Di bawah teriknya matahari dan riuhnya masa remaja, dua insan dengan dunia yang bertolak belakang dipertemukan oleh takdir. Jenawa Adraw, seorang pemuda dengan sorot mata tajam dan nyali yang tak pernah padam, adalah sosok sentral dalam persaudaraan keras di sekolahnya. Ia hidup dalam putaran kesetiakawanan, peluh, dan perseteruan abadi antargeng SMA yang tak kunjung usai. Di seberang dunianya, berdirilah Sinaca Tina, seorang gadis dengan tutur kata yang santun, pesona yang anggun, namun memiliki pendirian sekeras karang yang tak gentar oleh gertakan siapa pun.
Kisah ini mengalun layaknya sebuah gita cinta yang syahdu namun dipenuhi riak gelombang. Hubungan Jenawa dan Sinaca tumbuh di antara letupan amarah sisa tawuran dan manisnya janji yang terucap di beranda rumah. Asmara mereka diuji dengan keras—bukan hanya oleh pedasnya cemoohan teman-teman sebaya atau ancaman dari kubu sekolah seberang, melainkan pula oleh ego darah muda yang sering kali memicu pertengkaran hebat di antara merek
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon prasfa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29: Siasat Akar Rumput dan Secangkir Ketenangan
Langkah Jenawa Adraw meninggalkan pelataran belakang sekolah terasa bagaikan menyeret bongkahan besi. Angin siang yang berembus tak mampu mengusir hawa panas yang baru saja menguap dari perdebatannya dengan Seno. Persahabatan yang ia jalin di atas aspal dan debu jalanan itu kini telah resmi patah, menyisakan serpihan kekecewaan yang menggores ulu hatinya. Namun, di balik rasa kehilangan itu, tak ada sedikit pun penyesalan yang membayang. Jenawa tahu, ia telah memilih jalan yang benar.
Alih-alih kembali ke kelas, tungkai pemuda itu membawanya menaiki anak tangga menuju balkon koridor lantai dua yang sepi, tempat di mana ia tahu seseorang tengah menunggunya dengan dada yang diliputi kecemasan.
Di ujung selasar, Sinaca Tina berdiri bersandar pada pagar pembatas. Pandangannya lurus menatap ke arah lapangan, namun pikirannya jelas melanglang buana. Tatkala derap langkah Jenawa terdengar, gadis itu segera menoleh. Sepasang mata kecokelatannya bergerak cepat, menyapu wajah, kerah seragam, hingga ke kedua kepalan tangan pemuda itu.
Melihat tak ada memar baru, tak ada seragam yang robek, dan tak ada buku jari yang memerah, napas lega yang sedari tadi tertahan di dada Sinaca akhirnya terlepas jua.
"Kau menepati janjimu, Jenawa," ucap Sinaca pelan, suaranya mengalun layaknya melodi penenang di tengah badai. Ia berjalan mendekat, menyisakan jarak satu jengkal di hadapan sang pemuda. "Tidak ada pertumpahan darah di bawah pohon mahoni hari ini."
Jenawa menyandarkan punggungnya pada tembok, menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan kelelahan. "Aku tak akan pernah mengkhianati sabdaku padamu, Sinaca. Sekalipun provokasi itu datang dari kawan karibku sendiri. Aku mendengarkan makiannya tanpa membalas dengan kepalan tangan."
"Namun raut wajahmu menyiratkan sebuah kegagalan," tebak Sinaca, kecerdasannya selalu berhasil menembus dinding pertahanan Jenawa. "Seno menolak untuk mundur dari rencananya esok petang?"
Jenawa mengangguk pelan, pandangannya menerawang jauh ke arah gerbang sekolah. "Kepalanya kini sekeras baja, Sinaca. Ego dan dendam telah menutup telinganya rapat-rapat. Ia akan tetap membawa barisan itu ke simpang tiga esok petang. Jika mereka benar-benar bertemu dengan komplotan Agam di jalanan yang padat itu, bukan hanya masa depan mereka yang hancur, nyawa warga yang tak bersalah pun akan terancam."
Sinaca terdiam, merenungi gawatnya situasi tersebut. "Lalu, apa yang akan kau lakukan? Kau berjanji akan mencari jalan ketiga. Sebuah siasat untuk menghentikan mereka tanpa harus kembali terjun ke dalam arena pertarungan."
Jenawa menatap Sinaca lekat-lekat. Kilat kecerdasan yang selama ini ia sembunyikan di balik topeng seorang berandalan kini berpendar terang.
"Jika aku tak bisa menghentikan barisan Seno dan tak mungkin pula memohon pada komplotan Pelita, maka yang harus kuhentikan adalah arenanya, Sinaca," ucap Jenawa dengan nada yang amat terukur. "Mereka membutuhkan ruang yang luas dan sepi untuk mengayunkan rantai dan balok kayu. Bagaimana jika besok petang, simpang tiga itu tak lagi menyisakan ruang sedikit pun untuk sebuah peperangan?"
Kening Sinaca berkerut halus. "Simpang tiga adalah urat nadi lalu lintas. Apa yang hendak kau lakukan? Memblokirnya dengan kendaraanmu sendirian?"
"Tidak sendirian," Jenawa tersenyum misterius. "Aspal itu adalah milik warga, dan sudah saatnya warga yang mengambil alih hak mereka. Sore ini, aku akan menemui Pak Dirman dan tokoh pemuda di gang sekitar simpang tiga. Aku akan meyakinkan mereka untuk menggelar pasar kaget dadakan dan panggung hiburan rakyat tepat di area tersebut esok petang."
Mata Sinaca membulat tak percaya, namun tak lama kemudian, seulas senyum kekaguman merekah di bibirnya. Sebuah siasat akar rumput. Jenawa berniat menggunakan tameng manusia yang paling tak bisa disentuh oleh para pembuat onar: warga setempat. Tak ada satu pun geng jalanan, sebuas apa pun mereka, yang berani mengayunkan senjata di tengah kerumunan pedagang, ibu-ibu, dan anak-anak kecil. Itu adalah hukum tak tertulis yang paling sakral di jalanan.
"Itu... itu adalah sebuah pemikiran yang teramat brilian, Jenawa," puji Sinaca tulus. "Kau menggunakan kecerdikanmu untuk memadamkan api, bukan dengan air, melainkan dengan menyingkirkan udara yang membuatnya menyala. Namun, apakah warga akan bersedia melakukan hal tersebut dalam waktu yang sedemikian singkat?"
"Mereka akan bersedia," jawab Jenawa penuh keyakinan. "Mereka telah lama muak dengan bisingnya knalpot dan pertikaian yang merusak ketenangan. Jika aku memberitahu mereka bahwa ini adalah cara paling damai untuk mengusir para pembuat onar untuk selamanya, Pak Dirman dan warga pasti akan merapatkan barisan."
Mendengar rencana yang tersusun rapi dan nir-kekerasan itu, rasa bangga membuncah di dada Sinaca. Laki-laki di hadapannya ini telah benar-benar berubah. Ia tak lagi sekadar Sang Panglima yang mengandalkan otot, melainkan seorang pemimpin sejati yang memikirkan keselamatan banyak orang.
Tanpa sadar, Sinaca mengulurkan tangannya, merapikan kerah seragam Jenawa yang sedikit berantakan. Sentuhan jemari yang lembut itu membuat napas Jenawa tertahan sejenak.
"Lakukanlah, Jenawa," bisik Sinaca, menatap lurus ke dalam manik mata pemuda itu. "Temui warga sore ini. Rangkai siasatmu dengan rapi. Aku menaruh kepercayaan penuh pada langkahmu."
"Apakah kau tak keberatan jika sore ini aku tak bisa mengawalmu pulang hingga ke depan pagar rumah?" tanya Jenawa dengan nada menyesal. "Waktu yang kumiliki teramat sempit sebelum warga menutup aktivitas sore mereka."
Sinaca menggeleng pelan, melepaskan sentuhannya dari kerah Jenawa. "Ada hal yang lebih besar yang sedang menuntut perhatianmu. Lagipula, aku cukup mandiri untuk menyusuri jalan raya di kala petang belum sepenuhnya turun. Pergilah. Pastikan rencanamu berjalan tanpa celah."
Jenawa memberikan anggukan hormat, matanya memancarkan rasa terima kasih yang tak terhingga atas pengertian gadis itu.
Siang itu, ketika lonceng kepulangan berbunyi, Jenawa tak lagi berdiri di pelataran parkir untuk mengawal kepergian Sinaca. Ia memacu kendaraannya dengan cepat menuju permukiman padat di sekitar simpang tiga. Di dalam sebuah kedai kopi yang pengap, mantan panglima itu duduk bersila bersama para sesepuh gang dan Pak Dirman. Dengan bahasa yang sopan dan tata krama yang amat jauh dari kesan berandalan, Jenawa membentangkan siasatnya.
Ia tak lagi menggunakan nada perintah. Ia memohon kerja sama. Dan seperti dugaannya, melihat kesungguhan seorang pemuda yang rela menanggalkan takhtanya demi kedamaian lingkungan, warga menyambut rencana itu dengan antusiasme yang membara.
Malam harinya, saat Jenawa merebahkan tubuhnya di atas ranjang, tak ada lagi rasa cemas yang menghantui. Rencana telah disusun. Esok petang, simpang tiga tak akan menjadi lautan darah, melainkan lautan manusia yang merayakan kehidupan. Di tengah senyapnya kamarnya, Jenawa tersenyum, menyadari bahwa untuk pertama kalinya, ia akan memenangkan sebuah pertarungan tanpa harus mengepalkan tangan, semua berkat seorang gadis yang mengajarinya arti dari sebuah kelembutan yang menaklukkan.
semangat Thor nulisnya...💪💪💪