NovelToon NovelToon
Beyond The Contract

Beyond The Contract

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Agatha soul

Akibat jebakan obat di malam perjamuan, Aruna berakhir di ranjang bos besarnya yang dingin, Adrian. Namun, sebuah garis dua di testpack mengubah segalanya. Batasan profesional di atas kertas itu perlahan runtuh saat seorang anak kecil—buah cinta kandung dari malam penuh skandal itu—hadir di antara mereka, memaksa hubungan ini berjalan jauh melampaui batasnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agatha soul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 10

Jarum jam di dinding ruanganku sudah menunjukkan pukul delapan malam lewat ketika aku akhirnya memutuskan untuk menyudahi pekerjaan hari ini. Lorong lantai eksekutif sudah sunyi senyap sejak dua jam yang lalu. Bahkan Ariana, asisten baruku yang manja itu, sudah pulang tepat waktu pukul lima teng, mengabaikan fakta bahwa bosnya masih tertimbun berkas.

Aku melangkah ke basemen, masuk ke dalam mobil. Sambil menyetir, aku melonggarkan sedikit dasiku yang terasa mencekik leher sepanjang hari.

Namun, begitu mobilku baru saja keluar dari area gerbang kantor dan hendak berbelok menuju jalan raya utama, pandanganku mendadak tertambat pada sebuah gerobak kaki lima di pinggir trotoar. Di atas gerobak itu ada banner bertuliskan ‘Nasi Goreng Gila’.

Dan di sana, di bawah remang-remang lampu jalanan, aku melihatnya lagi.

Aruna Prameswari.

Gadis kuncir kuda itu sedang berdiri di samping gerobak, memeluk tas ransel kecilnya di depan dada sambil memperhatikan si abang penjual yang sedang mengaduk nasi di atas wajan besar. Asap masakan mengepul di sekitarnya, tapi dia tampak tidak peduli. Dia malah kelihatan... sangat kelaparan, terlihat dari matanya yang menatap wajan itu tanpa berkedip.

Aku memperlambat laju mobilku secara tidak sadar, memperhatikannya dari balik kaca mobil yang gelap.

Mengingat kejadian siang tadi di kantin dan ruang kerja, aku tidak bisa menahan sudut bibirku untuk tidak terangkat. Bisa-bisanya setelah mengomeli CEO di ruangannya sendiri dengan mulut penuh siomay, malamnya dia sudah berdiri santai di pinggir jalan untuk mengantri nasi goreng gerobakan. Benar-benar kontras dengan wanita-wanita di lingkunganku yang selalu pemilih soal tempat makan.

Aruna tampak menerima sebungkus nasi goreng yang dibungkus kertas coklat dari si abang, lalu tersenyum sangat lebar sampai matanya menyipit, persis seperti anak kecil yang baru saja mendapatkan mainan baru.

Aku menggeleng-gelengkan kepala pelan, lalu menginjak pedal gas dalam-dalam untuk melanjutkan perjalanan pulang.

“Dasar aneh,” gumamku sendiri di dalam mobil yang sunyi.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama memimpin perusahaan ini, aku merasa perjalanan pulang kerja malam ini tidak terasa membosankan seperti biasanya. Semua itu hanya karena melihat seorang staf junior yang sedang kegirangan membeli sebungkus nasi goreng pinggir jalan.

Ponsel yang kuletakkan di dashboard mendadak bergetar. Nama Gavin berkedip di layarnya. Aku menekan tombol hijau di setir untuk mengangkatnya lewat speaker mobil.

“Oi, Yan! Lo baru balik kantor kan? Sini ke club biasa, anak-anak pada kumpul. Lo jangan jadi robot mulu lah, sekali-kali refreshing,” suara musik jedag-jedug langsung bocor dari seberang telepon.

Aku menghela napas. Sebenarnya aku lebih suka pulang dan langsung tidur, tapi ajakan Gavin ada benarnya. Otakku butuh dialihkan dari urusan angka perusahaan. “Oke. Gue ke sana sekarang.”

Begitu sampai di VIP lounge club malam langganan kami, aku langsung melangkah masuk. Namun, begitu mataku menangkap sosok yang duduk di sebelah Gavin, langkahku sempat tertahan.

Ariana.

Asisten baruku itu ada di sana, mengenakan gaun malam merah berekor rendah yang sangat seksi dan ketat jauh dari kesan pakaian kantor yang biasa dia kenakan. Begitu melihatku datang, matanya langsung berbinar. Dia buru-buru berdiri, berjalan mendekat dengan gestur yang sengaja dibuat anggun, lalu mencoba menyentuh lenganku.

“Malam, Pak Adrian... Gak nyangka kita bisa ketemu di sini,” ucapnya dengan nada suara yang dibuat mendayu-dayu, matanya menatapku penuh arti. Jelas sekali dia sedang tebar pesona.

Aku langsung menarik lenganku menjauh sebelum dia sempat menyentuh kemejaku. Tatapanku dingin, membuat Ariana langsung salah tingkah. Aku tidak suka dicampuradukkan antara urusan pekerjaan dan kehidupan pribadi, apalagi dengan asisten yang kinerjanya saja belum becus.

Melihat atmosfer di meja langsung berubah mencekam, Gavin buru-buru berdeham dan menepuk bahu Ariana. “Eh, Ar, lo gabung sama temen-temen cewek di bar depan dulu gih. Gue ada urusan bisnis bentar sama Adrian.”

Meskipun cemberut dan kelihatan kecewa karena dicuekin, Ariana akhirnya menurut dan pergi meninggalkan area VIP kami.

Begitu kami hanya tinggal berdua, Gavin langsung menggebrak meja pelan dengan wajah frustasi. “Yan! Lo itu bener-bener ya! Kurang seksi apa si Ariana tadi? Lo malah masang muka kayak mau nerkam buronan!”

Aku menuangkan minuman ke gelasku sendiri tanpa minat. “Gue ke sini mau minum, bukan mau cari cewek.”

“Bukan itu masalahnya, Adrian Wiratama!” Gavin sewot, nadanya berubah serius seperti seorang ibu yang pusing memikirkan anaknya. “Umur lo itu udah tiga puluh lima tahun! Umur segitu tuh kudunya udah mikirin rumah tangga punya anak, bukan Cuma mikirin profit perusahaan! Lo dijodohin sama anak kolega bokap lo, nolak. Dikenalin lewat kencan buta, lo malah sibuk kerja di depan ceweknya. Gue sampai bingung, kriteria cewek lo itu kayak apa sih sebenernya? Tipe lo yang kayak gimana?!”

Pertanyaan Gavin membuatku terdiam. Tipeku?

Entah kenapa, pertanyaan itu malah melempar ingatanku kembali ke kejadian-kejadian seharian ini.

Kepalaku mendadak memutar ulang memori tentang seorang gadis berkuncir kuda. Bayangan saat dia menangis sesenggukan di lift kemarin, lalu bayangan saat dia dengan berani mengulitiku di kantin, hingga puncaknya saat dia mengomel dengan brutal di ruanganku, menantangku sambil mengunyah siomay dengan mulut penuh karena kesal dituduh memakai pelet. Bahkan bayangan terakhir saat dia tersenyum luar biasa lebar hanya karena mendapat sebungkus nasi goreng pinggir jalan, semuanya mendadak berputar rapi di otakku.

Tanpa sadar, sudut bibirku kembali terangkat. Aku tersenyum tipis, sendirian, membayangkan betapa ekspresif dan kacaunya gadis bernama Aruna itu.

Gavin yang sejak tadi menatapku langsung memundurkan badannya ke sandaran sofa. Wajahnya berubah horor, menatapku seolah-olah aku baru saja kerasukan jin club malam.

“Heh... Yan? Lo kenapa senyum-senyum sendiri gitu? Sumpah, ngeri banget gue lihatnya!” Gavin bergidik, buru-buru menyilangkan kedua tangannya di depan dada. “Inget ya, Yan! Gue ini cowok normal dan gue udah nikah! Jangan macem-macem lo ya!”

Lamunanku langsung buyar. Senyuman di wajahku lenyap seketika berganti dengan tatapan jengkel. Wajahku kembali kutekuk sedalam mungkin, menatap Gavin dengan pandangan ingin membunuh.

“Bodoh. Ngaco pikiran lo itu,” dengusku ketus, langsung meneguk minumanku sampai habis.

Gavin malah tertawa terbahak-bahak melihat reaksiku, tanpa tahu kalau isi kepalaku malam ini sudah mulai penuh oleh staf administrasi junior.

Satu minggu telah berlalu, dan aku sama sekali tidak pernah berpapasan lagi dengan gadis kuncir kuda itu. Kehidupan kantorku kembali ke ritme biasa membosankan, kaku, dan penuh dengan kepura-puraan Ariana yang masih saja sering melakukan kesalahan administrasi.

Malam ini, jam kembali menunjukkan pukul sembilan lewat. Jalanan di sekitar area perkantoran sudah mulai lengang dan minim pencahayaan. Aku memacu mobilku dengan kecepatan sedang, berniat untuk segera sampai di rumah dan mengistirahatkan kepalaku yang penat. Aku tahu daerah di sekitar sini merupakan kawasan pemukiman padat dan banyak kontrakan karyawan, jadi aku harus sedikit lebih waspada.

Namun, tepat saat mobilku baru saja melewati sebuah tikungan yang agak gelap menuju jalan utama.

Sreeeeett!!!

Jantungku rasanya mau copot. Aku menginjak pedal rem sedalam mungkin sampai bunyi decitan ban mobilku bergesekan brutal dengan aspal menggema di kesunyian malam. Tubuhku terdorong ke depan, tertahan oleh sabuk pengaman.

Lampu sorot mobilku menerangi sosok yang nyaris saja kuhantam. Seorang wanita. Dia tidak menyeberang dengan normal, melainkan berlari kencang dari arah gang gelap seolah-olah nyawanya sedang terancam. Dia sempat membeku panik di depan bemper mobilku, napasnya memburu, dan wajahnya pucat pasi ketakutan.

Begitu aku membuka pintu mobil dan melangkah keluar, wanita itu langsung menoleh ke arahku.

Aruna.

Aku terpaku di tempatku berdiri. Gadis yang biasanya berpakaian rapi dengan kemeja kantor itu kini tampak sangat kacau. Dia hanya mengenakan tank top tipis berwarna hitam dan celana pendek kain pakaian tidur yang sangat minim untuk udara malam sedingin ini. Rambutnya acak-acakan, dan air mata sudah membasahi seluruh wajahnya.

Belum sempat aku mencerna situasi atau menanyakan apa yang terjadi, Aruna yang mengenalku langsung bergerak cepat. Bukannya menjauh karena takut dengan mobilku, dia malah berlari kecil menghampiriku dengan sisa tenaga yang dia punya.

Grep!

Kedua tangan kecilnya yang gemetar hebat langsung mencengkeram erat lenganku. Dia bersembunyi di balik tubuhku, menjadikan badanku yang lebih besar sebagai tameng, sementara matanya yang penuh anak air mata terus menatap waswas ke arah gang gelap tempat dia berlari tadi. Tubuhnya menempel padaku, bergetar hebat karena ketakutan yang luar biasa. Dia seperti seorang korban yang akhirnya menemukan tempat perlindungan.

"Pak... Pak Adrian... t-tolong saya, Pak..." bisiknya parau di sela tangisnya yang pecah, napasnya masih terengah-engah.

Cengkeramannya di lenganku makin mengencang, seolah-olah kalau dia melepaskanku sedikit saja, sesuatu yang mengerikan di dalam gang itu akan langsung menyeretnya kembali.

Aku merasakan dadaku berdenyut tegang. Amarahku yang tadi sempat tersulut karena insiden nyaris tabrakan langsung padam total, digantikan oleh rasa protektif yang mendadak muncul. Tatapanku beralih dari kepala Aruna yang menunduk ketakutan di samping lenganku, lalu menatap tajam ke arah kegelapan gang di seberang jalan.

1
Alia Chans
Menulis cerita ini membutuhkan waktu berjam-jam, tetapi satu like mungkin mampu menghapus lelah itu dalam sekejap. Semangat thor nulisnya😍
Agatha soul: terima kasih 🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!