Sequel Novel "The End Of Before"
"Satu sayatan mengakhiri Hidupnya, satu dekapan memulai penebusannya."
Satu sayatan dalam di pergelangan tangan menjadi titik terakhir bagi Elowen Valerio. Baginya, kematian adalah satu-satunya jalan keluar dari jeratan cinta terlarangnya. Setelah Setahun pelarian bersama Jeff Feel-Lizzie tak cukup membasuh lukanya.
Namun, takdir berkata lain saat Ezzra Velasquez, seorang pria yang sedang menjalani hukuman sebagai pelayan hotel, menemukannya bersimbah darah.
Ezzra menyadari Elowen adalah labirin berbahaya. Dan Elowen sendiri merasa
menghadapi kenyataan bahwa maut jauh lebih ramah daripada Pria Bernama Ezzra Velasquez.
Selamat Membaca 🌷
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#24
Bau antiseptik yang tajam dan bunyi ritmis dari mesin electrocardiogram menjadi satu-satunya melodi di ruang ICU yang dingin itu. Elowen Valerio perlahan membuka kelopak matanya yang bengkak.
Cahaya lampu rumah sakit terasa menusuk, namun siluet orang-orang yang dicintainya perlahan mulai fokus dalam pandangannya yang kabur.
"Elowen? Sayang?"
Mommy Vivian, yang sejak tadi menggenggam tangan dingin putrinya, langsung berteriak histeris. "DOKTER! PANGGILKAN DOKTER! PUTRIKU SADAR!"
Suara itu memecah ketegangan yang membeku di ruangan. Dalam sekejap, kekacauan terjadi. Namun, di antara langkah kaki perawat dan isak tangis Vivian, satu sosok bergerak lebih cepat daripada siapa pun. Bahkan lebih cepat dari langkah Daddy Logan yang berada tepat di samping ranjang.
"Sayang... Kau mendengar ku? El?"
Ezzra berlutut di samping ranjang, wajahnya yang biasanya sombong kini tampak hancur, penuh dengan kecemasan yang tidak bisa ditutupi. Matanya yang memerah menatap Elowen dengan intensitas yang seolah mampu memberikan nyawa baru.
Elowen menggerakkan bibirnya yang pecah dan kering. Suaranya hanya berupa bisikan lirih, hampir tidak terdengar di tengah kebisingan ruangan. "Jeff..."
Mendengar nama itu, rahang Ezzra mengeras. Belum sempat Ezzra membalas atau menenangkan Elowen, sebuah tangan besar mencengkeram kerah jaketnya dengan kasar dan menyentaknya ke belakang.
BUGH!
Satu pukulan telak dari Logan Valerio mendarat tepat di rahang Ezzra, membuatnya terhuyung hingga menghantam kursi di sudut ruangan.
"JAUHI PUTRIKU!" raung Logan. Suaranya menggema, penuh dengan otoritas dan kemarahan seorang ayah yang melihat dunianya dihancurkan.
"Dad! Cukup!" Alvaro mencoba menahan ayahnya, meskipun ia sendiri sebenarnya ingin melakukan hal yang sama.
Logan terengah-engah, wajahnya merah padam. Ia menunjuk ke arah Ezzra dengan jari yang gemetar.
"Dari tadi aku sudah menahan diri agar tidak membunuhmu, anak muda! Aku masih menghargaimu karena dua bulan lalu kau menyelamatkan putriku dari maut di hotel itu. Tapi sekarang? Sekarang putriku harus bangun dari kematian untuk kedua kalinya karena ulahmu!"
"Sudah, Dad. Dia bisa mati jika kau memukulnya lagi," Felix menengahi, meskipun tatapannya pada Ezzra tetap sedingin es.
Ezzra terbatuk, darah segar mengalir dari sudut bibirnya. Ia menyeka darah itu dengan punggung tangannya. Pukulan dari Alvaro dan Felix tadi terasa sakit, namun pukulan dari ayah wanita yang ia cintai—ayah dari wanita yang baru saja kehilangan anaknya—rasanya jauh lebih menghancurkan. Rasanya seperti jantungnya sendiri yang sedang dipukul.
Dengan sisa tenaganya, Ezzra berdiri tegak. Ia tidak mundur, tidak juga menunduk. Ia menatap lurus ke mata Logan Valerio yang berkilat amarah.
"Saya siap menikahi Elowen, Paman. Saat ini juga, jika Anda mengizinkan," ucap Ezzra tegas. Suaranya tidak lagi bergetar.
Logan terkekeh sinis, sebuah tawa kering yang meremehkan. "Menikahinya? Kau pikir kau siapa? Kau punya apa untuk menjamin masa depan putriku setelah kekacauan yang kau timbulkan?"
Ezzra menarik napas panjang, mengeluarkan aura kewibawaan pewaris Velasquez yang selama ini ia sembunyikan di balik sikap berandalnya. "Saya memiliki 15% saham di industri perkapalan internasional, 10% di jaringan perhotelan Asia, dan lima properti komersial di pusat kota atas nama saya sendiri—semuanya murni hasil investasi saya tanpa campur tangan Daddy saya."
Logan terdiam sejenak, namun wajahnya masih menunjukkan ketidaksenangan.
"Saya adalah pewaris tunggal keluarga Velasquez, Paman. Saya bahkan bisa menafkahi Elowen hingga tujuh turunan tanpa harus bekerja satu hari pun," lanjut Ezzra. Ia kemudian menoleh ke arah Mommy Vivian yang tampak terkejut. "Dan juga... saya memegang 6% saham di Perusahaan Wheeler."
Vivian tertegun. "Wheeler? Itu perusahaan keluargaku. Bagaimana bisa kau memiliki saham di sana? Sejak kapan?"
"Sudah lama, Tante. Saya membelinya lewat pihak ketiga saat perusahaan itu melakukan ekspansi tahun lalu. Saya sengaja menyimpannya sebagai aset pribadi," jawab Ezzra tenang.
Logan menyipitkan matanya, mencoba mencari celah dalam keseriusan pria di depannya. "Harta bisa habis, Ezzra. Kau bicara soal angka seolah itu bisa menggantikan nyawa yang hilang."
Logan melangkah mendekat, memberikan tatapan yang sangat menguji. "Jika kau memang serius, apakah kau bersedia membalikkan semua aset yang kau sebutkan tadi atas nama putriku? Menjadikan Elowen pemilik tunggal dari semua kekayaanmu sebelum pernikahan dimulai?"
Suasana menjadi hening. Alvaro dan Felix saling berpandangan. Itu adalah permintaan yang tidak masuk akal. Itu sama saja dengan menyerahkan seluruh hidup dan kekuasaannya kepada orang lain.
Namun, tanpa keraguan sedikit pun, Ezzra menjawab, "Saya bersedia. Jika itu yang Anda minta sebagai jaminan, saya akan menghubungi pengacara keluarga saya sekarang juga untuk mengurus balik nama seluruh aset saya atas nama Elowen Valerio."
Bagi Ezzra, harta adalah sampah jika ia tidak bisa memiliki Elowen. Jika ia harus menjadi miskin demi mendapatkan restu untuk menjaga wanita itu, ia tidak keberatan. Ia masih memiliki hak waris dari orang tuanya nanti, namun saat ini, ia hanya ingin membuktikan bahwa ia tidak main-main.
Logan menatap Ezzra selama beberapa saat, mencari keraguan di mata gelap itu. Namun yang ia temukan hanyalah ketulusan yang membakar. Logan kemudian menghela napas panjang dan melepaskan ketegangan di bahunya.
"Tidak perlu," ucap Logan pendek.
Ezzra tertegun. "Maksud Anda?"
"Aku hanya mengetesmu," sahut Logan sambil memalingkan wajah ke arah ranjang Elowen. "Aku hanya ingin tahu sejauh mana seorang Ezzra Velasquez akan bertindak untuk putriku. Dan ternyata, kau cukup gila untuk menjadi miskin demi dia."
Deg.
Jantung Ezzra berdegup kencang. Ia merasa sebuah beban besar baru saja terangkat dari pundaknya. Ia segera mendekat ke ranjang Elowen, meraih tangannya yang terpasang infus.
"Dengar itu, El? Daddy-mu setuju. Dia mengizinkanku menjagamu," bisik Ezzra di telinga Elowen dengan nada lega yang luar biasa.
Elowen tidak menjawab. Matanya masih setengah terbuka, menatap langit-langit dengan pandangan yang kosong. Tubuhnya terasa seperti remuk berkeping-keping. Rasa sakit di perutnya masih terasa nyata, mengingatkannya pada kehilangan yang baru saja terjadi. Meskipun restu telah didapat, luka di hatinya terlalu dalam untuk disembuhkan hanya dengan kata-kata.
Di sudut ruangan, Felix menatap adiknya dengan tatapan yang sulit diartikan. Ia tahu, Jeff belum berakhir. Dan ia tahu, perang untuk melindungi Elowen baru saja memasuki babak yang paling berdarah.
biasanya si laki yg dibikin babak belur di ceritamu kak....
poor elowen...