NovelToon NovelToon
Di Balik Tirai Luka

Di Balik Tirai Luka

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Sistem
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: wyzy

Bagi Alya, pernikahan adalah sebuah janji suci. Namun, di usianya yang ke-22, janji itu berubah menjadi transaksi gelap. Demi menyelamatkan ayahnya dari jeratan hukum akibat kebangkrutan besar dan serangan jantung ibunya, Alya terpaksa menerima pinangan Arka Dirgantara, seorang pengusaha muda nan dingin yang memiliki kekuasaan mutlak.
Alya mengira dia hanya akan menjalani pernikahan tanpa cinta. Namun, kenyataan jauh lebih pahit: Arka tidak menginginkan hatinya, ia menginginkan kehancurannya.
Arka menyimpan dendam masa lalu yang membara. Ia meyakini bahwa ayah Alya adalah penyebab kematian tragis ibunya bertahun-tahun silam. Baginya, menikahi Alya adalah cara paling elegan untuk menyiksa musuhnya melalui tangan orang yang paling dicintai sang musuh. Di mansion megah yang lebih menyerupai penjara emas, Alya harus bertahan menghadapi dinginnya sikap Arka, intimidasi ibu mertua yang kejam, hingga kehadiran masa lalu Arka yang terus memojokkannya.
Namun, di tengah badai air mata dan perlak

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wyzy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 5. Sisa-sisa

Malam itu, mansion mewah Arka terasa lebih mencekam dari biasanya. Arka mengemudikan mobilnya dalam diam, tak ada lagi Sisil di sampingnya karena wanita itu telah diantarkan pulang lebih dulu—tentu saja setelah Sisil sempat mengomel panjang karena "acara belanjanya" terganggu oleh insiden pingsannya Alya.

Alya menyandarkan kepalanya di kaca jendela mobil yang dingin. Tubuhnya terasa seringan kapas, seolah jiwanya sudah terbang meninggalkan raga yang hancur itu. Kepalanya masih berdenyut, namun rasa sakit itu tidak sebanding dengan hampa yang ia rasakan.

Sesampainya di rumah, Arka tidak menariknya dengan kasar seperti biasanya. Ia hanya berjalan di depan, langkah kakinya bergema di lorong sunyi.

"Masuk ke kamarmu," ujar Arka pendek saat mereka sampai di depan pintu kamar utama.

Alya menurut tanpa suara. Ia berjalan menuju sofa, tempat tidurnya yang kini ia anggap sebagai wilayah kekuasaannya yang kecil. Namun, saat ia hendak merebahkan diri, suara Arka menghentikannya.

"Berhenti di situ."

Arka berjalan menuju lemari besar, mengambil sebotol kecil minyak angin dan obat pereda nyeri yang ia beli di apotek rumah sakit tadi. Ia mendekati Alya, lalu duduk di tepi ranjang, tepat di hadapan sofa.

"Sini," perintahnya sambil menepuk sisi ranjang di sebelahnya.

Alya menatapnya tak percaya. "Aku... aku bisa sendiri, Arka."

"Jangan membuatku mengulang perintah, Alya. Kau sudah cukup mempermalukanku hari ini. Jangan ditambah dengan pembangkangan."

Dengan ragu, Alya bangkit dan duduk di tepi ranjang, menjaga jarak sekitar tiga puluh sentimeter dari suaminya. Arka menghela napas kasar, lalu tiba-tiba bergerak mendekat. Tangan pria itu yang besar dan hangat terulur ke arah dahi Alya, menyentuh perban yang menutupi luka akibat benturan di restoran.

Alya memejamkan mata, tubuhnya gemetar secara refleks. Ia terbiasa dengan sentuhan kasar Arka, sehingga kelembutan yang tiba-tiba ini terasa lebih menakutkan daripada kemarahannya.

"Kenapa kau tidak makan?" tanya Arka pelan. Jemarinya dengan telaten mengoleskan obat di sekitar pinggiran perban.

"Aku... aku lupa," dusta Alya. Ia tidak mungkin mengatakan bahwa ia terlalu takut untuk meminta makan pada Nyonya Ratna atau para pelayan yang selalu mengawasinya seperti elang.

Arka terhenti. Ia menatap wajah Alya yang pucat di bawah temaram lampu nakas. Ada lingkaran hitam di bawah mata gadis itu, dan tulang pipinya tampak lebih menonjol dibandingkan saat hari pernikahan mereka seminggu yang lalu.

"Kau pikir dengan menyiksa dirimu sendiri, aku akan kasihan? Kau pikir aku akan mengampuni ayahmu jika kau mati kelaparan?" suara Arka kembali dingin, seolah ia menyesali momen kelembutan yang baru saja ia tunjukkan.

"Aku tidak meminta belas kasihanmu, Arka," Alya memberanikan diri menatap mata gelap itu. "Aku hanya ingin tahu, sampai kapan kau akan melakukan ini? Jika kau membenciku, kenapa kau tidak menceraikanku saja setelah urusan utang ayahku selesai?"

Arka tertawa sinis, sebuah tawa yang kering tanpa kebahagiaan. Ia menarik tangannya dari wajah Alya.

"Cerai? Itu terlalu mudah bagimu. Aku ingin kau melihat bagaimana aku menghancurkan semua yang kau sayangi satu per satu. Aku ingin kau merasakan bagaimana rasanya menjadi tidak berarti, persis seperti yang dirasakan ibuku saat ayahmu mengabaikan permohonannya."

Arka berdiri, menatap Alya dengan pandangan merendahkan.

"Makanlah. Aku sudah menyuruh pelayan mengantarkan bubur ke depan pintu. Jangan pingsan lagi besok. Besok ada jamuan makan malam keluarga besar Dirgantara, dan kau harus tampil sempurna sebagai istriku. Jangan sampai ada satu pun orang yang mencium bau busuk dari pernikahan ini."

Arka melangkah keluar, namun di ambang pintu, ia berhenti sejenak tanpa berbalik.

"Dan jangan tidur di sofa malam ini. Bau obatmu akan mengganggu penciumanku jika kau pingsan lagi di sana. Tidurlah di ranjang. Aku akan tidur di ruang kerja."

Pintu tertutup. Alya terpaku. Untuk pertama kalinya, Arka memberikan tempat tidur itu padanya. Apakah itu bentuk rasa bersalah? Ataukah hanya strategi lain untuk memanipulasi perasaannya?

Alya bangkit dan membuka pintu kamar. Benar saja, di atas sebuah meja kecil di luar, terdapat semangkuk bubur ayam yang masih mengepulkan uap. Di sampingnya, terdapat segelas susu hangat.

Alya membawa nampan itu masuk. Ia menyuap bubur itu perlahan, air matanya jatuh menetes ke dalam mangkuk. Rasa gurih bubur itu terasa pahit di lidahnya yang kelu.

Malam itu, Alya berbaring di atas ranjang yang sangat luas dan empuk. Namun, keempukan kasur itu terasa seperti pasir hisap yang siap menenggelamkannya. Ia meringkuk, memeluk bantal yang masih menyisakan aroma parfum Arka—aroma sandalwood dan maskulinitas yang keras.

Di kamar sebelah, Arka berdiri di balkon ruang kerjanya, menyesap segelas wiski sambil menatap langit malam yang tanpa bintang. Tangannya masih menyisakan sensasi halus dari kulit dahi Alya. Ia membenci dirinya sendiri karena sempat merasa goyah saat melihat air mata di mata gadis itu.

"Ini hanya permulaan, Alya," bisiknya pada kegelapan. "Jangan biarkan aku melembut, karena kau adalah putri dari orang yang membunuh jiwaku."

Arka meneguk habis minumannya, membiarkan rasa terbakar di tenggorokannya membakar sisa-sisa rasa kemanusiaan yang hampir saja bangkit kembali.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!