Dihimpit hutang dan keputusasaan, Agus, seorang pria penuh ambisi yang gagal, meyakinkan istrinya, Endang, untuk melakukan pesugihan Lanang Sewu, meskipun ritualnya menuntut pengorbanan keintiman yang sakral. Untuk mempertahankan kehormatan istrinya, Agus merencanakan penipuan tingkat tinggi: menyewa Sari, seorang wanita yang memiliki kemiripan fisik dengan Endang, dan menyamarkannya secara spiritual menggunakan sihir. Penipuan ini berhasil. Mereka hidup dalam kemewahan sementara waktu, menikmati hadiah dari Raden Titi Kusumo, entitas pesugihan yang karismatik tapi terluka secara emosional. Namun, kecerdasan spiritual Titi Kusumo perlahan mencium kepalsuan itu. Ketika penyamaran terbongkar, semua kekayaan lenyap, dan Titi Kusumo memulai pembalasan keji, menargetkan tidak hanya nyawa Agus dan Endang, tetapi juga orang-orang tak bersalah di sekitar mereka, memaksa pasangan itu menghadapi kebenaran pahit bahwa penebusan sejati tidak dapat dibeli.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Towang Risawang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Harga Jual Diri
Agus tertawa kecil, tawa yang tidak memiliki kegembiraan. Itu adalah suara frustrasi dan kepengecutan.
“Kau tidak punya hak untuk mengancamku, Sari,” balas Agus, mencengkeram tumpukan uang tunai yang tersisa di tangannya. “Kau tidak punya hak apa pun di sini, selain menjadi cangkang kosong yang kubeli. Ingat, lima ratus juta. Itu harga yang kumasukkan ke dalam jiwamu.”
Ia membuka tas punggungnya dan mengeluarkan setumpuk uang kertas seratus ribuan yang tebal, sisa dari uang pinjaman rentenir. Ini adalah uang yang seharusnya ia gunakan untuk membayar cicilan rumah jika ia memilih jalan yang benar. Ia menampar tumpukan itu, tebalnya hampir dua senti, di depan Sari.
Plak!
Uang itu jatuh di atas tempat tidur usang.
“Ini seratus juta lagi di muka,” kata Agus, suaranya dingin dan mutlak. “Total seratus sepuluh juta di tanganmu sekarang. Pergilah, berikan pada ibumu, pada adikmu. Lakukan apa pun yang kau mau. Tapi begitu Mbah Jari menyentuhmu, kau bukan lagi Sari. Kau adalah Endang.”
Sari menatap tumpukan uang itu, lalu menatap Agus. Matanya yang tadi menyala kini digantikan oleh genangan air mata yang memilukan. Ia meraih uang itu, memeluknya ke dadanya, dan bahunya mulai bergetar.
“Kau benar-benar menjualku,” bisik Sari, suaranya pecah. “Kau menjualku ke iblis yang kau panggil Pangeran, hanya demi vila dan mobil sport?”
“Aku menjual kita semua untuk kelangsungan hidupku!” bentak Agus, berdiri tegak. “Jangan bersikap suci, Sari. Kau sudah menjual dirimu setiap malam di sini. Bedanya, aku membayar harga yang lebih mahal untuk harga jual dirimu yang terakhir.”
Sari mendongak, air mata membasahi maskaranya yang luntur. “Ini berbeda. Ini adalah akhir dari segalanya. Kau mengambil jiwaku.”
“Aku memberimu kebebasan finansial untuk keluargamu,” Agus meredam emosinya. Ia harus mengendalikan wanita ini. “Sekarang, kita tidak punya waktu. Mbah Jari sudah menunggu, dan Lanang Sewu bisa datang kapan saja. Aku akan memberimu instruksi terakhir di perjalanan.”
Agus menarik Sari keluar dari bilik. Sari berjalan dengan langkah yang berat, memeluk erat tas usangnya dan tumpukan uang tunai yang kini terasa seperti beban dosa.
Mereka kembali ke mobil. Endang tetap di rumah, tidak tahu tentang Sari, karena Agus berbohong bahwa ia hanya pergi untuk urusan bisnis mendadak. Kebohongan demi kebohongan adalah fondasi kekayaan baru mereka.
Di dalam mobil, Agus mulai memberikan instruksi.
“Dengarkan aku baik-baik, Sari,” kata Agus, mengemudi menjauhi lokalisasi itu. “Kau harus hafal semua tentang Endang. Nama lengkap, tanggal lahir, nama ibu dan ayah, bahkan warna favoritnya. Titi Kusumo itu cerdas. Dia mungkin mengujimu.”
“Aku tidak peduli dengan warna favorit istrimu,” balas Sari, menyeka air matanya dengan kasar. “Aku hanya ingin tahu, apa yang harus kulakukan saat aku bersamanya?”
Agus ragu sejenak. Menyebutkan ritual keintiman itu membuatnya merasa jijik, tetapi ia harus jujur agar penyamaran ini berhasil.
“Kau harus bersikap seperti Endang,” kata Agus. “Dingin, sedikit takut, tetapi patuh. Entitas itu... dia akan datang untuk ritual. Ritualnya bersifat keintiman, Sari. Dia akan berpikir kau adalah istriku, dan kau harus membiarkannya.”
Sari menoleh ke arah Agus, matanya membelalak. “Keintiman? Kau memintaku tidur dengan siluman?”
“Dia terlihat seperti pria tampan,” Agus mencoba merasionalisasi. “Dia bukan monster berlendir. Dia bangsawan terkutuk. Dia akan bersikap seperti seorang pangeran.”
“Kau gila! Aku tidak akan melakukan itu!” Sari menjerit.
Agus menghentikan mobilnya secara mendadak, menepi di bahu jalan yang gelap.
“Kau tidak punya pilihan!” bentak Agus. “Kau sudah menerima uangnya! Seratus sepuluh juta! Itu harga yang kau bayar untuk menyelamatkan keluargamu! Kau harus melakukan ini, atau aku akan melaporkanmu ke polisi karena penipuan. Aku akan mengatakan kau mencuri uangku, dan aku akan membiarkan keluargamu membusuk dalam utang!”
Ancaman Agus menghantam Sari lebih keras daripada pukulan fisik. Sari membeku. Ia menatap Agus, menyadari betapa jahatnya pria di hadapannya ini. Agus bukan hanya penipu; ia adalah pemeras yang memanfaatkan keputusasaan orang lain.
“Kau iblis,” desis Sari, suaranya penuh kebencian.
“Aku adalah suamimu malam ini,” balas Agus, menyalakan mesin lagi. “Dan kau harus menuruti setiap permintaanku. Kau harus berpura-pura mencintai Titi Kusumo, atau setidaknya, sangat menghormatinya. Ingat, dia haus akan koneksi spiritual yang tulus. Mbah Jari akan menanamkan aura Endang yang tulus padamu. Kau hanya perlu mempertahankan topeng itu.”
“Berapa lama aku harus melakukan ini?” tanya Sari, nadanya kini penuh kepasrahan yang mengerikan.
“Hanya beberapa malam. Satu kali dalam sebulan, mungkin. Sampai kita mendapatkan kekayaan yang cukup, lalu kita akan memutus perjanjian ini, dan kau bebas dengan lima ratus juta penuh,” janji Agus, janji yang ia tahu mungkin tidak akan pernah ia tepati.
“Dan jika dia tahu aku bukan Endang?”
Agus menghela napas. “Maka kita semua mati. Kau yang pertama. Tapi sihir Mbah Jari, Topeng Sukma Ganda, akan melindungimu. Sihir itu akan membuatmu terlihat, terdengar, dan terasa seperti Endang yang tulus.”
Sari memejamkan mata. Ia membayangkan Endang, wanita yang memiliki segalanya, termasuk cinta seorang suami—cinta yang kini dipertaruhkan demi uang.
“Aku benci dirimu, Agus,” kata Sari.
“Aku tahu,” balas Agus, menginjak gas. “Benci aku. Itu bAgus. Kebencianmu akan membuat auramu tidak terdeteksi oleh Titi Kusumo. Fokus pada keluargamu, Sari. Fokus pada lima ratus juta. Lupakan jiwa. Jiwa sudah mati di tempat seperti ini.”
Mereka melaju menuju Pondok Pengurai Sukma, tempat Mbah Jari menunggu.
Saat mereka tiba, pondok itu tampak lebih gelap dan lebih menakutkan daripada yang diingat Agus. Bau dupa yang tajam menusuk hidung Sari, membuatnya mual.
Agus membawa Sari ke dalam. Mbah Jari sudah duduk di tengah ruangan, dikelilingi oleh mangkuk-mangkuk berisi air keruh dan dupa yang mengepul.
“Kau sudah kembali, Agus,” sapa Mbah Jari, matanya yang hitam langsung tertuju pada Sari. “Dan kau membawa wadah yang sempurna. Lelah, kosong, dan sangat mirip.”
Sari mundur selangkah, ketakutan melihat mata Mbah Jari yang menembus jiwanya.
“Aku sudah membawanya, Mbah. Dia tahu perannya,” kata Agus, mendorong Sari ke depan.
“Peran ini bukan akting, anak muda,” koreksi Mbah Jari. “Ini adalah pemisahan. Aku harus mengambil sukma Endang yang asli, yang kau simpan di tempat aman, dan menyematkan salinannya ke dalam Sari. Aku harus memastikan bahwa ketika Pangeran mencium Sari, dia mencium Endang.”
Mbah Jari mengulurkan tangannya yang keriput. “Kemarilah, Nak. Aku tidak akan menyakitimu, secara fisik. Hanya spiritual.”
Sari gemetar, menatap Agus seolah memohon pertolongan terakhir. Agus hanya mengangguk, menyuruhnya maju.
Sari melangkah maju, membiarkan Mbah Jari memegang pergelangan tangannya. Sentuhan itu terasa dingin, seperti es.
“Ini akan sedikit sakit,” bisik Mbah Jari. “Kau akan merasa kosong, tetapi itu adalah harga kebebasan keluargamu.”
Mbah Jari mulai merapalkan mantra dalam bahasa Jawa Kuno. Asap dupa menebal, dan nyala lampu minyak bergetar hebat. Sari merasakan denyutan tajam di dadanya, seolah ada sesuatu yang ditarik paksa.
Ia menjerit, tetapi suaranya tertahan di tenggorokan. Ia melihat bayangan dirinya sendiri, bayangan yang samar-samar, melayang keluar dari tubuhnya dan menuju ke mangkuk air keruh.
“Mbah! Apa yang kau lakukan?” tuntut Agus, panik melihat penderitaan Sari.
“Aku mengeluarkan keasliannya!” balas Mbah Jari, matanya menyala. “Aku mengosongkannya. Hanya cangkang ini yang akan menerima aura Endang!”
Sari merasakan dirinya terpisah. Ia masih bisa melihat, tetapi ia tidak merasakan. Keputusasaan, kebencian, ketakutan—semua emosi itu kini mengambang menjauh darinya. Ia menjadi hampa.
Mbah Jari mengakhiri mantranya, dan ia mengambil air keruh di mangkuk lain—air yang sudah ia siapkan dari rambut Endang dan sedikit darah Agus.
“Sekarang, kita masukkan Topeng Sukma Ganda,” kata Mbah Jari. Ia memercikkan air itu ke wajah Sari.
Saat air itu menyentuh kulit Sari, Sari merasakan ledakan energi asing. Itu adalah aura Endang, aura seorang istri yang dicintai, yang kini dipaksakan ke dalam dirinya.
Sari tersentak, dan matanya terbuka. Matanya tidak lagi kosong. Mata itu kini memancarkan cahaya yang familiar bagi Agus: cahaya Endang, yang bercampur dengan rasa takut.
“Gus…” Sari berbicara, tetapi suaranya adalah suara Endang.
“Sempurna,” gumam Mbah Jari. Ia memegang Sari, melihat matanya. “Sekarang, kau adalah Endang. Dan kau harus siap. Pangeran Titi Kusumo akan datang malam ini. Dia mencium energi baru ini.”
Tiba-tiba, Sari, dengan suara Endang, menoleh ke arah Agus. Senyumnya kaku, tetapi matanya memancarkan peringatan.
“Kau pikir kau bisa menipunya, Agus?” tanya Sari, suaranya bergetar. “Kau pikir Topeng Sukma ini akan cukup? Aku bisa merasakan dia… dia sudah ada di sini, di sekitar pondok ini. Dia sedang menunggu kita keluar, dan dia tidak mencari Endang. Dia mencari
Agus, kau sudah membuat kesalahan fatal. Dia akan menghukum kita semua,” Mbah Jari menyelesaikan kalimat itu, suaranya kini terdengar serius, bukan lagi mencemooh. Ia melepaskan pergelangan tangan Sari.