Cantika perempuan miskin dari desa ,karena salah paham warga hingga dipaksa menikah dengang pria yang baru ia kenal,dan Cantika tidak menyangka kalau suami dadakannya adalah CEO, bagaimana Cantika menjalankan rumah tangga dadakannya ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pamit Ke Kota Bersama Arka
“Ayo, kita segera berangkat. Aku tidak punya banyak waktu, aku sibuk,” ucap Arka dengan nada dingin.
“Sebentar, Tuan. Saya sedang siap-siap,” jawab Cantika. Ia masih sibuk memasukkan baju ke dalam tas ransel lusuh miliknya.
“Baju jelek dan lusuh itu tidak usah kamu bawa. Cukup baju yang kamu pakai sekarang, dan surat-surat penting lainnya yang nanti akan kamu gunakan di sana,” kata Arka sambil menatap sinis ketika Cantika hendak memasukkan pakaian-pakaiannya.
“Kalau ini tidak saya bawa, bagaimana saya di sana, Tuan? Tidak mungkin saya tidak berganti pakaian selama di sana.”
“Kamu tidak usah memikirkan hal itu. Nanti asistenku yang akan menyiapkan semuanya.”
Cantika tidak mau membantah. Ia kembali mengeluarkan baju-baju yang sudah dimasukkan ke dalam tasnya, lalu menggantinya dengan surat-surat penting, termasuk ijazah SMA-nya.
“Tapi, Tuan, bagaimana nanti dengan Ibu saya kalau saya tinggal? Apa tidak sebaiknya saya tinggal di sini saja, dan Tuan bisa kembali ke kota tanpa saya?” tanya Cantika ragu-ragu. Di dalam hatinya, ia merasa tidak tega meninggalkan ibu dan ketiga adiknya tanpa dirinya.
“Apa kamu mau membantah saya?!” kata Arka dengan nada tegas dan dingin, sehingga membuat Cantika sedikit gemetar.
“Ti … tidak, Tuan. Karena bagaimanapun, Anda sekarang suami saya. Jadi, saya harus hormat dan patuh pada Anda.”
“Bagus. Sekarang buruan kamu siap-siap. Kita harus segera berangkat.”
Cantika tidak mau banyak bicara. Ia segera berkemas. Ia tidak ingin Arka marah.
Pukul sembilan pagi, mobil Arka sudah siap di depan gang. Arka telah mengatur orang suruhannya untuk datang ke rumah itu sore nanti, membawa bahan makanan dan seorang perawat untuk menjaga Ibu Sarah. Janji itu sedikit meringankan beban di wajah Cantika.
Namun, saat proses pamitan dimulai, suasana menjadi sangat kacau.
“Kamu di sana hati-hati ya, Nduk. Jangan lupa shalat,” pesan Ibu Sarah sambil memeluk Cantika dengan berlinang air mata. Dadanya terasa sesak. Sebenarnya ia tidak tega harus berpisah jauh dengan putri sulungnya, tetapi sekarang Cantika sudah menikah. Ia harus mengikuti suaminya.
“Ya, Bu. Ibu jaga diri ya, jangan terlalu capek, jaga kesehatan,” balas Cantika sambil memeluk erat ibunya. Rasanya hatinya sangat berat meninggalkan ibunya. Sejak lahir dan dibesarkan, baru kali ini ia akan pergi jauh dari ibu dan keluarganya.
Cantika menangis terisak. Rasanya ia tidak sanggup melangkah meninggalkan keluarganya. Sementara itu, Arka hanya diam dan menyaksikan semuanya.
“Mbak Cantika! Jangan pergi!” Rara memeluk pinggang kakaknya erat-erat, menangis meraung-raung.
Cantika semakin tidak kuasa menahan tangisnya. Ia memeluk erat adiknya itu. Air matanya mengalir deras, seolah-olah mata air yang merembes dari sumbernya.
Dodi bocah laki-laki itu, ikut menarik-narik ujung baju Cantika. “Nanti yang masak nasi goreng siapa? Mbak jangan ikut Om galak itu!”
Cantika tidak bisa berkata-kata. Ia hanya bisa memeluk ketiga adiknya satu per satu, menciumi kening mereka dengan air mata yang membasahi wajah mungil mereka. Ia tidak punya pilihan lain. Ia harus mengikuti Arka dan meninggalkan keluarganya.
“Gilang sayang… jaga Ibu ya. Jaga adik-adik. Mbak cuma pergi sebentar untuk mencari uang yang banyak buat kalian. Nanti Mbak pulang, Mbak belikan tas sekolah baru buat kalian …”
Suara Cantika parau, nyaris habis karena terlalu banyak menangis. Ia kemudian mendekat ke arah ibunya yang duduk di kursi teras, mencium tangan ibunya lama sekali.
“Bu … Cantika pamit. Maafkan semua kesalahan Cantika,” bisiknya lirih.
Ibu Ratih hanya bisa mengangguk. Mulutnya berkomat-kamit memanjatkan doa, sementara air matanya tidak berhenti mengalir. “Berbakti pada suamimu, Nduk. Jangan buat dia kecewa.”
Cantika kembali memeluk adik-adiknya. Ketiga Adiknya menatap cantika dengan mata polos yang mulai berkaca-kaca. “Kak… Kakak mau pergi ke mana? Jangan pergi ya…” kata Rara memeluk Cantika.
Cantika berlutut, memeluk ketiganya erat. Tangisannya pecah lagi. “Kakak harus pergi sebentar, Sayang. Tapi Kakak janji akan sering kirim kabar. Kalian jaga Ibu ya. Belajar yang rajin. Jangan nakal.” Air matanya jatuh ke rambut adik-adiknya. Pelukan itu terasa begitu berat, seolah hatinya dicabik-cabik. Ia mencium pipi mereka berkali-kali, menghirup aroma tubuh anak-anak yang polos itu untuk terakhir kali sebelum pergi.
Kembali ia menemui ibunya, Ibu Ratih memeluknya lemah. “Jangan lupa nasehat Ibu tadi, Nduk. Jadilah istri yang baik. Dan ingat, rumah ini selalu terbuka untukmu. Kalau hatimu sedih, pulanglah sebentar. Ibu akan doakan kamu setiap shalat.”
Cantika menangis tersedu di pelukan ibunya. “Bu … Cantika sayang Ibu … Cantika takut tak bisa seperti yang Ibu harapkan. Cantika cuma gadis desa …” Isakannya memenuhi ruangan kecil itu, bercampur dengan isakan pelan ibunya.
Arka yang mendengar dari luar merasa dadanya semakin berat. Ia menyadari bahwa perjalanan ini baru permulaan. Dunia mewahnya yang tertata rapi dengan mobil mewah, rumah besar, dan rapat bisnis kini harus berbagi ruang dengan kehidupan sederhana yang penuh perjuangan dan air mata.
Sementara Cantika, dengan hati yang remuk, mulai menerima kenyataan bahwa nasibnya telah berubah selamanya sejak malam kemarin ketika insiden itu terjadi.
Rumah kecil itu hari ini dipenuhi keheningan yang berat, hanya diselingi suara tangisan dan isakan pelan yang sesekali terdengar.
Cantika berdiri di depan pintu rumah, menatap sawah kecil di belakang yang sudah mulai menguning. Ia berlutut sekali lagi di depan ibunya yang duduk di kursi rotan. “Bu… maafkan Cantika kalau selama ini sering marah karena lelah. Cantika sayang Ibu lebih dari apa pun.”
Ibu Ratih mengusap pipi Cantika dengan tangan gemetar. “Ibu yang minta maaf, Nak. Karena Ibu sakit, kamu yang menanggung semuanya. Pergilah dengan ikhlas. Tuhan pasti punya rencana indah di balik air mata ini.”
Arka berdiri tak jauh, menunggu dengan diam. Ia melihat Cantika memeluk ibu dan adik-adiknya untuk terakhir kali. Tangisan pecah lagi tangisan Cantika yang memilukan, tangisan adik-adik yang tak mengerti, dan tangisan ibu yang menahan sakit di dada.
Akhirnya, Cantika berdiri. Ia menatap Arka dengan mata yang masih basah. “Saya siap, Tuan.”
Mereka berjalan meninggalkan rumah kecil itu. Di belakang, Ibu Ratih dan adik-adik melambai dengan tangan lemah, air mata masih mengalir. Cantika berbalik berkali-kali, hatinya berat seperti batu. Setiap langkah menjauh terasa seperti meninggalkan sepotong jiwanya.
Arka berdiri di samping Cantika menggenggam tangan Cantika, dengan perasaan campur aduk. Ia ingin segera pergi karena waktu terus berjalan, tetapi kakinya seolah berat melihat kehancuran keluarga ini.
“Sudah? Kita harus jalan sekarang,” ujar Arka, mencoba menjaga nadanya tetap datar meski ada gumpalan sesak di tenggorokannya.