Rayya, seorang perawat yang terperangkap dalam permainan cinta dan kekuasaan Marsel, seorang ketua Mafia yang sangat di takuti.
Marsel tidak mau melepaskan nya, Rayya sudah memiliki pacar dan akan segera menikah, akan tetapi Marsel menyatakan kepemilikan terhadap Rayya.
Marsel membuat Rayya tidak bisa menikah selain dengan nya. Ciuman di pertemuan pertama mereka membuat Marsel tidak bisa tenang memikirkan Rayya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jumling, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Makam
"Penyelundupan senjata kita bermasalah, Bos," lapor Alex. HP di sodorkan dan terlihatlah Video.
Mata Marsel langsung hitam dan Rahangnya mengeras.
Rayya menelan ludah dengan takut.
'Dia pasti ngamuk gara-gara ini. Bukan gara-gara aku kan?' batin Rayya mencoba berpikir positif
Tapi Marsel malah menoleh ke Rayya. Menatap nya dalam. Seperti menyalahkan Rayya atas semua sial hari ini. Padahal bukan begitu, Marsel hanya ragu untuk meninggalkan Rayya di rumah sakit tanpa dirinya.
"Kenapa liat ku begitu?" Rayya memperbaiki posisi baringnya agak takut.
Marsel tidak jawab. Hanya bangkit dan hendak pergi dari sana.
"Aku mau ke markas. Kamu diam di sini dan jangan kemana-mana."
"Lalu?" Rayya tampak kesel.
"Kamu sedang izin gitu?"
'Kalau mau pergi ya pergi saja, untuk apa masih izin-izin segala' batin Rayya masih marah pada pria itu.
Marsel berhenti di pintu dan menoleh. Ia tersenyum tapi tersirat ketajaman di matanya.
"Bukan izin. Cuma memberitahu. Kalau mau coba-coba lari dariku karena situasi ku tidak ada di sisimu. Aku tidak akan membiarkan siapapun tersisa di antara kalian," ucap Marsel mengingatkan dan sedikit bau ancaman yang teramat kental.
Ia bahkan keluar dengan kasar menutup pintu, kesal karena apa yang terjadi di markas dan juga sikap Rayya yang masih saja cuek padanya.
Beberapa saat setelahnya muncullah Rio yang langsung menghampiri Rayya.
"Mama dan Nenekmu akan ke sini," kata Rio memberitahu.
"Papa kasih tau Mama?" tanya Rayya.
Ia lupa mengingatkan Rio untuk tidak usah memberitahu mereka. Apalagi Sella punya penyakit jantung, Rayya takut Sella kenapa-napa kalau sampai terkejut jika tahu Rayya masuk rumah sakit.
"Papa tidak mau bilang, tapi Mama mu ngotot ingin video call, terpaksa Papa mengatakan kalau kamu ada di rumah sakit," jelas Rio.
"Tapi Mama baik kan?" Rayya memastikan.
" Sempat kaget, tapi tidak apa-apa," ujar Rio tahu Rayya khawatir pada Sella.
"Syukurlah kalau begitu."
"Papa lihat Marsel memang tulus padamu, Nak," ucap Rio mengemukakan pendapat nya tentang Marsel setelah apa yang sudah Ia lihat hari ini.
"Maksud Papa apa? Papa jangan lupa apa yang sudah orang itu lakukan pada keluarga kita," kata Rayya mengingatkan.
"Papa tidak lupa."
Rio menunduk mengingat bagaimana putra satu-satunya pulang dalam keadaan tak bernyawa setelah bertugas karena menangani masalah dari Marsel dan perbuatannya bersama anak buahnya.
"Kalau Papa tidak lupa kenapa berkata begitu! Marsel itu sangat sombong, kejam dan bersikap semua nya!" ujar Rayya tidak senang.
Rio tahu hal tersebut, tapi sepertinya Marsel juga tidak akan melepaskan Rayya begitu saja. Ia rasa lebih baik jika Rayya membuat Marsel jatuh cinta agar Marsel tidak menjadi ancaman bagi Rayya. Justru jika demikian, Marsel akan melindungi Rayya dengan kekuatan nya dari bahaya.
"Papa tau, Nak. Bahkan jika itu Marsel sekalipun, Papa yang akan menghadapi nya jika berani menyakitimu."
Rio mengelus kepala Rayya mencoba meredakan amarah yang Rayya perlihatkan karena ucapan Rio tadi.
"Papa keluar dulu, ya. Kamu tunggu Mama dan Nenekmu datang. Papa tidak lama, cuma mau pergi beli makan untuk kita," kata Rio lagi. Ia baru sadar hari hampir siang, pasti Rayya belum makan seharian ini.
___________________
Beberapa hari berlalu dengan cepat, Rayya sudah bosan berada di rumah sakit terus. Walau lukanya tidak parah, tapi Ia belum bisa melangkahkan kakinya karena beling sangat dalam masuk ke dalam.
Selama di rumah sakit, Rayya hanya di temani oleh keluarga, Marsel tidak pernah kelihatan datang di sana. Rayya tidak peduli ada dan tidak nya Marsel, justru Ia senang karena tidak melihat tampang pria itu yang membuatnya jengkel.
"Pa. Hari ini Rayya mau pulang. Rayya tidak tahan lagi berada di rumah sakit terus," Kata Rayya pada Rio.
Pria baya itu tidak kemana-mana dan hanya di sana menemani Rayya, hanya Sella dan Indah yang sering bulak balik.
"Iya, Mama dan Nenekmu juga bilang mau ikut antar." Rayya mengangguk.
"Nak, Papa keluar sebentar. Papa tinggal tidak apa-apa, ya," izin Rio.
"Iya, Pah. Jangan lama, keburu Mama dan Nenek datang."
Rio mengiyakan dan pergi dari sana.
Lelaki baya itu bahkan keluar dari rumah sakit dan memasuki mobilnya lalu meninggalkan gedung rumah sakit tersebut.
Beberapa saat Ia berkendara sampai mobil itu berhenti di sebuah pemakaman.
Rio terdiam sejenak di dalam mobil sebelum akhirnya keluar dari roda empat tersebut. Langkah nya dengan pasti menyusuri makam-makam yang sudah tua dan ada juga yang baru. Langkah nya lalu berhenti di sebuah makam dengan nama Liam dan bermarga keluarga miliknya.
"Nak, Papa datang berkunjung," katanya berbicara dengan gundukan batu yang mengkilap.
Ada beberapa bunga tumbuh di antaranya serta rerumputan hijau. Dua tahun telah berlalu setelah kejadian yang mengguncang keluarga mereka karena meninggalnya Liam. Karena hari itu juga, Sella Istrinya harus mendapatkan penyakit yang kapan-kapan mengancam nyawa.
Rio masih sangat ingat kejadian hari itu dan ucapan dari tentara yang mengantar pulang mayat putranya.
"Liam tertembak dan kehabisan banyak darah. Anggota mafia yang kita intai mengetahui keberadaan kami," lapor seorang anggota tentara.
"Kelompok Mafia apa?" tanya Rio dengan tangan mengepal kuat serta wajah syok menatap wajah pucat Liam yang berbaring tanpa nafas.
"Cosa Nostra. Mafia itu memang berbahaya, banyak anggota yang juga mengalami cedera serius."
Mengingat kata-kata menyakitkan itu tanpa sengaja Air mata Rio jatuh, Ia tidak berdaya membalas kematian putranya dan putrinya malah jatuh di tangan Marsel.
"Nak, kau tau? Rayya kakak mu malah menikah dengan orang yang menjadi penyebab kamu meninggalkan dunia ini."
Rio memulai ceritanya lalu berhenti dan menghela nafas, Ia merasa tidak pasti dengan apa yang ada di pikirannya. Tangan Rio juga bergerak mengelus makam Liam.
"Marsel itu orang yang sangat kejam, Papa tidak tahu apakah Rayya aman di tangan nya. Tapi hari ini Papa melihat jika Marsel berani berbuat apa saja untuk Rayya."
Rio tidak tahu apakah yang lain senang dengan maksudnya untuk merestui Marsel dan Rayya atau sebaliknya.
Tetapi, dia juga lelaki dan harga dirinya tidak akan pernah Ia rendahkan kecuali untuk Istri dan anak-anak nya. Hari ini juga Ia saksikan Marsel melakukan hal yang sama . Rela menjatuhkan harga diri demi Rayya putrinya. Bukankah itu berarti Marsel sungguh-sungguh pada Rayya?
Rio tidak tahu apa ini benar atau tidak, tapi dirinya sudah yakin untuk merelakan Rayya menjadi Istri Marsel.
"Maaf, Nak. Papa bukannya membiarkan begitu saja orang yang telah memisahkan kita, tapi Papa juga tidak punya pilihan lain," kata Rio lagi.
Berurusan dengan Marsel bukanlah hal yang mudah, jika mereka ingin tetap hidup, mengikuti kemauan pria itu adalah jalan satu-satunya.
Sembari bercerita, Rio juga menyingkirkan daun kering yang menggangu makam Liam. Saat tengah asik dengan kegiatannya, ponsel miliknya berdering.
DRRRT....
Rio merogoh saku dan melihat siapa yang menelpon dan ternyata dari sang Istri, Rio pun menjawab panggilan dari Sella tersebut.
"Hallo, Ma?"
Rio memperjelas apa maksud perkataan Sella, tapi suara di balik sambungan itu terputus-putus. Hal tersebut memaksa Rio untuk beranjak dan berjalan-jalan, mungkin karena jaringannya bermasalah.
Cukup jauh Rio melangkah sampai akhir bisa mendengar jelas apa yang Sella katakan.
"Papa di mana sih? Kita sudah sampai di rumah sakit, tapi Rayya bilang Papa ada keluar tadi," kata Sella di balik telepon.
"Papa segera ke sana, kalian mengobrol dulu saja ya," kata Rio.
"Cepat ya, Pah. Rayya bilang dia mau pulang, tidak betah lagi berlama-lama di rumah sakit," balas Sella lagi.
Panggil itupun berakhir, Rio hendak kembali ke makam Liam, tapi terhenti saat melihat dari kejauhan ada seorang pria yang juga berjongkok di depan makam Liam.
Karena orang itu membelakangi Rio, sehingga Ia tidak bisa tahu dengan jelas siapa orang tersebut.
"Liam. Sorry, gara-gara gue lo harus kayak gini."