Catherina Lawrence (24 tahun) mengira pernikahannya dengan Adrian Mettond, senior di kampusnya dulu, adalah pelabuhan tenang setelah badai masa lalu yang kelam. Namun, belum genap satu tahun berjalan, kenyataan pahit menghantamnya. Adrian ternyata tidak siap menjadi ayah bagi putra mereka, Liam, dan sang ibu mertua terus memperlakukannya layaknya orang asing yang tak diinginkan.
Di tengah dinginnya sikap Adrian, Catherina dihantui oleh bayang-bayang Everest Cavanaught—mantan kekasih sekaligus "pangeran berandalan" dari masa Lalunya. Hubungan Empat tahun itu berakhir karena keegoisan Catherina, meninggalkan luka yang belum sembuh. Ironisnya, semakin Liam tumbuh, wajah sang bayi justru semakin menyerupai Everest, bukan Adrian.
Terjebak dalam rumah tangga yang hampa dan penuh tuntutan, Catherina mulai mempertanyakan segalanya.
Apakah Adrian benar-benar mencintainya?
.
.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#9
Di tengah kamar bayi yang bernuansa biru pucat, Catherina mendekap Liam dengan kekuatan yang tersisa. Napasnya memburu, air matanya jatuh membasahi dahi bayi kecil itu yang kembali gelisah. Entah di mana keberadaan pengasuh Liam; seolah seluruh pelayan di mansion ini telah diperintahkan untuk membiarkan Catherina tenggelam dalam kesulitan sendirian.
Suasana hening itu pecah seketika saat pintu kamar terbuka kasar. Miranda, ibu mertuanya, berdiri di sana dengan wajah yang memancarkan kejijikan murni.
"Kau memang benar-benar tidak becus ya, Catherina!" Suara Miranda berdengung tajam di telinga Cathe, seperti sembilu yang menyayat luka lama. "Anakmu menangis setiap hari, setiap jam! Oh Tuhan, aku benar-benar kasihan pada Adrian. Dia bekerja keras di luar sana, dan saat pulang, dia harus stres di rumah ini hanya gara-gara anakmu yang berisik ini!"
Belum sempat Miranda menyelesaikan kalimat penghinaannya, sesuatu di dalam diri Catherina meledak. Ia berdiri, menggendong Liam dengan satu tangan sementara tangan lainnya menunjuk tepat ke wajah mertuanya.
"TIDAK PUNYA HATI!" teriak Catherina. Suaranya menggelegar, bergetar karena amarah yang sudah mencapai titik didih. "Apa kau tidak pernah punya anak, hah? Apa kau lupa rasanya menjadi ibu? Anakku menangis setiap hari karena aku sendiri stres di rumah ini! Kalian menghakimiku, menyudutkanku, dan memperlakukanku seolah-olah kami hanya sampah yang tertinggal di mansion mewah ini!"
Adrian, yang rupanya masih berada di koridor, muncul di ambang pintu dengan wajah merah padam. "Catherina! Jaga bicaramu pada ibuku!"
Catherina tertawa histeris. Tawanya terdengar pedih dan gila di saat yang bersamaan. Ia menatap Adrian dengan tatapan yang penuh kebencian murni.
"Jaga bicaraku? Kau yang seharusnya menjaga harga dirimu, Adrian brengsek!" teriak Cathe, suaranya kini membelah kesunyian rumah. "Kau ingin tahu kebenarannya, kan? Kau ingin alasan untuk membenciku lebih dari ini?"
Catherina menarik napas panjang, sebuah pengakuan nekat yang lahir dari rasa putus asa dan keinginan untuk segera lepas dari neraka ini terlontar begitu saja.
"Liam anakku... adalah anak Everest! Liam adalah darah daging Everest Cavanaught! Kalian puas sekarang? Maka ceraikan aku!"
Suasana seketika membeku. Detak jam di dinding seolah berhenti. Adrian mematung di tempatnya berdiri, matanya melebar, dan rahangnya mengeras hingga urat-urat di lehernya menonjol. Miranda menutup mulutnya dengan tangan, seolah-olah baru saja mendengar kutukan paling mengerikan.
"Jadi... Jadi benar?" bisik Adrian, suaranya rendah namun bergetar hebat karena amarah yang meluap. "Jadi benar Liam adalah anak bajingan itu?"
Dramatisasi ruangan itu mencapai puncaknya. Petir tiba-tiba menyambar di luar, mengirimkan kilatan cahaya putih yang menerangi wajah pucat Catherina.
"Kau selingkuh!" Adrian melangkah maju, jarinya menunjuk tepat ke wajah Catherina. "Kau menyelingkuhi aku! Kau masuk ke pernikahan ini sambil membawa benih pria lain di rahimmu! Oh Tuhan... syukurlah aku tidak pernah sudi menyentuh perut hamilmu dulu. Aku merasa jijik hanya dengan membayangkannya!"
Adrian kemudian berbalik ke arah ibunya dengan senyum kejam yang mengerikan. Senyum kemenangan seorang pria yang baru saja mendapatkan senjata untuk menghancurkan musuhnya.
"Dengar itu, Bu? Istriku sendiri yang mengaku! Dia berselingkuh dan hamil anak pria lain!" Adrian tertawa sinis, matanya berkilat jahat. "Pastikan berita ini menjadi trending pagi ini, Bu. Hubungi semua media. Biarkan seluruh dunia tahu bahwa Catherina Lawrence adalah wanita rendahan."
Adrian mendekat ke arah Catherina, membisikkan kata-kata yang membuat jantung Cathe serasa diremas.
"Terima kasih atas pengakuanmu, Cathe. Sekarang, jalan untuk menikahi Julie akan jauh lebih mudah. Aku tidak perlu merasa bersalah, karena dunia akan membelaku. Kau sendiri yang menghancurkan dirimu dengan pengakuan bodoh ini."
Deg.
Catherina jatuh terduduk di lantai, masih mendekap Liam. Ia tahu, pengakuannya mungkin adalah sebuah kebohongan yang ia ciptakan karena amarah, atau mungkin sebuah kebenaran yang tak sengaja ia konfirmasi. Namun melihat binar kemenangan di mata Adrian, ia menyadari satu hal: Adrian tidak pernah menginginkan kebenaran. Pria itu hanya menginginkan alasan untuk membuangnya tanpa harus kehilangan mukanya yang terhormat.
Di dalam pelukannya, Liam terdiam, seolah bayi itu mengerti bahwa takdirnya baru saja berubah menjadi medan perang yang sesungguhnya. Dan di kejauhan, bayang-bayang Everest Cavanaught seolah semakin mendekat, siap untuk menjemput apa yang Adrian sebut sebagai 'sampah', namun bagi Everest adalah 'harta yang tak ternilai'.
Catherina tersungkur di atas karpet bulu yang mahal, mendekap Liam yang mulai menangis lagi seolah bisa merasakan detak jantung ibunya yang tidak beraturan. Di depannya, Adrian dan Miranda masih saling melempar senyum kemenangan, seolah-olah mereka baru saja memenangkan lotre, bukan baru saja menghancurkan sebuah keluarga.
"Kalian benar-benar kejam..." bisik Catherina, suaranya nyaris tenggelam oleh isak tangis. "Bagaimana bisa manusia memiliki hati sedingin ini? Liam masih bayi, Adrian! Dia tidak berdosa!"
"Dia tidak berdosa, tapi darahnya kotor bagi keluarga Mettond!" bentak Adrian tanpa belas kasihan. "Bawa anak harammu itu keluar dari rumahku sekarang juga!"
Catherina memejamkan mata rapat-rapat. Di dalam kegelapan di balik kelopak matanya, wajah Everest Cavanaught muncul dengan begitu jelas. Wajah pria yang dulu memohon padanya untuk membangun masa depan bersama.
Oh Tuhan... Maafkan aku, Everest, batinnya menjerit pedih. Aku benar-benar minta maaf atas semuanya.
Penyesalan itu menghantamnya lebih keras daripada tamparan mana pun. Dulu, ia begitu egois. Ia menolak hamil anak Everest karena ketakutan yang konyol—ketakutan bahwa gadis kelas menengah seperti dirinya tidak akan pernah pantas bersanding dengan nama besar Cavanaught. Ia mengonsumsi obat pencegah kehamilan seperti permen, hanya karena tidak percaya diri.
Dan sekarang, ironi itu menertawakannya.
Saat ia ingin memperbaiki hidupnya, saat ia mencoba "patuh" pada aturan pernikahan dan berhenti mengonsumsi obat-obat itu karena teringat peringatan Everest tentang kerusakan rahim, ia justru "siap" hamil dengan pria brengsek seperti Adrian. Pria yang ia pikir akan menjadi pelindung, ternyata hanyalah monster yang bersembunyi di balik jas mahal.
Aku melakukan kesalahan terbesar dalam hidupku, Catherina merintih dalam hati. Aku membuang everest demi segumpal arang yang membakar tanganku.
Ia menatap Liam. Jika benar apa yang ia katakan dalam amarahnya tadi—bahwa Liam adalah anak Everest—maka ia telah melakukan dosa besar pada pria itu. Ia telah menjauhkan seorang ayah dari anaknya, dan membiarkan anaknya dihina oleh pria lain.
"Aku akan meminta maaf padamu, Everest," gumam Catherina lirih, tidak peduli lagi pada Adrian yang sedang sibuk menelepon tim humasnya. "Aku akan merangkak padamu jika perlu, hanya untuk memohon ampun atas kebodohanku."
Catherina mengusap air matanya dengan punggung tangan yang gemetar. Ia tidak butuh kemewahan ini lagi. Mansion ini terasa seperti peti mati berlapis emas.
"Kuharap hidupku akan baik-baik saja setelah ini," bisiknya pada Liam. "Hanya kau dan Ibu, Sayang. Kita akan pergi ke satu-satunya tempat di mana kita mungkin masih memiliki harapan. Meskipun itu artinya Ibu harus menghadapi kemarahan pria yang paling Ibu lukai."
Dengan sisa harga diri yang tersisa, Catherina berdiri. Ia tidak membawa koper, tidak membawa perhiasan pemberian Adrian. Ia hanya membawa Liam dan tas perlengkapan bayi.
"Silakan buat berita sesuka kalian," ujar Catherina dingin saat melewati Adrian di ambang pintu. "Tapi ingat satu hal, Adrian. Suatu hari nanti, kau akan memohon padaku untuk kembali, dan bertemu anakmu, dan demi tuhan, saat itu terjadi, aku akan pastikan kau merangkak di bawah kakiku."
Catherina melangkah keluar, meninggalkan kemegahan palsu keluarga Mettond, menuju ketidakpastian yang jauh lebih jujur. Di dalam kepalanya, hanya ada satu nama yang bergaung: Everest. Pria yang ia lukai, kini menjadi satu-satunya cahaya di ujung lorong gelap hidupnya.
🌷🌷🌷
Happy Reading Dear 😍