NovelToon NovelToon
PEREMPUAN YANG TIDAK SEHARUSNYA ADA Ketika Hijrah Tak Menghapus Apapun

PEREMPUAN YANG TIDAK SEHARUSNYA ADA Ketika Hijrah Tak Menghapus Apapun

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Rumah Tangga / Penyesalan Suami
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: Arjunasatria

Carisa pernah menjalin hubungan dengan Reynanda sejak masa kuliah. Awalnya terasa hangat dan penuh cinta, hingga akhirnya ditinggalkan tanpa penjelasan, bahkan saat ia mengandung anak Reynanda.

Sejak itu, hidup Carisa runtuh pelan-pelan. Ia menanggung luka yang dalam dan sempat berada di titik terendah.

Waktu berjalan, tetapi luka itu tidak benar-benar hilang. Hanya mengendap dan membuat Carisa semakin tertutup. Hingga suatu hari, ia dijodohkan dan bertemu dengan seorang pria yang tenang dan tidak banyak bertanya. Dari pernikahan itu, Carisa perlahan kembali menjalani hidup, meski trauma masa lalunya tetap ada dalam diam.

Dan ketika Carisa mulai benar-benar terbiasa hidup tanpa nama itu di kepalanya, takdir justru mempermainkannya lagi. Setelah lima tahun berlalu, mereka dipertemukan kembali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arjunasatria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24

Reno berdiri di depan meja kerja Yuda dengan tablet di tangannya. Ia tidak langsung bicara. Tatapannya sempat ragu, seolah menimbang apakah informasi yang ia bawa perlu disampaikan sekarang atau tidak. Namun pada akhirnya ia tetap membuka suara, pelan dan hati-hati.

“Pak… tadi pagi Ibu Carisa terlihat lagi di gedung Pratama Property.”

Yuda tidak langsung merespons. Ia masih menatap dokumen di depannya, membalik satu halaman dengan gerakan rapi, teratur, seolah tidak ada yang berubah. Namun hanya dia yang tahu, sejak nama itu disebut, matanya sudah berhenti benar-benar membaca.

“Jam berapa?” tanyanya akhirnya, tetap tanpa mengangkat kepala.

“Sekitar setengah sepuluh, Pak.”

Ada jeda setelah itu. Reno masih berdiri di tempatnya, menunggu sesuatu reaksi, perintah, apa pun. Tapi tidak ada.

“Terima kasih,” ucap Yuda datar. “Kamu boleh keluar.”

Reno mengangguk kecil, lalu berbalik. Pintu tertutup pelan, menyisakan ruangan itu kembali dalam sunyi.

Yuda tetap duduk di kursinya. Pulpen masih ada di tangannya, tapi tidak lagi bergerak. Ia tidak membaca. Tidak menulis. Hanya diam, dengan pandangan tetap tertuju ke kertas di depannya tanpa benar-benar melihat apa pun.

Informasi itu cukup untuk mengusik sesuatu yang selama ini ia tahan mati-matian agar tidak membesar.

Kemarin malam saat mereka bertengkar, ia memilih pergi menenangkan diri agar sama-sama bisa menyadari kesalahan, tapi ternyata Carisa malah kemabli menemudi Reynanda. Itulah isi pikiran yuda.

Namun pagi ini, kenyataan kembali datang dengan cara yang sama.

Pulpen itu akhirnya ia letakkan di meja dengan pelan. Gerakan yang terlalu hati-hati untuk seseorang yang benar-benar tenang.

Yuda berdiri.

Kursinya bergeser sedikit ke belakang, lalu ia melangkah menuju jendela. Tangannya masuk ke saku celana. Rahangnya mengeras.

Ia sudah mencoba berpikir rasional. Mencari alasan, menyusun kemungkinan, menahan diri agar tidak langsung menarik kesimpulan. Ia tahu apa yang ia lihat belum tentu seluruh kebenaran.

Tapi ada batas untuk semua itu. Dan ia mulai merasakannya. Batas itu semakin dekat. Bayangan itu kembali muncul tanpa ia undang. Napasnya berubah lebih berat, lebih dalam.

Cemburu itu tidak datang tiba-tiba. Ia tumbuh pelan, hampir tidak terasa di awal, tapi kini sudah cukup besar untuk tidak bisa diabaikan lagi. Tangannya menyapu wajah dengan kasar.

“Kenapa harus ke sana lagi…” gumamnya rendah, lebih seperti pertanyaan untuk dirinya sendiri daripada siapa pun.

Ruangan itu tetap sunyi. Tidak ada yang menjawab.

Ponselnya bergetar di atas meja.

Getaran itu memotong pikirannya. Yuda berbalik, melangkah kembali, lalu meraih ponsel itu. Nama yang muncul membuat gerakannya sedikit terhenti. Nama Ibunya di layar ponsel. Yuda segera mengangkat panggilan itu.

“Iya, Bu.”

“Yuda… kamu di mana?”

“Di kantor. Kenapa?”

Ada jeda. Napas di ujung sana terdengar berat, seolah kalimat berikutnya tidak mudah untuk diucapkan.

“Nenek… sudah tidak ada.”

Untuk beberapa detik, Yuda tidak menjawab. Semua yang tadi memenuhi kepalanya seperti berhenti di satu titik.

“Kapan?” suaranya turun.

“Baru saja. Kami semua sudah di Bandung. Kamu bisa pulang sekarang?”

Yuda menutup matanya sebentar. Menarik napas dalam, menahan sesuatu yang tidak bisa ia beri nama, sebelum akhirnya menjawab.

“Iya, Bu. Aku berangkat sekarang.”

“Cepat ya.”

“Iya.”

Panggilan terputus. Ia tetap berdiri di tempatnya beberapa saat, ponsel masih di tangan. Pikirannya seperti berpindah arah dari satu hal yang belum selesai ke hal lain yang tidak bisa ditunda.

Lalu ia bergerak. Cepat. Terarah. Tanpa banyak pikir. Ia mengambil jasnya, memberi instruksi singkat pada sekretaris, lalu keluar dari ruangan.

Beberapa menit kemudian, mobilnya sudah melaju meninggalkan gedung kantor.

Hujan turun tipis, membasahi kaca depan. Wiper bergerak pelan, teratur, mengikuti ritme yang sama berulang-ulang.

Tanpa benar-benar ia sadari, mobil itu melambat saat melewati gedung tempat Carisa bekerja. Ia melihat ke arah atas. Ke lantai tempat kantor itu berada.

Carisa ada di dalam sana. Mungkin sedang bekerja. Mungkin duduk di mejanya seperti biasa. Atau mungkin, pikirannya kembali membayangkan hal lain.

Seharusnya ia berhenti. Menjemput. Mengajak pergi bersama. Memberi tahu secara langsung. Itu yang seharusnya dilakukan seorang suami.

Ia menarik napas panjang, menahannya sejenak sebelum mengembuskannya perlahan. Lalu kembali memacu mobilnya. Setelah mengirimkan pesan singkat pada Carisa.

"Nenek meninggal. Aku ke Bandung sekarang. Kamu nyusul sendiri ke Bandung."

1
tifara zahra
lagi donk
Nanik Arifin
beberapa tindakan bodoh Reynanda meretakkan 2 rumah tangga & 4-5 hati. dan anak" yg paling menjadi korban
Musicart Channel
lemah.. jujur jelah dgn suami kau. dlm perkhawinan harus ada kejujuran..
Nanik Arifin
buka matamu lebar" Humaira... keluarkan suara sindiran & intimidasimu. paparkan hujjah" & penilaianmu untuk pelaku.
siapa pemeran utamanya, siapa pemeran pembantunya, ungkap ustadzah Humairah
Nanik Arifin
kan.... ego keluarga kalian semua mg luar biasa. hidup aj sendiri klo blm bisa buang ego.
geregetan deh. ingin numpuk pala Yuda pakai bakiak
Nanik Arifin
lah kan kamu, Yuda, yg dr awal kamu minta masing". sama " bingung membuka hubungan, tapi menyalahkan satu pihak. berbaiki niat, kalian akan memulai hubungan yg baru, untuk masa depan yg bahagia. jangan slg diam"an & berharap pihak lain tahu yg kamu mau. pasangan kalian bukan cenayang yg tahu tanpa pemberitahuan dlu. umur aj dewasa, tapi tindakan kalian tanda tanya
putmelyana
sumpah gw sepanjang baca cerita kesel banget Carisa knpa dia diem aja gak jujur gitu ke suaminya pdhl kalo dia jujur dan terbuka ke suaminya bakalan hidupnya baik² aja
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!