Bagi Elvano Diwantara, hidup adalah tentang Return on Investment (ROI).
Mewarisi ketampanan Kairo dan otak jenius Elena, Elvano tumbuh menjadi "Hiu Muda" yang lebih kejam dari ayahnya. Di usia 27 tahun, dia sudah melipatgandakan aset Diwantara Group. Motonya sederhana: "Kalau tidak menghasilkan uang, buang."
Satu-satunya makhluk di bumi yang bisa membuat Elvano rugi bandar hanyalah Elora, adik perempuannya yang manja dan boros. Elvano rela membakar satu kota demi melindungi sang adik, tapi dia juga akan menagih utang jajan adiknya dengan bunga majemuk.
Namun, kalkulasi Elvano mendadak error ketika dia bertemu wanita itu. Seorang wanita yang berani menawar harga dirinya, mengacaukan neraca keuangannya, dan membuat detak jantungnya berfluktuasi seperti saham gorengan.
"Menikahimu adalah investasi risiko tinggi dengan probabilitas kerugian 90%," kata Elvano dingin.
Wanita itu tersenyum miring, "Kalau begitu, kenapa Tuan Muda tidak berani cut loss dan melepaskan saya?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24: Sidak Sang Legenda
"Elvano? Makanan apa yang sedang kamu masukkan ke perutmu itu?" tegur Kairo memecah keheningan. Suaranya berat dan menggema. Matanya menatap horor pada bungkusan kertas cokelat berminyak di atas meja kaca putranya.
Elvano buru-buru menelan rendang di mulutnya. Dia mengambil tisu, mengelap bibirnya dengan gerakan elegan yang sengaja dipaksakan. "Papa, Mama. Kapan kalian pulang dari Eropa? Kenapa tidak memberi kabar dulu biar supir menjemput di bandara?"
"Jangan mengalihkan pembicaraan," potong Sora tajam. Wanita anggun itu melangkah masuk dengan sepatu hak tinggi yang berbunyi nyaring di lantai marmer. Hidungnya mengendus aroma bumbu rempah di udara. "Kamu makan nasi bungkus? Anak laki-lakiku yang biasanya heboh harus makan daging impor kelas satu karena menjaga otot, sekarang makan dari kertas cokelat berminyak ini?"
"Ini langkah efisiensi operasional harian, Ma. Sangat logis secara finansial," jawab Elvano kaku. Dia berusaha menutupi rasa malunya. Tangannya bergerak meraih jas mahal yang dia sampirkan di kursi, berniat memakainya kembali agar terlihat berwibawa di depan orang tuanya.
Belum sempat jas itu tersentuh, suara cempreng dari sudut ruangan menghentikannya.
"Jangan dipakai dulu jasnya, Pak! Tangan Bapak masih bau bumbu rendang! Nanti jas mahalnya bau kuah gulai! Biaya pencucian bersih khusus jas itu bisa habis seratus ribu sendiri! Bapak mqu?!" omel Aluna spontan tanpa memedulikan siapa yang sedang berdiri di ruangan itu.
Kairo langsung menoleh tajam ke arah sudut ruangan. Dia baru sadar ada orang lain di sana. "Siapa kamu? Beraninya kamu berteriak mengatur seorang pemimpin perusahaan di ruangannya sendiri?"
Aluna buru-buru berdiri dari kursinya. Dia tersenyum canggung tapi tetap berusaha terlihat profesional. "Eh, selamat siang, Bapak dan Ibu. Namaku Aluna. Aku auditor pengeluaran pribadi Nona Elora, dan mulai hari ini merangkap jadi sekretaris pribadi Pak Elvano."
"Sekretaris?" Kairo menaikkan sebelah alisnya, raut wajahnya tidak percaya. "Sekretaris macam apa yang membiarkan bosnya makan makanan pinggir jalan begini? Kamu sengaja mau meracuni perut anakku?"
"Maaf, Pak. Justru aku yang membelikan makanan itu," sahut Aluna tanpa rasa takut sedikit pun. Matanya menatap lurus ke arah Kairo. "Pak Elvano tadi mau nekat makan roti sisa rapat yang sudah keras dan pucat. Kalau lambungnya luka atau keracunan dan harus dirawat di kamar khusus rumah sakit, perusahaan bakal rugi puluhan juta. Nasi Padang ini harganya cuma tiga puluh ribu karena pakai diskon promo di aplikasi OjekKilat. Jauh lebih masuk akal, lebih sehat, dan sangat menguntungkan buat dompet kita semua."
Kairo ternganga lebar. Seumur hidupnya, belum ada karyawan yang berani menjawab kata-katanya dengan argumen matematika diskonan receh seperti itu.
Elvano memijat pelipisnya perlahan. Jantungnya yang tadi berdetak cepat kini berdenyut nyeri karena panik. Dia yakin papanya akan murka besar dan langsung memecat gadis itu detik ini juga.
Namun, hal mengejutkan justru terjadi pada Sora. Alih-alih marah melihat kelancangan gadis itu, wanita berwajah dingin itu malah tersenyum. Seringai tipis yang penuh arti muncul di bibir merahnya. Jiwa Elena, si Ratu Saham masa lalu yang bersemayam di tubuh itu, langsung mengenali aura seorang petarung perhitungan yang sefrekuensi dengannya.
Sora berjalan perlahan melewati meja Elvano. Dia sama sekali tidak memedulikan putranya yang sedang salah tingkah. Langkahnya lurus menargetkan meja kerja Aluna.
Sora berhenti tepat di depan Aluna. Matanya menatap tajam gadis berpakaian sederhana itu dari ujung rambut yang dikuncir kuda sampai ke ujung sepatu yang sudah agak pudar warnanya.
"Jadi, kamu yang bernama Aluna," ucap Sora pelan, tapi suaranya membawa tekanan mental yang luar biasa berat.
"Iya, Bu," jawab Aluna. Jantungnya berdebar kencang, tapi kakinya tetap berdiri tegak dan tidak mundur selangkah pun.
Sora menarik sebuah kursi kosong di dekat sana, lalu duduk dengan postur sangat anggun di depan meja Aluna. Dia melipat kedua tangannya di atas meja, menatap manik mata Aluna dalam-dalam.
"Aku mendengar laporan yang sangat menarik dari kepala pelayan di rumah," kata Sora dengan nada menguji. "Katanya, putri kecilku yang gila belanja itu baru saja mogok makan di kamar sambil menangis bombay. Dan yang lebih hebat lagi, grafik pengeluarannya bulan ini anjlok drastis sampai sembilan puluh persen. Angka yang sangat memuaskan."
Aluna menelan ludah, mencoba mencari posisi aman dari tatapan sang nyonya besar. "Itu sudah tugasku, Bu. Menekan pengeluaran yang tidak perlu."
"Menarik," Sora menyeringai semakin lebar. Aura Ratu Sahamnya benar-benar memancar kuat ke seluruh penjuru ruangan. "Aku dengar kamu yang bikin Elora puasa belanja. Otakmu jalan dan nyalimu besar. Tapi aku tidak mau asal percaya pada orang yang memegang kendali atas keuangan anak-anakku. Aku butuh bukti nyata."
Aluna membusungkan dada, merasa harga diri dan kemampuannya sedang diremehkan oleh wanita kaya ini. "Ibu boleh tes kemampuanku sekarang juga."
Sora mencondongkan tubuhnya ke depan. Matanya berkilat menantang, persis seperti predator yang menemukan lawan sepadan di hutan belantara.
"Oke. Coba buktikan ke aku," tantang Sora tajam, memecah ketegangan di ruangan itu. "Mana yang lebih menguntungkan: obligasi pemerintah atau deposito bank saat inflasi naik?"
pinter bener nih yang nulis skenario 😍😍😍😍
Tersepona...... akuhh.....tersepona.....
asyik.... asyiiiikk.....joossss......😁
😭😭😭😭😭😭😭😭
super duper inti kerak bumi ga sih tuh pengiritan nya......🔥