Mikayla Rasyida Rayn atau Mika adalah sosok gadis yang ceria dan pecicilan seperti Onty-nya dulu. Dia adalah pengamat yang handal dan analisanya selalu tetap. Kelihatannya saja dia sangat pecicilan dan ucapannya ceplas-ceplos, tapi dia sangat genius.
Namun di balik wajahnya yang ceria dan menyebalkan, dia mengikuti jejak dari Opa buyutnya. Bahkan dia jauh lebih mengerikan dibandingkan Opa buyut dan Uncle-nya. Semua itu dikarenakan sesuatu yang membuatnya trauma.
Season Baru untuk cerita Mika dari (Anak Genius Milik Sang Milliarder)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eli_wi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Racun?
Senyum Mika begitu mengerikan dengan tatapan tajamnya. Mika takkan pernah memberikan toleransi kepada siapapun yang berniat menyakiti keluarganya. Kecuali keluarganya sendiri yang bersalah, dia akan membela kebenaran. Keluarga Papanya sudah sangat keterlaluan. Mengundang Janice hanya untuk makan makanan yang beracun. Jika memang tak suka dengan Janice, seharusnya mereka tidak perlu dekat dengan Mamanya itu.
Mika berjalan dengan langkah pelan menuju Rania yang tiba-tiba merasa ketakutan. Udara di sekitarnya terasa begitu menyesakkan dada Rania. Ternyata firasatnya benar tentang keluarga Papanya ini yang mempunyai tujuan tertentu. Ingin menghilangkan nyawa Janice yang notabene adalah pewaris dari Shaka.
"Nenekku yang cantik, siapa lagi yang mau kamu habisi setelah rencana meracuni Mamaku tidak berhasil? Apa selanjutnya adalah Mika karena menggagalkan semua rencana Nenek?" tanya Mika dengan tatapan datarnya.
"Sebentar, Mika. Tenang dulu..."
"Mungkin ini hanya salah paham. Tidak mungkin Nenekmu itu mau meracuni menantu dan cucunya sendiri," ucap Aditya yang sedari tadi diam. Walau tak dipungkiri bahwa dia merasa takut dengan sikap Mika yang sama sekali tidak bersahabat sejak masuk ke dalam rumah ini.
"Salah paham dan tidak mungkin apa, Kakek? Apa Kakek tidak ingat bagaimana dia mencubit dan memukul kakiku? Apa Kakek tidak ingat dia menyekapku dan Mama tanpa makanan? Usia 3 tahun, menangis kelaparan tapi dipukul dan dicubit. Dimana perasaan anda? Ini cucu anda sendiri dan bilang hanya salah paham? Apa dulu juga salah paham dan tidak mungkin?" sentak Mika tak terima dengan pembelaan Aditya. Padahal biasanya Aditya ini selalu menegur istrinya walaupun tidak digubris oleh Rania.
"Mika, maafkan Kakek. Bukan maksud Kakek membela Nenekmu. Hanya saja ini kan belum terbukti kalau..."
"Kakek ingin bukti kan kalau omongan Mika ini benar? Silahkan coba makanan yang ada di piring Mamaku itu," sela Mika sambil menunjuk ke arah piring Janice.
Jangan...
Hahaha...
Seharusnya Janice dan Angga curiga pada makanan yang ada di hadapan mereka. Pasalnya makanan itu sudah ada di piring mereka masing-masing saat semua datang ke ruang makan. Terlihat sudah disiapkan, kecuali piring untuk Mika. Pasalnya keluarga Papanya itu yakin jika Mika takkan mau datang ke rumah mereka. Namun tak disangka, Mika datang. Posisi duduk dan makanan sudah disiapkan itu menimbulkan kecurigaan bagi Mika.
Saat Mika menunjuk ke arah makanan Janice dan minta Aditya untuk memakannya, Rania langsung mencegahnya. Mika langsung tertawa mendengar larangan dari Rania. Tanpa bukti pun sudah bisa membuktikan bahwa makanan itu ada sesuatu. Tidak mungkin orang melarang makan makanan yang belum tersentuh sama sekali. Kecuali jika melarang makan makanan yang sudah bekas oranglain.
"Lihat itu, Kakek. Istrimu saja melarang anda untuk makan makanan itu. Padahal makanan itu masih baru, bukan bekas yang tidak boleh dimakan oranglain lho. Ada apakah pada makanan itu?" seru Mika dengan tawa mengejek.
"Bu bukan begitu. Itu makanan ada terinya, Kakek alergi teri." seru Rania memberikan alasan. Memang benar adanya jika di dalam piring itu ada teri dan Aditya tidak bisa memakannya.
"Ya sudah, coba Om Zion atau Tante Tiara aja yang coba." ucap Mika membuat Zion memelototkan matanya. Sedangkan Tiara, tampak santai saja karena dia yakin kalau makanan itu tidak ada racunnya. Bahkan dia tadi melihat Rania menuangkan makanan itu ke dalam piring.
"Jika kalian tidak mau makan apapun yang ada di meja, ya sudah. Nggak usah dimakan dan tidak perlu menuduh orang memberinya racun," seru Zion yang kesal dengan berbagai tuduhan itu.
"Daripada ribut, ayo kita makan di restorant depan saja. Biar nggak ada yang saling tuduh dan menyudutkan," ucap Rania dengan sedikit gugup.
Rania meminta semua orang untuk tidak makan makanan yang ada di meja. Dia tak mau kalau suasana malam itu semakin tegang dan panas. Sedangkan Mika hanya bisa menggelengkan kepala dan terkekeh sinis. Bisa-bisanya Rania mau mengalihkan acara ini ke restorant agar kedoknya tak terbongkar. Ternyata keluarga Papanya itu begitu licik.
"Kalau begitu, kami pulang saja. Kami tidak ada waktu untuk pindah-pindah tempat. Ini juga sudah malam, kasihan Angga besok sekolah." ucap Janice memutuskan untuk tidak jadi makan bersama keluarga suaminya.
Nah... Ini baru benar. Kita sudah terlalu lama di sarang macan, nggak bagus. Takut diterkam ihhh...
Ayo pulang, Mika.
Jangan dipikir malam ini Nenek lolos ya. Aku akan buktikan kalau Nenek sudah berusaha untuk menghabisi kami,
Deg...
***
Brakkk...
Astaga...
Mika konslet...
Hahaha...
Bukannya merasa bersalah pada semua temannya, justru Mika malah tertawa bahagia. Hari ini Mika pergi ke warung depan SMA Genta Bumi untuk bertemu dengan Axel, Reska, dan El. Saat sampai di sana, dengan santainya Mika menggebrak meja warung membuat semua orang terkejut. Apalagi mereka tak mengetahui kedatangan Mika itu.
"Datang tuh ucap salam atau apa gitu. Ini main gebrak meja aja," ucap Reska sambil menggerutu.
"Lagian jalannya melayang apa gimana? Nggak ada suara langkah kakinya sama sekali," lanjutnya membuat Mika langsung duduk di samping Axel.
"Dipikir aku itu kuntilanak yang melayang apa," ucap Mika sambil mengerucutkan bibirnya sebal.
"Naik apa ke sini?" tanya Axel tiba-tiba membuat Reska dan El langsung saling pandang.
"Naik pelaminan sama kamu," ucap Mika sambil mengedipkan sebelah matanya.
Hueeekkkk....
Jijik, Mika.
Mendengar gombalan yang dilontarkan oleh Mika, seketika membuat El dan Reska ingin muntah. Anak kecil seperti Mika bisa-bisanya melontarkan gombalan pada ketua geng motor AMOR. Padahal semua orang tahu kalau Axel itu paling malas meladeni perempuan genit. Namun entah mengapa dengan Mika saat ini, Axel tampak biasa saja.
"Apa sih kalian ini? Pasti iri ya kalian sama Kak Axel? Digombali cewek cantik dan hits kaya Mika ini," ucap Mika sambil mengibaskan rambut panjangnya.
"Iklan shampoo, Buk Mika?" sindir Reska yang kesal karena rambut panjang Mika mengenai wajahnya.
"Sepeda keramatnya Mika mana? Mau Mika bawa pulang," tanya Mika tanpa peduli dengan sindiran Reska.
Lha itu, Mika. Masa sepedanya sendiri nggak kenal,
Ha?
Reska menunjuk sebuah sepeda yang terparkir di samping warung. Mata Mika membulat melihat kondisi sepedanya yang tak seperti terakhir dirinya bawa. Mika mendekati sepedanya dengan tatapan sedih. Hal itu terlihat di mata Axel. Dia langsung memandang kedua sahabatnya yang tengah saling sikut-sikutan tangan.
Kalian apakan sepeda keramatnya Mika?
Kenapa warnanya jadi item begini? Nggak mungkin sepedanya kecebur oli kan ini?
Huaaaa...
Ini sepeda hadiah dari Nenek gayung,
Waduh... Kita bikin anak orang nangis, Res.
Kalian...
Ampun, Xel. Ini ide Reska,
Eh... Kok jadi gue sih,
Kan emang lo yang punya ide ini,
Gimana dong?
lanjuttttt bykkkkk thor💪😄