lalu ukiran di dinding, lalu papan catatan di tangan Raden Seta. Tenggorokannya kering. Ia tidak tahu apakah ucapan nama itu akan membuka sesuatu atau justru mendatangkan bahaya. Namun semua petunjuk membawa ke titik yang sama.

Ia menarik napas lalu berkata pelan, “Laras.”

Sesaat tidak terjadi apa-apa.

Lalu ruang itu bergetar halus.

Batu-batu di lantai mengeluarkan bunyi gesekan, dan dari sisi kiri ruangan terdengar suara mekanisme tua yang mulai bergerak. Debu tipis turun dari langit-langit. Jaya langsung menoleh cepat ke arah pilar-pilar.

“Buka,” katanya.

Di ujung jalur batu, permukaan lantai bergeser perlahan membentuk celah panjang. Dari dalam muncul tangga turun yang lebih sempit dari lorong sebelumnya.

Panca menatap celah itu dengan mata membesar. “Tentu saja harus turun lagi.”

Arya maju ke depan. “Kita masuk sebelum pintu tertutup.”

Ki Rangga memberi isyarat agar Wira tetap di depan dekatnya. “Kau dengar suara apa pun, bilang.”

Wira mengangguk.

Mereka turun perlahan. Tangga itu curam dan sempit, membuat bahu mereka nyaris menyentuh dinding di kiri kanan. Udara di bawah semakin dingin, tapi ada aroma lain yang mulai terasa: minyak tua dan tanah basah yang telah lama tertutup. Di beberapa bagian dinding, Wira bisa melihat bekas ukiran nama-nama yang sudah hampir hilang.

Setelah beberapa anak tangga, lorong itu tiba pada ruang bawah yang jauh lebih luas.

Wira berhenti di ambang dan menatap sekeliling.

Ruangan itu bundar, dengan satu tiang besar di tengah dan beberapa meja batu rendah yang tersusun mengitari dinding. Pada meja-meja itu terdapat bekas lilin, pecahan segel tanah liat, dan tumpukan kain usang. Di dinding belakang, ada satu pintu kecil dari besi tua yang tampak jauh lebih kokoh dibanding pintu lain yang mereka lihat sebelumnya.

Watu menghela napas berat. “Inilah ruang catatan terakhir.”

Raden Seta menatap meja-meja di sekeliling. “Ada nama.”

Jaya melangkah ke meja paling dekat dan menyapukan debu dengan telapak tangannya. Di bawah debu itu muncul tulisan kecil yang sudah pudar. Ia menyipit, lalu membaca.

“Danar.”

Wira menoleh cepat. Ia berjalan mendekat dan memeriksa meja itu. Di bawah nama Danar, ada garis lurus menuju nama lain yang lebih tua: Pradipta. Di sampingnya ada tanda kecil seperti lingkaran setengah terbuka. Persis seperti yang mereka temukan di peti, di cincin, dan di papan-papan lainnya.

Ki Rangga berdiri di samping Wira. “Ini bukan hanya daftar.”

Watu mengangguk. “Ini urutan.”

Panca mengernyit. “Urutan untuk apa lagi?”

“Untuk siapa yang dipindahkan duluan, siapa yang ditahan, dan siapa yang disimpan sebagai saksi,” jawab Watu.

Wira menatap garis-garis itu. Dadanya terasa sesak. Semua yang ia cari selama ini ternyata bukan benda tunggal, melainkan rangkaian pemindahan orang dan nama. Ayahnya ada di daftar. Keluarganya ada di daftar. Ibunya pun ada di balik semua itu.

Tiba-tiba Jaya mengangkat kepala.

“Ada bunyi.”

Semua langsung diam.

Dari pintu kecil besi di ujung ruangan, terdengar gesekan halus. Seperti seseorang di sisi lain sedang mencoba membuka atau mungkin memaksa masuk.

Arya langsung menegakkan tubuh. “Kita tidak sendirian.”

Panca mundur setengah langkah. “Jangan bilang mereka menemukan jalur ini.”

Watu memejamkan mata sebentar. “Kalau mereka sudah sampai sini, berarti orang yang membocorkan arah bekerja lebih cepat dari dugaan.”

Ki Rangga mengeluarkan senjata kecil dari balik kain di pinggangnya. “Siapa pun itu, kita hadapi dulu.”

Wira menatap pintu besi itu. Bunyi gesekan kembali terdengar, lebih keras. Lalu ada bunyi keras seperti sesuatu dipukul dari luar.

Pintu itu bergetar.

Jaya bergerak ke samping pintu. “Kalau terbuka, jangan diam.”

Panca menelan ludah. “Kalau bisa, aku lebih suka tidak bertemu siapa pun.”

Arya menatap Wira. “Kau harus melihat satu hal sebelum pintu itu terbuka.”

Wira menoleh cepat. “Apa?”

Arya menunjuk meja batu paling ujung, yang tertutup kain lusuh lebih tebal dari yang lain. “Di bawah sana ada catatan ibu-mu.”

Wira membeku.

Ia mendekat perlahan, tangan gemetar saat menyibak kain penutup meja. Di bawahnya ada lembaran kulit kayu tua yang diikat rapi. Ia mengenali tulisan itu bahkan sebelum membacanya. Tulisan ibunya.

Wira membuka ikatannya.

Pada lembar pertama tertulis singkat:

“Jika sampai di ruang catatan terakhir, berarti jalan pulang belum selesai.”

Wira membaca kalimat itu berulang kali. Di bawahnya ada baris lain, lebih kecil.

“Danar tidak dibuang. Ia disimpan.”

Wira menelan ludah. Kata itu terasa jauh lebih kejam daripada “dibawa”. Disimpan. Seperti benda. Seperti rahasia yang terlalu berbahaya untuk dikeluarkan.

Panca yang melihat ekspresinya ikut mendekat. “Apa isinya?”

Wira menyerahkan lembar itu.

Panca membaca cepat lalu langsung mengangkat wajah. “Disimpan? Orang?”

Raden Seta menatap tulisan itu. “Berarti ayahmu masih ada di tempat yang lebih dalam.”

Ki Rangga menatap pintu besi yang kini kembali berguncang. “Kalau begitu kita harus buka jalur itu.”

Watu mengangguk. “Tapi tidak dengan paksa.”

Arya menyisir pandangan ke dinding. “Ada tuas.”

Jaya sudah lebih dulu menemukannya. Ia menekan sebuah batu kecil di dekat tiang tengah. Ruangan itu bergetar pelan. Lalu dari bawah lantai terdengar suara mekanisme berat yang bergerak.

Pintu besi di ujung ruangan terbuka perlahan.

Udara yang keluar dari baliknya lebih dingin dari sebelumnya. Sangat dingin. Dan dari dalam, terdengar satu suara. Bukan suara langkah. Bukan juga gesekan logam. Tetapi suara napas manusia.

Wira membeku.

Ki Rangga langsung mengangkat senjatanya. “Siapa di sana?”

Tidak ada jawaban.

Namun dari dalam ruang besi itu, seseorang perlahan muncul ke ambang pintu. Cahaya redup dari ruangan mereka menyingkap wajah pucat, rambut kusut, dan mata yang tampak seperti lama tidak melihat terang. Lelaki itu kurus, pakaiannya kusam, dan kedua tangannya gemetar kecil.

Wira menatapnya tanpa berkedip.

Wajah itu… ia tidak tahu pasti, tapi ada sesuatu yang sangat mirip dengan potret kecil dalam liontin.

Panca berbisik nyaris tak terdengar, “Itu…”

Wira tidak mampu bicara.

Lelaki itu menatap Wira lama, seperti sedang memastikan apa yang ia lihat bukan ilusi. Bibirnya bergetar.

“Wira,” katanya serak.

Dan saat nama itu keluar dari mulut lelaki itu, dunia Wira seperti berhenti sejenak.

1
baca yg gue suka
nyampe chap ni isinya cuman kabur mlulu.
bukin pusing aja
baca yg gue suka
kalimat yg sama diulang2 terus
Filan
yang panggil itu bertentangan sama orang-orang yang datang kan?
Filan
kejam juga. mereka yang bakar kan?
Elisabeth Pasaribu
seru banget Thor, jangan lupa mampir ya di karya ku
B. Toon
Wah, mantap. Cerita baru lg, ini gak kalah seru sama 'Badai Pusaka di Tanah Gadhing'. Yang ini cerita fiksi di campur sejarah Kerajaan Nusantara. Smangat thor, ditunggu bab-bab selanjutnya /Good//Good/
Restu Agung Nirwana: Makasih bang, siap. Saya usahakan, ikutin trs petualangan Wira sama Panca bang. Jgn sampe ketinggalan 😄😄🙏🙏
total 1 replies
B. Toon
Wah, si Wira udah mulai nunjukin benih-benih calon pendekar 👍👍
Restu Agung Nirwana: Hehehe... iya donk 😄
total 1 replies
B. Toon
Makin menarik, dibikin penasaran trs 😄
Restu Agung Nirwana: makasih bang, baca sampai tamat ya 👍👍
total 1 replies
B. Toon
Seru thor, baru bab 1 udah di suguhi tragedi di desanya MC . Penasaran giman nasibnya Wira sama Panca nanti. Lanjut, jgn berhenti di tengah jalan thor 😄😄👍👍
Restu Agung Nirwana: iya bang, sat-set 😄😄😄😄
total 1 replies
Slow ego
wira... panca👍
Restu Agung Nirwana: 😄😄😄 terimakasih dukungannya,
ini komen pertama. Gimana kak ceritanya? minta pendapatnya. Kalau ada yg kurang, sebisa mungkin saya perbaiki 🙏🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!