Erlan Pratama, seorang direktur muda yang ambisius, berhasil memenangkan sengketa hukum atas sebidang tanah strategis yang ditempati rumah susun tua. Dengan rencana besar di kepalanya, ia memutuskan melakukan penggusuran demi proyek pembangunan yang diyakininya akan membawa keuntungan besar. Namun, hari eksekusi yang seharusnya berjalan lancar justru menjadi titik balik dalam hidupnya.
Di tengah kericuhan warga yang menolak digusur, Erlan dikejutkan oleh kehadiran Linda Sari, mantan kekasihnya yang pernah menghilang tanpa kabar. Linda terlihat berbeda, lebih rapuh, namun tetap tegar. Di pelukannya, seorang bayi perempuan berusia tiga tahun menangis ketakutan melihat situasi di sekitarnya. Tatapan Erlan terpaku pada anak itu, memunculkan pertanyaan yang tak bisa ia abaikan.
Pertemuan tak terduga itu membangkitkan kembali kenangan lama, sekaligus membuka luka yang belum sembuh. Erlan mulai meragukan keputusannya, sementara Linda menyimpan rahasia besar yang bisa mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Robby Ido Wardanny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 21
Pagi itu matahari bahkan belum menampakkan dirinya di ufuk timur. Langit masih berwarna kelabu pucat, seolah dunia belum sepenuhnya siap untuk terjaga. Namun bagi Linda, hari sudah dimulai sejak suara kecil yang nyaris seperti bisikan itu terdengar di telinganya.
“Ibu… bangun…”
Kirana.
Anak kecil itu berdiri di samping tempat tidur dengan rambut yang sedikit berantakan dan mata yang masih setengah mengantuk, tetapi senyumnya sudah merekah cerah. Seperti biasa. Seperti matahari kecil yang tidak pernah gagal menyinari harinya.
Linda membuka mata perlahan, lalu tersenyum lelah namun hangat. “Pagi sekali, Sayang…”
Kirana tidak menjawab, hanya mengulurkan kedua tangannya dengan penuh harap. Tanpa perlu banyak kata, Linda sudah paham maksudnya. Ia bangkit, menggendong putrinya, lalu berjalan menuju kamar mandi.
Udara pagi terasa dingin, namun kehangatan tubuh Kirana di pelukannya membuat Linda merasa nyaman.
“Ayo, kita cuci muka dulu,” ujar Linda lembut.
Kirana mengangguk patuh, meskipun beberapa detik kemudian ia mulai memainkan air dengan jemarinya.
“Ih, jangan main air, nanti bajunya basah,” tegur Linda sambil menahan tawa kecil.
Kirana malah tertawa, suara kecilnya memenuhi kamar mandi yang sederhana itu. Tawa yang jujur. Tawa yang tidak tahu beban.
Setelah selesai membersihkan wajah, Kirana langsung menatap ibunya dengan mata berbinar.
“Jalan-jalan…”
Linda menghela napas pendek, lalu tersenyum. “Pagi-pagi sekali sudah mau jalan-jalan?”
Kirana mengangguk cepat. “Mau lihat luar.”
Kebiasaan itu sebenarnya baru. Sejak mereka tinggal di apartemen Erlan, setiap pagi Kirana selalu diajak berjalan-jalan. Dan rupanya, kebiasaan itu sudah melekat kuat dalam dirinya.
Linda tidak bisa menolak. Ia hanya mengangguk pelan.
“Baiklah. Tapi harus pakai sandal, ya.”
Beberapa menit kemudian, mereka sudah berada di luar rumah. Udara pagi di kompleks perumahan itu terasa segar. Embun masih menempel di dedaunan, dan beberapa orang mulai terlihat beraktivitas.
Kirana langsung turun dari gendongan dan berjalan dengan langkah kecil yang penuh semangat.
“Selamat pagi!” sapanya pada siapa saja yang lewat.
Linda berjalan beberapa langkah di belakangnya, matanya tidak pernah lepas dari sosok kecil itu.
“Pelan-pelan, Kirana,” katanya mengingatkan.
Namun seperti biasa, Kirana hanya tertawa kecil dan terus berjalan.
Seorang wanita paruh baya yang sedang menyapu halaman rumahnya berhenti dan tersenyum melihat mereka.
“Pagi,” sapa wanita itu ramah.
Kirana langsung mendekat tanpa ragu. “Pagi! Nama aku Kirana!”
Linda sedikit terkejut dengan keberanian putrinya, namun ia tetap tersenyum sopan.
Wanita itu tertawa kecil. “Wah, pintar sekali. Kenalan dulu ya. Saya Rani, tetangga sebelah.”
“Bu Rani…” ulang Kirana dengan serius, seolah mencoba mengingat nama itu dengan benar.
Bu Rani terlihat semakin gemas. Ia menunduk sedikit dan mengelus kepala Kirana dengan lembut. “Lucu sekali, ya ampun.”
Tak lama kemudian, seorang pria keluar dari dalam rumah. “Ada apa, Bu?”
“Ini loh, tetangga baru kita,” jawab Bu Rani.
Pria itu mendekat dan tersenyum ramah. “Oh, yang pindah kemarin itu, ya?”
Linda mengangguk sopan. “Iya, Pak. Kami baru pindah.”
“Saya Baskoro,” ujar pria itu sambil mengulurkan tangan.
“Linda,” jawabnya sambil menyambut uluran tangan tersebut.
Pak Baskoro mengangguk. “Selamat datang. Semoga betah di sini.”
“Terima kasih, Pak.”
Bu Rani kemudian melirik Kirana lagi. “Anaknya aktif sekali. Umur berapa?”
“Tiga tahun,” jawab Linda.
“Pantas saja sudah cerewet,” canda Bu Rani.
Kirana hanya tersenyum tanpa benar-benar memahami, tetapi ia tampak senang diperhatikan.
“Suaminya belum kelihatan?” tanya Bu Rani dengan nada santai.
Pertanyaan itu membuat Linda sedikit terdiam. Ada jeda kecil sebelum ia menjawab.
“Masih di tempat tinggal lama, Bu. Lagi beres-beres barang.”
“Oh begitu…” Bu Rani mengangguk, tampak tidak curiga sedikit pun.
Namun di dalam hati, Linda merasakan sesuatu yang berat. Ia masih belum siap menghadapi penilaian orang lain. Masih ada ketakutan yang ia simpan rapat-rapat.
Ia menatap Kirana, mencoba menguatkan dirinya sendiri.
Suatu saat… mungkin ia akan berani jujur.
“Tante… lihat!” seru Kirana tiba-tiba.
Seekor kucing melintas di dekat pagar rumah.
Tanpa pikir panjang, Kirana langsung berlari mengejar.
“Kirana! Jangan lari!” Linda refleks berteriak.
Namun Kirana sudah terlalu bersemangat. Langkah kecilnya berusaha mengejar kucing yang jelas lebih lincah darinya.
Linda menghela napas panjang lalu berlari mengejar.
“Kirana, pelan-pelan!”
Beberapa detik kemudian, ia berhasil menangkap putrinya.
“Kamu ini… tidak boleh lari-lari begitu,” tegurnya lembut sambil menggendong Kirana.
Kirana hanya tertawa, sama sekali tidak merasa bersalah.
“Lucu…” katanya sambil menunjuk ke arah kucing yang sudah menghilang.
Linda menggeleng pelan, lalu mencubit pipi Kirana dengan gemas. “Iya, lucu. Tapi kamu harus hati-hati.”
Kirana menatap ibunya, lalu berkata dengan polos, “Kejar lagi?”
Linda terdiam sejenak… lalu akhirnya tertawa kecil.
“Kamu ini ya…”
Ia menurunkan Kirana kembali. “Baiklah, tapi jangan lari.”
Kirana mengangguk cepat, meskipun jelas tidak sepenuhnya berniat mematuhi.
Mereka berjalan menyusuri kompleks. Pagi semakin ramai. Beberapa orang terlihat jogging, ada yang menyapu halaman, dan ada juga yang sedang berbincang santai.
Tak jauh dari sana, terlihat kerumunan kecil di sebuah rumah.
“Ada apa itu?” gumam Linda.
Ia mendekat dan melihat sebuah usaha katering kecil di depan rumah.
Beberapa orang mengantri, memilih makanan untuk sarapan.
“Ayo ke sana,” ajak Linda.
Kirana langsung ikut tanpa protes.
Di meja panjang, tersaji berbagai macam makanan. Dari nasi kuning, lontong sayur, hingga bubur ayam yang masih mengepul hangat.
“Mau apa?” tanya Linda sambil menunduk.
“Bubur,” jawab Kirana cepat.
“Pakai sayur?”
Kirana langsung menggeleng keras. “Tidak mau brokoli.”
Linda menahan tawa. “Baiklah, tanpa brokoli.”
Ia memesan satu porsi bubur, lalu matanya tertarik pada deretan kue di samping.
Ada kue kering, kue basah, hingga brownies cokelat yang tampak menggoda.
“Hmm…”
“Ibu, itu!” Kirana menunjuk ke arah donat kecil berwarna-warni.
“Kamu mau itu?”
Kirana mengangguk penuh semangat.
“Baiklah, satu ya.”
Saat Linda sedang memilih, seorang wanita menghampiri mereka.
“Baru lihat, ya,” katanya ramah.
Linda menoleh dan tersenyum. “Iya, Bu. Kami baru pindah kemarin.”
“Oh, pantesan. Saya Eka, yang punya katering ini.”
“Wah, ramai sekali, Bu,” kata Linda.
Bu Eka tersenyum bangga. “Alhamdulillah. Lumayan buat mengisi waktu. Daripada di rumah saja.”
Ia kemudian menatap Kirana. “Aduh, lucu sekali…”
Kirana tersenyum malu-malu.
Bu Eka mengambil sebuah biskuit cokelat dan memberikannya. “Ini buat kamu.”
“Makasih…” jawab Kirana pelan, lalu langsung memakannya dengan bahagia.
Linda sedikit terkejut. “Aduh, Bu, tidak usah…”
“Tidak apa-apa. Senang lihat anak kecil makan dengan lahap begitu.”
Linda tersenyum. “Terima kasih, Bu.”
Ia kemudian bertanya, “Semua ini buatan sendiri?”
“Iya,” jawab Bu Eka. “Saya buat sendiri. Awalnya cuma coba-coba, lama-lama jadi begini.”
“Hebat sekali,” kata Linda tulus.
Sambil menunggu pesanan, Linda memperhatikan suasana sekitar. Hangat. Ramah. Sederhana, tetapi hidup.
Kirana berdiri di sampingnya, sibuk menghabiskan biskuit.
“Ibu…” katanya.
“Apa?”
“Besok ke sini lagi?”
Linda menatapnya, lalu tersenyum lembut.
“Kalau kamu tidak lari-lari lagi, boleh.”
Kirana mengangguk serius, meskipun entah berapa lama janji itu akan bertahan.
Pagi itu terasa berbeda.
Bukan hanya karena tempat baru.
Tetapi karena untuk pertama kalinya, Linda merasa… mungkin ia bisa memulai lagi.
Pelan-pelan.
Dan di sampingnya, Kirana tetap berjalan kecil dengan cerianya… tanpa tahu betapa besar arti keberadaannya bagi ibunya.